Waspadai aksi buru Ahok Effect

Koran-koran di sebuah lapak menampilkan pokok berita vonis kasus penistaan agama di Jakarta, Rabu (10/5).  Masalah ini menjalar di media sosial dan aksi persekusi di dunia nyata.
Koran-koran di sebuah lapak menampilkan pokok berita vonis kasus penistaan agama di Jakarta, Rabu (10/5). Masalah ini menjalar di media sosial dan aksi persekusi di dunia nyata. | Rivan Awal Lingga /ANTARA

Setelah Basuki Tjahaja 'Ahok' Purnama diputus vonis dua tahun penjara karena penodaan agama, muncul aksi persekusi bagi orang-orang yang dituding menghina agama atau orang yang dianggap ulama.

Persekusi adalah tindakan pemburuan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga ini yang dituduh melanggar hukum.

Fiera Lovita, seorang dokter di Kota Solok, Sumatera Barat diancam massa gara-gara mengunggah status Facebook. Dokter umum di Rumah sakit daerah (RSUD) Kota Solok, itu telah meminta perlindungan kepada kepolisian dan akan meninggalkan Solok karena mengaku keselamatannya terancam.

Dia mengaku telah didatangi sekelompok orang yang mengaku anggota FPI dan meminta dirinya mencabut status tersebut dan meminta maaf. Ia menuai ancaman setelah mengunggah status di akun Facebooknya.

Fiera mengherankan sikap pimpinan Front Pembela Islam, Rizieq Shihab, dalam kasus dugaan pelanggaran Undang-undang Pornografi.

Walaupun sudah minta maaf, Fiera mengaku tetap mendapat ancaman yang disampaikan langsung, lewat telepon dan media sosial. "Saya enggak aman di sini (Solok), saya dianggap menista ulama," kata dia kepada BBC Indonesia Sabtu (27/05).

Di Dumai, Riau aksi serupa juga terjadi. Seorang pria, yang dituduh menghina agama Islam dijemput paksa oleh orang-orang dengan atribut FPI. Video yang diunggah tiga hari lalu itu tak menjelaskan detail duduk perkara itu.

Heboh ! Penangkapan Pemuda,Penista Agama Islam Di Kota Dumai - Riau /alunk prima

Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet) meminta pemerintah Indonesia mewaspadai aksi persekusi yang disebut Efek Ahok (The Ahok Effect).

Jaringan relawan kebebasan ekspresi di Asia Tenggara itu menganggap, tindakan persekusi tersebut sudah menyebar merata di seluruh Indonesia dan perlu menjadi perhatian serius karena tingkat ancamannya yang nyata.

Damar Juniarto, koordinator SAFEnet regional Indonesia menyatakan, persekusi ini dilakukan dengan Lewat Facebook Page. Admin menelusuri akun-akun yang mereka anggap menghina ulama/agama.

Lalu membuka identitas, foto, alamat kantor/rumah, dan menginstruksikan massa untuk memburunya. Massa, lalu beraksi menggruduk ke kantor/rumahnya. Massa lalu membawanya ke polisi dikenakan pasal 28 ayat 2 UU ITE atau pasal 156a KUHP.

Damar menilai harusnya persekusi ini tidak dilakukan. Jika menemukan unggahan yang dianggap menodai agama atau ulama, sebaiknya melakukan mediasi secara damai, bukan digruduk massal.

Jika persekusi ini dibiarkan, kepatuhan hukum di Indonesia bisa luntur. Warga tak terlindungi karena tak ada asas praduga tak bersalah. Selain itu, penegakan hukum bisa berdasar tekanan massa (mobokrasi). "Bila dibiarkan akan mengancam kebebasan berpendapat secara umum," ujar Damar lewat siaran persnya.

Maka, SAFEnet mendesak Kapolri untuk menegakan hukum yang serius pada tindakan persekusi ini. SAFEnet juga mendesak Menteri Komunikasi dan Informatika untuk meredam persekusi yang memanfaatkan media sosial. "Karena melanggar hak privasi dan mengancam kebebasan berekspresi," kata Damar.

Damar juga menyatakan, pemerintah harus melindungi orang-orang yang menjadi target persekusi ini.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR