Unjuk rasa mahasiswa Papua ricuh, ratusan ditahan

Puluhan pengunjuk rasa dari Aliansi Mahasiswa Papua ditangkap polisi seusai aksi yang ricuh di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Selasa (1/12/2015). Aksi yang diikuti ratusan mahasiswa Papua itu dibubarkan oleh kepolisian karena tidak memiliki izin.
Puluhan pengunjuk rasa dari Aliansi Mahasiswa Papua ditangkap polisi seusai aksi yang ricuh di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Selasa (1/12/2015). Aksi yang diikuti ratusan mahasiswa Papua itu dibubarkan oleh kepolisian karena tidak memiliki izin. | Wahyu Putro A /ANTARAFOTO

Aksi unjuk rasa ratusan orang yang mengaku dari Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) di simpang Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, berakhir ricuh.

Zeli Aryani, salah satu aktivis Papua Itu Kita, mengatakan kepada redaksi Beritagar.id, sebanyak 306 orang ditahan, 20 di antaranya berpotensi untuk ditindak hukum lebih jauh oleh pihak kepolisian.

Aksi saling lempar batu dan penembakan gas air mata oleh polisi mewarnai aksi para mahasiswa yang menuntut agar rakyat Papua diberikan hak menentukan nasib sendiri sekitar pukul 13.00 WIB tadi.

Kepala Biro Operasi Polda Metro Jaya Kombes Martuani Sormin mengklaim penembakan gas air mata sudah sesuai prosedur pengamanan. "Mereka menghadang arus jalan dan sesuai prosedur penanganan unjuk rasa, penggunaan gas air mata diperkenankan," kata Martuani kepada BBC Indonesia.

Lagi pula, lanjut Martuani, kelompok demonstran itu tidak memiliki izin menyuarakan pendapat di muka umum.

Menurut Veronica Koman, tim pendamping AMP, para demonstran memang biasa menggelar aksi unjuk rasa secara rutin setiap tanggal 1 Desember. Namun kali ini mereka lebih agresif dalam menyuarakan aspirasinya.

"Mereka ini selalu merayakan ekspresi identitas Papua tiap tanggal 1 Desember. Namun tahun ini, terlihat makin agresif," kata Veronica.

Aksi tarik-menarik antara pihak polisi dan mahasiswa sempat terjadi ketika polisi meminta para mahasiswa turun dari atas mobil demonstrasi, namun mereka menolaknya.

"Kami ini mau bersuara, kami ini bawa kertas bukan bawa senjata!" teriak seorang demonstran yang tidak terima mobil demonstrasi mereka digeledah di lokasi. Polisi sempat ingin menderek mobil mereka. Namun, karena keributan terjadi, hal tersebut urung dilakukan.

Lembaga Bantuan Hukum (LBH Jakarta) mengecam keras pembubaran paksa dan penangkapan massa AMP se-Jawa dan Bali oleh Polda Metro Jaya.

Menurut rilis LBH Jakarta yang diterima redaksi, peristiwa penangkapan ini bukan pertama kali. "Padahal hak atas kebebasan berpendapat di muka umum rakyat Papua juga dijamin konstitusi," kata Alghiffari Aqsa, Direktur LBH Jakarta.

Pada 1 Mei 1963, Irian Barat menjadi bagian Indonesia. UNTEA (United Nations Temporary Executive Administration) menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia dengan catatan tahun 1969 harus diadakan pungutan suara pendapat rakyat.

Ketika Penentuan Pendapat Rakyat Irian Jaya (Pepera) digelar pada 1969, rakyat di Irian Barat tetap ingin bergabung dengan Republik Indonesia. Namun, kesahihan hasil Pepera hingga kini masih diperdebatkan sejumlah kalangan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR