INTERNASIONAL

Venezuela, Suriah baru di Amerika Latin

Ayam seberat 2,4 kilogram terfoto di samping 14.600.000 bolivars, di sebuah pasar swalayan di Caracas, Venezuela, Kamis (16/8/2018). Uang itu setara dengan US $2,22 (sekitar Rp32.500).
Ayam seberat 2,4 kilogram terfoto di samping 14.600.000 bolivars, di sebuah pasar swalayan di Caracas, Venezuela, Kamis (16/8/2018). Uang itu setara dengan US $2,22 (sekitar Rp32.500). | Carlos Garcia Rawlins /ANTARAFOTO/REUTERS

Ekonomi Venezuela terkoyak. Mata uang Bolivar kehilangan kegagahannya. Harga kebutuhan sehari-hari melonjak berkali-kali lipat. Daya beli masyarakat terpuruk ke dasar jurang.

Status hiperinflasi ditetapkan oleh lembaga keuangan internasional, International Monetary Fund (IMF).

Seekor ayam seberat 2,4 kilogram diobral dengan harga 14,6 juta bolivar, yang jika dikonversikan ke dolar Amerika Serikat hanya $2,22 atau sekitar Rp32.500. Harga segulung tisu toilet bisa mencapai 2,6 juta bolivar atau setara 40 sen.

Juru foto Reuters sempat mengabadikan kegilaan itu dengan menyandingkan tumpukan lembaran bolivar dengan barang-barang pokok di salah satu pasar swalayan di Caracas, Venezuela, 16 Agustus 2018. Salah satunya menjadi gambar inti artikel ini.

Carlos Garcia Rawlins, si juru foto, mengambil gambar itu beberapa hari sebelum Presiden Nicolas Maduro mengumumkan penghapusan nominal 0 dalam mata uangnya demi mencapai “bolivar yang berdaulat”, Senin (20/8/2018).

Seiring dengan keputusan redenominasi itu, Maduro juga mengumumkan upah minimum naik 3000 persen, kenaikan pajak, dan mengharamkan peredaran mata uang kripto selain Petro.

Petro adalah mata uang kripto yang disokong dengan aset minyak Venezuela. Tujuan pemerintah Venezuela menerbitkan Petro adalah demi mengkonter kebijakan embargo yang dikeluarkan Amerika Serikat (AS).

Maduro bersikeras keputusannya mampu mengeluarkan Venezuela dari jerat kehancuran. Para ekonom sepakat menyatakan sebaliknya.

Profesor Steve Hanke dari Johns Hopkins University mengatakan, langkah Maduro menghilangkan 0 dari mata uangnya tidak akan membawa efek apapun.

“Kemarin, tingkat inflasi mencapai 61.500 persen, setelah pengumuman, inflasi naik menjadi 65.500. Sangat jelas, tidak ada yang berubah,” kata Hanke dalam laporan News.com.au.

Hanke optimistis kondisi ekonomi di Venezuela bakal memburuk, meski tak tahu seberapa buruk dan berapa lama lagi. “Kita tidak bisa memprediksi waktu dan dampak dari hiperinflasi,” tuturnya.

Selasa (21/8/2018), bank sentral Venezuela mengumumkan devaluasi bolivar hingga 96 persen, membuat nilai tukar mata uang itu terhadap Euro naik lebih dari 30 kali lipat.

Kalkulasi Reuters menemukan $ 0,01 mampu membeli 4.233 galon bensin, namun sebuah sabun batangan bisa setara dengan 152.381 galon bensin.

Warga pun terpuruk dalam kelaparan, kegelapan, dan ketakutan akibat jam malam yang diterapkan militer. Venezuela resmi menjadi “Suriah” di tanah Amerika Latin.

Puluhan ribu warga berjalan menuju Peru. Mereka masih punya waktu sampai Minggu (26/8/2018), sebelum Peru memberlakukan paspor di pintu perbatasan. Untuk saat ini, mereka masih bisa masuk hanya dengan menunjukkan kartu identitas Venezuela biasa.

Meski begitu, Perdana Menteri Peru Cesar Villanueva mengaku aturan paspor itu tidak mengartikan bahwa negaranya bakal menutup pintu untuk pengungsi. Menurut Villanueva, dikutip dari BBC, kartu identitas tak cukup memuat informasi dan sering dipalsukan.

Warga Venezuela sulit mendapatkan paspor. Otoritas keimigrasian kerap menyalahkan “mafia” yang menyebabkan proses pendataan penduduk tertunda bertahun-tahun.

Villanueva pun berjanji akan mempermudah pembuatan paspor bagi pengungsi di kantor-kantor konsulat Venezuela yang berada di Kolombia, Ekuador, atau di daerah perbatasan-perbatasan lain.

Warga Venezuela beristirahat di sepanjang jalan saat mereka menunggu untuk memperlihatkan paspor atau kartu identitas mereka pada hari berikutnya, di kontrol perbatasan Pacaraima, negara bagian Roraima, Brasil, Rabu (8/8/2018).
Warga Venezuela beristirahat di sepanjang jalan saat mereka menunggu untuk memperlihatkan paspor atau kartu identitas mereka pada hari berikutnya, di kontrol perbatasan Pacaraima, negara bagian Roraima, Brasil, Rabu (8/8/2018). | Nacho Doce /ANTARAFOTO/Reuters

Lembaga PBB yang mengurusi pengungsi, UNHCR, mengatakan lebih dari 26.000 warga Venezuela bermigrasi ke Peru pada 2017. Namun, Kepala Imigrasi Peru, Eduardo Sevilla, mengatakan jumlah yang masuk melebihi angka itu.

Total, sudah lebih dari 2 juta warga Venezuela yang mengungsi ke Peru sejak krisis ekonomi mulai berkecamuk pada 2014.

Peru sebenarnya bukan negara tujuan utama para pengungsi Venezuela. Data UNHCR menunjukkan, pada 2017, pengungsi lebih banyak yang bermigrasi ke Kolombia (600 ribu jiwa), disusul Amerika Serikat (290 ribu jiwa), dan Spanyol (208 ribu jiwa).

Namun persoalan pengungsi tak hanya berhenti sampai mereka berhasil menyeberang ke negara lain. Jaminan lapangan pekerjaan tak selalu tersedia di negara tetangga.

Sebagian perempuan Venezuela yang mengungsi ke Kolombia memutuskan untuk menjual diri demi memenuhi kebutuhan hidup. Laporan News Sky menunjukkan, dari satu rumah bordil yang berisi 60 wanita, hanya dua di antaranya yang berasal dari Kolombia. Sisanya, ber-KTP Venezuela.

“Aku rela berhenti dari pekerjaan ini jika ada pilihan yang lain,” kata seorang ibu dua anak yang dulunya berprofesi sebagai penari balet dan pengusaha di Venezuela.

Banyak negara di Amerika Latin sebenarnya tidak keberatan untuk menerima pengungsi dari Venezuela, mengingat dulu negara ini juga pernah melakukan hal serupa saat negara-negara tetangganya berkonflik.

Akan tetapi, gelombang pengungsian sudah mencapai puncaknya pada tahun ini, menciptakan kondisi persaingan usaha dan pelayanan sosial yang semakin sengit. Awal pekan ini, beberapa penduduk di sebelah utara Brasil memulangkan ratusan Venezuela ke perbatasan karena masalah keamanan.

“Apa yang terjadi di Venezuela persis seperti Suriah, bedanya di sini tidak ada perang. Ada dugaan kondisi bakal memburuk di sini,” ucap seorang sosiolog di Venezuela, Trino Marquez, dinukil dari Al-Jazeera.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR