Andi Darussalam Tabusalla atau ADS saat ditemui di kediaman pribadinya di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (26/12/2018).
Andi Darussalam Tabusalla atau ADS saat ditemui di kediaman pribadinya di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (26/12/2018). Beritagar.id / Hariandi Hafid
BINCANG

Andi Darussalam: Final AFF 2010 diatur sosok perempuan

Sejak lama namanya dikaitkan dengan mafia sepak bola. Kini ia muncul dan mempersilakan pihak yang menuduhnya "bermain" untuk membuktikan.

Andi Darussalam Tabusalla atau ADS adalah nama beken di jagat sepak bola. Julukannya saja mentereng: godfather. Sebuah predikat yang disikapi Andi dengan bodo amat. “Ngapain pusing. Biarkan saja,” ujarnya.

Nama Andi memang kerap terseret tiap ada isu mafia bola. Tak terkecuali isu yang belakangan sedang gaduh, yaitu pengaturan skor. Andi juga disebut-sebut. Tapi kali ini ia tak diam.

"Karena dituduh, saya ngamuk. Sekarang saya mau bicara," kata pria berusia 68 ini saat diwawancara Ancha Hardiansya dan fotografer Hariandi Hafid di kediamannya Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (26/12/2018).

Dari catatan profilnya, pria asal Makassar ini beberapa kali mengisi posisi strategis, meski tak pernah menjabat ketua PSSI. Di antaranya sekretaris liga di era Galatama dan Ketua Badan Liga Indonesia. Posisi penting lainnya, Andi pernah didapuk sebagai Manajer Timnas Indonesia di Piala AFF 2010.

Nah, Piala AFF 2010 ini sedang disorot karena hasilnya diduga janggal. Andi pun mengklaim punya bukti kalau kalahnya Indonesia dari Malaysia di babak final sudah diatur. “Saya sedang cari-cari konektivitas yang terputus dari apa yang saya duga-duga,” ujar pria berusia 68 ini.

Sore itu, ia hanya pakai celana dalam dan kaos putih. Berbaring menyamping di atas ranjang, sambil sesekali menempelkan sensor gula ke lengannya. Usai transpalantasi ginjal tahun lalu, Andi merasa wajib memperhatikan kesehatan. Bahkan ia punya buku catatan berkemihnya.

Selama dua jam ia meladeni wawancara Beritagar.id. Kemudian, wawancara tambahan dilakukan Heru Triyono via telepon pada Jumat sore (28/12/2018). Berikut rangkuman dua kali wawancara itu selengkapnya:

Andi Darussalam Tabusalla atau ADS saat ditemui di kediaman pribadinya di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (26/12/2018).
Andi Darussalam Tabusalla atau ADS saat ditemui di kediaman pribadinya di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (26/12/2018). | Hariandi Hafid /Beritagar.id

Anda disebut-sebut godfather-nya mafia bola Indonesia, Anda enggak risih?
Ngapain pusing. Biarkan saja. Saya disebut begitu sejak lama, sejak tahun 1983. Tapi baru 1987 nama saya selalu digunakan.

Katanya saya bisa pengaruhi ini itu. Kalau memang begitu, ya buktiin saja. Sekarang kan sudah ada satgas.

Media mana atau siapa yang pertama juluki Anda godfather, Anda tahu dan mengapa?
Saya enggak tahu itu dan julukan itu berlebihan.

Julukan godfather ini identik dengan orang yang amat berpengaruh, enggak sembarangan kan…
Iya. Silakan buktikan. Prinsipnya saya siap kerja sama dengan Satgas Polri. Saya rasa itu baik buat sepak bola kita.

Yang mengejutkan nama Anda disebut Bambang Suryo dalam rekaman yang diduga terkait pengaturan skor di Mata Najwa?
Bambang itu orang sakit. Buktinya waktu ketemu, dia tidak bicara, malah ketawa. Saya bilang, ini adik-adik saya semua. Sudah waktunya kita lakukan ini (membongkar).

Orang bilang saya menepis. Kini saya ingin tepis kepada siapa yang selalu katakan saya godfather. Kenapa mereka tidak lapor polisi. Lapor dong.

Bambang Suryo (BS) ini mengelak terlibat dalam pengaturan pertandingan, tapi tetap kena hukuman seumur hidup dari PSSI. Pendapat Anda?
BS ini gegabah. Saya juga enggak tahu apa maksudnya dalam rekaman itu.

Kalau dengan Vigit Waluyo, sosok yang paling dicari masyarakat bola Indonesia, Anda kenal?
Mulai almarhum bapaknya saya kenal.

Ada di mana Vigit? Anda bisa berkomunikasi dengan dia?
Vigit ini kadang muncul, kadang hilang. Saya kadang komunikasi, tapi tidak tahu di mana. Dia itu jadi buronan kasus korupsi dana PDAM. Saya enggak tahu lagi Vigit ini bagaimana.

Bagaimana Vigit bisa leluasa mengatur skor?
Jangan bilang atur skor. Tidak ada skor diatur. Vigit juga tidak bisa atur skor, tapi pertandingan. Kalah menang itu yang bisa diatur. Kalau skor susah diatur, meski bisa juga.

Jadi, memang betul ya ada match fixing di sepak bola kita selama ini?
Dulu ada match fixing. Waktu namanya Liga Primer, lima tahun lalu. Match fixing itu tidak mudah. Ini terjadi di era pecahnya PSSI jadi dua.

Ada Liga Primer yang dipimpin kelompok Arifin Panigoro dan kemudian ada Liga Super di kelompok Nurdin Halid. Dua kompetisi ini pisah.

Maksudnya Liga Primer sebagai pemulai match fixing itu?
Saya tidak mau tarik ke belakang siapa pemulainya. Saya juga enggak tahu kapan petaruh-petaruh itu mulai masuk dan dari mana.

Tapi ya di situ mulainya, di mana era Liga Primer berdiri dan tergesa-gesa. Mereka tidak mempunyai dana.

Di situ dimanfaatkan oleh petaruh-petaruh dari Malaysia, Singapura dengan tameng sebagai penyandang dana.

Sebenarnya bagaimana cara mengatur skor di liga Indonesia itu?
Ya atur skor akhir itu berapa. Kan begitu. Yang diatur bukan cuma permainannya, tapi sampai menit ke menit. Menit ini masuk, yang ini tidak masuk. Begitu.

Itu bisa dilakukan kalau kedua kesebelasan ketemu. Mulai dari manajer, kapten kesebelasan, duduk satu meja dengan bandar.

Artinya para pemain juga ikut terlibat dalam pengaturan skor?
Pastilah, karena mereka yang jalankan.

Pemain yang terlibat tersebut yang senior atau junior?
Bisa senior bisa junior, semua bisa saja terlibat.

Apakah pengaturan skor ini masih terjadi untuk semua divisi liga?
Yang atur skor rasanya tidak ada. Kalau pun ada mungkin satu dua, tapi itu sulit dibuktikan. Sebenarnya saya kurang sependapat kalau istilahnya pengaturan skor.

Kalau bukan pengaturan skor, lalu apa namanya?
Yang ada adalah keinginan klub raih prestasi dengan cara kurang terhormat, yaitu dengan mengatur pertandingan. Itu yang ada. Jadi, kalau pengaturan skor, saya tidak lihat indikasinya.

Nah pengaturan pertandingan ini tidak perlu semua terlibat. Paling manajer sama oknum-oknum. Pelatih kadang-kadang ikut.

Tidak harus ada juga pertemuan kedua klub. Cukup satu. Tidak seperti pengaturan skor yang dulu-dulu.

Andi Darussalam Tabusalla atau ADS saat ditemui di kediaman pribadinya di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (26/12/2018).
Andi Darussalam Tabusalla atau ADS saat ditemui di kediaman pribadinya di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (26/12/2018). | Hariandi Hafid /Beritagar.id

Pengaturan pertandingan melibatkan orang-orang dalam PSSI?
Ya, dia (manajemen) menghubungi orang-orang di sana (PSSI). Entah itu Exco atau orang-orang yang punya pengaruh di dalam PSSI.

Mereka yang nanti mengatur masalah perwasitan. Di situlah mereka bertemu melakukan deal segala macamnya.

Apakah Anda pernah dimintai tolong oleh manajemen klub?
Minta tolong saja iya. Saya selalu bilang, saya bisa bantu asal kamu punya tim dan pelatih bagus. Kalau enggak punya, enggak ada gunanya pergunakan saya.

Maksud “menggunakan” Anda itu pengertiannya apa ya?
Menggunakan saya itu maksudnya untuk proteksi supaya mereka jangan dimain-maini. Saya bisa bantu di situ. Saya tidak pernah bilang ke wasit harus apa.

Saya hanya minta mereka pimpin saja pertandingan yang baik. Jangan culas. Wasit jangan main-main. Kalau kalah, ya kalah betul. Kalau menang, ya menang betul.

Ada berapa banyak klub yang Anda tahu biasa meminta itu?
Sekitar 70 persen klub melakukan itu. Saya tidak mau sebut. Tapi sekarang sudah jauh lebih baik. Wasitnya bermutu dan manajemennya juga baik.

Pengaturan pertandingan diungkap oleh manajer Persibara Banjarnegara, Lasmi Indaryani. Ternyata buruk sekali ya bola Indonesia...
Kalau tidak puas pasti mereka (manajemen klub) memainkan isu ini. Coba kalau Banjarnegara kemarin lolos. Enggak akan ada pengakuan seperti itu.

Oke. Anda bilang wasit tidak boleh main-main, apakah jalan masuk pengaturan pertandingan itu memang ada di wasit?
Iya, karena mereka jadi perangkat pertandingan. Tapi kita juga tidak bisa salahkan wasit. Karena ada sistem yang jalan di situ. Sistem yang jalan itu yang harus diputus.

Sistem apa itu?
Sistem supaya bisa memenangkan satu klub itu bagaimana. Ini sudah diatur. Kalau teknisnya, nanti urusan saya dengan Mabes (Polri). Saya belum bisa bongkar yang itu.

Wasit Indonesia enggak netral?
Masih bisa dimainkan. Tapi ada yang jujur. Kalau masalah kesejahteraan, ya cukup bagus.

Yang memimpin laga home gajinya Rp5 juta, kalau away Rp2,5 juta. Repotnya, kalau tuan rumah menang, kadang-kadang wasit diberi uang.

Untuk apa?
Penghargaan. Tuan rumah biasanya suka dipimpin wasit bagus. Jadi pemberian itu karena dia dianggap bagus.

Apakah masih banyak wasit yang bisa “dimainkan”?
Iya. Banyak yang bisa.

PSSI itu sebenarnya tahu enggak soal pengaturan pertandingan ini?
Tahu lah. Kan ada Exco yang terlibat. Saya bisa tunjuk kok. Hidayat itu hanya satu orang. Masih ada yang lain.

Orang PSSI itu takut kalau berhadapan dengan saya. Saya bisa tuduh mereka, tapi mereka belum tentu bisa tuduh saya.

PSSI takut?
Prinsipnya mereka harus berbenah.

Modusnya bagaimana orang dalam PSSI ikut bermain, apa mereka yang aktif menghubungi klub?
Tidak. Klub yang cari mereka. Habis itu ya saling menguntungkan. Bisa kontrak, bisa putus.

Misalnya, satu musim itu satu klub mau naik divisi. Akan dibahas nanti harganya dan itu sulit dilacak. Tiba-tiba orang PSSI itu masuk jadi pengurus dan pegang tim teknis.

Kok Anda tahu banyak soal itu, kenapa enggak dari dulu saja membongkar?
Saya enggak ada pikiran ke sana, baru sekarang.

“Wasit masih banyak yang bisa dimainkan”

Andi Darussalam

Apakah Bandar yang ada di Indonesia banyak pemain baru?
Orang-orang lama semua. Itu-itu juga.

Bandar-bandar luar negeri kok bisa dengan mudah masuk Indonesia? Perputaran uang judi di sini besar ya?
Lebih mudah di-approach orang-orangnya. Saya tanya Joko, katanya Rp70 miliar perputaran uangnya.

Saya tidak tahu Joko bicaranya per kapan. Kau tanya Joko Driyono saja.

Btw, soal Eli Cohen, apakah Anda kenal? Dia yang kirim surat ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan membeberkan dugaan suap di Final AFF 2010…
Eli Cohen orang yang bilang Nirwan Bakrie terlibat. Saya marah. Kenapa Nirwan dibawa-bawa. Padahal dia tidak pernah masuk ke kamar ganti. Saya juga tidak tahu siapa Eli Cohen itu.

Dalam surat itu Anda dituduh mengatur pertandingan agar Indonesia kalah--bersama Nurdin Halid?
Karena dituduh itu makanya saya ngamuk. Sekarang saya mau bicara. Karena ada hoaks-hoaks yang enggak ada guna tentang saya.

Saya berpikir, bagus sepertinya saya bicara. Umur sudah tua juga. Kita buka-bukaan mi (akhiran dalam logat Makassar, seperti lah).

Intinya saya mau bantu kepolisian.

Di acara Mata Najwa Anda bilang kecolongan menjaga hotel saat final AFF 2010, apa yang terjadi?
Iya. Ada perempuan datang. Perempuan ini kenal sama istriku. La Nyala bilang hati-hati dengan perempuan ini. Dia menginap di hotel yang sama dengan Timnas.

Siapa perempuan itu?
Saya tidak mau sebut. Saya sudah janji tidak sebut nama. Itu ilustrasi saya saja bahwa perempuan ini yang mengatur final. Saya tidak bisa membuktikan juga.

Lalu kenapa Anda mencurigai perempuan itu?
Saat ketemu "pemain" dari Malaysia, dia bilang, mana kami bisa menang kalau pertandingan itu tidak "dimainkan".

"Pemain" ini sudah kenal dengan saya. Dia minta maaf dan mengakui kekuatan Timnas ketika itu. Dari penjelasan "pemain" itu, saya tidak mau mikirin lagi sekian lama.

Kemudian, Allah yang kasih saya petunjuk soal perempuan ini. Saya ingat, dia pernah bawa bandar saat kasus Purwodadi. Kalau di medsos, dia sering hantam saya. Tapi sekarang sudah tidak.

Perempuan ini orang Malaysia atau Indonesia?
Indonesia.

Apakah dia masih berkeliaran?
Sosok perempuan itu hanya dugaan saja. Saya sedang cari-cari konektivitas yang terputus dari apa yang saya duga-duga.

Anda yakin skandal pengaturan pertandingan bisa terbongkar?
Kalau saya tidak yakin (terbongkar) saya tidak mau bantu. Karena saya yakin, makanya saya bantu.

Polisi bisa membongkar semua ini?
Bisa. Saya lihat ketulusan Pak Tito (Kapolri). Kalau saya sudah berjanji, akan saya tepati. Saya janji bantu Satgas.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR