GAYA BUSANA

Upaya mengangkat pamor sarung jadi gaya hidup baru

Penenun membuat sarung sutra Kaili di sebuah industri rumahan di Desa Tampaure, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat, Kamis (28/2/2019). Tenun kain sutra Kaili dijual dengan harga Rp500 ribu-Rp900 ribu tergantung dari motif dan ukurannya dan dipasarkan ke berbagai wilayah Indonesia hingga mancanegara.
Penenun membuat sarung sutra Kaili di sebuah industri rumahan di Desa Tampaure, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat, Kamis (28/2/2019). Tenun kain sutra Kaili dijual dengan harga Rp500 ribu-Rp900 ribu tergantung dari motif dan ukurannya dan dipasarkan ke berbagai wilayah Indonesia hingga mancanegara. | Akbar Tado /Antara Foto

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berupaya mengangkat pamor sarung untuk menjadikannya sebagai gaya hidup baru atau new lifestyle. Hal itu juga dilakukan agar pemanfaatan sarung dapat meluas dan fashionable.

Direktur Jenderal Industri, Kecil, Menengah dan Aneka (IKM) Kemenperin, Gati Wibawanngsih, mengungkapkan sarung sebagai new lifestyle adalah sebuah konsep menjadikan sarung sebagai sebuah produk fesyen. Jadi sarung bukan hanya digunakan untuk beribadah, namun juga untuk kegiatan sehari-hari --baik formal maupun informal, laki-laki maupun perempuan.

"Sarung telah digunakan oleh masyarakat Indonesia sejak zaman penjajahan dan menjadi identitas bangsa, penggunaannya untuk busana harian, ibadah, upacara keagamaan dan pesta," jelas Gati dikutip dari siaran pers Kemenperin, Selasa (5/3/2019).

Kemenperin pun menggelar Festival Sarung Indonesia 2019 di Plaza Tenggara, Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (3/3). Kemenperin memfasilitasi sejumlah pelaku industri kecil dan menengah (IKM) dari berbagai daerah untuk ambil bagian pada festival tersebut.

"Selain memamerkan kain sarung dari berbagai daerah, kami juga menampilkan video animasi pembuatan sarung tradisional dan tutorial penggunaan sarung sebagai new lifestyle. Kemenperin juga hadirkan perajin sarung dari Sragen dan Sumatera Barat untuk mendemokan proses pembuatan sarung," ungkap Gatri.

Gati menyebut Indonesia punya potensi industri sarung yang sangat besar. Produsen sarung ini terdiri dari industri skala kecil, menengah dan juga besar. Menurut data Kemenperin, industri kecil dan menengah produsen sarung mencapai 16.152 unit usaha yang berlokasi di dalam maupun di luar sentra IKM.

Jumlah sentra IKM produsen sarung sebanyak 389 yang tersebar di 17 provinsi. Misalnya di Aceh, Sumatra Barat, Jawa Barat, NTB, NTT dan Sulawesi Selatan. Sementara industri sarung skala besar sebanyak 45 unit usaha.

"Kami berharap penggunaan sarung oleh masyarakat semakin meningkat karena hal ini tentunya akan mendorong pertumbuhan industri tekstil, khususnya industri sarung," imbuhnya.

Sementara itu, Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mendesak Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) lebih banyak mengalokasikan dana pertanggungjawaban sosial perusahaan (CSR) untuk produsen sarung rumahan.

Sekretaris Jenderal API, Ernovian G Ismy, kepada Republika.co.id mengungkapkan, permintaan muncul lantaran pelaku UMKM produsen sarung selama ini mengaku kesulitan mengakses pasar. Kesulitan terjadi akibat minimnya dukungan permodalan.

BUMN dan BUMD, kata Ismy, bisa mendukung industri sarung dengan cara menjadi "bapak angkat". "Karena si produsen sarung ini sangat terbatas modalnya," ujar Ismy, Senin (4/3).

Usulan rutin pakai sarung

Presiden Jokowi pun merencanakan ada momen khusus setiap bulan untuk bersama-sama memakai kain sarung. Hal itu diungkapkan saat berkunjung ke Festival Sarung Indonesia 2019, Minggu (3/3/2019) sore.

"Saya akan mengajak nantinya, ini baru akan kita tentukan setiap hari tertentu, dalam satu bulan kita memakai sarung bersama-sama, mau ndak?" tanya Jokowi kepada peserta festival yang hadir dikutip Kompas.com.

"Mau," teriak peserta.

"Setuju ndak?" tanya Jokowi lagi.

"Setuju," balas peserta lagi.

Namun Jokowi masih mempertimbangkan waktu yang pas setiap bulannya untuk memakai sarung bersama-sama. "Bisa seminggu sekali, bisa dua minggu sekali bisa sebulan sekali. Kita lihat nanti. Tinggal kita menentukan kita pakai sarung di hari apa. Nanti lama-lama setiap hari pakai sarung," canda Jokowi disambut gelak tawa peserta.

Jokowi menganggap, kerajinan sarung Indonesia merupakan kekayaan kebudayaan yang unik dan patut diapresiasi oleh seluruh pihak. Sebab, setiap wilayah Indonesia memiliki hasil kerajinan sarung dengan motif, warna dan filosofi yang berbeda-beda.

Menanggapi usulan Presiden, Menteri Agama Lukman Hakim menyatakan sangat mendukung rencana pencanangan pemakaian sarung dalam satu hari tertentu sebagai bentuk penghargaan terhadap budaya Indonesia. Dia mengusulkan agar pemakaian sarung dilakukan sesering mungkin.

Lukman mengklaim usulan itu sudah disampaikan kepada Jokowi. "Satu sampai dua minggu sekali sangat ideal," ujarnya, Senin (4/3), dinukil Tempo.co.

Pendapat berbeda diungkapkan Wakil Ketua DPR Fadli Zon yang menilai rencana Jokowi untuk membuat kebijakan memakai sarung sehari setiap bulan sebagai kebijakan tak bermutu dan kagetan.

"Aduh enggak mutu lah. Ya sayang sekali ya, kalau urusan ini urusan remeh temeh," kata Fadli, Senin (4/3), kepada CNNIndonesia.com.

Selain itu, Fadli mengatakan rencana kebijakan sarungan Jokowi itu ibarat "orang baru" dalam melihat tradisi Indonesia. Padahal, kata dia, tradisi penggunaan sarung sudah lama berakar kuat dalam budaya Indonesia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR