INDUSTRI PENERBANGAN

Usia pesawat terbang bukan jaminan keselamatan

Petugas memeriksa kondisi pesawat saat melakukan "ramp check" di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Minggu (4/11/2018).
Petugas memeriksa kondisi pesawat saat melakukan "ramp check" di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Minggu (4/11/2018). | Fikri Yusuf /Antara Foto

Ada anggapan kalau pesawat terbang yang masih baru dengan mesin bagus, fasilitas di dalam kabin yang masih baik, lebih aman ketimbang pesawat tua. Padahal, pesawat baru bukan jaminan keselamatan dan bebas dari kecelakaan.

Baru atau lama bukan masalah, asalkan masih laik terbang. Kelayakan terbang ini yang dicek rutin dalam prosedur perawatan pesawat.

“Usia pesawat itu sebetulnya lebih terkait dengan efisiensi (biaya perawatan) daripada keselamatan,” kata pengamat penerbangan Alvin Lie ketika dihubungi Beritagar.id pada Rabu (14/11/2018).

Pesawat Lion Air PK-LQP dengan rute penerbangan Jakarta-Pangkalpinang yang jatuh akhir Oktober 2018 lalu tercatat berusia 2,4 bulan. Pesawat Boeing 737 Max 8 ini diterbangkan dari Seattle, Amerika Serikat, dan mendarat di Indonesia pada 15 Agustus 2018. Tiga hari kemudian, ia sudah beroperasi.

Pesawat Lion Air Boeing 737-8GP yang mendarat tak sempurna di perairan ujung landasan Ngurah Rai, Denpasar, Bali, pada 13 April 2013 berusia lebih muda dari PK-LQP. Badan pesawat yang terbelah menjadi dua bagian dan tak dapat difungsikan kembali tersebut, baru berusia dua bulan.

Dalam 90 tahun terakhir, setidaknya 501 pesawat berusia di bawah dua tahun yang mengalami kecelakaan--mulai dari tergelincir hingga kecelakaan fatal seperti jatuh dan menghilang. Pesawat tersebut meliputi pesawat komersial untuk penerbangan domestik maupun internasional, merujuk data Aviation Safety Network (ASN) yang diolah Lokadata Beritagar.id.

Pesawat paling muda yang mengalami kecelakaan fatal sejak 1928 hingga 2018 yakni pesawat De Havilland DH-106 Comet 1A ketika lepas landas dari Bandara Roma-Ciampino di Roma, Italia, menuju Bandara Internasional Beirut, Lebanon.

Pesawat yang diterbangkan British Overseas Airways Corporation (BOAC) ini baru berusia 1 bulan 3 hari saat kecelakaan pada 26 Oktober 1952 silam.

Saat hendak lepas landas dari Roma, pilot hilang kendali di ujung landasan pacu dan mengakibatkan badan pesawat memantul. Keputusan untuk menghentikan penerbangan pun dilakukan. Alhasil, 35 penumpang dan 8 awaknya selamat.

Pesawat buatan De Havilland termasuk salah satu pesawat baru yang paling banyak mengalami kecelakaan dalam seabad terakhir. Mayoritas pesawat tersebut berusia 1 hingga 2 tahun sejak penerbangan pertama hingga tanggal tragedi kecelakaan.

Selain De Havilland, pesawat lainnya yang paling banyak punya rekor termuda saat kecelakaan yakni buatan Boeing. Sebanyak 22 pesawat Boeing berusia kurang dari 6 bulan mengalami kecelakaan, sementara 28 lainnya berusia 6 bulan hingga 1 tahun, juga harus masuk bengkel perawatan atau bahkan dibuang.

Produsen lain, Douglas, juga banyak kecelakaan. Pesawat paling muda di bawah 6 bulan dan 12 pesawatnya sudah mengalami kecelakaan. Pada 1967, Douglas diakuisi McDonnell Aircraft Corporation dan membentuk McDonnell Douglas. Kemudian, pada 1997, McDonnell Douglas diakuisisi Boeing.

“Kalau ditarik sampai tahun 1920an, wajar Boeing yang paling banyak kecelakaan karena Boeing salah satu jenis pesawat yang terbesar, sebelumnya ada McDonnell Douglas juga. Kalau Airbus baru sekitar tahun 1980an,” kata Alvin.

Menurut laporan Boeing, jumlah pesawatnya sejak 1998 hingga 2017 yakni 13,9 juta atau 52 persen dari jumlah pesawat yang beredar dan dioperasikan oleh seluruh maskapai di dunia. Angka ini menurun tajam dibandingkan 20 tahun lalu saat Boeing mendominasi penerbangan, 70 persen dari total pesawat yang beredar.

Sejak 1959 hingga 2017, tercatat 772 juta keberangkatan dan 69,2 persen di antaranya adalah penerbangan dengan pesawat Boeing mulai dari seri 707/720 sampai 787.

Boeing muda yang paling banyak mengalami kecelakaan yakni Boeing 737 dengan total 34 kecelakaan, disusul Boeing 727 dengan 12 kecelakaan pesawat usia muda di bawah 2 tahun.

“Boeing 737 itu yang paling sukses, jumlah paling banyak (dibeli) dan penggunaan bisa di bandara sedang dengan runway 2.500 meter atau bandara kecil. Boeing 737 juga bisa digunakan untuk jarak dekat dan menengah,” kata Alvin.

Selain itu, Boeing 737 yang telah didesain ulang makin digemari karena suara tidak bising dan ramah lingkungan karena emisi gas karbon berkurang.

Usia dan perawatan

Mantan Presiden asosiasi pilot dan pemilik pesawat Air Safety Institute, Bruce Landsberg, juga menegaskan bahwa usia pesawat tak berpengaruh terhadap keamanan penerbangan.

Alih-alih usia, perawatan pesawat menjadi kunci utama sebuah pesawat layak terbang atau tidak. Kelayakan ini yang kemudian menentukan aman tidaknya pesawat saat beroperasi.

“Keamanan pesawat sepenuhnya bergantung pada bagaimana perawatan pesawat tersebut. Terkadang, keamanan juga bisa disebabkan oleh keberuntungan, desain pesawat, atau penggunaan pesawat,” ujar Landsberg seperti dikutip dari Conde Nast Traveler.

Rata-rata pesawat Boeing dan Airbus bisa digunakan 20 hingga 30 tahun. Tapi, apabila maskapai atau operator pesawat tak merawat dengan baik dapat mengancam kelayakan terbang dan usia beroperasi pesawat bisa lebih pendek.

“Sejauh pesawat ini dirawat dengan disiplin, usia 30 hingga 40 tahun pun tidak ada masalah. Kalau pemerintah Indonesia membatasi usia pesawat 20 tahun dengan alasan keselamatan penerbangan, kurang tepat. Lebih tepat efisiensi perawatan," kata Alvin mengamini Landsberg.

Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 15 Tahun 2016 menjelaskan pesawat komersial untuk penumpang yang didaftarkan dan dioperasikan untuk pertama kali di wilayah Indonesia, paling tua berusia 20 tahun, sementara untuk pesawat kargo 30 tahun.

Di Indonesia, tiap pesawat yang terdaftar di Kementerian Perhubungan akan dipantau proses perawatannya melalui maintenance logbook. Kementerian Perhubungan bertugas untuk mengawasi daftar tersebut dan berhak untuk memberikan sanksi apabila pengecekan rutin tak dilakukan.

“Setiap airlines ketika menyewa pesawat, ada kontrak maintenance-nya. Penyewa yang melakukan perawatan sendiri. Seperti Lion Air dan Garuda beli leasing dan menyewa pesawat, perawatan ditanggung mereka,” kata Alvin.

Dikutip dari Qantasnewsroom, setiap pesawat pada umumnya harus melewati perawatan mulai A Check, B Check, C Check, hingga D Check.

A Check dilakukan setiap delapan hingga 10 minggu atau sekitar 400 sampai 600 jam terbang dan kelipatannya. Biasanya, pengecekan ini membutuhkan waktu dari enam hingga 24 jam untuk jenis pesawat Boeing 737. Di Indonesia, bengkel pesawat yang mampu melakukan perawatan ini antara lain Garuda Maintenance Facilities (GMF) AeroAsia di Jakarta.

Setelah menempuh 4.000 jam terbang maka akan memasuki proses perawatan C Check yang membutuhkan waktu hingga tiga minggu. Selanjutnya, setelah melakukan C Check berkali-kali, maka memasuki proses heavy maintenance. Jika sudah melewati proses heavy maintenance, maka pesawat bisa dianggap muda kembali.

Alvin mengatakan, makin banyak pesawat yang dibeli atau disewa oleh operator penerbangan maka makin banyak biaya yang dikeluarkan untuk perawatan. Alasannya, tiap operator pun harus memberikan pendidikan untuk para teknisi mereka, membeli peralatan, dan sekaligus menjamin ketersediaan suku cadang.

“Itu tidak lepas dari kontrak pembelian pesawat. Lion Air kalau beli 150 pesawat itu juga menghitung produktivitas karena harus menyekolahkan teknisi, peralatan, persediaan suku cadang dan lainnya,” ujar Alvin.

Menurut catatan ASN, hanya ada dua pesawat Lion Air di bawah dua tahun yang pernah mengalami kecelakaan. Rata-rata usia pesawat Lion Air yakni 6,4 tahun, merujuk data Airfleet.net.

Sementara itu, maskapai dengan kecelakaan pesawat berusia muda terbanyak yakni United Airlines dari Amerika Serikat dan KLM Royal Dutch Airlines dari Belanda dengan jumlah masing-masing 17 kecelakaan.

Makin banyak penerbangan maka makin banyak potensi untuk kecelakaan. United Airlines misalnya, punya rata-rata jumlah penerbangan hingga 150.295 per bulan.

Makin tinggi penerbangan dan jumlah maskapai, perawatan yang dibutuhkan pun makin banyak.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR