INTERNASIONAL

WNI korban penembakan dimakamkan di Christchurch

Warga Christchurch, Selandia Baru, Minggu (17/3/2019), mengunjungi memorial untuk korban pembunuhan massal di dua masjid yang terjadi Jumat (15/3). Sebanyak 50 orang tewas akibat teror tersebut.
Warga Christchurch, Selandia Baru, Minggu (17/3/2019), mengunjungi memorial untuk korban pembunuhan massal di dua masjid yang terjadi Jumat (15/3). Sebanyak 50 orang tewas akibat teror tersebut. | Mick Tsikas /EPA-EFE

Dua hari setelah teror penembakan dua masjid di Christchurch, pemerintah Selandia Baru memastikan korban tewas akibat insiden tersebut mencapai 50 orang. Salah satunya adalah warga negara Indonesia, Muhammad "Lilik" Abdul Hamid, yang tertembak di Masjid Al Noor.

Kementerian Luar Negeri RI menyatakan Menteri Luar Negeri, Retno LP Marsudi, telah menghubungi istri korban, yang bernama Nina, untuk menyampaikan belasungkawa dan memberikan dukungan moral. Lilik juga meninggalkan dua orang anak.

Duta Besar RI untuk Selandia Baru, Tantowi Yahya, telah mendatangi tempat tinggal korban dan mengabarkan bahwa keluarganya menginginkan agar Lilik dimakamkan di Christchurch.

"Almarhum sudah menjadi penduduk tetap Selandia Baru. Belum ada pemberitahuan kapan pemakaman akan dilakukan," kata Tantowi, dikutip detikcom (17/3).

Lilik Abdul Hamid, dikabarkan The New York Times (17/3), adalah karyawan bagian teknik pemeliharaan pesawat maskapai penerbangan Air New Zealand. Ia telah bekerja di maskapai tersebut selama 16 tahun.

"Bahkan ia telah berkenalan dengan tim kami jauh sebelum itu ketika ia masih bekerja di maskapai lain," kata CEO Air New Zealand, Christopher Luxon, dalam The New York Times. "Persahabatan itu membuatnya kemudian tertarik untuk melamar kerja di Air New Zealand, lalu pindah ke Christchurch."

Kemlu RI juga mengabarkan bahwa seorang WNI bernama Zulfirman Syah dan anak lelakinya masih dirawat di Christchurch Public Hospital. Zulfirman, yang tertembak beberapa peluru, masih dirawat secara intensif, sementara sang anak dinyatakan sudah stabil.

Kedutaan Besar RI di Wellington menyatakan akan berupaya memfasilitasi kebutuhan semua WNI yang menjadi korban aksi teror di dua masjid di Christchurch tersebut. Pemerintah Selandia Baru mengumumkan saat ini masih ada 34 korban yang dirawat di rumah sakit setempat, termasuk 12 orang dalam kondisi kritis.

Pelaku bertindak sendiri

Beberapa jam setelah peristiwa penembakan terjadi di Masjid Al Noor dan Linwood Islamic Center--dua tempat yang berjarak 6 km--polisi menangkap empat orang yang diduga terkait insiden tersebut.

Namun pada Minggu (17/3), polisi Selandia Baru meyakini bahwa pelaku penembakan bertindak sendirian, sehingga tiga tersangka lain telah dilepaskan.

Tersangka tunggalnya bernama Brenton Harrison Tarrant. Usianya 28 tahun. Ia adalah seorang binaragawan dan pelatih fitness yang berasal dari Grafton, kota kecil di Australia.

Tarrant, yang sempat berkelana ke beberapa negara sejak 2010, mengakui bahwa dirinya adalah fasis dan aktif dalam dunia kelompok supremasi kulit putih di dunia maya.

Tarrant diduga amat terpengaruh oleh dunia maya sehingga menayangkan pembunuhan yang dilakukannya secara langsung lewat Facebook. Ia juga sempat mengirimkan "white nationalist manifesto" melalui surel ke beberapa tokoh dunia, termasuk Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern.

Polisi telah mendakwanya dengan pembunuhan dan Ardern menegaskan bahwa Tarrant akan diadili di Selandia Baru.

"Ia jelas akan menghadapi sistem hukum Selandia Baru untuk serangan teror yang dilakukannya di sini," kata Ardern.

Sang Perdana Menteri juga berjanji akan segera mengubah undang-undang kepemilikan senjata di negara yang sebelumnya terkenal aman itu.

"Saya telah menyatakan akan ada perubahan pada peraturan (kepemilikan) senjata kami. Hal itu akan didiskusikan di kabinet besok," tegas Ardern dalam konferensi pers di Wellington, Minggu (17/3), dikutip CNN.

Sebenarnya aturan kepemilikan senjata di Selandia Baru termasuk ketat, terutama dibandingkan dengan di Amerika Serikat. Pemilik senjata, dituturkan Vox, harus lulus kursus senjata api dan pengecekan latar belakang kehidupan mereka, termasuk sejarah kriminal dan organisasi sebelum mendapatkan izin untuk membeli senjata.

Akan tetapi, ketika izin sudah didapat, pemilik senjata itu tidak wajib mendaftarkan jenis senjata yang digunakannya. Meski ada beberapa senjata yang perlu izin khusus, yaitu senjata semi-otomatis dan pistol gaya militer, serta senjata terbatas.

Oleh karena itu polisi dan pemerintah Selandia Baru tidak tahu berapa banyak sebenarnya jumlah senjata legal maupun ilegal yang dimiliki penduduk. Namun data dari Small Arms Survey menunjukkan ada 1,2 senjata yang dimiliki warga Selandia Baru.

Tanggung jawab media sosial

Selain soal kepemilikan senjata, Ardern juga menyatakan, "ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab" terkait peran situs-situs media sosial dalam kasus itu, seperti Facebook, yang digunakan tersangka pelaku untuk menyiarkan langsung serangan yang dilakukannya.

"Platform media sosial ini memiliki jangkauan luas. Ini adalah masalah yang dirasakan juga hingga luar Selandia Baru," katanya.

Facebook memang segera bertindak. Pada Minggu (17/3), melalui akun Twitter resminya, raksasa jejaring sosial itu mengumumkan telah menghapus 1,5 juta video serangan yang sempat diunggah di seluruh dunia, termasuk 1,2 juta video yang sempat diblok sebelum terunggah.

Kepala Komunikasi dan Kebijakan Facebook untuk Australia dan Selandia Baru, Mia Garlick, menambahkan bahwa mereka juga menghapus seluruh video yang telah diedit terkait peristiwa itu.

Dua media sosial besar lainnya, YouTube dan Twitter juga tengah melakukan upaya untuk menghapus video-video peristiwa di Christchurch yang telah diunggah di platform mereka.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR