Warga Malaysia dan Singapura sindir Indonesia soal asap

Seorang warga Malaysia berjalan melewati Menara Kembar Petronas yang diselimuti kabut tebal di Kuala Lumpur, Malaysia.
Seorang warga Malaysia berjalan melewati Menara Kembar Petronas yang diselimuti kabut tebal di Kuala Lumpur, Malaysia. | FAZRY ISMAIL /EPA

Para pengguna Twitter di Malaysia dan Singapura mulai angkat bicara soal bencana kabut asap yang melanda wilayah mereka. Kedua negara itu turut kena kabut asap, imbas aksi pembakaran lahan di Sumatera dan Kalimantan.

#TerimakasihIndonesia, menjadi salah satu tagar yang kerap dibagikan dalam kicauan seputar kabut asap ini. Kepopulerannya bisa dilihat sebagai bentuk sindiran warga Singapura dan Malaysia atas "kiriman" asap dari wilayah Indonesia.

Merujuk Topsy, dalam 24 jam terakhir, tagar itu telah menyentuh angka sekitar 6 ribu kicauan, Selasa (15/9/2015).

Penelusuran via Trendsmap, menunjukkan sinyal percakapan #TerimakasihIndonesia menguat di kedua negara tetangga itu. Terutama paling banyak dibagikan dari wilayah Malaysia.

Tagar itu bahkan sempat masuk topik tren Twitter Malaysia, Senin siang (14/9). Adapun di linimasa Singapura, masalah kabut asap ini turut menjadi tren lewat tagar #SgHaze.

Sebaran tren Twitter #TerimakasihIndonesia, justru mencuat dari negara tetangga. Via Trendsmap, 15 September 2015, pukul 17.10 WIB.
Sebaran tren Twitter #TerimakasihIndonesia, justru mencuat dari negara tetangga. Via Trendsmap, 15 September 2015, pukul 17.10 WIB. | Istimewa /Trendsmap

Kabar terkini seputar kabut asap di Malaysia dan Singapura

CNBC mengutip pernyataan Badan Lingkungan Hidup (National Environment Agency, NEA) Singapura. NEA menyebut dalam 24 jam terakhir, indeks polusi udara di Singapura berkisar antara 122 hingga 150, Selasa (15/9). Sebagai informasi, skala 100 - 200 mengindikasikan status udara yang tidak sehat.

"Asap meluas dalam skala tebal dan sedang, yang kami amati berasal dari Sumatera bagian tengah dan selatan. Asap telah menyebar ke daerah-daerah perairan di sekitarnya," demikian penyataan NEA.

Sorotan media juga tertuju pada ajang Grand Prix F1 di Singapura yang terancam batal digelar karena bencana kabut asap ini. Menurut jadwal, ajang tersebut akan digelar pada Minggu, 20 September 2015.

"Masalah asap bisa mempengaruhi visibilitas, kesehatan masyarakat, atau masalah operasional GP Singapura. Kami akan bekerja sama dengan instansi terkait, sebelum membuat keputusan kolektif mengenai acara tersebut," kata juru bicara GP Singapura, dikutip Reuters, Minggu (13/9).

Laporan lain dari The Strait Times menyebut, bencana kabut asap juga membuat sejumlah jadwal penerbangan terganggu.

Pernyataan dari maskapai AirAsia menjelaskan, ada 29 penerbangan dari Sepang dan Kuala Lumpur yang dialihkan, ditunda, hingga dibatalkan karena kabut asap, Senin (14/9). Selama beberapa pekan terakhir, penerbangan di wilayah Pulau Pinang (Penang), dan Kuching, Sawarak juga turut terganggu.

Kabar terakhir, pemerintah Malaysia terpaksa meliburkan sekolah di Kuala Lumpur dan beberapa wilayah di sekitarnya, Selasa (15/9).

Dikutip Malay Mail Online, Menteri Pendidikan Malaysia, Datuk Seri Mahdzir Khalid mengatakan sekolah harus ditutup, setelah indeks polusi udara naik ke skala "sangat tidak sehat" sejak semalam. Menurutnya, keputusan ini akan berdampak pada 2.045 sekolah dan 1.523.000 siswa.

Berikut sejumlah kicauan di tagar #TerimakasihIndonesia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR