INTERNASIONAL

WNI tertangkap selundupkan sabu senilai Rp14 miliar ke Filipina

Foto ilustrasi penembakan terduga pengedar narkoba di Manila, Filipina, pada Maret 2019 lalu.
Foto ilustrasi penembakan terduga pengedar narkoba di Manila, Filipina, pada Maret 2019 lalu. | FRANCIS R. MALASIG /EPA

Seorang Warga Negara Indonesia (WNI), Agnes Alexandra, ditangkap oleh aparat berwajib Filipina setelah diduga menyelundupkan 8 kilogram sabu jenis methamphetamine senilai AS$1 juta, atau Rp14 miliar.

Imigrasi Filipina menjelaskan, Agnes ditangkap pada Senin pagi (7/10/2019) di Bandara Manila setelah mendarat dari Siem Reap, Kamboja. Barang bukti yang disita yakni sebuah tas.

Associated Press (h/t The New York Times) melaporkan Agnes menutup mukanya saat ditangkap aparat dan terekam kamera televisi. Ia mengaku, tas tersebut bukan miliknya.

“Tersangka mengaku tas itu bukan miliknya, tapi itu selalu menjadi alibi mereka (para penyelundup narkoba)," ujar pejabat imigrasi setempat, Lordes Mangaoang, saat konferensi pers.

Otoritas bandara di Filipina telah memperketat pemeriksaan terhadap kargo dan koper para penumpang. Tindakan tersebut, menurut mereka merupakan upaya mengantisipasi upaya para sindikat obat terlarang menyelundupkan obat-obatan terlarang melalui pintu bandara.

Bulan lalu, petugas bandara Manila menyita sebuah tas dan ransel berisi methamphetamine yang ditinggalkan begitu saja di terminal kedatangan. Tas itu berasal dari penerbangan dari Vietnam. Polisi Filipina masih mencari pemilik barang tersebut.

Perang melawan narkoba

Organisasi Human Rights Watch (HRW) mengutip data dari Philippine Drug Enforcement Agency (PDEA) yang menunjukkan sebanyak 4.948 tersangka narkoba mati sejak operasi pembasmian narkoba digelar mulai 1 Juli 2016 hingga 30 September 2018. Operasi ini wujud dari perang Presiden Rodrigo Duterte terhadap para penyelundup dan gembong narkoba.

Meski demikian, HRW berargumen angka ini tidak termasuk ribuan orang yang terbunuh oleh kelompok bersenjata. Kepolisian Filipina (PNP) mendata sebanyak 22.983 kematian serupa terjadi sejak perang terhadap narkoba dikategorikan ke dalam jenis kejahatan bunuh diri (homicides under investigation).

HRW menolak keras kebijakan Duterte yang dianggap sebagai bentuk pembunuhan di luar pengadilan (extrajudicial killing). Artinya, para tersangka ini belum menjalani haknya untuk membela diri di meja hijau, tapi telah dieksekusi.

Laporan investigasi Reuters merekam contoh pembunuhan oleh aparat setempat kepada terduga pengedar narkoba di tempat penangkapan. Setelah dibunuh dan mati, jenazah baru dibawa ke rumah sakit. Dalam pencatatan, aparat menuliskan kematian para tersangka narkoba sebagai kematian di rumah sakit atau death on arrival untuk menutupi pembunuhan di luar pengadilan.

Padahal, rekaman video dan catatan Reuters menunjukkan mereka sudah tak berkutik di tempat kejadian perkara. Sejumlah saksi juga mengakui para terduga ini sudah tak bernyawa saat ditembak kelompok bersenjata.

Dalam investigasi lainnya, pada Juni 2017, Reuters melaporkan ratusan terduga pengedar dan pengguna narkoba yang belum menjalani peradilan ditembak mati di tempat kejadian oleh aparat saat operasi.

Kecaman datang dari berbagai penjuru dunia: aktivis HAM dan organisasi HAM. Namun, Duterte masih tetap berkomitmen untuk melanjutkan perangnya terhadap narkoba. Bahkan, ia bersumpah untuk melindungi petugas Kepolisian yang melakukan eksekusi terbebas dari hukum.

Angka penangkapan kasus narkoba di Filipina.
Angka penangkapan kasus narkoba di Filipina. | UNODC /UNODC

Data United Nations Office on Drugs and Crimes (UNODC) menunjukkan penangkapan terkait narkoba di Filipina sejak Januari hingga September 2018 lebih dari 25.000 kejadian, 93 persen di antaranya terkait sabu jenis methamphetamine.

Jumlah penangkapan cenderung meningkat sejak enam tahun silam. Sebelumnya, hanya mencapai 8.000 penangkapan pada 2013, dengan total kasus sabu sebanyak 84 persen. Angka ini meningkat drastis pada 2016 mencapai lebih dari 27.000 kejadian di mana 95 persen di antaranya adalah kasus sabu.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR