INDUSTRI PENERBANGAN

Garuda revisi laporan keuangan, kerugian menganga

Pesawat udara komersil bersiap berangkat di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Padangpariaman, Sumatera Barat, Rabu (29/5/2019).
Pesawat udara komersil bersiap berangkat di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Padangpariaman, Sumatera Barat, Rabu (29/5/2019). | Iggoy el Fitra /AntaraFoto

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk bisa mencoba peruntungan untuk mencetak laba lagi, tahun ini. Untuk tahun 2018, maskapai pelat merah ini harus menelan kenyataan pahit bahwa perseroannya masih harus terbelit dengan kerugian.

Laporan Keuangan 2018 yang disajikan ulang (restatement) Garuda mengubah klaim laba bersih AS$5 juta (sekitar Rp69,9 miliar) menjadi rugi bersih sebesar AS$175 juta atau setara Rp2,45 triliun.

Pos pendapatan lain-lainnya juga berubah, dari sebelumnya AS$278,8 juta menjadi AS$38,9 juta, atau berselisih AS$239,9 juta.

Jumlah selisih itu setara dengan nilai perjanjian kerja sama penyediaan layanan konektivitas dalam penerbangan yang ditandatangani PT Citilink Indonesia (anak usaha Garuda) dengan PT Mahata Aero Teknologi.

Pencatatan transaksi Citilink dan Mahata sebagai piutang itu yang jadi pangkal masalah bagi perseroan sehingga harus merevisi laporan keuangan tahunannya.

Merujuk materi paparan publik Garuda yang diunggah Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (25/7/2019) malam, perubahan laba yang dibuat perseroan berdampak pada total ekuitas perusahaan, dari AS$910,2 juta menjadi AS$730,1 juta.

Piutang lain-lain perseroan dengan kode emiten GIAA ini menjadi $16,7 juta, dari sebelumnya $280,8 juta. Liabilitas pinjaman jangka pendek melonjak naik hingga AS$563,5 juta, dari sebelumnya AS$14,3 juta. Sementara, liabilitas jangka panjangnya berbalik jadi AS$200 ribu dari sebelumnya AS$594,4 juta.

Pencatatan total aset juga disesuaikan dari AS$4,37 miliar menjadi AS$4,16 miliar, serta liabilitasnya dari AS$3,46 miliar menjadi AS$3,43 miliar. Perubahan laba juga berimbas pada menyusutnya posisi ekuitas kuartal I/2019 perseroan dari AS$971,1 juta menjadi AS$791,1 juta.

Sementara, pos-pos yang tidak mengalami perubahan adalah beban-beban perseroan, dengan pengecualian pada beban pajak yang sebelumnya AS$14 juta menjadi AS$46 juta.

Revisi laporan keuangan Garuda direspons negatif di pasar saham. Sampai pukul 12.00 WIB, saham GIAA telah terkoreksi 2,02 persen ke level 390, dari pembukaan 398. Selama sepekan terakhir, saham GIAA terpantau turun 3,47 persen, meski secara year-to-date (YTD) naik 30,8 persen.

Sampai siang ini, saham GIAA sudah ditransaksikan 30.975 kali dengan nilai mencapai Rp1,3 miliar dan didominasi pembelian domestik sebesar Rp1,23 miliar.

Tak hanya harus menyusun ulang laporan keuangannya, Garuda harus membayar denda dari pencatatan janggal tersebut. Total yang harus disetor Garuda kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai Rp1,25 miliar.

Sekretaris Perusahaan Garuda Indonesia Ikhsan Rosan menyatakan mayoritas denda berasal dari OJK. Sebab, perusahaan tak hanya membayarkan denda untuk korporasi, melainkan juga jajaran direksi dan komisaris.

Untuk denda korporasi yang harus dibayar sebesar Rp100 juta, lalu masing-masing direksi (total 8 orang) juga dikenakan Rp100 juta per orang. Untuk komisaris juga Rp100 juta, hanya saja ditanggung renteng untuk lima orang.

Sementara sisa denda sebesar Rp250 juta diberikan oleh BEI atas penyajian laporan keuangan kuartal I/2019.

Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal II OJK Fakhri Hilmi menjelaskan seluruh denda ini diberikan karena terbukti melanggar Peraturan OJK Nomor 29/POJK.04/2016 tentang laporan Tahunan Emiten dan Perusahaan Publik.

Menurutnya, direksi ikut dikenakan denda karena mereka dianggap jadi orang yang paling bertanggung jawab atas kesalahan penyusunan laporan keuangan tersebut.

Beban sewa pesawat

Pemerintah tengah mengupayakan pemangkasan beban operasional perseroan melalui pengurangan biaya sewa pesawat.

Pada laporan keuangannya, Garuda mencatatkan beban sewa dan charter pesawat hingga AS$1,08 miliar, naik dari tahun sebelumnya sebesar AS$1,06 miliar.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan telah mengajukan permohonan kepada Tiongkok untuk meringankan beban sewa pesawat Garuda kepada Industrial and Commercial Bank of China (ICBC) Aviation Co. Ltd.

ICBC Aviation adalah anak usaha dari ICBC Financial Leasing Co. Ltd., perusahaan pemberi sewa (leaser) sejumlah unit pesawat kepada Garuda. Tidak diketahui berapa banyak pesawat yang disewa pun jenisnya.

Namun beberapa media menyebut Garuda menandatangani dokumen perjanjian kerja sama pendanaan lima pesawat Boeing 777-300 ER dan enam pesawat Airbus A320 dengan ICBC pada 2013.

Adapun nilai kerja sama pendanaan itu mencapai AS$1,7 miliar. Luhut tengah melobi agar tenor pembayarannya diperpanjang hingga 20 tahun, dengan rerata per tahunnya menjadi AS$35 juta.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR