KESEHATAN

Waspada penyakit musim kemarau

Sejumlah warga mandi menggunakan air dari sumur buatan di Desa Parungmulya, Ciampel, Karawang, Jawa Barat, Selasa (2/7/2019). Akibat musim kemarau sebagian warga di wilayah itu terpaksa membuat sumur buatan untuk melakukan aktivitas Mandi Cuci Kakus (MCK) karena sumber air di rumah mereka mengalami kekeringan.
Sejumlah warga mandi menggunakan air dari sumur buatan di Desa Parungmulya, Ciampel, Karawang, Jawa Barat, Selasa (2/7/2019). Akibat musim kemarau sebagian warga di wilayah itu terpaksa membuat sumur buatan untuk melakukan aktivitas Mandi Cuci Kakus (MCK) karena sumber air di rumah mereka mengalami kekeringan. | M Ibnu Chazar /Antara Foto

Kementerian Kesehatan beserta Dinas Kesehatan di berbagai wilayah Indonesia mengimbau seluruh masyarakat untuk mewaspadai dan mengantisipasi sejumlah penyakit akibat musim kemarau. ISPA, ILI, diare, dan flu adalah beberapa yang kerap muncul.

Kemarau tahun 2019 diprediksi lebih parah dibanding tahun lalu. Tak hanya dilanda panas kering dan kekurangan air antara 1-2 bulan lebih, wilayah Indonesia yang terletak di selatan ekuator, semisal Pulau Jawa, juga disambangi suhu dingin. Kondisi ini berlangsung hingga September dan mencapai pucaknya di Bulan Agustus.

Menurut Hanung Wikantono, Kepala Dinkes Purbalingga (9/7), perbedaan suhu ekstrem antara siang dan malam, ditambah karakter kemarau yang kering dan banyak debu bakal meningkatkan risiko Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Hal serupa juga disampaikan Dinkes Maros, Dinkes Pangkalpinang, dan Dinkes Kabupaten Tebo di Jambi. Mereka sepakat bahwa ISPA merupakan salah satu penyakit paling sering muncul di musim kemarau.

Bahkan, Shierly Marlena, Pelaksana Tugas (Plt) Dinkes Kota Pasuruan, mengungkap bahwa kasus ISPA yang menyerang warga Kota Pasuruan mengalami peningkatan. Dari 6.036 kasus pada Januari hingga Maret 2019, menjadi 8.777 kasus di trimester berikutnya. Terutama sejak memasuki musim kemarau.

Tak hanya ISPA, di Kabupaten Jember, Jawa Timur, tercatat setidaknya tiga penyakit yang cukup signifikan selama musim kemarau. “Yakni ILI, diare akut, dan demam tifoid.. Namun semuanya bisa ditangani dengan baik,” ungkap Kepala Dinkes Jember, Dyah Kusworini, Sabtu (20/7).

Dyah menjelaskan, berdasarkan data 50 puskesmas yang tersebar di 31 kecamatan di Kabupaten Jember, jumlah pasien yang menderita ILI (Influenza Like Illness atau penyakit mirip flu) mencapai 69.968 kasus, lalu diare akut sebanyak 21.664 kasus, dan demam tifoid 9.165 kasus, sedangkan untuk kasus hepatitis A sejauh ini belum ditemukan.

WebMD dan laman WHO mencatat, ISPA dan flu, serta ILI merupakan penyakit pernapasan menular yang memiliki gejala awal serupa seperti demam, batuk, dan sakit tenggorokan. ILI dan ISPA juga sama-sama memperlihatkan demam setidaknya 38 derajat Celcius dan batuk, dengan masa flu sekitar 10 hari terakhir.

Bedanya, flu bisa mencakup satu atau seluruh gejala dan disebabkan virus influenza, sedangkan ILI tidak diketahui penyebabnya. Sementara ISPA yang tak jarang diiringi riwayat demam dan sesak napas, bisa terjadi karena tak sengaja menghirup virus ataupun bakteri lewat udara.

Namun, karena gejala tiga penyakit itu serupa dan orang biasa menganggap flu bisa muncul dan sembuh dengan sendirinya, penyakit-penyakit ini lebih sering diabaikan.

Padahal, WHO memperkirakan 99 persen kematian akibat influenza musiman pada balita di negara berkembang, terkait infeksi saluran pernapasan bawah.

Selain itu, penyakit kulit dan hepatitis A, juga bisa dipicu musim kemarau. Menurut spesialis penyakit kulit dan kelamin Putri Ambarani, pada cuaca ekstrem seperti saat ini, udara panas memicu keringat berlebih penyebab iritasi, ruam dan gatal, sedangkan suhu dingin mempercepat tubuh kehilangan cairan.

Dampaknya selain kulit kering, “Keringat berlebih juga membikin area kulit jadi kotor dan lembap, sehingga memicu bakteri penyebab jerawat dan bisul,” ujar Putri (22/7).

Lalu, kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Anung Sugihantono, status Kejadian Luar Biasa (KLB) di Pacitan dan Trenggalek, Jawa Timur, selain dipengaruhi tercemarnya air sungai sebagai sumber air bersih, debit air yang menurun juga membuat bakteri dan virus di dalamnya lebih terkonsentrasi.

Sejauh ini, hubungan antara faktor iklim dan penyakit menular, baik melalui patogen maupun serangga telah dirangkum banyak literatur ilmiah.

Tahun 2013, peneliti dari Virginia Tech menemukan bahwa di wilayah minim ketersediaan air akibat musim kemarau, prevalensi penyakit diare semakin meningkat.

Menurut peneliti, daerah yang dilanda panas dan kekeringan mampu meningkatkan aktivitas dan kepadatan lalat. “Lalat bisa penting dalam transmisi mikroorganisme penyebab diare," catat peneliti.

Kendati demikian, laporan WHO membantah bahwa diare, wabah influenza maupun penyakit anak-anak seperti campak, pertusis dan poliomyelitis yang menunjukkan beberapa peningkatan kasus di musim kemarau, memiliki hubungan langsung dengan faktor iklim.

Sebaliknya, penyakit-penyakit itu lebih berkaitan dengan faktor-faktor non-iklim seperti jenis virus, program vaksinasi, perilaku manusia, dan pergerakan populasi.

Berlandaskan hal tersebut, Kemenkes menyarankan upaya pencegahan menggunakan masker bila berada di luar ruangan, memperbanyak air minum agar tak dehidrasi, dan mengonsumsi makanan bergizi untuk menjaga daya tahan tubuh.

Dyah juga mengimbau tidak melewatkan imusisasi lengkap dan tambahan pada bayi dan anak-anak, serta cuci tangan sebelum makan dan setelah buang air.

“Ketersediaan air sebenarnya harus dijaga dan juga sanitasi serta jangan sampai BAB di sembarang tempat. Warga juga harus menjaga pola makan seperti mengurangi makanan pedas dan es,” pungkas Hanung.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR