Keterangan Gambar : Allan Nairn berpose di depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id di sebuah hotel bilangan Thamrin, Selasa siang (25/4/2017). © Beritagar.id / Wisnu Agung Prasetyo

Allan Nairn bersumbar kalau Presiden Jokowi tahu soal rencana makar

Dari jauh ia melambaikan tangan ke arah kami. Wajahnya merah, rambutnya agak kusut. "Halo, maaf telat," kata Allan Nairn menyapa, lantas meneguk air mineral dengan rakus.

Matahari masih terik, padahal hari beranjak sore. Allan mengaku baru saja turun dari ojek untuk menuju kawasan Sarinah dari Tebet. "Saya tahu sedikit Jakarta," ujar pria berusia 61 ini.

Allan memang mengenal Ibu Kota. Ia pertama kali datang pada 1991. Selanjutnya, bolak-balik ke Timor Timur--nama provinsi itu sebelum merdeka--dan ke Aceh untuk meliput konflik.

Ia dan rekannya, Amy Goodman adalah saksi kekerasan di Timor Timur, salah satunya yang terjadi di Santa Cruz, Dili. Kala itu, ia dan Amy coba menghalangi penembakan warga sipil, tapi gagal. Allan dihantam popor M16 hingga tengkoraknya retak dan ia didera vertigo hingga 10 hari.

Untuk laporannya di Timor Timur, Allan meraih Robert F. Kennedy Memorial First Prize for International Radio pada 1993. Semenjak itu Allan jadi sorotan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Jelang Pemilihan Presiden 2014, nama Allan makin masyhur di Tanah Air. Musababnya ia membuka wawancara off the record dengan Prabowo Subianto, yang ketika itu calon presiden. Isi wawancaranya membuat publik heboh, karena menyudutkan Prabowo.

Kali ini Allan kembali dengan kehebohan baru. Momentumnya mirip, ia muncul menjelang pesta demokrasi, tapi levelnya kepala daerah.

Tulisannya, yang diterjemahkan Tirto.id atas izinnya, menuai polemik.

Tirto.id membuat judul Investigasi Allan Nairn: Ahok Hanyalah Dalih untuk Makar, merupakan terjemahan dari Trump's Indonesian Allies in Bed with ISIS-Backed Militia Seeking to Oust Elected President--yang dimuat di The Intercept.

Dalam tulisan itu, Allan menuding beberapa perwira tentara terlibat serangkaian demonstrasi dengan tujuan makar.

Ia gamblang menyebut nama Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Wakil Ketua DPR Fadli Zon dan Hary Tanoesoedibjo sebagai pendukung makar--seperti yang ditulisnya di The Intercept.

Sebagian kalangan ragu atas investigasi Allan, yang dianggap hanya menambahkan bumbu Edward Snowden dan pernyataan on the record dari beberapa sumber. Salah satunya Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen.

Dus, respons bermunculan dari para tertuduh. Gatot, misalnya, menganggap Allan adalah soal kecil, lalu Markas Besar TNI juga menilai berita Allan adalah hoax, sementara Fadli Zon dan Hary Tanoesoedibjo hendak melaporkan Allan ke polisi.

"Saya siap digugat," katanya kepada Fajar WH, Heru Triyono, Muammar Fikrie, Sorta Tobing dan Wisnu Agung Prasetyo di sebuah hotel bilangan Thamrin, Selasa siang (25/4/2017).

Selama dua jam kami membombardir Allan lewat pertanyaan tentang kenapa ia selalu muncul saat momen pesta demokrasi, bagaimana skenario makar versi dia dan juga validitas investigasinya.

Allan terus batuk-batuk tiap akan mulai bicara. Tubuhnya, dengan balutan kemeja cokelat muda, tampak lebih kurus dibanding fotonya yang tersebar di dunia maya. Berikut perbincangannya:

Allan Nairn saat wawancara dengan Beritagar.id di sebuah hotel bilangan Thamrin, Selasa siang (25/4/2017).
Allan Nairn saat wawancara dengan Beritagar.id di sebuah hotel bilangan Thamrin, Selasa siang (25/4/2017).
© Wisnu Agung Prasetyo

Anda dan tulisan Anda dianggap politis, karena selalu muncul pada momen-momen seperti Pemilu atau Pilkada...
Pesta demokrasi adalah soal pilihan orang Indonesia. Saya tidak ada motivasi apapun selain ingin pelanggar HAM diadili.

Tidak penting mereka itu jenderal atau pejabat. Mereka-mereka itu yang merencanakan kudeta terhadap Presiden Jokowi--karena khawatir pengadilan HAM akan digelar.

Rasanya tidak masuk akal kalau TNI melakukan kudeta, karena dua tahun lagi Pilpres digelar dan peluang Jokowi kalah amat terbuka. So, kenapa TNI harus melakukan kudeta?
Itu pertanyaan menarik. Saya awalnya skeptis terhadap isu ini. Tapi sumber saya mengatakan Jokowi itu bisa digulingkan. Gerakan ini adalah pressure, dan mungkin saja Jokowi tidak perlu digulingkan.

Kenapa tak perlu? Kalau Jokowi posisinya jadi lemah dia tidak akan bisa apa-apa dan menerima kebijakan mereka (militer aktif dan pensiunan) mengenai pengadilan HAM. Saya rasa kelemahan Jokowi itu cukup membuat mereka puas. Let's see, sikap Jenderal Gatot terhadap kasus ini cukup menarik.

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo enggan menanggapi serius tulisan Anda dan menganggap Anda adalah hal kecil...
Saya tahu dia bilang begitu. Tetapi di sisi lain kenapa tentara mengancam media yang menerjemahkan tulisan saya? Itu adalah pertanyaan besar.

Dia (Jenderal Gatot) bahkan terlihat mundur ketika saya bilang silakan saja melapor (ke polisi). Saya akan senang menghadapi tentara dalam sidang dan bisa mendiskusikan semua itu.

© Salni Setiadi

Memangnya seberapa besar peran Jenderal Gatot dalam rencana kudeta itu?
Jenderal Kivlan bilang, Bos TNI tidak boleh bicara secara terbuka. Jadi dia (Gatot) harus dari belakang (layar) saja.

Tudingan Anda begitu serius terhadap TNI. Apakah Anda telah meminta konfirmasi kepada orang-orang yang Anda sebut, termasuk Jenderal Gatot, sebelum menurunkan tulisan?
Mereka menolak menanggapi. No comment atau tidak ada jawaban. Saya juga sudah menghubungi Gatot puluhan kali. Pesan saya juga tidak pernah berbalas.

Anda sudah dihubungi TNI usai menurunkan tulisan Trump's Indonesia allies in bed With ISIS-backed militia seeking to oust elected president, yang dilansir situs The Intercept itu?
Enggak ada. Mereka tidak berusaha menghubungi saya. Selalu seperti itu. Sama seperti ketika saya merilis hasil wawancara saya dengan Prabowo pada 2014.

Anda begitu berani menuliskan soal makar yang melibatkan TNI, ada orang kuat di belakang Anda?
Siapa di belakang saya? Tidak ada orang kuat. Tidak ada satu pun.

Sebenarnya konstelasi isu makar ini di kalangan militer bagaimana, banyak yang mendukung atau sebaliknya?
Seimbang. Tetapi jelas lebih banyak yang mendukung (makar), meski ada juga faksi yang tidak setuju--dan jumlahnya amat kecil.

Di artikel Anda disebutkan sejumlah perwira aktif dan purnawirawan menggunakan demo anti-Ahok untuk makar, asumsinya militer itu anti-Ahok juga ya?
Itu satu aspek lagi yang menarik. Mereka (perencana makar) sama sekali tidak sebut soal agama dan juga Ahok. Yang mereka selalu sebut adalah komunis dan ancamannya untuk militer.

Demo anti-Ahok sebagai pintu masuk saja, karena tentara tidak bisa bergerak leluasa dan terbentur aturan tidak boleh berpolitik. Sehingga mereka perlu demonstran untuk bersuara.

Apakah cukup kuat memakai demo anti-Ahok untuk menggoyang Jokowi?
Ahok ini alat yang bagus sekali. Seperti yang Jenderal Kivlan Zen katakan kepada saya, ucapan Ahok di Kepulauan Seribu itu merupakan kado untuk gerakan makar ini.

Mereka juga bersepakat dan satu suara ingin menduetkan Prabowo Subianto dan Harry Tanoe sebagai presiden dan wakilnya.

Agak rancu. Lalu makar ini keuntungannya apa bagi Jenderal Gatot, yang Anda gambarkan memiliki ambisi politik--kalau ujung-ujungnya tidak dapat apa-apa?
Mungkin karena tulisan saya itu dia (Gatot) marah kepada saya.

Kenapa Anda yakin Jenderal Gatot memiliki ambisi politik, apakah Anda mengutip media-media Australia, yang sebelumnya juga pernah menuding Gatot hal yang sama...
Itu pasti benar dan Presiden Jokowi tahu itu.

Dan Presiden membiarkan?
Karena dia (Presiden) juga agak takut.

© Salni Setiadi

Apakah Presiden Jokowi juga tahu mengenai isu makar itu?
Tahu dari lama dan dia khawatir.

Presiden melakukan apa jika dia tahu, karena faktanya terlihat tenang-tenang saja...
Jokowi mendekati militer dan elemen yang membela Pemerintah. Walaupun ada harga yang harus dibayar. Presiden terjebak, sehingga sulit untuk melaksanakan janji kampanyenya; yaitu menyelesaikan masalah HAM.

Menurut Anda Presiden bisa dan berani menuntaskan janji kampanyenya itu?
Bisa, karena dia dapat banyak dukungan dari rakyat, meski saat ini sudah berkurang. Tetapi masih tetap banyak.

Kalau Presiden sudah dilemahkan seperti yang Anda bilang, bagaimana bisa mengadili para pelanggar HAM itu?
Memang dia lebih lemah sekarang. Tetapi kondisi bisa saja berubah tiba-tiba, andai saja dia berani bicara terbuka ke publik mengenai HAM itu. Ada beberapa negara yang berani mengadili jenderal-jenderalnya. Misalnya di Guatemala.

Waktunya hanya dua tahun lagi sebelum Pemilu Presiden, amat sempit...
Ya, tapi seharusnya bisa.

Oke. Di mana posisi Megawati untuk Presiden Jokowi, apa dia tidak mendukungnya dalam hal ini?
Di artikel saya tidak masuk soal Megawati ya. Yang jelas Jokowi tidak selalu terima dukungan dari PDIP.

Menurut Anda, apakah kegentingan hubungan Presiden dan tentara saat ini bisa mengulangi masa Gus Dur, ketika TNI menentang langkahnya mengeluarkan dekrit dan membubarkan dewan?
Itu contoh menarik jika dibandingkan dengan situasi sekarang. Tapi kondisi saat ini sudah berbeda. Aksi terbuka seperti itu bisa membuat publik tidak tahan dan simpatik.

Tapi ada kemungkinan situasi Gus Dur bisa terulang lagi di masa Jokowi?
Ada dan pasti ada. Karena prosedur impeachment di Indonesia agak mudah. Bisa jadi salah satu skenario bagi gerakan itu.

Parlemen kan dikuasai pendukung Jokowi saat ini. Bagaimana caranya mau melakukan impeachment?
Mungkin bisa mungkin tidak. Isu makar menurut beberapa jurnalis Indonesia adalah isu umum. Hanya saja publik belum tahu.

© Salni Setiadi

Dalam versi Anda, kapan bibit-bibit makar ini muncul?
Dimulai dari janji Jokowi yang mencoba menyelesaikan kasus HAM dengan menggelar Simposium 65. Waktu itu belum ada gerakan anti-Ahok dan gerakan FPI sendiri masih amat kecil. Tapi simposium itu memiliki dampak yang besar sekali untuk militer.

Apa yang dikhawatirkan tentara dari simposium itu?
Simposium itu berisiko membuka sidang tentang 65. Militer tidak terima itu. Jenderal Kivlan mengatakan, jika saja simposium itu tidak ada, maka tidak ada juga gerakan jalanan itu dan juga tidak ada gerakan anti-Ahok yang sedemikian besar. Semuanya berawal dari simposium.

Bukankah simposium itu mengakomodir kedua belah pihak, baik dari tentara dan juga para korban?
Intinya jenderal-jenderal itu tidak terima Pemerintah memberi ruang terhadap korban untuk bicara di forum dan menuduh tentara atas kejahatannya.

Dari mana Anda tahu jenderal-jenderal itu tidak terima?
Saya memiliki dokumen tentara tentang KGB itu alias komunis gaya baru. KGB adalah cara berpikir tentara.

Di dokumen mereka bilang spesifik bahwa aktivis pro demokrasi, aktivis HAM dan orang-orang yang bergaya sebagai korban 65 adalah komunis gaya baru. Itu dianggap ancaman bagi Indonesia.

Wacana penyelesaian lewat jalur non yudisial atau tanpa pengadilan tidak cukup memuaskan bagi tentara?
Saya rasa tidak. Mereka marah karena kesempatan bicara diberikan kepada korban, yang mungkin bisa berujung pada proses hukum.

Memangnya sejauh apa KGB ini mengancam eksistensi tentara?
Besar sekali. Padahal KGB tidak berbasis pada kenyataan. Mereka memakai KGB untuk menarik dukungan dari gerakan-gerakan sosial atau politik untuk melawan isu yang mereka tidak suka.

Yang khawatir soal isu komunis ini kan bukan cuma tentara, tapi juga dari para ulama...
Benar dan itu salah satu aspek yang saya sebut di artikel. Muhammad Al Khattath dan Usamah Hisyam, saat saya temui, juga mengkhawatirkan soal isu komunis ini.

Apakah isu komunis ini juga campur tangan Pemerintah Amerika?
Banyak orang tanya sama saya. Apakah Pemerintah Amerika akan dukung gerakan ini karena mereka antikomunis? Saya jawab enggak tahu, karena untuk Amerika, isu ini isu lama sekali. Di dunia ini hampir enggak ada komunis.

Yang pasti, Amerika selalu bekerja sama dengan tentara dan intelejen sebuah negara. Karena lebih mudah bekerja lewat mereka. Dari zaman Soehato Amerika melakukannya.

Presiden Donald Trump menurut Anda mendukung Jokowi?
Amerika pasti dukung Presiden yang terpilih dari Pemilu demokratis. Itu adalah sikap tradisional Amerika. Tapi dengan kepemimpinan Trump, ada elemen baru, karena semua kenalan Trump di Indonesia diduga terlibat dengan gerakan makar yang memakai ormas Islam itu. Misalnya Fadli Zon dan Harry Tanoe.

Maksud Anda Trump terlibat dalam gerakan makar tersebut?
Saya belum tahu.

Sepertinya tidak masuk logika ya jika Trump mendukung gerakan ini, karena dia selalu terang-terangan memamerkan sikap anti-Islam...
Itu yang menarik sekali. Setiap hari Trump menyerang umat Islam, tetapi pendukungnya di Indonesia selalu menjawab Trump tidak anti-Islam.

© Salni Setiadi

Tapi Anda seolah-olah menggambarkan Trump memiliki koneksi dalam plot makar ini. Misalnya dalam tulisan Anda menuliskan soal Munarman, yang Anda sebut sebagai pengacara Freeport McMoran, yang saat ini dikendalikan oleh Carl Icahn, sahabat Trump. Padahal belum terkonfirmasi...
Munarman adalah salah satu kepala gerakan itu, yang merupakan pengacara Freeport. Yang jelas, Freeport senang dengan gerakan ini, karena telah melemahkan Pemerintahan Jokowi. Lihat saja Freeport sudah menerima izin untuk ekspor lagi, meski masih ada konflik soal kontrak.

Kalau data Anda valid kenapa tidak dikirim secara luas ke media mainstream misalnya ke The New York Times atau media lain bukan cuma The Intercept?
The Intercept cocok dengan story seperti ini. Mereka sering memuat investigasi intelejen dan militer.

Tidak ada niat bekerja sama dengan media lokal?
Terlalu berbahaya untuk media lokal memuat soal ini, apalagi berhubungan dengan saya. Saya harus hati-hati agar kawan-kawan di Indonesia tidak kena masalah gara-gara saya.

Contohnya, media yang menerjemahkan tulisan saya itu. Padahal mereka tidak kolaborasi, hanya menerjemahkan, tapi tentara langsung mengintimidasi.

Sejak kapan Anda mulai menginvestigasi isu kudeta ini?
Sejak tahun lalu, saat Pemerintah Jokowi mulai khawatir. Kemudian saya dalami lagi di awal 2017. Dana laporan itu berasal dari The Intercept.

Informasi upaya kudeta ini sebagian besar Anda dapatkan dari siapa?
Dari pihak militer aktif dan pensiunan, intelejen dan juga orang sipil, serta Pemerintahan. Ada juga dokumen tertulis. Artikel juga diperkuat dari data NSA milik Edward Snowden--mengenai FPI.

Memang tidak baru, tapi cukup untuk background tulisan. Fokus saya adalah peran militer atas gerakan makar itu.

Yang agak janggal adalah ketika ada orang bersedia bicara terbuka soal internal militer, apalagi soal rencana kudeta. Bagaimana Anda melobinya?
Tidak ada lobi. Itu adalah pilihan mereka. Saya akui itu luar biasa, karena sumber yang lain tidak mau bicara on the record.

Kenapa sumber Anda mau, apalagi track record Anda yang sejak dulu merupakan aktivis yang kerap menyudutkan militer?
Saya tidak tahu kenapa dan saya kira sumber saya dari tentara tahu rekam jejak saya. Misalnya Kivlan Zen. Tapi tentara biasanya suka bicara dengan orang yang melawan mereka. Mungkin menarik dan jadi tantangan buat mereka.

Kapan dan di mana Anda jumpa Kivlan?
Saya jumpa dia di Surabaya. Saat itu dia bebas jalan kemana-mana padahal jadi tersangka makar.

Anda menerima teror setelah menurunkan tulisan investigasi itu?
Ada ancaman, tapi nilai ancamannya agak kurang dibandingkan tahun 2014, waktu saya konfrontasi dengan Prabowo. Tapi saya siap menghadapi tentara dengan diskusi. Saya akan terus mengkritik TNI.

Sampai kapan?
Oh tidak tahu. Saya juga akan terus mengkritik Pemerintah Amerika.

Yang jadi pertanyaan publik bagaimana Anda bisa masuk ke Indonesia, padahal Anda dicari-cari tentara?
Kurang jelas.

Anda pernah dideportasi dari Indonesia?
Beberapa kali, ditangkap juga sering. Saya sudah di-blacklist.

Kok bisa bolak-balik ke Indonesia, jangan-jangan Anda masuk ke Indonesia dengan cara ilegal?
Saya tidak mau bicara soal itu.

Apa tulisan Anda selanjutnya, masih soal tentara Indonesia?
Tunggu saja.

Allan Nairn berpose di depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id di sebuah hotel bilangan Thamrin, Selasa siang (25/4/2017).
Allan Nairn berpose di depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id di sebuah hotel bilangan Thamrin, Selasa siang (25/4/2017).
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Catatan redaksi:

Penulis melakukan konfirmasi kepada Kivlan Zen atas laporan investigasi Allan Nairn. Lewat pesan singkat Kivlan menjawab seperti berikut ini:

"Soal investigasi itu silakan tanya Allan Nairn, karena dia yang menulis. Dia juga mengatakan bahwa mendapat berita dari kalangan Istana yang tidak bisa dicek siapa sumbernya. Berita yang benar adalah wawancara acara Rosi (di Kompas TV) dengan Panglima TNI. Jangan memanasi lagi berita yang sudah matang, kemudian disajikan lagi. Nanti enggak enak, apalagi memanasinya dengan Magic Jar hehe. Ini adalah bulan Mei, tanggal 24 Mei adalah hari ulang tahun PKI ke 87 dan bulan lengsernya Soeharto ke 19. Itu nanti bonyok buah yang sudah matang".

"Saya tidak meragukan sumber dari Istana. Kan ada BIN dan BAIS yang mengintip kegiatan harian Panglima TNI. Jawabannya sudah tersirat dari Panglima TNI kalau ia cenderung ke mana dalam membela keadilan hukum dan kebenaran sesuai sumpah prajurit. Jawaban Panglima Gatot brilian dan excellent. Semua pernyataan Nairn benar seperti disinyalir Istana. Tetapi Istana masih butuh Gatot yang cantik menempatkan diri".

"Mereka malu mencabut tuduhan (makar) kepada saya. Waktu yang akan membuktikan mereka patriot atau pengkhianat bangsa dan demokrasi".

"Tuduhan makar ditolak Jaksa Agung karena tidak memenuhi syarat. Lupakan saja soal makar karena yang kita hadapi adalah KGB yang tetap mau tampil dan balas dendam. Itu lebih bahaya dari makar".

"Kalau KGB diberi panggung, militer bukan melakukan makar, tetapi melaksanakan saptamarga dan sumpah prajurit untuk menegakkan Pancasila dan UUD 45".

Lewat pesan WhatsApp, sejak seminggu lalu penulis juga sudah menghubungi Fadli Zon dan pihak Harry Tanoe, namun belum bisa dikonfirmasi. Sementara surat permohonan wawancara untuk Panglima Panglima TNI Gatot Nurmantyo juga sudah dilayangkan pekan lalu, namun juga belum mendapat respon.

Ketika penulis menghubungi Kapuspen TNI Mayor Jenderal Wuryanto, penulis hanya mendapat jawaban singkat: "Selamat siang kawan. Maaf baru balas. Saya baru selesai rapat. Izin memberi tahu, untuk masalah tersebut TNI sudah tidak mau mengomentarinya. Terimakasih".

Sumber-sumber bantahan lainnya:

- Presiden Joko Widodo (detik.com)

- Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo (detik.com)

- Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon (Tempo.co)

- Pengusaha Hary Tanoesoedibjo via kuasa hukumnya, Cris Taufik (Sindonews.com)

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.