Anang Hermansyah saat ditemui di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (12/2/2019).
Anang Hermansyah saat ditemui di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (12/2/2019). Wisnu Agung / Beritagar.id
BINCANG

Anang Hermansyah: Kalau aku gak ngalah bisa kacau

Menurutnya penarikan RUU Permusikan dari Balegnas tak bisa begitu saja. Ia pun masih optimistis RUU tersebut bakal gol. Itu disampaikannya sebelum menghadiri Konferensi Meja Potlot.

Segala sesuatu tentang Anang lekat dengan kontroversi belakangan ini. Khususnya sejak ia jadi anggota dewan. Mulai dari kisah hak interpelasi, merokok di ruang parlemen, hingga yang lagi hit: kisruh Rancangan Undang-Undang (RUU) Permusikan.

Anang memang tengah jadi perbincangan terkait RUU itu. Draf rancangan yang diajukannya bersama sejumlah musisi dapat cibiran. Di antaranya soal sertifikasi dan kebebasan berkreasi. Dua pasal itu dianggap tak mewakili musisi.

Namun, Anang cukup gentle. Ia berani muncul di hadapan publik untuk menjelaskan—saat pergolakan soal RUU ini panas dan banyak yang mengkritiknya.

“Aku sih terima masukan dan kritikan. Kan demi permusikan kita semua,” katanya saat wawancara dengan Heru Triyono, Sorta Tobing, Wisnu Agung, Tri Aryono dan Mellisa Octavianti.

Awalnya Anang enggan diwawancara. Ia tak mau polemik berlanjut tanpa solusi. Apalagi RUU-nya sedang berproses di Badan Legislasi Nasional (Balegnas). Dalam bahasa Anang, ia tak ingin membangunkan macan tidur lagi.

Tapi, di tengah obrolan, ia berubah pikiran dan mau bicara. Meski, percakapan kami belum benar-benar mengalir sampai ia menyanyikan sepenggal lagu Jangan Memilih Aku dengan tawa. "Jangan aku terus lah yang dipilih wawancara ha-ha," candanya.

Selasa sore itu (12/2/2019), rambut Anang tampak berdiri seperti duri, yang dipadu dengan batik hijau. Kami menemukan sudut yang tenang untuk bicara di sebuah restoran di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Selatan.

Ia memesan air putih sambil beberapa kali mengelus perut, seperti kesakitan. “Ginjal gue kena kali ya,” tutur Ketua Harian Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI) ini, meringis.

Berikut tanya jawab kami soal RUU permusikan dengan Anang, yang telah diedit dan diringkas untuk kejelasan:

Anang Hermansyah saat ditemui di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (12/2/2019).
Anang Hermansyah saat ditemui di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (12/2/2019). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Sekarang draf RUU Permusikan di Balegnas. Bagaimana progresnya?
Begini. Isu ini sekarang sudah reda. Aku enggak ingin ramai lagi. Aku harus jaga biar suasana kondusif. Reda dulu lah.

Iya. Tapi sejauh apa perkembangan draf RUU itu di Balegnas?
Aku belum tahu sumpah. Aku enggak tahu prosesnya. Aku hanya berharap ya tadi: suasana kondusif.

Sebenarnya kalau sebuah draf RUU itu sudah di Balegnas, masih bisa ditarik kan?
Bisa saja. Tapi ada tahapannya. Tidak bisa begitu saja dan harus dipersiapkan. Karena yang menentukan kan mereka (Balegnas).

Melihat dinamika yang terjadi, apakah Balegnas akan tetap mengesahkan draf tersebut?
Itu nanti dibahas. Aku gak mungkin jelaskan, nanti offside. Di sana itu kolektif kolegial keputusannya. Masa gue sendiri. Siapa Anang.

Kalau Komisi X DPR RI melihat draf ini bagaimana?
No. Jangan lari ke komisi sepuluh dong. Ini sudah dibahas jauh. Baca risalah rapat 7 Juni 2017. Akan jelas dan banyak yang bisa dibaca dari situ.

*Pada tanggal 7 Juni 2017 tercatat dalam laman DPR bahwa ada rapat badan legislasi antara Ketua Kami Musik Indonesia beserta jajaran dan anggota dewan.

Pada prosesnya, siapa-siapa saja unsur yang terlibat di Balegnas itu?
Coba tanya ke Balegnas deh. Terus terang aku enggak tahu. Mereka yang menjalankan itu.

Ya artinya kalau sudah di Balegnas, draf RUU itu berproses sendiri?
Lho memang. Begitu bukan? Makanya dilihat lagi risalah rapat 7 Juni 2017. Gue bingung dong menjawab, karena di risalah itu sudah menjelaskan.

Oke. Draf ini kan melalui jalan panjang sebelum masuk Prolegnas prioritas. Anda masih berharap RUU ini bisa gol?
Insya Allah gol. Kapan golnya, ya tergantung teman-teman. Tugasku sudah selesai membawa draf RUU ini menjadi prioritas.

Di berbagai media Anda bilang ingin perjuangkan RUU Permusikan untuk kejelasan masa depan para musisi ya…
Karena aku sudah hampir 40 tahun di industri musik. Aku ingin musisi sejahtera dan aspirasinya dijalankan lewat aturan. Itu saja.

Bagaimana cara Anda melobi hingga RUU Permusikan itu masuk Prolegnas prioritas. Ada cost atau titipan begitu?
Terus terang enggak ada yang percaya sama cerita aku. Gak ada itu sama sekali cost-nya, nol.

Tapi aku bisa nyanyi di tempat lo (teman DPR) kalau diminta. Itu lobi yang aku lakukan.

Butuh berapa lama lobi itu hingga masuk Prolegnas?
Enggak gampang, perjuangannya butuh setahun.

Menurut Anda, apa sih yang kurang dari draf RUU itu?
Jangan ngomong substansi lagi ya. Jujur saja, diharapkan suasana kondusif saat ini. Karena sudah melebar dan buat aku ini sudah enggak sehat.

Kalau aku gak ngalah bisa kacau. Takut dibawa ke mana-mana isunya. Aku enggak mau.

Politik maksudnya?
(Senyum).

Anang Hermansyah saat ditemui di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (12/2/2019).
Anang Hermansyah saat ditemui di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (12/2/2019). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Melihat pergolakan yang terjadi, Anda merasa dijadikan kambing hitam?
Silakan teman-teman menilai. Tapi konteksnya tolong jangan ke sana. Ada yang lebih besar dari sekadar itu.

Ada banyak pekerja di industri musik yang kurang diakomodir. Sebut saja sound engineer di studio yang melakukan proses kreatif.

Karya dia ini ada royaltinya gak? Undang-Undang Hak Cipta mengakomodir itu gak?

Ya Undang-Undang Hak Cipta-nya saja diperkuat, kan bisa?
Undang-undang itu tidak bicara musik semua. Tidak mencakup industri musik yang luas. Bayangkan luasnya, dari proses produksi sampai ke konsumsi.

Kalau Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan isinya norma saja. Kalau didetailkan dalam 16 sub sektor, setebal apa undang-undangnya? Bisa bayangkan gak?

Nanti bakal jadi preseden dan akan ada undang-undang tari dan sebagainya dong…
Enggak apa-apa. Kalau urgensinya ada. Tapi jangan didiskusikan seperti itu. Jadi lucu.

Tapi beberapa musisi tidak melihat urgensi RUU Permusikan ini?
Tergantung sudut pandang. Kalau kita bicara distribusi dan kesejahteraan musisi, maka undang-undang itu jadi perlu. Itu kan yang kita perjuangkan.

Tetap saja banyak musisi yang ingin menolak, bagaimana?
Itu dinamika. Enggak apa-apa kan sebagai kritik dan masukan.

Insya Allah RUU Permusikan bisa gol

Anang Hermansyah

Anda seperti diintimidasi oleh satu musisi yang keras sekali menyikapi isu ini…
Aku melihat masalah industri musik itu lebih besar, dan (intimidasi) itu enggak ada artinya. Kalau aku mengikuti bahasan itu, ya aku cemen amat ya.

Memangnya, siapa saja musisi yang Anda ajak bicara soal RUU Permusikan—sejak awal?
Ya KAMI dan banyak pelaku industri musik lainnya.

Kalau musisi lain juga ikut bahas, kenapa respons mereka kok seperti resistan?
Aduh bagaimana ya. Kalau pertanyaan begitu kan lo mojokin gue namanya he-he. Lihat saja risalah rapat pada 7 Juni 2017. Itu saja.

Waktu itu kan juga ada Ian Antono dan Franki Raden.

Lalu, kenapa sih bisa mis terhadap pasal-pasal yang kontroversial itu?
Aku enggak mau bicarakan soal itu. Susah.

Katanya ada banyak naskah akademik yang masuk. Jumlahnya ada berapa sebenarnya dan kenapa dipilih cuma satu?
Betul ada beberapa. Jumlahnya, jujur saja aku lupa. Naskah-naskah akademik itu masuk sejak awal 2015.

Tapi begini. Sudah tidak ada kata-kata keras lagi hari-hari ini. Kita sudah duduk bersama. Aku enggak mau membangkitkan macan tidur lagi.

Ketua Umum PAPPRI Hendro Priyono bicara apa ihwal polemik ini?
Dia baik. Bahkan terlalu baik untuk ikut urus hal beginian. Cukup dong. Kamu sudah dapat banyak ini.

Nanti dulu. Btw kenapa Anda enggak nyaleg lagi?
Pekerjaan aku banyak di rumah.

Enggak ada yang mengawal lagi dong RUU Permusikan di DPR?
Ada teman-teman yang akan masuk kan. Ada Giring Nidji atau Ahmad Dhani--kalau dia enggak inkrah. Kalau inkrah ya gone peluangnya.

Masih berkomunikasi dengan Dhani?
Kadang-kadang.

Apa next step Anda setelah keriuhan RUU Permusikan ini?
Aku lagi urus peluncuran mini album Kidnap Katrina. Aku juga sedang mau bikin ormas yang isinya data-data musik. Mirip ICW lah. Kayak lembaga think tank.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR