Ali Fauzi Manzi saat ditemui Rabu (18/5/2018) di kantor Yayasan Lingkar Perdamaian, Lamongan, Jawa Timur.
Ali Fauzi Manzi saat ditemui Rabu (18/5/2018) di kantor Yayasan Lingkar Perdamaian, Lamongan, Jawa Timur. Beritagar.id / Wisnu Agung Prasetyo
BINCANG

Ali Fauzi: Bom Surabaya enggak balik modal

Bagi Ali, Surabaya adalah sentral dari persaingan kelompok-kelompok pengusung jihad. Mereka berlomba mencuri perhatian para ikhwan demi eksistensi.

Ali Fauzi Manzi menutup kepala dengan lengannya dan berlari. Ia panik. Berusaha mengelak dari tiap tetes hujan yang datang menimpa. "Gawat-gawat," kata Ali saat sesi foto. Alhasil, lokasi berpose-pose ria pindah ke tempat teduh, yaitu di kantornya, Yayasan Lingkar Perdamaian. "Aku khawatir kena flu he-he," ujar dia.

Mungkin Ali yang sekarang beda, tak seperti dulu saat ia masih kombatan. Ketika itu, guyuran hujan justru jadi sahabatnya. Ia terbiasa membuat bom dan perang kala hujan di Mindanau, Filipina. Lokasinya di bukit dan suhunya di bawah 10 derajat celsius. "Cuacanya dingin," kata Ali, yang saat di Filipina bergabung dengan kelompok Moro Islamic Liberation Front (MILF).

Di Mindanau ia belajar buat bom dari Umar Patek. Ia ibaratkan, air liur saja bisa dibuat bom oleh Patek--karena saking mahirnya. Dari Patek juga ia belajar baca peta, menentukan skala, sudut lokasi dan senjata api.

Pulang dari sana, sekitar 1999, peran Ali mulai penting dalam gerakan radikalisme. Ia didapuk sebagai kepala instruktur perakitan bom Jamaah Islamiyah. Kemudian, bersama sang kakak Amrozi, ia terlibat aksi bom Bali jilid satu. Dirinya juga melatih milisi Ambon dan Poso, hingga kemudian tertangkap pada 2004 di Filipina.

"Tahun 2006 saya dipulangkan, lalu bertobat, dan mulai kerja sama dengan polisi untuk masalah teroris," ujarnya kepada Heru Triyono dan fotografer Wisnu Agung pada Rabu (18/5/2018) di kantor Yayasan Lingkar Perdamaian, Lamongan, Jawa Timur.

Ali merupakan direktur yayasan yang ia dirikan dua tahun lalu itu. Misi yayasannya menyediakan komunitas baru bagi eks teroris dan mencegah mereka kembali ke jaringan lama.

Kini, ketika ada bom meledak, Ali dipastikan tak bisa tidur. Sebab, ia selalu dihubungi polisi dan wartawan untuk ditanyai motif dan jaringan pelakunya. Termasuk aksi bom baru-baru ini di Surabaya, yang membuat telepon selulernya terus berdering. "Mereka (wartawan) gantian menelepon saya," tutur pria berusia 47 ini.

Siang itu, kami mendapati dirinya memakai jaket abu-abu dengan kaus hitam. Dibanding kakak-kakaknya: Amrozi, Ali Gufron, dan Ali Imran, perawakan Ali tampak lebih tinggi dan gemuk. Kepada kami, ia bicara banyak soal serentetan aksi teror dan sepak terjang Dita Supriyanto, yang notabene keponakan Sukastopo, teroris bom Bali jilid satu.

Ali Fauzi Manzi saat ditemui Rabu (18/5/2018) di kantor Yayasan Lingkar Perdamaian, Lamongan, Jawa Timur.
Ali Fauzi Manzi saat ditemui Rabu (18/5/2018) di kantor Yayasan Lingkar Perdamaian, Lamongan, Jawa Timur. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Apakah kerusuhan Brimob, bom Surabaya dan Riau ada hubungannya?
Tentu, meski jarak Surabaya dan Riau jauh, tapi korelasinya tetap ada.

Pelaku teror di Surabaya dan Riau dari kelompok yang sama?
Mereka sama, baik secara jaringan atau ideologi. Mereka ini jaringan JAD (Jamaah Ansharut Daulah). Ndak mungkin tiba-tiba ada aksi kalau tidak ada sebabnya.

Tapi pelaku penyerangan Polda Riau itu memakai samurai, sedang di Surabaya menggunakan bom, kan beda?
Itu soal skill. Kalau di Surabaya, ikhwannya punya kemampuan buat bom. Bahan baku bom di sana juga banyak, sementara di Riau terbatas. Sebab itu mereka pakai samurai. Penyerang polisi di Brimob kan juga pakai pisau, pakai senjata yang ada saja.

Beritanya, rentetan teror ini dipicu masalah makanan saja di Brimob, apakah cukup beralasan untuk membunuh?
Yang muncul di permukaan memang urusan nasi. Tetapi yang tidak muncul itu yang jadi persoalan sesungguhnya.

Apa itu?
Saya tak bisa jelaskan, nanti malah fitnah. Ini hanya untuk saya dan kawan-kawan. Nanti akan ada pihak yang tersakiti.

Apakah napiter marah atas perlakuan polisi yang diduga sering "menjahili" keluarga yang mau jenguk?
Bukan soal itu juga.

Jadi apa penyebab kericuhan Brimob itu, hanya murni perlawanan mujahidin saja?
Ini akumulasi. Tidak ada masalah pun kerusuhan bisa terjadi. Pasalnya ada kebencian yang mereka pendam bertahun-tahun. Nah, rasa benci dan ingin bunuh polisi ini yang tidak pernah pupus.

Benarkah mereka anggap polisi itu sebagai tagut dan menghalalkan darahnya?
Memang seperti itu ideologi yang mereka kembangkan terhadap polisi. Namanya takfiri atau menghalalkan darah manusia.

Bagi mereka, bunuh polisi itu prestasi dan berpahala. Saking bencinya, doa mereka itu adalah: A'uudzu billaahi minasy polisinir-rojiim. Artinya aku berlindung kepada Allah dari godaan polisi yang terkutuk.

Saat Anda masih aktif di Jamaah Islamiyah (JI), pandangan terhadap polisi juga begitu?
Kami melihat polisi itu berbeda, tidak seperti pandangan mereka (JAD). Kami benci tapi kami tidak serta merta mengkafirkan.

Kenapa polisi tidak dijadikan target JI, seperti yang dilakukan JAD?
Kami tidak pukul rata semua polisi adalah setan. Manusia itu ada yang baik dan buruk. Soal target, tentu kami beda. Kami menyasar simbol barat, kedutaan besar atau orang bule. Tidak pernah kami spesifik menyerang aparat.

Lalu, apa kira-kira motivasi JAD menyerang gereja di Surabaya?
Dugaan saya, Surabaya ini adalah sentral dari persaingan kelompok-kelompok pengusung jihad. Mereka berlomba mencuri perhatian para ikhwan demi eksistensi.

Targetnya harus gereja ya?
Jangankan gereja, masjid yang tidak sepaham dengan mereka, ya bisa-bisa dibom juga.

"Kalau setiap guru mengaji ditangkap karena muridnya melakukan aksi teror, ya kiamat lah"

Ali Fauzi

Apa pesan yang ingin mereka sampaikan lewat serentetan bom itu?
Pesan mereka kan jelas. Mau menjadikan Surabaya sebagai miftah shira, yang dalam bahasa mereka itu berarti pemantik konflik.

Maksudnya Surabaya akan menjadi awal pertempuran mereka?
Diduga kuat kalau terjadi konflik di Surabaya, maka akan memudahkan konflik di tempat lain. Karena Surabaya bisa jadi barometer. Apalagi kota ini simbol kota metropolis, yang keamanannya bagus.

Kabarnya, bahan baku bom amat mudah didapat di Surabaya?
Pada rentang tahun 2000-2010, kota ini memang dikenal sebagai kota eksplosif. Dalam arti, kota ini menyediakan bahan peledak murah dan aman. Bahan itu kita bisa dapatkan dari pasar-pasar dan toko kimia pinggir jalan.

Apa contoh bahan baku bom yang bisa didapat di kota ini?
Bahan bom Bali satu yang dipakai Jamaah Islamiyah ya dari Surabaya. Nanti kalau saya sebutkan bahannya apa dan dari mana, apakah semua kuping siap?

Bukan hal sulit dong untuk dapatkan bahan baku bom untuk skala besar?
Sesungguhnya bahan peledak itu ada di mana-mana. Tergantung keahlian. Pada konflik Ambon juga Poso, semua bahan peledak itu dari Surabaya.

Sebenarnya berapa lama untuk menyatukan bahan-bahan material bom tadi, sehingga jadi bom rakitan beneran?
Merakit dengan meracik itu beda. Meracik itu meramu daya ledaknya, eksplosivitas-nya. Kalau merakit itu terkait dengan apa jenis alat pemicunya. Mau remote control atau timer.

Ada kemungkinan bom tersebut gagal meledak dalam aksi?
Tentu, tapi kita punya alat pemicu cadangan. Kalau pemicu satu off, maka satunya dipastikan on. Biasanya dikasih dua pemicu untuk jaga-jaga.

Kalau bom gagal meledak, apa plan B-nya?
Itu diserahkan kepada Allah.

Saya penasaran, apa doa pelaku bom bunuh diri sehingga begitu yakin saat beraksi?
Akan saya kirim doa itu lewat pesan Whatsapp.( Berikut gambar yang dikirimkan Ali Fauzi kepada Beritagar.id):

Doa berangkat perang dan menghadapi musuh.
Doa berangkat perang dan menghadapi musuh. | Istimewa /Istimewa

Sebenarnya, pesan yang hendak disampaikan pelaku bom Surabaya itu berhasil?
Berhasil, meski secara aksi gagal ya. Saya ini pakai kacamata teroris. Kenapa gagal? Karena korban minim. Pelaku tidak paham menyerang target. Mereka juga tidak melakukan observasi.

Maksudnya pelaku Dita Supriyanto tidak melakukan observasi dengan matang?
Dia bukan observasi, tapi cuma lihat lokasi. Observasi itu mencatat detik demi detik apa yang terjadi di lokasi target. Kebiasaan yang ada, kegiatan, pergerakan orang, harus detail. Kalau tidak observasi, maka jumlah korban akan sedikit.

Ukuran keberhasilan teror itu dilihat dari jumlah korban?
Ya tentu. Korban bom di Surabaya itu sedikit. Malahan, ada satu aksi yang hanya merenggut nyawa pelakunya saja.

Dalam hitung-hitungan kelompok radikalis, ya aksi itu racucuk, alias enggak balik modal. Akan dianggap berhasil jika satu bom pelaku menimbulkan korban jiwa 10 atau 15 orang.

Masa sebagai Ketua JAD Surabaya, Dita tidak melakukan aksinya dengan matang?
Maka itu JAD beda dengan JI. Personel JI itu handal-handal. Mereka dilatih di Afghanistan atau Mindanao. Mereka dibentuk jadi seorang kombatan, seorang petarung.

Kami ahli membuat bom. Analisa saja bom kami dari tahun 2000 sampai 2010. Korban bom Bali satu misalnya. Itu ada lebih dari 220 jiwa meninggal dan melukai 400-an orang.

Tapi kan bom Bali satu itu mencapai 1 ton berat bomnya, tak bisa dibandingkan dengan yang di Surabaya...
Kenapa pelaku tidak buat bom berskala besar? Ini soal keahlian, dan orang JI dilatih bertahun-tahun untuk itu.

Sementara orang JAD, saya yakin tidak dilatih, hanya dapat kursus singkat dari instruktur bom yang mereka punya.

Apakah seorang guru ngaji bernama Khalid Abu Bakar, yang mengajari Dita membuat bom?
Guru kan banyak. Jadi, pelaku bom belajar ngaji ke seorang guru kan belum tentu guru itu salah.

Kalau tiap guru mengaji ditangkap karena muridnya melakukan aksi teror, ya kiamat lah.

Tetapi Anda kenal dengan Khalid Abu Bakar?
Kenal.

"Menjadi teroris itu tidak bisa melalui hipnotis, juga bukan melalui abrakadabra dan simsalabim"

Ali Fauzi

Benar kah salah satu tempat belajar bom itu berada di Bangil, Pasuruan?
Belajar bom kan enggak harus di gunung. Di kamar saja bisa, kecuali mau eksperimen. Kalau teori saja, saya bisa ajarkan orang sampai mahir dalam satu jam. Tapi apa dia bisa disiplin? Apa dia sudah siap dijemput malaikat Izrail? Kan belum tentu.

Menurut Anda, pelaku Dita Supriyanto ini ahli dalam membuat bom?
Bomnya bagus, hanya kurang pintar timing-nya. Yang dilakukan istri Dita itu juga asal saja. Asal meledak dan tidak soal jika tidak ada korban. Tapi ya justru alhamdulillah korban yang jatuh tidak banyak.

Kenapa nama Dita, sebagai Ketua JAD Surabaya, seperti kurang terdengar ya?
Kalau di masyarakat ya enggak muncul. Tapi di kalangan mereka sendiri, Dita dikenal.

Sejauh yang Anda tahu, siapa dan bagaimana sepak terjang Dita ini?
Dita ini punya gen teroris. Dia adalah keponakan Sukastopo, napiter yang terlibat bom Bali satu. Hal itu sudah terkonfirmasi melalui anak Sukastopo yang bernama Amin.

Dita dan keluarganya itu amat berani ya melakukan aksi bareng-bareng?
Fenomena satu keluarga beraksi memang baru di Indonesia. Dulu ada, tapi sebatas adik kakak saja. Hal ini meneguhkan kita bahwa kelompok ini sudah melakukan radikalisasi sejak usia dini.

Paham apa ya yang membolehkan seorang bapak dan ibu mengorbankan anaknya sendiri...
Keluarga ini, mulai bapak sampai anak, punya paham sama. Pemahaman mereka adalah kalau aksi bunuh diri di gereja adalah jihad. Mereka percaya akan disambut bidadari di surga.

Teroris itu kan terbentuk bukan melalui hipnotis, juga bukan melalui abrakadabra dan simsalabim. Ada tahapan, fase demi fase yang harus dilewati, hingga kemudian mau jadi martir. Nah itu butuh kekuatan ideologi.

Bagaimana sih cara merekrut dan doktrin orang sampai mau mengorbankan nyawa mereka?
Kalau perekrutan itu kan silent dan underground. Masa koar-koar. Orang tentu tidak mengaku dia itu JAD, JI atau ISIS.

Yang jelas mereka ini sangat kuat kalau bicara soal trust. Kalau sudah percaya, cinta dan senang, ya orang akan ikut saja. Tapi proses jadi martir cukup panjang. Ada tahap awal, kedua dan selanjutnya.

Ali Fauzi Manzi saat ditemui Rabu (18/5/2018) di kantor Yayasan Lingkar Perdamaian, Lamongan, Jawa Timur.
Ali Fauzi Manzi saat ditemui Rabu (18/5/2018) di kantor Yayasan Lingkar Perdamaian, Lamongan, Jawa Timur. | Wisnu Agung /Beritagar.id

Waktu Anda belajar merakit bom juga butuh proses panjang ya?
Tidak mudah juga. Saya melalui prosesnya dengan perjuangan. Saya sering buat bom dan operasi perang dalam kondisi hujan di Mindanau. Lokasinya di bukit dan suhunya selalu di bawah 10 derajat celsius. Begitu dingin.

Siapa yang pertama kali mengajarkan Anda membuat bom?
Umar patek. Dia amat pandai. Ibaratnya, air liur saja bisa dia buat jadi bom. Saya kaget waktu dia bawa lidi dan nasi, lalu membuat dua unsur itu meledak. Dia menunjukkannya di depan saya, seperti di film-film.

Bagaimana ceritanya Anda kemudian bisa jadi kepala instruktur perakitan bom Jamaah Islamiyah?
Ya karena kemampuan saya. Kan semua aksi saya terekam, baik itu bom buatan saya dan juga keahlian saya. Sehingga saya dipercaya menjabat posisi itu.

Menurut Anda, sosok Aman Abdurrahman cukup berpengaruh atas aksi teror JAD belakangan ini?
Berhentinya kerusuhan di Brimob kan atas andil dia (Aman). Dia yang beri instruksi napiter untuk berhenti melakukan kerusuhan.

Kenapa ya JAD seolah menggeser dominasi Jamaah Islamiyah sekarang ini?
Pimpinan JI mengeluarkan fatwa larangan melakukan aksi di Indonesia. JI belum mengganggap Indonesia itu sebagai darul harbi (negara musuh). Sementara JAD yakin Indonesia itu darul harbi dan polisi boleh dibunuh.

Bom satu keluarga tanda radikalisasi usia dini /Beritagar ID
BACA JUGA