Abdulbar M. Mansoer tengah berpose untuk Beritagar.id di kantor ITDC di Gedung Menara BCA lantai 39, Jl. M. H. Thamrin No. 1, Jakarta Pusat, Senin (14/3/2019).
Abdulbar M. Mansoer tengah berpose untuk Beritagar.id di kantor ITDC di Gedung Menara BCA lantai 39, Jl. M. H. Thamrin No. 1, Jakarta Pusat, Senin (14/3/2019). Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id
BINCANG

Abdulbar M. Mansoer: MotoGP tak tergantung siapa presidennya

Direktur Utama ITDC ini sempat khawatir saat Sirkuit Sentul dan Ridwan Kamil berencana menyelenggarakan MotoGP. Dia menolak pengumumannya dikaitkan dengan pilpres.

Beberapa waktu terakhir, kesibukan Abdulbar M. Mansoer tiba-tiba sangat padat. Direktur Utama PT Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) itu, kini tak bisa pulang pada sore hari --dulu terkadang pukul 16.00 sudah cabut dari kantor.

Penyebabnya, tak lain karena keberhasilan dia dan tim melobi Carmelo Ezpeleta, CEO Dorna Sports (penyelenggara MotoGP), untuk menghelat MotoGP di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Nusa Tenggara Barat.

"Dulu, saya bisa pulang ke rumah jam 4 sore. sekarang gak bisa. Malam terus, puyeng. Haha," ucap pria yang biasa disapa Barry kepada Beritagar.id.

Perjuangan Mandalika menggelar MotoGP, jauh dari hiruk-pikuk pemberitaan. Sebelumnya, Sirkuit Sentul di Bogor dan Majalengka, Jawa Barat, merupakan daerah yang paling sering disebut akan menyelenggarakan ajang tersebut.

Namun, semua itu berubah pertengahan Februari 2019. Barry mulai bersuara bahwa pihaknya telah menandatangani kontrak dengan Dorna pada 28 Januari 2019 di Madrid, Spanyol, untuk menyelenggarakan MotoGP musim 2021 hingga 2026.

Keberhasilan Indonesia menjadi penyelenggara ini seperti memenuhi kerinduan masyarakat Tanah Air untuk menyaksikan secara langsung lomba MotoGP. Pasalnya, terakhir Indonesia menyelenggarakannya pada musim 1996 dan 1997, di Sirkuit Sentul. Saat itu namanya masih GP 500.

Pengumuman Indonesia menjadi penyelenggara itu pun bertepatan dengan waktu Pemilihan Presiden (Pilpres). Sebagian pihak khawatir hasil pilpres memengaruhi keberlangsungan MotoGP di Indonesia.

"Saya tidak melihat siapa presidennya. MotoGP tak tergantung siapa presidennya, karena ini untuk Indonesia," ucap Barry.

Selama lebih dari satu jam, Barry menerima Dwi Setyo Irawanto, Sandy Pramuji, Yandi M Rofiyandi, Andya Dhyaksa dan fotografer Wisnu Agung Prasetyo di ruang rapat kantor ITDC di Gedung Menara BCA lantai 39, Jl. M. H. Thamrin No. 1, Jakarta Pusat, Kamis (14/3/2019).

Mengenakan kemeja berbahan tenun berkelir biru tua dan cokelat tua, Barry menjawab pertanyaan tim seputar proses negosiasi dengan Dorna, posisi ITDC, kekhawatiran tak dipilihnya Mandalika, hingga pengumuman saat pilpres.

Ia menjawab semua itu dengan antusias, meski volume suaranya cukup pelan. Dua kali gelasnya diisi ulang dengan air putih selama wawancara berlangsung. “Haus," ucapnya. Berikut petikan wawancaranya.

Abdulbar M. Mansoer berpose untuk Beritagar.id di kantor ITDC di Gedung Menara BCA lantai 39, Jl. M. H. Thamrin No. 1, Jakarta Pusat, Kamis (14/3/2019).
Abdulbar M. Mansoer berpose untuk Beritagar.id di kantor ITDC di Gedung Menara BCA lantai 39, Jl. M. H. Thamrin No. 1, Jakarta Pusat, Kamis (14/3/2019). | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Bagaimana Mandalika bisa menyelenggarakan MotoGP?
Pada 2016, kami bertemu investor besar asal Prancis, Vinci SA. Mereka menyewa lahan 131 hektare, dari 1.100 hektare milik kami. MoU dibuat 2017, tanda tangan kontrak 2018. Kesepakatan itu untuk 80 tahun dengan konsep Build Operate Transfer.

Setelah kesepakatan itu, saya bilang ke mereka "Kita perlu membuat sebuah konsep yang bagus agar orang datang". Saya tawarkan ide untuk menyelenggarakan MotoGP, dan mereka (Vinci) setuju. Ya sudah, kami sepakat MotoGP.

Posisi ITDC dalam penyelenggaraan MotoGP ini?
Yang membuat fasilitas untuk menyelenggarakan MotoGP itu Vinci, seperti tribun untuk penonton dan sirkuit. Sedangkan ITDC, membangun sarana pendukungnya, seperti jalan (ke sirkuit) dan dasar jalan sirkuit. Kami merupakan pemilik wilayah Mandalika.

Yang menjadi pihak penyelenggara MotoGP nanti apakah ITDC atau Vinci?
Nantinya, ITDC memiliki cucu perusahaan yang menjadi penyelenggara. Namanya, Mandalika Grand Prix Association (MGPA). MGPA ini nantinya yang akan mengurus segalanya, seperti menyewa grandstand, paddock, atau toilet.

MGPA akan bekerja sama dengan MRK1 Consulting dan Roadgrip Motorsports yang punya pengalaman menyelenggarakan balapan. Merekalah partner yang telah kita tunjuk untuk menyelenggarakan MotoGP.

Jadi, pembayaraan lisensi sebesar 9 juta euro dibayarkan oleh MGPA?
Ya mereka yang membayar. Namun, ada yang salah selama ini. Sembilan juta euro itu bukan hanya lisensi, tapi juga biaya penyelenggaraan. Kita tahunya (9 juta euro) itu bersih. Jumlah itu dipakai Dorna untuk membawa seluruh perlengkapannya ke sini.

Negosiasi dengan Dorna seperti apa?
Saat kami mendaftarkan diri pada 2017, Ezpeleta menanyakan apa itu Mandalika? Saat itu, Sentul dan Palembang sudah mendaftar. Saya jelaskan. Setelah dia bilang kita masih bisa daftar, kami bergerak. Vinci menyewa desainer sirkuit dengan biaya 1 juta dolar AS.

Pada Oktober 2018, Ezpeleta datang ke Indonesia. Saya ajak main golf di Nusa Dua. Saya bilang, kondisi Mandalika nantinya seperti ini, hijau dan sejuk, tapi bisa untuk balapan. Setelah itu kita naik helikopter dan dia terkesan. Dia bilang "excellent".

Penunjukkan Mandalika ini cukup mengejutkan, mengingat Sentul dan Majalengka yang sering disebut-sebut.
Tahun lalu, Sentul sempat dapat angin. Kita ketar-ketir juga, karena lagi negosiasi dengan Dorna. Selain itu, Pak Ridwan Kamil (Gubernur Jawa Barat), juga mengatakan Jawa Barat tertarik membuat sirkuit (di Majalengka). Khawatir kami sebenarnya.

Tapi kami yakin saja (berhasil menyelenggarakan di Mandalika). Haha.

Kenapa Anda bisa yakin?
Untuk menyelenggarakan MotoGP itu tidak mudah. Dorna maunya semua sudah clear, seperti lahan. Mandalika semuanya clear.

Dia juga mensyaratkan adanya atraksi sesuai kriteria mereka. Yang penting ya Dorna, kalau mereka gak suka sama kita, ya dia gak kontak-kontakan sama kita.

Mandalika merupakan sirkuit jalan raya MotoGP pertama di dunia. Ada pertimbangan dari Dorna?
Saat mengajukan sirkuit terbuka (jalan raya) ini, mereka tak langsung menyetujui, karena memang belum pernah ada. Dari sisi keamanan, di-challenge habis-habisan kami.

Franco Uncini, Kepala Keamanan Grand Prix FIM (Federasi Olahraga Bermotor Internasional) dan Loris Capirossi (Ketua Asosiasi Pembalap) maunya aman. Kita revisi berkali-kali hingga lolos dan kita mendapatkan kepastian untuk 2021.

Persiapan fasiltas kesehatan di Mandalika mencukupi jika terjadi insiden?
Rencana Vinci itu, nanti di kawasan tersebut akan dibangun rumah sakit. Tapi gak mungkin dalam 2 tahun ini.

Sebenarnya, klinik di Mataram sudah cukup. Namun, mereka minta disiapkan helikopter dan landasannya bila terjadi kecelakaan parah.

Rencana, selain MotoGP dan WSBK (World Superbike), Mandalika akan menggelar apa lagi?
Sejauh ini baru dua. Sebenarnya yang bisa berbicara ini pak Ricky Baheramsjah (calon Presiden Direktur MGPA). Tapi karena belum terbentuk, saya jawab. Kalo keduanya ini bagus, akan kita tambah balap-balap lain. Kita lihat nanti.

"Saya hanya berpikir bagaimana Mandalika ini berkembang setelah Lombok terkena gempa"

Abdulbar M. Mansoer

Ada rencana menyelenggarakan F1?
Tidak. Itu yang mengurus (pemilik lisensi) kan FIA (Federation Internationale de l'Automobile), kalau MotoGP FIM.

Kita gak akan ngejar FIA, karena lisensenya mahal, berapa puluh juta euro gitu. Selain itu, penontonnya juga gak sebanyak MotoGP. Mungkin nanti balap mobil V8.

Apakah Mandalika mampu menampung jumlah penonton yang jumlahnya ratusan ribu?Hotel di sana belum banyak, baru ada tiga. Tahun depan, kira-kira baru ada 1.000 kamar, itu masih kurang banyak. Tapi nanti kita akan sediakan bangunan semi-permanen. Di ajang Daytona 500 di Amerika Serikat juga gitu, tengah-tengahnya mobil RV.

Tapi kan, Mandalika dekat dari Nusa Dua, Bali. Naik pesawat setengah jam atau speedboat cuma dua jam.

Artinya masih mengandalkan Bali?
Di sana (Bali) ada hotel kelas backpacker sampai kelas atas. Sebenarnya, kita punya Lombok. Tapi seperti yang kita ketahui, daerah itu baru terkena bencana. Dan juga, kapasitas di sana memang tidak terlalu banyak, kurang untuk menampung penonton.

Pengumuman penyelenggaraan saat Pilpres terkesan politis.
Tidak. Saya tidak melihat siapa presidennya. Saya hanya berpikir bagaimana Mandalika ini berkembang setelah Lombok terkena gempa. Kalau tidak dibuat atraksi ini, perkembangannya tidak akan secepat Bali.

Jika presiden berganti, proyek masih tetap berjalan?
Memang misal presidennya ganti, terus MotoGP-nya gagal? Kan tidak seperti itu. Jadi, siapa pun presidennya, pasti ingin menyenangkan rakyatnya. MotoGP ini sesuatu yang diinginkan masyarakat.

Jadi saya tidak melihat siapa presidennya. Saya tetap bangun sebagai perusahaan. Karena sekarang presidennya pak Jokowi (Joko Widodo), ya saya lapornya ke pak Jokowi. Ini untuk Indonesia.

Dukungan Jokowi sendiri bagaimana?
Dia mendukung sekali. Saat kami bertemu, dia bilang saya butuh apa? Kami membutuhkan runway bandara diperpanjang, lalu jalan langsung ke daerah ITDC, dan saya meminta pelabuhan Gilimas untuk penumpang, karena selama ini hanya kargo.

Semua disanggupi Jokowi?
Sudah. Ezpeleta sendiri sudah melihat kondisi bandara. Yang belum kita dapatkan ini jalan dari bandara ke tempat kami. Dulu pak Basuki (Hadimuljono/Menteri PU Pera) bilang belum butuh.Tapi, itu dulu. Pak Basuki belum tahu kalau akan ada MotoGP. Kalau sekarang, saya yakin akan segera dibuatin. Nanti jalan, pelabuhan, dan bandara akan segera diselesaikan.

Anda dekat dengan Jokowi?
Tidak juga. Saya baru ketemu kemarin (Senin, 11/3/2019), terkait ini (MotoGP). Sebelumnya, bertemu pas peresmian KEK Mandalika (Oktober 2017).

Abdulbar M. Mansoer berpose untuk Beritagar.id di kantor ITDC di Gedung Menara BCA lantai 39, Jl. M. H. Thamrin No. 1, Jakarta Pusat, Kamis (14/3/2019).
Abdulbar M. Mansoer berpose untuk Beritagar.id di kantor ITDC di Gedung Menara BCA lantai 39, Jl. M. H. Thamrin No. 1, Jakarta Pusat, Kamis (14/3/2019). | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Terkait NTB masuk dalam kawasan jalur gunung berapi, mereka tak khawatir?
Tidak. Vinci itu tanda tangan kerja sama $1 miliar AS dengan kita itu tiga hari setelah gempa Lombok (5 Agustus 2018). Mereka melihat prospek ke depannya. Lombok Selatan itu bukan daerah gempa.

Investasi $1 miliar AS itu langsung digelontorkan?
Bertahap. Mereka harus melihat kebutuhan pasar juga. Penyedia kawasan seperti mereka kan melihat trend yang berkembang. Diperkirakan investasi $1 miliar AS selama 15 tahun. Namun Vinci sudah komitmen, sirkuit dan semua hotel di sana akan mereka bangun. Tinggal masalah waktunya saja.

Sempat ada masalah dengan masyarakat saat pembebasan lahan?
Tanah itu sudah sejak 2008 milik negara. Itu sudah clear dan clean semua. Masalahnya, selama ini tak banyak kegiatan di situ, jadi ada yang nempatin. Kalau kondisinya begitu, ya kami memberitahunya baik-baik saja, selalu ada uang kerohiman.

Akhir tahun lalu masyarakat masih demonstrasi karena enggan pindah dari Mandalika.
Oh itu kasus yang baru. Karena memang, masih ada saja yang mengklaim bahwa tanah di situ milik engkongnya dahulu. Bila bermasalah, saya selalu bilang hadapin kita di pengadilan.

Banyak yang melakukan gugatan?
Dari 16 kasus yang masuk, 15 di antaranya kami menang dan satu kali kalah. Yang satu kali ini, kami akan banding. Tapi, kita gak mungkin kalah, karena ini tanah negara. Yang saya tak suka, mereka datang mengepung terus mengganggu yang sedang kerja. Udah saya bilang kita ke pengadilan saja.

Investor besar lain yang bakal masuk ke Mandalika lagi?
Kami tengah menunggu dari Qatar ini. Kita juga menunggu lainnya. Yang pasti, saat ini kami sudah punya Vinci, tujuh hotel yang investasi, dan sirkuit balap.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR