Atlet badminton Anthony Ginting saat ditemui di pemusatan latihan nasional (pelatnas) bulu tangkis di Cipayung, Jakarta, pada Selasa (30/1/2018).
Atlet badminton Anthony Ginting saat ditemui di pemusatan latihan nasional (pelatnas) bulu tangkis di Cipayung, Jakarta, pada Selasa (30/1/2018). Wisnu Agung / Beritagar.id
BINCANG

Anthony Ginting: Saya bisa lebih dari Taufik Hidayat

Dua kali capai final dan berakhir dengan gelar juara. Ia pun bakal masuk 10 besar dunia, sejajar dengan pemain elite luar negara.

Sejak memenangkan turnamen besar pertama, ia dikenal karena sikap tenangnya. Ia tak sering teriak untuk diri sendiri atau pelatih. Ia juga memilih diam atau menyengir ketimbang mempertanyakan keputusan wasit di lapangan. "Saya cuma ingin fokus," ujar Anthony Ginting, pemain bulu tangkis tunggal putra Indonesia.

Di balik sikap tenangnya, Ginting ternyata sosok humoris. Pemuda 21 tahun ini memperkenalkan diri kepada kami sebagai orang keturunan Jepang. Padahal, kulitnya sawo matang banget dan matanya besar. Tak ada Jepang-Jepangnya sama sekali.

"Percaya enggak kalau saya ini keturunan Jepang? Ha-ha," kata Ginting bertanya. Kami pun tak percaya. Selama ini, orang mengira dia berdarah Jepang karena nama tengahnya: Sinisuka. Tetapi itu hanya nama marga, bukan nama dari Jepang sana.

Keturunan atau bukan, yang jelas ia berhasil mengalahkan wakil Jepang di final Indonesia Masters baru-baru ini. Wakil Jepang itu bernama Kazumasa Sakai, peringkat 17 dunia. Ginting main bagus dengan beberapa kali menempatkan kok tipis di atas net--yang membuat Kazumasa kelimpungan. Ia pun berpeluang menyodok ke peringkat 10 besar dunia usai juara turnamen itu.

Kiprah Ginting dalam dua tahun terakhir memang bagus. Tahun lalu ia juga dapat satu gelar, sekaligus satu-satunya gelar dari sektor ini, di turnamen super series Korea Open. Ia menumbangkan unggulan pertama Son Wan Ho di empat besar sebelum kalahkan Jonatan Christie di laga pamungkas.

Pencapaiannya ini telah melahirkan perdebatan: apakah dia pemain masa depan tunggal putra? Tak ada jawaban pasti. Tapi orang mulai berharap kepada Ginting, karena sektor tersebut dianggap kekurangan pemain berbakat.

Kepada Heru Triyono, Andya Dhyaksa, Dessy Transea dan fotografer Wisnu Agung, ia bicara berbagai isu tentang bulu tangkis, kehidupan dan masa depannya. Ia ternyata cukup cerewet, meski cara bicaranya pelan dan santai. Berikut wawancara yang dilangsungkan di pemusatan latihan nasional (pelatnas) bulu tangkis di Cipayung, Jakarta, pada Selasa (30/1/2018) ini:

Atlet badminton Anthony Ginting saat ditemui di pemusatan latihan nasional (pelatnas) bulu tangkis di Cipayung, Jakarta, pada Selasa (30/1/2018).
Atlet badminton Anthony Ginting saat ditemui di pemusatan latihan nasional (pelatnas) bulu tangkis di Cipayung, Jakarta, pada Selasa (30/1/2018). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Gelar Indonesia Masters adalah jawaban kritik Taufik hidayat soal tunggal putra?Enggak. Gelar ini bonus dan saya enggak berpikir ke soal kritik (Taufik). Jadi ini bukan tentang jawab kritik. Kritik itu dijadikan motivasi saja.

Taufik memang kerap kritik tunggal putra yang minim prestasi...
Saya enggak tahu juga. Baru juga dengar kemarin.

Beberapa waktu silam Taufik Hidayat juga minta PBSI merombak pemain tunggal di Pelatnas, Anda setuju?
Saya enggak pernah baca dia bilang begitu. Yang jelas saya selalu kasih yang terbaik di lapangan.

Anda pernah mendapat coaching atau mentoring dari dia?
Enggak. Tapi dia idola sejak kecil. Senang melihat caranya bermain. Dulu, saya lihat dia cuma di televisi. Mainnya keren dan jadi panutan. Bahkan, cara dia pegang raketnya itu saya ikuti saat masih berusia enam tahun.

Apakah saat ini sektor tunggal putra kehilangan sosok panutan?
Saya, Ihsan Maulana dan Jonatan Christie jadi tumpuan saat ini. Senior-senior seperti Sony, Simon dan Tommy kan keluar. Maksudnya, mau enggak mau kita harus cepat-cepat mengejar. Siapa lagi selain kita bertiga di PBSI--untuk jadi contoh pemain muda.

Keberadaan sosok panutan itu penting di Pelatnas?
Sosok senior jelas penting. Misalnya di dobel saat ini. Itu ada Ahsan, Hendra, Butet dan yang lain. Kita suka bertanya ke mereka soal strategi dan pengalaman. Saran-saran itu berguna untuk menghadapi pertandingan besar.

“Berbakat itu penting, tapi kerja keras juga sama penting—untuk bentuk mental si pemain”

Anthony Ginting

Regenerasi yang terlambat jadi permasalahan pelik yang dihadapi tunggal putra ya?
Kan butuh proses, butuh waktu juga.

Anda tertekan dengan kritik dan kondisi tunggal putra saat ini yang enggak konsisten?
Enggak juga. Saya pribadi enggak terlalu mikirin jika ada kritik. Pokoknya latihan benar dan disiplin.

Pertanyaan publik adalah kenapa di nomor dobel regenerasi itu berjalan, tapi di tunggal malah enggak?
Mungkin dari segi persaingan. Di luar Indonesia, perkembangan bulu tangkisnya cukup cepat, termasuk tunggal putra.

Contoh enggak konsisten. Anda kalah di babak awal Japan Superseries 2017, padahal sebelumnya baru juara di Korea. Kenapa itu?
Selama seminggu di Korea lawannya bagus-bagus. Maksudnya dari segi capek pasti capek--apalagi sampai babak final.

Dari segi fokus juga butuh tenaga. Ya enggak konsisten itu jadi PR saya. Kalau pertandingan back to back (berturut-turut) itu akan saya review, apa yang saya mesti jaga dan apa yang mesti saya tambah.

Menurut Anda, pertandingan back to back itu ideal enggak?
Saya lihat semua pemain pernah merasakannya. Bukan tunggal saja, tapi sektor lain. Normal saja ya. Pastinya kita mau lebih banyak bertanding agar pengalaman banyak didapat.

Kenapa kok Anda enggak ikut India Open 2018?
Sebelum Indonesia Masters saya juga sudah berangkat ke Malaysia. Sudah full dua minggu bertanding. Kalau ikut ke India juga jadi enggak ada istirahat. Apalagi sekarang sedang latihan untuk kualifikasi Thomas Cup. Jadi seminggu ini dipakai memulihkan kondisi.

Atlet badminton Anthony Ginting saat ditemui di pemusatan latihan nasional (pelatnas) bulu tangkis di Cipayung, Jakarta, pada Selasa (30/1/2018).
Atlet badminton Anthony Ginting saat ditemui di pemusatan latihan nasional (pelatnas) bulu tangkis di Cipayung, Jakarta, pada Selasa (30/1/2018). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Apa Anda enggak merasa bosan, latihan dan bertanding terus?
Kadang sih. Manusiawi kan. Makanya kadang main di luar. Paling ke mal. Tetapi enggak bisa bebas. Makan gorengan dan makan mi instan misalnya. Itu enggak boleh.

Lagi pula makanan itu cepat bikin berat badan bertambah. Pengaruhnya ke kelincahan kaki. Badan berat juga bikin rentan cedera. Tumpuan makin berat. Sebaiknya dihindari.

Tidak ada waktu untuk urusan pribadi?
Pacar? Enggak punya he-he. Kalau capek ya tidur saja di asrama. Saya satu kamar dengan Jonatan. Anak-anak kalau kelar latihan suka kumpul. Main bola di belakang asrama. Sekalian refreshing dan latihan fisik. Seru.

Biasanya kan sendiri di lapangan. Kalau bola kan ramai-ramai. Saya diplot jadi posisi apa saja. Tendang bola, terus kejar, sudah. Enggak ada strategi ha-ha.

Di Pelatnas, Anda memang diplot sebagai single terus ya, tidak pernah nomor dobel?
Enggak pernah. Dulu cuma iseng-iseng sih pernah. Memang cita-cita saya mainnya single.

Kapan Anda memutuskan menjadi atlet bulu tangkis?
Mulai serius itu SMP. Sebenarnya dari SD juga sudah cari-cari guru privat.

Bagaimana mulanya mengenal bulu tangkis?
Papa sering ajak main saya main badminton dengan teman-temannya. Kemudian ada pelatih klub lokal melihat saya. Pelatih itu bilang pukulan saya lumayan.

Ketimbang menganggur, papa daftarin saya ke klub--dengan niat, agar saya dapat kegiatan positif. Pertama kali ikut kejuaraan, saya langsung juara tiga piala Wali Kota Bandung.

Ayah Anda atlet?
Bukan. Dia PNS di Cimahi yang sering main badminton saja. Jadi saya enggak ada keturunan atlet.

Sibuk latihan sejak kecil, sekolah Anda terabaikan dong?
Nah, mulai SMA saya kurang fokus di sekolah. Sampai SMP sih masih normal. Tapi, saat latihan tiap pagi sampai siang, kemudian sore latihan lagi, cukup kepayahan.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai Anda bisa menjadi atlet dan dibayar secara profesional?
Sampai umur 15 tahun saya mulai dibiayai jika bertanding. Sebelumnya saya biaya sendiri.

Bagaimana Anda bisa masuk seleksi atlet Pelatnas PBSI?
Kejuaraan nasional kan ada tiap tahun. Saya ikut. Ketika itu masih 19 tahun dan mewakili Jawa Barat. Puji Tuhan masuk semifinal, kemudian dipanggil PBSI.

Ketika Anda masuk saat itu, sosok-sosok senior tunggal putra masih ada?
Masih ada kecuali Taufik. Dia sudah di luar Pelatnas.

Di Pelatnas itu ada semacam plonco gitu enggak sih?
Pada zaman saya sih enggak. Mereka baik-baik. Mungkin dulu ada. Sekarang sih bercanda-canda saja, enggak parah. Seperti cuma minta tolong diambilkan barang.

Saat ini kan Anda yang jadi senior dan ya cukup tenar. Kalau berada di tempat umum, sudah banyak yang mengenali Anda?
Sedikit banget. Enggak sering. Yang samperin saya paling ABG--yang seumuran. Pernah juga sopir taksi online he-he--yang ternyata kenal saya.

Ya kalau tahu badminton sih mungkin kenal. Cuma jarang juga. Saya lebih nyaman begini sih, bebas.

Belum ada tawaran iklan?
Enggak ada.

Atlet badminton Anthony Ginting saat ditemui di pemusatan latihan nasional (pelatnas) bulu tangkis di Cipayung, Jakarta, pada Selasa (30/1/2018).
Atlet badminton Anthony Ginting saat ditemui di pemusatan latihan nasional (pelatnas) bulu tangkis di Cipayung, Jakarta, pada Selasa (30/1/2018). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Btw siapa gaya main yang paling mirip dengan karakter main Anda?
Saya mengikuti gaya Taufik di beberapa pukulan. Kalau kaki, mungkin saya lebih ikutin Lee Chong Wei. Kakinya lincah dan enteng.

Pilih mana Lee Chong Wei atau Taufik Hidayat?
Dari segi permainan saya lebih senang Taufik.

Karena sama-sama dari Bandung ya?
Enggak juga.

Kira-kira bisa enggak Anda menyamai atau bahkan melebihi prestasi Taufik?
Semoga. Harapan saya ya bisa lebih dari Taufik. Ini untuk motivasi. Cuma dia itu memang sangat berbakat. Dari usia 17 saja sudah juara. Tetapi saya termotivasi untuk berprestasi ke depannya.

Mana lebih penting: bakat atau kerja keras?
Berbakat itu penting, tapi kerja keras juga sama pentingnya--untuk bentuk mental si pemain.

Perjalanan Karier Anthony Ginting /Beritagar ID
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR