MITIGASI BENCANA

Yogyakarta relatif sadar ancaman bencana, Sulteng sebaliknya

Sejumlah warga berjalan menuju lokasi evakuasi di daerah perbukitan saat simulasi bencana gempa dan tsunami di Desa Huangobotu, Bone Bolango, Gorontalo, Senin (8/10/2018). Simulasi dilakukan sebagai langkah antisipasi bagi masyarakat di pesisir pantai jika terjadi gempa bumi yang berpotensi tsunami.
Sejumlah warga berjalan menuju lokasi evakuasi di daerah perbukitan saat simulasi bencana gempa dan tsunami di Desa Huangobotu, Bone Bolango, Gorontalo, Senin (8/10/2018). Simulasi dilakukan sebagai langkah antisipasi bagi masyarakat di pesisir pantai jika terjadi gempa bumi yang berpotensi tsunami. | Adiwinata Solihin /Antara Foto

Bila bicara tentang bencana, Indonesia seolah gagap dalam mengantisipasi. Indonesia lebih sibuk ketika bencana sudah terjadi, layaknya kerja pemadam kebakaran.

Tentu saja menangani pascakejadian tidak juga buruk dan sesuatu yang memang harus dilakukan. Namun, karena Indonesia berada di daerah yang rawan bencana lantaran terletak di wilayah cincin api, antisipasi sudah selayaknya menjadi prioritas awal.

Cincin api adalah jalur alami yang nyaris berbentuk tapal kuda. Ia mengelilingi cekungan Samudra Pasifik sepanjang 40 ribu kilometer. Artinya kawasan ini punya risiko bencana gunung meletus, gempa bumi, dan tsunami--ini pun belum bicara soal tanah longsor atau banjir.

Jadi, dengan situasi seperti itu, mitigasi Indonesia belum paripurna. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, mitigasi berarti tindakan mengurangi dampak bencana.

Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2017 yang dipelajari Lokadata Beritagar.id menunjukkan mitigasi bagi masyarakat cukup rendah. Konotasi rendah di sini ada dua; jumlah kegiatannya dan juga kesadaran atau ketidaktahuan masyarakatnya untuk mengikuti simulasi termaksud.

Jadi, simulasi mengantisipasi bencana di Indonesia bukannya tak ada, melainkan kuantitasnya yang tak memadai. Lantas tanda-tanda peringatan atau panduan yang disediakan untuk menghindari bencana pun minim, andai ada pun rusak atau hilang.

Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) 2017, Indonesia memiliki 322 kabupaten/kota dengan indeks risiko bencana alam kategori tinggi dan 173 kabupaten/kota dengan kategori sedang.

Misalnya di wilayah Jakarta Selatan. Masuk wilayah dengan kategori risiko bencana sedang, hanya kurang dari empat persen rumah tangga di situ yang pernah ikut pelatihan tanggap bencana.

Sementara Cianjur di Jawa Barat yang memiliki rasio bencana cukup tinggi adalah wilayah dengan responden rumah tangga terhadap pelatihan tanggap bencana paling rendah (0,4 persen).

Perbandingan indeks risiko bencana dengan awareness rumah tangga terhadap bencana.
Perbandingan indeks risiko bencana dengan awareness rumah tangga terhadap bencana. | Lokadata /Beritagar.id

Kota Palu di Sulawesi Tengah (Sulteng) yang 11 hari silam luluh lantak oleh gempa dan tsunami pun begitu. Masuk daerah dengan risiko tinggi bencana, cuma sekira 2,9 persen rumah tangga di Palu yang pernah mengikuti simulasi antisipasi bencana.

Kabupaten Donggala di pesisir Sulteng yang sebagian besar wilayahnya juga hancur oleh terjangan tsunami pun begitu. Memiliki indeks risiko bencana yang tinggi, hanya 0,9 persen rumah tangganya yang pernah mengikuti simulasi kejadian bencana alam.

Bahkan bila dihitung secara provinsi, Sulteng memang sangat rendah. Hanya 6,2 persen rumah tangga yang tahu rambu-rambu darurat untuk mengantisipasi bencana alam.

Secara makro Indonesia, persentase tertinggi rumah tangga yang paham pada tanda darurat bencana hanya 36,1 persen. Angka itu dicatat Provinsi Yogyakarta.

Selain Yogyakarta; Bali, Bengkulu, dan Sumatera Barat memiliki lebih dari 24 persen rumah tangga yang sadar pada rambu-rambu antisipasi bencana alam. Dan ini cukup melegakan karena semuanya daerah dengan indeks risiko bencana cukup tinggi.

Namun, meningkatkan pemahaman (awareness) itu masih menjadi pekerjaan rumah yang besar. Terutama bagi rumah tangga di kawasan Maluku Utara, Aceh, Maluku, Sulawesi Utara, Papua Barat, Jawa Tengah, Gorontalo, Nusa Tenggara Timur dan DKI Jakarta yang cuma berkisar 11 -20%.

Sulawesi Tengah adalah provinsi dengan tingkat awareness terhadap antisipasi bencana yang rendah.
Sulawesi Tengah adalah provinsi dengan tingkat awareness terhadap antisipasi bencana yang rendah. | Lokadata /Beritagar.id

Jadi, masyarakat memang membutuhkan simulasi atau perlu diingatkan terus agar tetap sadar pada antisipasi bencana.

Akan tetapi, sebelum ke sana, pemerintah (daerah) juga perlu memulai pekerjaan rumah internal. Aparat pemerintah dinilai belum cukup tanggap pada mitigasi bencana.

Bahkan menurut Wakil Presiden Jusuf "JK" Kalla, pemerintah daerah juga gagap dalam menanggapi bencana yang sedang terjadi di wilayahnya. Misalnya pemerintah Sulteng, JK menyebut kehadirannya kurang dirasakan masyarakat selepas bencana.

"Jangan membagi makanan saja tentara, membagi beras tentara, kemudian baru relawan muncul ada PMI, ada segala macam dari luar....memang ada trauma juga kita tahu itu, tapi apa pun traumanya, makin trauma kalau tidak ada pemimpin," tegas JK dalam Kumparan, Senin (7/10/2018).

JK menilai pemda selalu panik dan tidak bisa mengendalikan diri ketika bencana menerjang wilayahnya. Sebaliknya, justru TNI yang terlihat lebih sigap dalam menangani tanggap darurat.

"Jadi saya katakan setiap bencana besar seperti Aceh, gempa, dan tsunami, pemda itu panik dan selalu tidak terkendali," katanya dikutip Okezone, Selasa (9/10).

Itu sebabnya JK meminta agar aparat pemda diberi pelatihan menghadapi krisis akibat bencana meski juga menjadi korban. JK tak mau lagi ada pemda yang tak siap dan sigap.

JK meminta pemda untuk belajar dari TNI. Komandan Tanggap Darurat Bencana di Sulteng ini juga meminta Lembaga Administrasi Negara untuk memberi pelajaran tentang manajemen krisis.

"Apa yang terjadi, apa yang harus diperbuat saat terjadi krisis," kata JK dalam pembekalan pelatihan Lemhannas di Istana Wapres, Jakarta, dalam lansiran detikcom, Senin (8/10).

Indonesia perlu belajar kepada Chile yang juga berada di kawasan cincin api. Negara di Amerika Selatan ini cukup siap mengantisipasi bencana seperti gempa bumi.

Misalnya pada 2014, goncangan 8,2 Skala Richter yang menerpa pantai utara Chile hingga memicu tsunami tidak memakan banyak korban. Deteksi dini tsunami membuat sekitar sejuta orang sudah berhasil dipindahkan ke lokasi yang aman.

Chile berhasil memetik pelajaran dari 2010 yang kala itu berkekuatan 8,8 SR beserta tsunami yang mengikutinya.

BACA JUGA