PROSTITUSI ONLINE

Wahai polisi, tangkaplah si hidung belang

| Salni Setyadi /Beritagar.id

KEMANUSIAAN | Suatu siang yang panas pekan lalu di depan Mapolda Jawa Timur, Surabaya, sekelompok ibu berunjuk rasa. Mereka teriakkan "Save Vanessa!" — merujuk tersangka Vanessa Angel dalam prostitusi daring. Mereka juga membawa plakat meminta polisi menjerat para pria konsumen PSK. Salah plakat meminta "Adili laki hidung belang".

Inilah pasar. Ada penawaran dan permintaan. Jika menyangkut pemasaran secara daring, melalui media sosial, masalahnya adalah kepatutan dalam mencari nafkah — setidaknya dari sisi penjaja diri.

Salah satu ukuran kepatutan adalah para pelaku tak ingin putrinya (atau putranya) kelak juga melakukan hal yang sama. Entahlah apakah negeri yang melegalkan pekerjaan seksual komersial juga mengharuskan pengisian jenis profesi dalam formulir pajak dan isian lain, misalnya pekerjaan orang tua, dalam saat mendaftarkan anak ke TK dan SD.

Dari sisi KUHP, sejauh ini jerat hanya untuk muncikari, namun hidung belang aman. Sedangkan dari UU Perdagangan Orang, germo juga dapat dijerat. Adapun sejumlah peraturan daerah bisa menjerat PSK, germo, dan pengguna jasa.

Di mata konstitusi, yakni Pasal 27 ayat 2 UUD 1945, "Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan".

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR