MENJELANG PILPRES 2019

Untuk pertama kali Prabowo ungguli Jokowi

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (tengah) memberi sambutan dalam Apel Kader dan Pengukuhan Divisi Raden Wijaya 6.000 Laskar Pandu Garuda Jatim di lapangan pacuan kuda, Prigen, Pasuruan, Jawa Timur, Minggu (6/5/2018).
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (tengah) memberi sambutan dalam Apel Kader dan Pengukuhan Divisi Raden Wijaya 6.000 Laskar Pandu Garuda Jatim di lapangan pacuan kuda, Prigen, Pasuruan, Jawa Timur, Minggu (6/5/2018). | Umarul Faruq /Antara Foto

Aneka lembaga survei menempatkan Joko "Jokowi" Widodo sebagai calon presiden (capres) unggulan pada Pemilu Presiden (pilpres) 2019. Namun menurut Indonesia Network Election Survei (INES), sang Presiden RI petahana itu bukan unggulan pertama karena elektabilitas Prabowo Subianto lebih tinggi.

Hasil survei INES dirilis di Jakarta pada Minggu (6/5/2018). Survei itu dilakukan pada 12-28 April 2018 terhadap 2.108 responden di 408 kabupaten/kotamadya di seluruh Indonesia. Margin of error survei ini kurang lebih 2,1 persen, dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Menurut penjelasan Direktur Eksekutif INES, Oskar Vitriano, survei menggunakan metode tatap muka dan kuesioner yang sudah dirumuskan para peneliti INES (h/t Lensa Indonesia).

Dari survei itu diketahui bahwa 76,3 persen responden menginginkan presiden baru pada 2019. Sedangkan 21,3 persen responden ingin melihat rezim Jokowi berlanjut, dan sisanya sebesar 11,4 persen responden menjawab tak tahu.

Prabowo mengungguli Jokowi dalam dua kategori. Saat responden mendapat pertanyaan tertutup, Prabowo mendapat 54 persen dan Jokowi meraih 26,1 persen. Bagaimana bila pertanyaannya terbuka alias pilihan jawaban tidak disertakan?

"Jika pemilu dilakukan hari ini, siapa yang akan Anda pilih? Ini pertanyaan terbuka. Top of mind. Jokowi 27,7 persen. Prabowo 50,2 persen, Gatot Nurmantyo 7,4 persen," ujar peneliti INES, Basynursyah, dilansir IDN Times.

Partai Gerindra yang dipimpin Prabowo pun unggul dalam survei ini dibanding PDIP, partai asal Jokowi. 26,2 persen responden bakal memilih Gerindra pada Pemilu tahun depan, disusul 14,3 persen untuk PDIP, dan 8,2 persen bagi Golkar (h/t CNNIndonesia.com).

Hasil survei INES yang berbeda 180 derajat dibanding serangkaian survei lain ini cukup mengejutkan. Guru Besar Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta Muzakir kepada PosKotanews menduga hasil survei dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah yang tidak pro-rakyat.

Salah satunya, ujar Muzakir, adalah keputusan Jokowi menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing (TKA) untuk bekerja di Indonesia. "Mereka yang tidak setuju akan memilih Prabowo pada Pilpres 2019," terang Muzakir.

Yang pasti, hasil survei ini disambut pro dan kontra --pro bagi simpatisan Prabowo dan kontra dari kubu Jokowi. Gerindra, misalnya, menyambut gembira hasil survei INES dan menyebut hasil survei lembaga lain yang "selalu" memenangkan Jokowi adalah ngawur.

"Yang paling benar itu INES. Artinya INES jarang sekali mengeluarkan hasil surveinya tapi tepat," ujar Wakil Ketua Umum Gerindra Arief Puoyono dipetik detikcom.

Partai pendukung Jokowi, Perindo, menilai hasil survei INES meragukan. Politikus Partai Perindo Arya Sinulingga menyatakan hasil survei itu terbalik. Angka bagi Prabowo dan Jokowi seharusnya dibalik (h/t Solo Pos).

Sementara PDIP meragukan kredibilitas INES. Apalagi, menurut Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno, belakangan bermunculan lembaga survei amatiran.

Sejumlah lembaga survei seperti itu dinilai hanya memanfaatkan industri demokrasi yang sedang bersemi dan menggunakan slogan yang super pragmatis; maju tak gentar membela yang bayar.

Itu sebabnya Hendrawan meminta INES menjelaskan lebih detail metodologi surveinya, afiliasinya, dan reputasi para penelitinya. "...baru kami akan usulkan ke MURI untuk dapat predikat kira-kira sebagai 'Lembaga Survei dengan Hasil yang Paling Mengejutkan'," tegas Hendrawan.

INES memang kurang populer dibanding beberapa lembaga survei. Mereka sangat jarang mengeluarkan hasil survei seperti ini.

Namun begitu, INES pernah berhasil mengeluarkan prediksi tepat sebelum Pilkada DKI Jakarta 2017 digelar. Berkat survei yang dirilis pada 15 April 2017, INES memprediksi pasangan Anies Baswedan - Sandiaga Uno akan mengambil alih rezim Basuki Tjahaja Purnama - Djarot Syaiful (h/t RRI).

Dan itu terbukti kemudian.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR