WNI simpatisan ISIS akan jalani deradikalisasi

Foto ilustrasi lambang kelompok militan ISIS
Foto ilustrasi lambang kelompok militan ISIS | Abir Sultan /EPA

Sebanyak 18 warga negara Indonesia (WNI) yang pernah bergabung dengan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) telah kembali ke Tanah Air, Sabtu (12/8/2017).

Rombongan yang tiba di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang itu langsung dibawa ke markas Badan Nasional Penanggulangan Terorisme di Sentul, Bogor, untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

"Sekarang sedang dimintai keterangan dan klarifikasi, apakah sudah terpapar radikalisme atau belum. Kalau sudah maka ada upaya untuk melakukan deradikalisasi," kata Kadiv Humas Mabes Polri, Setyo Wasisto, dalam Detikcom saat dikonfirmasi alasan 18 orang itu dibawa ke BNPT.

Setyo mengatakan, hingga saat ini pemerintah belum bisa mengambil keputusan lebih jauh, berikut status hukum kepada 18 orang ini, sebelum pemeriksaan di BNPT rampung.

Pemulangan para WNI dari Raqqa ini menjadi pro-kontra, terutama karena kepergian mereka ke Suriah didasari keinginan untuk bergabung dengan ISIS.

Belakangan, Direktur Perlindungan WNI dan Bantuan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhammad Iqbal menyebut, berdasarkan sejumlah investigasi yang dilakukan sebelum kepulangan 18 orang ini, diketahui bahwa keberadaan mereka di sana bukan sebagai pejuang.

Belasan WNI yang didominasi perempuan itu, lanjut Iqbal, berada di Raqqa pada 40 hari pertama mereka tiba di Suriah. Setelahnya, mereka berada di dalam penjara serta rumah isolasi hingga akhirnya berhasil melarikan diri dengan bantuan pihak ketiga pada 10 Juni 2017.

Ke-18 WNI simpatisan ISIS ini memulai perjalanan mereka dua tahun silam. Tergiur oleh kemakmuran dan kekhalifahan Islam yang dijanjikan ISIS, mereka bertolak ke Turki, gerbang awal menuju Suriah.

Apa daya, setibanya mereka di Raqqa mereka mendapati kenyataan bahwa semua janji tersebut hanyalah bualan belaka. Mereka justru dijadikan budak dan dipenjara. Nahdlatul Ulama sempat memperkirakan saat ini terdapat sekitar 700 WNI yang pernah bergabung dengan ISIS.

Pengamat terorisme Universitas Indonesia, Ridwan Habib meminta pemerintah untuk tetap memperhitungkan alasan keberangkatan mereka ke Suriah dengan penanganan yang akan dilakukan terhadap mereka.

Pemerintah juga seharusnya bisa memberlakukan tiga status atau klasifikasi berbeda bagi WNI yang kembali dari Suriah, baik yang menyatakan tertipu atau yang memang kembali setelah bertempur.

Misalnya, status A bagi mereka yang menganggap daulah Islamiyah itu penting dan harus diwujudkan, kategori B untuk yang kecewa tapi netral, dan kategori C untuk yang benar-benar sudah muak dengan propaganda ISIS.

"Mereka (kategori C) bisa dilibatkan sebagai juru bicara di acara-acara deradikalisasi," ujar Ridwan dalam BBC Indonesia.

Di sisi lain, pemerintah juga tidak bisa menolak kedatangan WNI yang telah dideportasi dari sebuah negara. Aturan ini berlaku pada seluruh WNI di luar negeri, tak terkecuali mereka yang berkomitmen kepada ISIS.

Namun, Direktur Bidang Pencegahan BNPT, Bridgjen Hamidin memastikan pemerintah akan mengharuskan mereka mengikuti program deradikalisasi secara berkelanjutan. Setelah program deradikalisasi selesai, para WNI baru akan dipulangkan ke domisili mereka masing-masing.

Adapun data ke-18 WNI yang menjadi simpatisan ISIS yakni:

1. Lasmiati, kelahiran Ngawi, 29 Juli 1977;

2. Muhammad Saad Al Hafs, kelahiran Jakarta, 26 Agustus 2014;

3. Mutsanna Khalid Ali, kelahiran Jakarta, 26 Januari 2004;

4. Difansa Rachmani, kelahiran Tanjung Redeb, 21 Maret 1986;

5. Muhammad Habibi Abdullah, kelahiran Jakarta, 12 Oktober 2011;

6. Muhammad Ammar Abdurrahman, kelahiran Jakarta, 26 Agustus 2014;

7. Dwi Djoko Wiwoho, kelahiran Medan, 15 Januari 1967;

8. Fauzakatri Djohar Mastedja, kelahiran Padang, 28 April 1959;

9. Febri Ramdhani, kelahiran Jakarta, 19 Februari 1994;

10. Sita Komala, kelahiran Jakarta, 4 Januari 1961;

11. Intan Permanasari Putri, kelahiran Jakarta, 13 September 1989;

12. Sultan Zuffar Kurniaputra, kelahiran Jakarta, 5 Januari 1999;

13. Ratna Nirmala, kelahiran Jakarta, 9 September 1966;

14. Nurshadrina Khaira Dhania, kelahiran Jakarta, 6 April 1998;

15. Heru Kurnia, kelahiran Jakarta, 12 Juli 1962;

16. Tarisha Aqqila Qanita, kelahiran Batam, 4 Oktober 2004;

17. Mohammad Raihan Rafisanjani, kelahiran Jakarta, 2 Februari 1999;

18. Syarafina Nailah, kelahiran Jakarta, 26 Februari 1996.

BACA JUGA