BENCANA ALAM

Warga Bontang rugi Rp75 miliar akibat banjir

Banjir setinggi dada orang dewas masih menggenangi wilayah Bontang di Kalimantan Timur, Minggu (16/6/2019).
Banjir setinggi dada orang dewas masih menggenangi wilayah Bontang di Kalimantan Timur, Minggu (16/6/2019). | Sri Gunawan Wibisono /Antara Foto

Masyarakat Bontang di Kalimantan Timur (Kaltim) mendemo PT Indominco Mandiri menyusul banjir bandang di tujuh kelurahan setempat. Masyarakat menuding eksploitasi tambang batu bara perusahaan asal Thailand ini menyebabkan banjir setinggi 150 cm.

"Aksi demo dilakukan warga di Pos Security Indominco di Kelurahan Segendis Bontang,” kata Ketua Gerakan Masyarakat Peduli Banjir (GMPB) Bontang, Teguh Suharjono, saat dihubungi Beritagar.id, Minggu (16/6/2019).

Aksi demo diikuti 50 orang perwakilan rukun tetangga (RT) setempat yang terdampak bencana banjir. Banjir di Bontang datang saat warga di Kelurahan Api Api, Bontang Baru, Gunung Elai, Telihan, Kanahan, Guntung, dan Bontang Koala tengah menikmati malam takbiran (4/6).

"Massa yang ikut aksi tidak banyak, di samping saat itu juga masih kondisi hujan," papar Teguh.

Masyarakat Bontang menuntut perusahaan transparan tentang eksploitasi tambangnya yang dituduh menyebabkan banjir. Pasalnya hingga kini belum ada klaim bertanggung jawab terhadap penyebab banjir.

Selama aksi berjalan, sempat terjadi ketegangan karena petugas keamanan perusahaan dianggap memprovokasi massa. Masyarakat lantas mendatangkan massa tambahan sebanyak 200 orang serta menuntut Indominco meminta maaf.

"Petugas security perusahaan sejak awal menunjukkan sikap kurang bersahabat. Massa lantas menghubungi rekannya sehingga jumlahnya meningkat," tuturnya.

Teguh mengatakan tuduhan masyarakat Bontang cukup beralasan. Indominco memiliki area konsesi tambang yang luas di sekitar wilayah perbatasan dengan Bontang.

Wilayah tambang mereka ada di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Sedangkan pelabuhan batu bara di Bontang dan stockpile di Kutai Kartanegara. Wilayahnya berbatasan langsung dengan tujuh kelurahan Bontang yang kini tergenang air.

"Tambang mereka berada di atas Bontang yang kemudian berdampak pada kondisi geografis lingkungannya," ungkapnya.

Eksploitasi tambang Indominco diduga mengubah fungsi kawasan yang sebelumnya bukit hijau penahan air hujan. Sementara saat banjir, air datang dari luapan Sungai Bontang, Siagian, Kanibungan, dan Guntung.

"Hujan selama 10 jam di atas akhirnya meluapkan sungai sungai di wilayah Bontang. Ini akhirnya menjadi banjir terbesar di Bontang," keluhnya.

Pemkot Bontang menyatakan bencana banjir berdampak langsung terhadap 15 ribu warga setempat dengan total kerugian berkisar Rp75 miliar. Warga pun menyatakan harus ada pihak yang bertanggung jawab mengganti kerugian harta benda mereka.

"Perusahaan harus bisa menjelaskan ekploitasi tambangnya. Mereka bertanggung jawab bila ternyata menjadi penyebab kerugian warga," ujar Teguh.

Indominco pun mengundang para perwakilan warga untuk bertemu pekan depan. Sementara pegiat lingkungan Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) menilai banjir Bontang merupakan akumulasi kerusakan lingkungan di Kaltim.

Daerah ini dikepung area sekitar yang masif menerbitkan izin tambang; Samarinda, Kutai Kartanegara (Kukar) dan Kutai Timur (Kutim). "Ada dua tambang besar di sekitar Bontang, Indominco dan Damai. Keduanya bisa jadi penyebab banjir saat ini," ungkap Dinamisator Jatam Kaltim, Pradharma Rupang.

Selain Bontang, dua kota di Kaltim yang juga tergenang secara bersamaan selama sepekan ini adalah Samarinda dan Kukar. Pradharma mengatakan Samarinda dan Kukar adalah wilayah yang paling royal menerbitkan izin pertambangan.

"Samarinda menerbitkan 76 izin, sedangkan Kukar 625 izin tambang," ungkapnya.

Pradharma menilai Bontang memang sial karena bertetangga dengan Samarinda dan Kukar. Mereka berbatasan dengan Indominco dan Damai yang punya konsesi di Kutim.

Permasalahan Bontang kian pelik karena semua tetangganya menerbitkan izin tambang. Selain Samarinda dan Kukar, izin tambang juga lahir di Kutim, Kutai Barat (Kubar) dan Berau.

"Banjir belum kunjung surut di Samarinda dan Bontang sejak Lebaran lalu," keluh Pradharma menunjukkan betapa parahnya bencana lingkungan kali ini.

Humas Indominco, Hasto Pranowo, menyatakan Pemkot Bontang sudah dua kali menggelar kajian teknis penyebab banjir di wilayahnya. Selama kurun waktu itu, ia memastikan bencana banjir tidak disebabkan proses eksploitasi tambang Indominco.

"Kajian dilakukan panitia khusus bentukan Pemkot dan DPRD Bontang. Hasilnya bukan karena Indominco," tuturnya.

Hasto menyebutkan, area tambang Indominco terhalang gunung yang memisahkan aliran air Sungai Bontang. Selain itu sekitar wilayah Bontang, menurutnya, terdapat perusahaan tambang lain yang berpotensi menyebabkan banjir.

"Area tambang kami dipisahkan gunung dengan Sungai Bontang," tuturnya.

Meskipun demikian, Hasto memastikan Indominco siap bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk mengkaji penyebab banjir. "Supaya bisa dilihat penyebabnya apakah karena kependudukan, sungai, curah hujan, atau hal lain," ujarnya.

BMKG Balikpapan memprediksi, puncak curah hujan di Kaltim masih terjadi hingga akhir Juni nanti. Musim penghujan di Kaltim memang cukup unik karena terjadi pada kurun Desember hingga Juni.

“Data kami menunjukan musim penghujan Kaltim selama bulan itu,” kata Kepala Seksi Data BMKG Balikpapan, Wahono.

Setelah bulan Juni, Wahono menyebutkan, warga Kaltim biasanya menyambut datangnya musim kemarau hingga Desember. Saat itu biasanya terjadi ancaman kekeringan air sekaligus kebakaran hutan.

Awal lebaran Idul Fitri lalu merupakan puncak musim penghujan. Curah hujan di Samarinda mencapai 72,2 milimeter, sedangkan Balikpapan 117,2 milimeter.

Uniknya, Balikpapan tidak banjir kecuali hanya genangan di sejumlah sudut. "Memang saat itu curah hujan di Balikpapan lebih lebat dibandingkan Samarinda,” sebutnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR