Keterangan Gambar : Andy F. Noya di ruangan kerjanya, MetroTV, Jakarta, Rabu, 24 Mei 2017. © Beritagar.id / Andreas

Sebuah buku menyadarkannya bahwa menjadi jurnalis saja tidak cukup. Ia ingin berbuat lebih agar hidupnya bermanfaat bagi orang lain.

Setelah sempat tertunda beberapa hari, akhirnya tiba waktunya kami bisa mengobrol langsung dengan Andy F. Noya pada Rabu (24/5/2017), sepekan setelah Hari Buku Nasional.

Tampil kasual bak anak muda yang penuh energi, siang itu Andy datang dalam balutan kemeja dengan lengan tergulung setengah dan celana chino krem. Tak luput topi kupluk hitam membungkus kepala plontosnya. Ia menemui kami yang sudah menunggu di salah satu ruang rapat di lantai 6 gedung Metro TV, Jakarta.

"Halo, cari tempat yang lebih enak yuk," ajaknya seraya menjulurkan tangan kanan menyalami kami satu per satu dengan bersemangat. Setelah mencari-cari, akhirnya kami diajak masuk ke salah satu ruangan di lantai yang sama--yang ternyata adalah ruang kerjanya. "Ini topik wawancaranya tentang buku dan minat membaca kan? Kalau begitu di sini saja ya," katanya mempersilakan kami masuk.

Rak besar yang dipenuhi dengan tumpukan buku dan beberapa penghargaan menyambut kami saat memasuki ruangan kerjanya. Begitu juga dengan karikatur dirinya yang menempel di sisi dinding ruangan tersebut.

Melihat kondisi ruang kerjanya yang bak tertimbun buku, tak heran rasanya jika ayah tiga orang anak ini pernah didapuk sebagai Duta Baca Indonesia selama periode 2011-2015. Saking dekatnya sosok Andy dengan buku, tahun ini ia dipercaya untuk menjadi duta gerakan #BukuUntukIndonesia.

Kepada Beritagar.id ia mengaku, hobi membacanya mulai timbul saat ia duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar. Saat itu, ia dihadiahi sebuah buku prakarya sebagai kado ulang tahun dari sang ibu. "Dari buku itu saya belajar membuat mainan sendiri dan mendapatkan pujian dari guru saya," katanya.

Pria kelahiran Surabaya, 6 November 1960, ini memulai kariernya sebagai reporter pada 1985. Ketika itu, ia terpilih sebagai reporter yang membantu Majalah Tempo dalam pembuatan buku Apa dan Siapa orang Indonesia, padahal statusnya masih mahasiswa tingkat tiga.

Sukses di dunia jurnalistik lantas mengantarkan lelaki yang mengaku introver ini masuk ke dunia hiburan dan aktif di kegiatan sosial hingga saat ini. Selama kurang lebih 45 menit, ia menjawab setiap pertanyaan yang kami ajukan dengan lugas. Berikut nukilannya.

Andy F. Noya saat diwawancarai Beritagar.id, Rabu, 24 Mei 2017.
Andy F. Noya saat diwawancarai Beritagar.id, Rabu, 24 Mei 2017.
© Andreas /Beritagar.id

Apa arti buku bagi seorang Andy F. Noya?
Kalau klasiknya kan buku adalah jendela dunia dan ternyata pendapat tersebut memang betul. Siapa yang lebih banyak membaca, dia yang punya lebih banyak wawasan dan pengetahuan. Dengan banyak membaca kita akan menjadi figur yang menyenangkan karena bisa diajak berbicara tentang topik apapun dan akan membuat kita terlihat cerdas pasti. Selain itu, kita akan mendapat banyak manfaat ilmu pengetahuan dari buku yang kita baca. Siapa yang mendapatkan informasi terlebih dahulu maka dia yang akan memenangkan persaingan. Jadi, arti buku itu penting sekali, sekarang dan saya yakin selama-lamanya.

Buku apa yang membuat Anda jatuh cinta saat pertama kali membacanya?
Saya pernah membaca buku menarik, judulnya Who moved my cheese?. Buku ini bercerita tentang kurcaci yang sudah berada di satu posisi yang nyaman. Nah, kemudian temannya yang lain merasa mereka tidak boleh berada di comfort zone dan harus bergerak, karena ketika sudah merasa nyaman di satu posisi, biasanya kita enggak akan berkembang lagi.

Dari situ saya kemudian memikirkan bahwa saya tidak bisa lagi hanya menjadi jurnalis. Ada sesuatu yang saya harus lakukan dalam hidup saya, sehingga saya bisa lebih bermanfaat. Karena itu, saya mulai terjun ke masalah-masalah sosial, termasuk di dalamnya Kick Andy Foundation. Di sinilah titik yang membuat saya baru merasa hidup saya lebih berarti karena bisa membantu banyak orang.

Apakah kecintaan Anda pada buku muncul dengan sendiri atau karena dorongan orang tua?
Sejak kecil dengan kemampuan ekonomi yang pas-pasan, ibu saya berlangganan koran dan majalah. Dia juga membolehkan saya membaca komik pada akhir pekan. Padahal, saat itu banyak orang tua yang melarang anaknya membaca komik karena dianggap mengganggu pendidikan. Tapi, justru ibu selalu mengizinkan saya untuk baca komik. Dari situ saya bisa memahami bahwa sebenarnya ibu saya sejak awal mendorong saya untuk banyak membaca.

Sejak kecil masalah yang saya hadapi adalah persoalan keuangan sehingga saya tidak bisa membeli buku. Nah, ketika kuliah, untuk menyiasati masalah ini saya akhirnya menjadi pelanggan setia Perpustakaan Soemantri Brodjonegoro. Jadi, buku-buku yang banyak saya baca adalah buku koleksi perpustakaan tersebut.

Buku apa yang pertama dan terakhir Anda baca?
Kalau buku pertama, merupakan buku prakarya pemberian ibu saya ketika saya duduk di kelas 3 SD. Dari buku tersebut saya bisa membuat berbagai mainan dan mendapatkan pujian dari guru, buku tersebut memberikan dampak yang besar untuk saya.

Kalau buku terakhir yang betul-betul menyita waktu saya adalah buku Rhenald Kasali yang judulnya Disruption. Buku ini menarik karena menceritakan betapa dengan teknologi informasi yang berkembang belakangan ini, ternyata banyak sekali perusahaan-perusahaan yang tidak siap menghadapi lawan-lawan yang tidak terlihat yang akhirnya bisa membuat usaha mereka bangkrut.

Seberapa besar pengaruh buku-buku yang Anda baca terhadap kehidupan personal dan profesional?
Luar biasa ya dampak yang diberikan buku terhadap kehidupan saya. Setiap membaca buku kita merefleksikan isi buku dengan apa yang terjadi dalam kehidupan. Jujur aja, saya ini sebenarnya pemalu, introver. Kedua, saya tipe yang malas untuk "menjual diri", pokoknya kalau ada apa-apa udahlah sing waras ngalah. Terus kalau ada orang mau curi panggung, ya silakan.

Tetapi saya baca satu buku kecil dari Hermawan Kartajaya judulnya Marketing Yourself yang akhirnya mengubah saya. Buku ini mengajarkan saya untuk bisa "menjual diri" karena di dunia showbiz yang saya jalani sekarang ini "menjual diri" akan sangat penting. Jadi saya yang males bermain medsos pun terpaksa untuk mengikuti tren demi kepentingan "menjual diri".

Bukan karena saya ingin terkenal atau saya ingin program saya diakui, tetapi saya ingin memanfaatkan media yang ada untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran saya. Kalau tidak ada yang kenal dengan kita, siapa yang mau mendengarkan gagasan yang kita sampaikan?

Andy F. Noya berpose di ruang kerjanya, Rabu, 24 Mei 2017.
Andy F. Noya berpose di ruang kerjanya, Rabu, 24 Mei 2017.
© Andreas /Beritagar.id

Anda pernah terlibat dalam pembuatan buku Apa dan siapa dan orang Indonesia, apa peran Anda saat itu?
Waktu itu tahun 1985 dan saya berstatus sebagai reporter. Sekali lagi, saya beruntung sekali karena tidak semua anak muda bisa menjadi reporter buku tersebut. Saya yang saat itu masih duduk di bangku kuliah tingkat tiga merasa sangat beruntung karena punya kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang hebat, seperti Liem Sioe Liong dan tokoh-tokoh berpengaruh yang sudah dipilih oleh penerbit yang harus saya wawancara.

Bayangkan pada saat itu saya yang seorang mahasiswa bisa bertemu dengan Lim Sioe Liong, pengusaha besar di zaman Orde Baru. Padahal, orang lain mau bertemu Lim Sioe Liong itu sulitnya bukan main. Nah, dari tokoh-tokoh besar yang saya temui, saya belajar banyak tentang nilai-nilai kehidupan. Bayangkan dari ratusan tokoh yang saya wawancarai, saya dapat belajar langsung filosofi hidup yang membuat mereka sukses.

Dengan banyak membaca kita akan menjadi figur yang menyenangkan karena bisa diajak bicara apapun juga dan terlihat lebih cerdas

Andy F. Noya

Saat Anda sudah berhenti jadi presenter, apakah tertarik menjadi penulis buku?
Jujur saja hidup saya itu menulis. Saya bukan jurnalis televisi, saya jurnalis media cetak sehingga ketika saya punya kesempatan menulis, saya merasa sangat bahagia. Ketika Kick Andy sudah berusia 5 tahun, saya sempat meminta izin kepada istri saya untuk berhenti karena saya ingin bekerja menjadi penulis. Namun, istri saya bilang bahwa menjadi penulis di Indonesia belum bisa dijadikan topangan hidup.

Royaltinya tidak terlalu besar. Kalaupun sukses seperti Laskar Pelangi, malah dibajak. Tetapi kalau pensiun nanti, saya berharap dapat menulis. Mungkin medianya bukan buku, tetapi di media sosial. Buat saya, berbagi ilmu itu sama dengan mengasah ilmu. Apa yang saya ketahui dan pahami akan saya bagikan dan mudah-mudahan ada manfaatnya.

Punya perpustakaan sendiri di rumah? Berapa banyak koleksi bukunya dan apakah sudah dibaca semua?
Saya tidak bisa menyebutkan jumlahnya karena banyak, pastinya ada ribuan. Kalau ditanya ada berapa yang belum dibaca, banyak sekali jawabnya. Kalau boleh jujur, saat melihat buku saya ini lebih besar nafsu daripada kemampuan untuk membaca. Kalau lihat buku-buku bagus, saya tidak tahan dan pasti beli. Tetapi waktu untuk membaca relatif terbatas. Biasanya, akhir pekan menjadi momen yang saya tunggu karena bisa santai di rumah sambil mendengarkan musik, minum kopi, dan membaca buku.

Apakah ada bujet dan jadwal khusus untuk membeli buku?
Dulu ketika gaji masih kecil dan kemampuan membeli terbatas, saya hanya membeli beberapa buku bekas di Kwitang setiap bulan. Namun, sejak karier saya sudah lebih baik, sekarang membeli buku sudah tidak dibatasi. Istri saya tahu persis bahwa buku merupakan hal istimewa bagi saya, maka mau beli sebanyak apapun dia pasti kasih.

Soal jadwal, saya tidak punya waktu khusus untuk membeli buku. Dulu sih terjadwal setiap Sabtu pasti saya ke toko buku. Tapi sekarang justru buku yang datang kepada saya. Saya sampai kewalahan karena banyaknya buku yang dikirim penerbit kepada saya. Jadi, saya sudah tidak perlu lagi datang ke toko, tetapi sesekali kalau saya rindu susana toko buku pasti saya akan pergi ke toko buku. Biasanya, saya ke toko buku kalau ada buku yang saya tertarik baru saya menunjungi toko buku.

Bagaimana pandangan Anda terhadap minat baca masyarakat Indonesia?

Minat baca sebenarnya tinggi sekali. Saya 'kan duta baca sejak 2010-2015. Saya bersama teman-teman di Perpustakaan Nasional turun ke daerah-daerah terpencil dan menyaksikan sendiri reaksi anak-anak di daerah yang begitu bahagia sampai saling berebut ketika menyambut buku. Jadi, kalau ukuran minat membaca, itu bagus sekali.

Lalu, apa permasalahan sebenarnya yang terjadi di Indonesia?
Masalah sebenarnya adalah anak-anak yang ada di daerah terpencil mereka kesulitan mendapatkan akses terhadap buku berkualitas. Selain lokasi toko buku yang jauh, daya beli masyarakat di daerah terpencil masih rendah. Jadi, menurut saya, itu masalah utamanya.

Kalau anak-anak di kota besar, tantangannya adalah penggunaan gadget. Banyak sekali tawaran bacaan ringkas yang membuat anak-anak kesulitan membaca buku yang tebal. Enggak apa-apa sih, yang penting membaca. Nantinya, tinggal bagaimana kita mengampanyekan bacaan-bacaan yang bermutu dan bermanfaat untuk generasi muda di perkotaan.

Sedangkan untuk generasi muda di pedesaan tadi, kita tidak bisa hanya bertumpu pada pemerintah. Seluruh lapisan masyarakat punya peran, termasuk gerakan #BukuUntukIndonesia yang digagas oleh BCA yang dapat membantu penyebaran buku-buku berkualitas ke daerah-daerah di Indonesia. Gagasan seperti inilah yang akhirnya membuat saya antusias mendukung gerakan donasi buku tersebut karena ini merupakan salah satu peran yang bisa dimainkan oleh kita semua sebagai proses mencerdaskan bangsa.

Apa dampak terbesar yang akan dirasakan jika permasalahan ini terselesaikan?
Nah, kalau saja kita berhasil mempercepat penyebaran buku, maka kita paling tidak bisa bersaing dengan negara-negara tetangga. Karena mereka sudah lebih dulu mendapatkan akses ilmu pengetahuan melalui buku. Meskipun, jujur, saya pesimis karena kita sudah tertinggal terlalu jauh, tapi setidaknya minimal kita bisa menyusul ketertinggalan dulu.

Jangan sampai Indonesia dijajah oleh bangsa asing, dalam konteks ekonomi. Kalau saja kita lebih pintar, maka seharusnya kita yang memimpin perusahaan-perusahaan asing di negeri kita. Namun sekarang yang terjadi malah sebaliknya. Menurut saya, hal ini seharusnya tidak terjadi kalau saja masalah pendidikan di negeri kita sudah terselesaikan sejak dulu.

Dengan kemampuan yang Anda miliki saat ini, apa yang ingin Anda perjuangkan terkait minat baca masyarakat khususnya anak-anak?
Melalui Kick Andy Foundation, kami melakukan gerakan berbagi buku. Itu kesadaran saya pribadi karena banyak sekali masyarakat yang tidak bisa mendapatkan buku bermutu. Saya merasakannya sendiri saat masih mahasiswa--tidak mampu membeli buku bermutu yang harganya mahal.

Dengan demikian saya merasa peran yang saya mainkan sekecil apapun akan memiliki arti. Nah, ini yang saya harapkan dari adanya gerakan #BukuUntukIndonesia peran seperti itu bisa lebih merata. Ini bangsa kita, jadi urusan seperti ini sebenarnya bukan urusan pemerintah saja, ayo kita bersama-sama melakukan sesuatu yang nyata. Kita harus mengambil peran tersebut agar bangsa kita dapat bersaing dengan negara lainnya.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.