Waspadai dampak labilnya Rupiah

Konsumen antre menukarkan mata uang asing di jasa penukaran uang asing Valuta Artha Mas ITC Kuningan, Jakarta, Rabu (28/2/2018).
Konsumen antre menukarkan mata uang asing di jasa penukaran uang asing Valuta Artha Mas ITC Kuningan, Jakarta, Rabu (28/2/2018). | Puspa Perwirasari /ANTARAFOTO

Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Senin (5/3/2018), Presiden Joko "Jokowi" Widodo meminta jajarannya untuk mewaspadai fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat karena dikhawatirkan memengaruhi perekonomian dan daya saing.

"Ini harus betul-betul diantisipasi," kata Jokowi, dikutip dari Katadata.

Permintaan Jokowi bukan tanpa sebab. Sejak awal tahun rupiah tak mampu bersaing dengan dolar, posisinya terus melemah ke level di atas 13.500.

Menilik Bloomberg Index, perdagangan pekan ini juga diawali dengan posisi yang getir. Rupiah dibuka pada level 13.747, hanya turun 10 poin dari penutupan Jumat (2/3/2018), dan ditutup lebih tinggi 15 poin pada posisi 13.762.

Sejak Jumat, Bank Indonesia telah mengeluarkan pernyataan yang menyebut rupiah sudah bergerak di bawah nilai wajarnya, atau dalam istilah moneter disebut undervalue.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Senior, Mirza Adityaswara mengatakan, kondisi ini harus diwaspadai lantaran para eksportir sudah mulai melakukan konversi terhadap nilai tukar mata uang dengan harga barang mereka.

"Sebenarnya trading di level Rp13.200 sampai Rp13.300 ya itu level yang cocok ya. Tapi kalau sudah Rp13.600 sampai Rp13.700 menurut kami sudah overshot," ucap Mirza dalam detikcom.

Penyebab fluktuasi rupiah hingga saat ini masih dialamatkan kepada rencana kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), yang kemungkinan akan diumumkan dalam waktu dekat.

Arah kebijakan The Fed bukan baru sekali membuat posisi rupiah menjadi tidak nyaman. Kurs tengah rupiah pernah tercatat menembus level 14.728 pada 29 September 2015 sebagai dampak normalisasi kebijakan moneter AS.

Tapi kondisi tersebut tidak selalu menjadi acuan. Sebab, BI juga pernah beberapa kali menurunkan suku bunganya meski The Fed mengumumkan hal sebaliknya.

Boleh jadi kondisi tahun ini berbeda akibat imbal hasil instrumen investasi AS yang terbilang membaik. Sepanjang 2018, imbal hasil obligasi AS (US Treasury Bond) meningkat 7,75 persen hingga 16 persen.

Ini yang kemudian menjadi kekhawatiran Jokowi di atas. Sebab, kondisi ini bisa memicu arus modal keluar (capital outflow) dari Indonesia ke AS. Jika sudah terjadi, maka permintaan rupiah akan semakin sedikit dan menyebabkan kurs makin bergejolak.

Jika melihat data Bursa Efek Indonesia (BEI), sejak awal tahun 2018 hingga saat ini sebenarnya sudah ada aksi jual bersih sebesar Rp8,56 triliun.

Dampak pelemahan Rupiah

Salah satu dampak yang paling dikhawatirkan dari fluktuasi mata uang adalah kenaikan harga barang-barang impor. Hal ini terjadi karena sebagian besar perdagangan luar negeri Indonesia menggunakan Dolar AS sebagai alat pembayarannya.

Salah satu komoditi yang paling ditakutkan adalah bahan bakar minyak (BBM). Kenaikan subsidi BBM, sangat bisa memengaruhi harga barang lain, seperti listrik dan barang konsumsi--sebagai pengaruh dari rantai distribusi--.

Belum lagi industri yang menggunakan bahan baku impor seperti tempe dan tahu yang mengandalkan kedelai dari Thailand dan Amerika Serikat.

Dampak selanjutnya tentu saja beban utang negara dan swasta yang semakin berat. Seperti diketahui, surat utang negara (SUN) yang diterbitkan pemerintah kerap digunakan sebagai salah satu sumber pendanaan yang berasal tak hanya dari investor dalam negeri melainkan juga asing.

Jika berurusan dengan asing, maka SUN yang diterbitkan pun akan berdenominasi Dolar AS. Dengan melemahnya Rupiah, bukan tak mungkin para investor menjual surat utang mereka.

Tak hanya itu saja. Jika BI memutuskan untuk menaikkan suku bunga untuk menstabilkan rupiah, maka bukan tidak mungkin pertumbuhan kredit menjadi melambat.

Nasabah akan enggan mengambil kredit dengan bunga yang mahal. Selain itu, risiko meningkatnya kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) juga semakin besar akibat kenaikan suku bunga ini.

Anda yang gemar berpergian ke luar negeri juga akan dibebani biaya yang lebih tinggi. Nilai Rupiah yang Anda miliki akan semakin kecil dibanding dengan mata uang negara tujuan--khususnya negara-negara berkembang dengan tipe hard currency.

Akan tetapi, dampak pelemahan Rupiah tak selamanya negatif. Anda yang bergaji Dolar AS tentu saja akan diuntungkan dengan kondisi ini. Begitu juga dengan Anda yang memiliki tabungan dengan mata uang Dolar AS.

Para eksporter produk-produk Indonesia juga bisa mengambil untung dari penguatan Dolar AS. Sebab, pembeli akan mendapatkan barang dalam jumlah lebih besar ketimbang saat Rupiah menguat.

Apa yang bisa dilakukan

Ketika terjadi gejolak terhadap rupiah, maka pihak yang paling berkompeten untuk melakukan intervensi adalah Bank Indonesia.

Seperti yang sudah disebutkan, bank sentral bisa saja menaikkan suku bunga acuan untuk menghalau penguatan mata uang asing, namun langkah itu memiliki risiko yang harus diperhitungkan dengan masak.

Sejauh ini BI berencana melakukan stabilisasi di dua pasar, yakni pasar valuta asing (valas) dan pasar surat berharga negara (SBN).

Stabilisasi di pasar valas artinya, BI akan memberi batasan pembelian valas dengan menggunakan underlying transaction atau bukti-bukti yang mendasari terjadinya transaksi.

Artinya, penukaran valas dengan nilai tertentu (di atas US $25.000) bisa dilakukan dengan menunjukkan underlying transaction.

Sementara, stabilisasi SBN dilakukan BI dengan memborong surat utang investor yang dilepas sejak pengumuman diedarkan hingga jangka waktu tertentu.

BACA JUGA