Keterangan Gambar : Andik Vermansah bergaya di depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id, Selasa pagi (20/12/2016) di The Park Lane Jakarta, Menteng Dalam. © Beritagar.id / Wisnu Agung Prasetyo

Sayap Selangor FC ini buka-bukaan tentang obsesi bermain di Chinese Super League dan kegelisahannya soal tim nasional

Tingginya cuma 162 sentimeter, tapi lari Andik Vermansah demikian cepat. Wajar, latihannya saja balapan dengan taksi di tanjakan dekat rumahnya di Surabaya dulu. Ia juga berlatih sprint di jalur parkir mal yang melingkar sampai lantai tujuh. "Inspirasi dari Roberto Carlos," ujarnya.

Tak ada tanda-tanda melambat di usianya yang ke-25. Kegesitannya masih tampak saat ia bela tim nasional di Piala AFF 2016 yang baru usai.

Sayang, benturannya dengan pemain Thailand, Thawekarn Kroekit, membuat lututnya cedera dan harus meninggalkan lapangan lebih dini di final pertama. Berita buruknya, Indonesia gagal lagi untuk kelima kalinya di final Piala AFF--yang di leg dua tanpa dia.

"Saya sedih sekali," kata dia kepada Heru Triyono, Hedi Novianto dan fotografer Wisnu Agung, Selasa pagi (20/12/2016) di The Park Lane Jakarta, Menteng Dalam.

Kekalahan tersebut menambah deret kesedihannya musim ini, karena sebelumnya ia juga gagal menjuarai Piala Malaysia bersama Selangor FA, plus klubnya itu kini bangkrut. "Tapi saya akan tetap main di Selangor," tuturnya.

Andik memang dipuja di Negeri Jiran. Bagai Lionel Messi-nya Selangor, seperti Bonek dulu memanggilnya dari tribun saat bermain untuk Persebaya Junior. "Saya suka saja dipanggil Messi, tapi kan kelasnya beda he-he."

Selain dielu-elukan fan, kelihaian cara bermainnya juga diakui media Malaysia. Bahkan dirinya pernah menghiasi sampul majalah olahraga yang cukup populer: Dunia Sukan.

Momentum yang buat namanya harum adalah saat ditekel David Beckham--waktu Indonesia uji coba lawan LA Galaxy. Sejak itu kariernya moncer--dengan diundang tes dan berlatih di klub DC united dari liga MLS Amerika dan Ventforet Kofu dari J-League, hingga akhirnya berlabuh ke Selangor FC.

Kini Andik dispekulasikan kembali ke Tanah Air atau menunggu tawaran dari klub Chinese Super League. Akan tetapi ia memilih untuk meredam spekulasi itu, karena fokus memulihkan cedera.

Saat ditemui Beritagar.id, ia memang agak pincang karena merasa sendi lututnya masih ngilu untuk digerakkan. "Sekitar dua bulan pemulihan," ujarnya.

Yang pasti, beda dengan dulu, penampilannya sekarang lebih necis. Ia meninggalkan gaya lawas mowhak-nya, seperti ketika dulu merumput di Indonesia. Rambut Andik kini lebih rapi dan berkilat seperti baru sampoan.

Kepada kami ia banyak bicara soal tim nasional, karier dan masa sulitnya saat masih jualan es cum-cum seharga Rp150 di Surabaya. Berikut perbincangannya selama sejam lebih:

Andik Vermansah bergaya di depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id Selasa (20/12/2016) di The Park Lane Jakarta, Menteng Dalam.
Andik Vermansah bergaya di depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id Selasa (20/12/2016) di The Park Lane Jakarta, Menteng Dalam.
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Apa kurangnya Timnas Indonesia sehingga gagal untuk kelima kalinya di final Piala AFF?
Mental. Kita terbayang kekalahan di final-final yang lalu. Apalagi bertemu Thailand. Tapi hebatnya kita justru bisa buat kejutan di Cibinong dengan mengalahkan mereka (2-1). Sedihnya saya malah cedera.

Ini pertama kalinya Anda cedera parah?
Cedera hamstring (otot paha belakang) sih sering. Tapi ini yang pertama cedera lutut. Saya sempat paksa main, tapi sakit. Kemudian Coach Riedl tarik saya. Pas ditandu saya menangis dan hanya bisa menonton dari tribune pas teman-teman main di Bangkok.

Sejak grup hingga final leg pertama Indonesia selalu cetak dua gol, kenapa pas di Bangkok mandek?
Enggak tahu. Padahal di Cibinong kami percaya diri. Tapi setelah masuk ke Rajamangala Stadium kok mental itu hilang. Ya ini hasil maksimal, apalagi Timnas kehilangan pemain penting seperti Irfan Bachdim.

Maksudnya jika ada Bachdim peluang Indonesia untuk juara lebih besar?
Jujur, saya pesimis tanpa dia (Bachdim). Tapi semangat teman-teman besar sekali. Yang awalnya enggak diprediksi lolos grup, justru malah bisa. Saya akui ini berkat strategi Coach Riedl yang bagus.

Saat melawan Thailand strategi apa yang diterapkan, sepertinya bertahan penuh...
Itu yang saya sayangkan, kenapa kok di final bertahan.

Lho waktu semifinal kedua melawan Vietnam kan strategi Timnas juga bertahan...
Intruksi coach memang begitu. Tapi sama Kakak Boaz kita sepakat menyerang setelah Vietnam unggul satu gol. Pemain kan yang menentukan di lapangan. Kita percaya pelatih tapi kita juga percaya dengan kemampuan pemain belakang. Maksud saya jangan lah terlalu mundur. Di Cibinong, Thailand itu enggak ada apa-apanya.

Menurut Anda apa keunggulan Thailand atas Indonesia?
Ketenangan dan permainan tim. Kalau secara individu Indonesia unggul. Sayang kita bertahan, padahal kalau dipressing terus mereka itu takut, karena pemain bertahan mereka lambat, sementara pemain kita cepat-cepat.

Dengan kegagalan ini, Anda menilai Alfred Riedl masih layak dipertahankan?
Dia bagus. Pendapat ini bukan karena saya selalu dipasang main ya oleh dia. Tapi memang strategi dan disiplinnya bagus. Maaf, pemain kita kan kurang soal disiplin.

Hanya saja Coach Riedl kurang dukungan dari klub-klub. Itu yang saya sesali. Seandainya klub mau lepas pemain terbaiknya, Riedl leluasa menyusun formasi.

Apakah materi pemain yang kemarin itu kurang bagus?
Saya enggak bilang mereka jelek. Sebaliknya, Riedl menemukan banyak pemain muda bertalenta. Saya yakin pada 2018 kita akan menggetarkan Asia.

Anda merasa kurang sreg dengan karakter pelatih lokal?
Siapa saja yang jadi pelatih saya welcome. Atas nama profesionalitas ya pemain harus ikut instruksi pelatih. Bagaimana bisa pemain tidak suka sama pelatihnya? Kalau itu terjadi maka kolektivitas tim tidak jalan.

Kenapa ya Evan Dimas tidak mendapat posisi yang pas di strateginya Riedl, beberapa pemerhati bola menyayangkan itu?
Karakter Riedl itu begini: sekali dikasih kesempatan dan kepercayaan, maka harus dimanfaatkan. Setiap perang itu ada strategi. Meski sekelas David Beckham, kalau enggak bisa sesuaikan diri dengan strategi maka akan terkendala mainnya.

Maksudnya Evan kurang menjalankan arahan Riedl?
Saya enggak mau komentar soal Evan. Evan itu pemain muda bagus, bahkan di atas rata-rata. Tapi dalam formasi Riedl dia kurang cocok. Mungkin saja dia cocok jika nanti pelatihnya dari Indonesia.

"Setiap perang itu ada strategi. Meski sekelas David Beckham, kalau enggak bisa sesuaikan diri ke dalam strategi maka akan terkendala mainnya"

Andik Vermansah

Siapa menurut Anda pelatih lokal yang layak menangani Timnas Indonesia?
Bahaya kalau saya sebut nama (pelatihnya) ha-ha. Nanti kalau yang terpilih beda dengan yang saya sebut, bisa-bisa enggak dipanggil he-he.

Oke, kita bicara pelatih yang pernah melatih Anda saja. Misalnya Nil Maizar atau Rachmad Darmawan, apakah mereka mumpuni?
Dua nama itu ya bagus. Pelatih asing yang kata anak-anak bagus juga saat ini adalah pelatih PSM, Robert Rene Alberts.

Andik Vermansah sedang latihan resmi dan uji coba lapangan di Stadion Nasional My Dinh, Hanoi, Vietnam, Selasa (6/12/12).
Andik Vermansah sedang latihan resmi dan uji coba lapangan di Stadion Nasional My Dinh, Hanoi, Vietnam, Selasa (6/12/12).
© Widodo S. Jusuf /Antara Foto

Dari pengalaman Anda, apakah ada perbedaan berarti antara latihan di Malaysia dan Indonesia?
Lebih berat waktu di Persebaya latihannya. Tapi Malaysia lebih unggul soal profesionalitas dan kedisiplinannya.

Misalnya di klub saya (Selangor). Dalam seminggu itu konsisten melakukan fitness sebanyak dua kali. Di Indonesia belum tentu ada latihan itu (fitness).

Bagaimana dengan fasilitas untuk latihannya, di Selangor itu lebih baik ya?
Yang pasti perangkat latihannya lebih lengkap. Mereka modern, latihan simpel tapi bisa meningkatkan kemampuan pemain. Tapi kan sebenarnya sama saja, tergantung kebutuhan pemain. Kalau kita profesional ya tentunya harus mau meningkatkan kemampuan.

Pemain Indonesia sering disorot soal stamina, mungkin porsi latihan fisiknya kurang keras ya?
Enggak juga, saya sih siap saja latihan keras. Tapi kembali ke pemainnya. Semua punya ukuran kemampuannya sendiri-sendiri.

Soalnya pemain Indonesia itu protes dan sempat ada yang mundur ketika Timnas dilatih Anatoli Polosin, karena menilai porsi latihan fisiknya lama, yaitu sampai tiga bulan...
Namanya pemain itu suka kangen sama bola. Kami butuh variasi, jangan fisik terus. Training camp berbulan-bulan juga enggak efektif, karena bikin jenuh. Oke TC, tapi cukup dua minggu, kemudian balik ke klub. Biar fresh.

Bicara klub, apa sebenarnya yang membuat Anda betah di Selangor FC, bahkan hampir empat tahun?
Jujur, di sana itu kejam. Banyak pemain asing hanya tahan setahun, bahkan ada yang tiga bulan saja. Meski si pemain dikontrak tiga tahun, tapi kalau tiga bulan awal enggak bagus, maka akan dicoret. Tapi bagusnya, bayaran si pemain tetap dibayar penuh. Menurut saya, Malaysia profesional, makanya saya bertahan.

Mereka menerima dengan baik pemain dari Indonesia?
Nah itu yang saya pikirkan di awal. Ketika ditawari kontrak dua tahun saya enggak mau. Saya maunya setahun dulu karena khawatir tidak diterima dengan baik. Tapi ketika saya beranikan diri main di sana, ternyata malah diterima dengan baik sekali. Bahkan jadi kapten tim.

Andik Vermansah bergaya di depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id Selasa (20/12/2016) di The Park Lane Jakarta, Menteng Dalam.
Andik Vermansah bergaya di depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id Selasa (20/12/2016) di The Park Lane Jakarta, Menteng Dalam.
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Pernah dapat diskriminasi, karena Anda dari negara yang notabene adalah pesaing Malaysia?
Enggak sama sekali. Justru saya ditawari jadi warga negara Malaysia oleh tiga orang. Pertama adalah orang kerajaan, lalu suporter dan satu lagi polisi. Mereka menawari ketika saya tidak dipanggil Timnas Indonesia pada 2014.

Tawaran itu Anda tolak?
Saya tertawa saja. Mungkin mereka main-main he-he. Lagi pula saya enggak bisa dong pindah warga negara, meski dijanjikan fasilitas-fasilitas tertentu yang saya enggak bisa bilang.

Sempat tergoda untuk jadi warga Malaysia karena tidak dipanggil Timnas waktu itu?
Saya sempat berpikir, tapi ya masa aku pindah? Rasanya enggak mungkin .

Tapi pernah membayangkan Anda bermain di Timnas Malaysia?
Ha-ha. Saya pernah lho upload foto Timnas Malaysia di Path. Salah satu pemainnya diganti dengan kepala aku. Hanya bercanda, meski kemudian ada juga yang komentar. Isi komentarnya berharap saya main di sana.

Setelah berkarier di Malaysia, sudah ada rencana akan ke mana lagi?
Target saya berikutnya ke Chinese Super League, bukan Jepang. Saya sudah komunikasi dengan manajer Selangor untuk tanya kenalan dia di sana. Saya yakin bisa beradaptasi di Cina. Semoga bisa tembus, sehingga masa depan saya cerah.

Bukankah karier Anda di Malaysia cukup bagus, juga dari segi kesejahteraannya?
Dibilang sejahtera sih relatif. Ini kan sesaat--meski Alhamdulillah gajinya besar. Mimpi saya adalah bangun akademi sepak bola untuk anak berbakat tidak mampu seperti saya dulu. Dananya dari tabungan.

Masa kecil saya itu sulit. Harus cari uang sendiri dengan jualan es cum-cum seharga Rp150. Tapi cinta saya kepada sepak bola sangat besar. Kalau Persebaya main, saya rela jalan kaki 10 kilometer ke stadion dari rumah.

Dari kecil memang bercita-cita jadi pemain bola?
Bahkan dari lahir saya sudah diramal jadi pemain bola oleh bude dari Bapak. Bude bilang kaki saya ada tanda lahir, yang artinya kuat berlari. Eh malah benar jadi pemain.

Nama saya pun diambil dari nama kiper Timnas zaman dulu: Hermansyah. Tapi entah kenapa H itu jadi V saat dinamakan Bapak, sehingga kok menjadi Vermansah ha-ha.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.