FLUKTUASI RUPIAH

Untung negara di balik pelemahan Rupiah

Menteri Keuangan Sri Mulyani (kedua kiri) bersama Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro (kedua kanan), Deputi Gubernur Senior Mirza Adityaswara (kiri) dan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto (kanan) mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (10/9/2018).
Menteri Keuangan Sri Mulyani (kedua kiri) bersama Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro (kedua kanan), Deputi Gubernur Senior Mirza Adityaswara (kiri) dan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto (kanan) mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (10/9/2018). | Puspa Perwitasari /Antara Foto

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak melulu berdampak negatif. Pemerintah menyebut, negara bisa diuntungkan atas penguatan dolar melalui hitung-hitungan di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, menyebut dengan asumsi kurs Rp14.000 setiap pelemahan rupiah sebesar Rp100 per dolar, maka negara mendapat tambahan penerimaan sebesar Rp4,7 triliun dalam APBN.

Sebab, kondisi rupiah seperti ini memberikan tambahan penerimaan bagi negara, misalnya melalui penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor pertambangan serta royalti di sektor tersebut.‎

Namun di satu sisi, peningkatan nilai dolar juga akan berdampak belanja negara juga akan bertambah Rp3,1 triliun.

"Jadi, positifnya ke APBN sebesar Rp1,6 triliun," ujar Sri Mulyani, dilansir dari Kontan.co.id, Senin (10/9/2018).

Sri Mulyani menjelaskan, akibat pelemahan kurs tersebut, pendapatan negara hingga akhir bulan lalu mencapai Rp1.152,7 triliun atau 60,68 persen dari target dalam APBN 2018 yang sebesar Rp1.894,7 triliun. Dari angka tersebut PNBP tumbuh paling besar, yakni 24,3 persen secara tahunan (year on year/yoy) dan perpajakan tumbuh 16,5 persen (yoy).

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, rata-rata kurs rupiah sejak awal tahun ini hingga 7 September 2018 mencapai Rp13.977 per dolar, di atas asumsi makro dalam APBN 2018 yang sebesar Rp13.400 per dolar.

Pertumbuhan penerimaan negara juga dipengaruhi oleh harga minyak mentah dunia yang menunjukkan tren meningkat sejalan dengan perkembangan harga komoditas global. Pergerakan harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price / ICP) yang mengacu harga minyak mentah utama dunia jenis Brent, juga mengalami peningkatan.

Berdasarkan perkembangan tersebut, rata-rata ICP bulan Agustus mencapai 69,36 dolar per barel, sehingga rata-rata Januari–Agustus 2018 tercatat sebesar 67,14 dolar per barel.

Peningkatan harga minyak ini akan memberikan dampak positif terhadap kinerja penerimaan migas.

Meski demikian, depresiasi nilai tukar juga memberikan pengaruh negatif kepada pelaksanaan APBN. Ketika rupiah mengalami depresiasi, maka belanja bunga utang akan meningkat.

"Terutama yang utang dari luar negeri. Dari yield (imbal hasil) Surat Perbendaharaan Negara (SPN) juga meningkat, maka ongkos berutang menjadi lebih tinggi. Ini yang kami sampaikan, dengan suku bunga yang relatif lebih mahal, kita akan hati-hati," katanya.

Meski demikian, Sri Mulyani enggan menyebut bahwa pemerintah diuntungkan dengan pelemahan kurs tersebut.

"Kami tidak gunakan untung atau rugi. Kami mengelola ekonomi Indonesia menggunakan instrumen APBN," jelasnya.

Menurut Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas, Fakhrul Fulvian, pelemahan rupiah juga bisa mendongkrak kinerja ekspor Indonesia. Utamanya, bagi kinerja ekspor di sektor yang berhubungan dengan komoditas.

Fakhrul pun merekomendasikan kepada pemerintah untuk memberikan insentif kepada para eksportir. Dengan begitu, volatilitas nilai tukar rupiah juga bisa ditekan.

"Bisa dengan memberikan insentif untuk ekspor komoditas. Dan ini akan memperbaiki prospek neraca berjalan kita," kata Fakhrul kepada Beritagar.id, Senin (10/9).

Oleh sebab itu, dengan pelemahan rupiah saat ini, pemerintah disarankan untuk membiarkan kurs disesuaikan secara normal dengan fluktuasi pasar global. Ekspektasi depresiasi rupiah juga perlu diperlebar dalam setahun dikisaran 3-4 persen.

Nantinya, itu akan membentuk keseimbangan baru. Ketika tren pertumbuhan dunia sudah kembali, maka rupiah bisa kembali menguat seperti pada 2016.

"Saat ini, kita lihat rata-rata rupiah tahun depan akan berada di kisaran Rp 14.200 per dolar AS. Ini akan baik untuk perkembangan ekspor dan menghambat pelebaran defisit neraca berjalan," ungkapnya.

Sektor pariwisata ternyata juga mendapatkan imbas yang cukup besar dari naiknya nilai tukar dolar terhadap rupiah. Ia menilai, akan banyak turis mancanegara yang datang atau berbelanja di Indonesia karena biaya hidup yang tergolong rendah. Jika sebelumnya 100 dolar sama dengan Rp1,2 juta saat ini 100 dolar menjadi Rp1,4 juta.

"Selisih yang cukup signifikan ini akan menguntungkan mereka yang menggunakan dolar untuk berwisata," jelasnya.

BACA JUGA