Waria dianggap lebih jahat dari teroris di Aceh Utara

Sejumlah aktivis AMMI (Aliansi Mahasiswa Muslim Indonesia) bersama ulama, santri dan tokoh masyarakat Banten berunjuk rasa menolak secara tegas eksistensi LGBT di Indonesia, di Kawasan Puspemprov Banten, Curug, Serang, Jumat (26/1/2018).
Sejumlah aktivis AMMI (Aliansi Mahasiswa Muslim Indonesia) bersama ulama, santri dan tokoh masyarakat Banten berunjuk rasa menolak secara tegas eksistensi LGBT di Indonesia, di Kawasan Puspemprov Banten, Curug, Serang, Jumat (26/1/2018). | Asep Fathulrahman /Antara Foto

Kepolisian Resor Aceh Utara dan Polisi Syariah Islam Wilayatul Hisbah menggelar operasi gabungan penyakit masyarakat di kawasan Lhoksukon dan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, Sabtu malam (27/1/2017). Dalam razia tersebut terjaring 12 orang waria yang bekerja di salon kecantikan.

Dua belas orang waria tersebut ditangkap di lima salon kecantikan yang tersebar di dua kecamatan Aceh Utara. Mereka ditangkap karena dianggap telah meresahkan warga dan berperilaku tidak sesuai dengan syariat Islam serta bertolak belakang dengan fitrah manusia.

Kapolres Aceh Utara AKBP Ahmad Untung Surianata melalui Antaranews, mengatakan, polisi membawa waria yang merupakan pekerja salon dan pengunjungnya ke Mapolres. Setelah tiba di Mapolres, kata Untung, mereka disatukan dalam sebuah kelompok.

Rambut para waria dicukur dan mereka juga diberi pakaian pria. Petugas juga membina mereka dengan cara disuruh berlari sejenak. "Kemudian disuruh bersorak sekeras-kerasnya hingga suara pria mereka keluar," kata Untung yang dikenal pula dengan nama Untung Sangaji.

Dilansir Tribratanews Aceh Utara, Untung mengatakan tindakan yang dilakukan dirinya sudah mendapatkan restu dari para Ulama. Untung mengatakan jumlah waria di Aceh Utara terus bertambah.

"Ini ancaman yang lebih jahat dari teroris, jadi mohon maaf apabila yang berhubungan dengan banci saya sikat," ujar Untung yang pernah terkenal karena melumpuhkan teroris di Sarinah, Jakarta 2016 lalu.

Untung mengatakan razia penyakit masyarakat itu untuk menekan jumlah waria di Aceh Utara. Polisi menerima pengaduan dari orang tua yang mengkhawatirkan anaknya ikut-ikutan berperilaku menyimpang.

Untung mengatakan sudah beberapa kali didatangi ibu-ibu yang mengeluhkan bahwa anaknya digoda oleh waria. "Ada ibu-ibu mengadu ke saya sambil menangis, mereka takut anaknya akan berperilaku menyimpang karena bergaul dengan mereka," ujar Untung.

Perlakuan terhadap para waria itu mengundang banyak sorotan. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia mengecam tindakan polisi melakukan penangkapan dan penahanan sejumlah waria, memangkas paksa rambut, dan menutup salon tempat bekerja.

Komisioner Pendidikan dan Penyuluhan Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara, menyebut tindakan itu merendahkan martabat manusia dan bertentangan dengan peraturan.

"Semua warga negara harus mendapat perlindungan hak asasinya. Dan semua warga negara harus mendapat perlakuan yang sama," kata Beka melalui BBC Indonesia, Senin (29/1/2018).

Beka menilai penangkapan yang dilakukan kepolisian Aceh Utara ini melanggar aturan internal kepolisian. Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia nomor 8 tahun 2009 mencantumkan tugas polisi untuk melindungi hak khusus kelompok minoritas, termasuk dalam hal orientasi seksual.

Operasi penyakit masyarakat di Aceh itu juga kian meramaikan isu lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) yang sudah mencuat beberapa pekan lalu.

Isu LGBT menjelang Pilkada 2018 dipantik oleh Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) sekaligus Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan pada Sabtu (20/1/2018). Zulkifli mengatakan ada lima fraksi di DPR yang menyetujui perilaku LGBT.

Pernyataan Zulkifli itu tak bisa dibuktikan, tetapi isu terus bergulir. Setelah muncul pernyataan Zulkifli, pasal pemidanaan asusila kembali marak dengan meluaskan definisi ke LGBT.

Sejumlah fraksi di DPR berjanji akan memasukkan pasal yang dapat mempidanakan tindakan asusila LGBT dalam rancangan KUHP yang ditargetkan selesai pada Februari ini.

Upaya memperluas definisi asusila pun sepertinya tak menemui banyak hambatan. Ketua DPR Bambang Soesatyo menyatakan komitmen untuk menolak perilaku LGBT.

"Allah SWT telah menciptakan makhluknya berpasang-pasangan. Ada laki-laki dan wanita. Ada jantan dan betina," ujar Bambang melalui Detikcom, Senin (29/1/2018).

Bambang menyampaikan komitmennya itu saat menghadiri acara Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan Majelis Bin Yahya pimpinan Habib Usman bin Yahya di Cisarua, Bogor, Minggu (28/1/2018).

Bambang mengatakan, pengaruh LGBT merupakan ancaman serius bangsa sehingga menjadi tanggung jawab bersama menolak LGBT.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR