Ananda Badudu saat ditemui di sebuah kafe di bilangan Menteng Dalam, Jakarta, Rabu sore (25/9/2019).
Ananda Badudu saat ditemui di sebuah kafe di bilangan Menteng Dalam, Jakarta, Rabu sore (25/9/2019). Imaduddin / Beritagar.id
BINCANG

Ananda Badudu: Saya marah dan merasa gak berdaya

Ia menyayangkan penanganan represif aparat terhadap mahasiswa dan merasa muak dengan gaya politik orang tua.

Ananda memiliki pesan: ketidakadilan sedang berlangsung di depan mata. Maka itu, ia pun tergerak untuk mendanai gerakan mahasiswa, mendorong dialog dan menyulut perlawanan lewat lagu “Pemakaman Harapan”.

Dengan lirik lagu seperti, “Siapkan kafan, reformasi telah mati. Pembunuhnya? Ya orangnya itu-itu lagi”, Ananda hendak menggambarkan kondisi negeri saat ini. "Lagu rap itu dibuat spontan. Dua hari langsung jadi," ujar Ananda.

Nahas, selang tiga hari demonstrasi di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Ananda diciduk polisi. Kabar penangkapan mantan jurnalis Tempo dan Vice ini viral, bahkan jadi trending di mesin pencari Twitter dan Google.

Ananda diperiksa sebagai saksi atas prakarsanya mengumpulkan dana lewat situs Kitabisa.com. Dana yang terkumpul hingga Rp175 juta itu dipakainya menyewa ambulans, pembelian oksigen dan juga konsumsi—untuk mendukung demo mahasiswa.

“Mahasiswa ini yang punya kekuatan riil dan mungkin didengar pemerintah untuk melakukan perubahan,” kata pria berusia 31 ini kepada Heru Triyono, Muammar Fikrie dan fotografer Imaduddin di sebuah kafe di bilangan Menteng Dalam, Jakarta, Rabu sore (25/9/2019).

Sejatinya, Ananda adalah musisi yang masyhur di skena musik independen. Ia merupakan vokalis sekaligus gitaris Banda Neira bersama Rara Sekar, kakak dari Isyana Sarasvati. Namun, sejak 2016, Banda Neira telah bubar.

Sore itu, kelelahannya terlihat. Matanya sembab. Ada tawa, tapi tak jelas apakah itu geli atau canggung. Dia bergerak tergesa-gesa dan mengatakan hanya punya waktu sebentar, seolah-olah terlambat untuk sesuatu.

Dalam wawancara yang dilakukan sebelum penangkapannya itu, Ananda menyampaikan beberapa hal. Di antaranya tentang luapan kemarahan publik dalam gelombang demonstrasi dan siapa sosok yang patut disalahkan ketika reformasi bagai dikorupsi.

Berikut tanya jawabnya:

Ananda Badudu saat ditemui di sebuah kafe di bilangan Menteng Dalam, Jakarta, Rabu sore (25/9/2019).
Ananda Badudu saat ditemui di sebuah kafe di bilangan Menteng Dalam, Jakarta, Rabu sore (25/9/2019). | Imaduddin /Beritagar.id

Apa latar belakang lagu berjudul “Pemakaman Harapan” itu?
Pembuatan lagu itu didorong amarah tentang kondisi saat ini. Gue baru bangun pagi dan mendapati berita tentang Pimpinan KPK terpilih.

Gue marah, kemudian bikin lagu itu selama dua hari. Beat lagu rap itu gue beli seharga US$30 di internet.

Lo marah karena ketidakpuasan terhadap proses politik yang terjadi, dan itu mengakibatkan pelemahan terhadap KPK?
Kalau lembaga negara lain bobrok, kita sudah tahu lah. Tapi kalau KPK yang dilemahkan. Gue merasa baper.

Secara personal, gue belum pernah sebaper ini sama urusan negara. Dan, saya lebih marah lagi karena pada saat yang sama gak bisa berbuat apa-apa.

Jadi, sudah marah, terus merasa gak berdaya. Ya gue bikin aja lagu rap itu.

Dari lirik lagu rap itu tampaknya lo telah kehilangan kepercayaan ya?
Iya. Sejak lama. Prioritas pribadi gue ya melihat pemerintahan ini memberantas korupsi.

Oke, memang ada banyak isu, kayak pelanggaran HAM dan lainnya, tapi gue ingin lihat pemberantasan korupsinya sejauh apa.

Gue ingat dalam kampanye 2014, Presiden Jokowi ingin perkuat KPK. Jadi gue pegang pernyataan itu.

Ya, ketika pada perjalanannya justru mengangkat orang yang diduga bermasalah jadi pimpinan KPK, ya gue bereaksi.

Memangnya lo memilih siapa ketika Pemilu 2019 lalu?
Gue golput, tapi pada 2014 gue memilih Jokowi.

Tapi Irjen Firli Bahuri, yang diduga bermasalah kan belum kita lihat kinerjanya memimpin KPK, siapa tahu bisa lebih baik?
Enggak bisa lihat Irjen Firlinya saja. Tapi kita harus lihat konteks yang lebih luas. Yaitu soal sikap negara terhadap pemberantasan korupsi.

Dulu, SBY berani ambil sikap untuk berada di sisi KPK saat cicak Vs. buaya jilid dua.

Saat ini, saya belum lihat sikap Presiden akan ke mana—saat hadapi isu UU KPK yang direvisi dan pemilihan pemimpinnya. Dia cenderung diam.

Sebagai musisi, sebenarnya bagaimana lo memandang KPK?
Ya harapan sih.

Oke. Apakah ada jaminan bahwa KPK bebas dari infiltrasi kepentingan politik?
KPK bukan lembaga yang begitu sucinya sehingga terbebas dari kritik.

Tapi, dengan keberadaan dewan pengawas, mencopot berbagai kewenangan pimpinan, dan menempatkan orang yang diduga bermasalah, itu juga perlu disorot dan dikritisi.

Kayak siapa aja ya gue bicara gini he-he.

Sedemikian baper atas situasi hari ini, apakah lo pernah menghadapi birokrasi yang rumit dan korup?
Gue itu pernah terdampak langsung dari korupsi. Pertama, selama dua tahun KTP gue itu hanya kertas yang dilaminating--karena enggak tersedia blankonya di kelurahan gue. Itu dampak dari kasus korupsi E-KTP.

Kedua, gue juga pernah bolak-balik bikin SIM motor. Gue ingin pakai cara normal, tapi selalu tersandung terus. Sehingga SIM enggak jadi-jadi. Itu juga dampak dari korupsi.

Nah, pengalaman-pengalaman personal ini yang membuat kesal dan yang memutuskan gue untuk mendukung gerakan mahasiswa.

Apakah gerakan lo bersama mahasiswa ini akan memiliki dampak berarti?
Gue gak bisa bilang bahwa ini gerakan dari gue ya. Posisi gue kan hanya mendukung.

Tapi kan lo sebagai bohirnya?
Bukan bohir lah, gila. Gue hanya merasa bahwa banyak juga orang yang kesal dengan situasi saat ini—seperti gue. Sehingga mereka mendukung mahasiswa.

Awalnya kenapa terpikir mengumpulkan dana untuk gerakan itu?
Begini. Di Kitabisa.com itu orang bisa berkontribusi secara anonim. Orang kesal itu banyak, tapi yang koar-koar tuh gak banyak.

Gue berpikir, bagaimana kalau kekesalan kolektif itu diwadahi. Hasilnya bikin kaget. Awalnya gue gak mengira akan sekencang itu (aliran dananya).

Dalam waktu dua hari ada Rp175 juta dari 2300-an orang.

Berapa donasi paling besar?
Rp1 juta. Tapi Rp10 ribu juga ada kok. Lihat saja sendiri di situs itu. Kalau di rata-rata, per orang ya kurang dari Rp100 ribu.

Ini kan kelihatan bukan gerakan bohir. Ini adalah gerakan warga yang menemukan kanalnya dan mereka itu mendukung aspirasi mahasiswa.

Lo sendiri menyumbang enggak untuk gerakan itu?
Enggak. Tapi duit pribadi gue juga banyak keluar untuk operasional.

Ananda Badudu saat ditemui di sebuah kafe di bilangan Menteng Dalam, Jakarta, Rabu sore (25/9/2019).
Ananda Badudu saat ditemui di sebuah kafe di bilangan Menteng Dalam, Jakarta, Rabu sore (25/9/2019). | Imaduddin /Beritagar.id

Apakah polarisasi politik pasca-Pemilu 2019 kemarin itu masih terbawa dalam gerakan mahasiswa kali ini?
Dalam situasi ini, polarisasi cebong kampret atau golput sudah enggak ada guna lagi. Presiden sudah terpilih secara sah.

Suka enggak suka, Jokowi adalah pemenangnya. Kita harus meninggalkan identitas itu perlahan-lahan.

Unjuk rasa kali ini muncul sebagai kelompok tanpa identitas yang jelas?
Identitas mereka ya yang tidak terima dengan kebijakan para elite. Ketika elite tidak sejalan dengan nilai-nilai demokrasi ya harus dikritik.

Dan, kalau jalannya negara ini juga tidak sesuai dengan nilai-nilai yang gue percaya, ya gue harus berbuat sesuatu.

Apa nilai-nilai yang tidak sesuai dengan kepercayaan yang lo yakini?
Misalnya pasal penghinaan presiden. Ini kan membawa demokrasi mundur. Bahkan lebih buruk dari Orde Baru. Warga seperti ingin dibungkam.

Untuk gue pribadi, bikin lagu rap itu saja sudah takut, khawatir kena UU ITE atau pasal penghinaan. Ketakutan itu sudah bersarang di kepala gue bahkan sebelum dirilis.

Lo seperti melakukan self censorship atas karya karena takut ya?
Iya. Padahal yang gue lakukan itu adalah mengkritik kebijakan. Gue enggak menghina fisik atau personal. Tapi ngomongin kebijakan saja tetap ada rasa takut sedemikian besar.

Gue berpikir bukan gue doang kayaknya yang merasa begitu.

Jadi, apa yang salah sehingga kita berada dalam situasi seperti ini?
Menurut gue yang harusnya terjadi adalah pertarungan gagasan. Kalau sekarang itu merujuk pada satu figur dan kita seperti percaya sama dia.

Harusnya kita bicara gagasan dan mimpi akan negara yang baik, yang seharusnya memperlakukan warganya dengan baik juga.

Ketika dihadapkan pada kasus Papua, yang jelas-jelas ada orang mati, kita jadi bingung bersikap. Karena polarisasinya pada figur, bukan pada gagasan.

Situasi ini sesuai dengan tulisan Robertus Robet yang berjudul “Gagalnya Tesis Orang baik” di Tempo ya?
Ya ya. Menurut gue, selama ini politik dilakukan secara tertutup. Banyak deal- deal di bawah meja, serba terselubung.

Kita jadi repot baca kepentingan orang di belakangnya. Memuakkan. Capek dengan gaya politik orang tua.

Bagaimana dengan isu bahwa gerakan mahasiswa kemarin itu ada yang menunggangi?
Gue percaya dengan mahasiswa. Sejauh yang gue tahu, mereka sudah tahu harus apa untuk hadapi penunggang politik seperti itu.

Meski gue gak simpatik terhadap Presiden Jokowi dan gue golput, gue juga enggak setuju menggulingkan Jokowi.

Kenapa enggak?
Karena kita-kita sudah pintar, tahu mana yang baik dan yang buruk. Mana yang seharusnya dilakukan dan yang enggak.

"Meski gue gak simpatik terhadap Presiden Jokowi dan gue golput, gue enggak setuju menggulingkan Jokowi."

Ananda Badudu

Lo sudah memperkirakan bahwa demo mahasiswa akan ricuh?
Namanya aksi kan harus siap menghadapi segala kemungkinan. Di lapangan ya chaos. Gue coba mengirim ambulans untuk menolong mahasiswa yang terluka.

Pengiriman itu tidak disiapkan dari awal. Spontan saja. Gue googling dan mencari vendor yang mau mengirim.

Ada yang mau, ada yang enggak. Dari 8 vendor yang gue telepon, yang bisa cuma 3. Dan gue menyayangkan sikap aparat yang begitu represif.

Saat unjuk rasa, di mana memangnya posisi lo?
Di suatu tempat lah.

Lo khawatir keberadaan lo terlacak?
Yang jelas kalau gue di lokasi, enggak akan bisa koordinir segampang itu. Jadi gue butuh internet kencang, jadi gue enggak di lokasi. Kita bagi-bagi tugas.

Bagaimana mekanisme pembagian tugasnya dan penyaluran dana itu kepada yang di lapangan?
Banyak improvisasi. Gerak cepat, dan beruntung banyak orang tergerak untuk bantu dan langsung jadi operator di lapangan.

Jangan bayangkan ada struktur rapi dan ada bosnya. Enggak.

Lo lama ya berkecimpung di dunia aktivis?
Enggak sih. Gue cuma ikut pers mahasiswa dan gak tergabung dalam organisasi intra kampus macam HMI, PMII atau apapun.

Gue enggak sejago yang lo bayangkan. Ini karena sudah menumpuk rasa kegelisahan saja.

Kalau seniman itu kan modal utamanya marah, gelisah dan emosi. Kalau sudah numpuk, harus menemukan penyaluran.

Ya, kontribusi sekecil apapun, karena keresahan yang sudah menumpuk tadi, akan gue lakukan.

Tuntutan mahasiswa kira-kira akan berhasil?
Bukan kira-kira, tapi harus. Sekarang sudah begitu panas. Pemerintah dan DPR harus bernegosiasi dengan masyarakat dan mahasiswa.

Coba lihat, kapan terakhir mahasiswa dari Sumatra sampai Papua melakukan aksi pada hari yang sama?

Ini sudah lebih besar dari '98. Pemerintah dan DPR harus setop rencana-rencana yang tidak berpihak pada publik.

Di Hongkong ada Joshua Wong, waktu ’98 ada nama-nama Adian Napitupulu atau Budiman Sudjatmiko. Menurut lo penting gak figur-figur seperti itu dalam pergerakan hari ini?
Enggak. Kalau lagi-lagi kita terpaku pada tokoh, enggak ada bedanya kita dengan cebong dan kampret. Kita harus belajar dan berusaha melampaui itu.

Kalau lo dianggap sebagian orang, katakanlah mahasiswa, menjadi figur pergerakan, bagaimana?
Enggak lah. Gue jadi musisi saja. Habis ini selesai, gue bikin lagu aja yang selow-selow.

Apakah ada ancaman-ancaman terhadap lo belakangan ini?
Alhamdulillah sejauh ini masih aman. Sejak gue memutuskan public support aksi mahasiswa, gue memperketat semua sekuriti di sosmed, email, dan segala macam.

Lo gak khawatir bahwa inisiatif lo ini memiliki konsekuensi hukum?
Jangan begitu lah bilangnya. Gue melakukan ini hanya atas nama kemanusiaan, tidak ada kepentingan apa-apa.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR