Keterangan Gambar : Ardian Syaf berpose di depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id di kediamannya Desa Tenggur, Tulungagung, Jawa Timur, Kamis siang (13/04/2017). © Hari Tri Wasono / Hari Tri Wasono

Menurut Ardian tak ada aturan spesifik dari Marvel Comics untuk mengembangkan kreativitas gambar di luar cerita

Sosok Ardian Syaf belakangan santer dibicarakan. Komikus asal Tulungagung yang mendunia ini tengah menuai pro dan kontra atas karyanya dalam komik X-Men Gold #1, yang memuat unsur aksi 212 dan surat Al-Maidah 51.

Unsur-unsur itu tampak di gedung yang bertulis 212 dalam adegan figur Kitty Pryde. Sedangkan satu bagian lagi terlihat pada kaus karakter Colossus--dengan tulisan QS 05:51.

Gambar itu bikin heboh karena situasi politik yang tengah memanas--jelang pemilihan Gubernur Jakarta. Padahal, ketika diluncurkan hari Rabu (5/4/2017), komik itu justru dapat respons positif di beberapa negara, termasuk Amerika. Bahkan didapuk sebagai comic of the week.

"Karya saya dipuji Marvel. Tidak ada yang mempersoalkan simbol itu (awalnya)," kata Ardian saat wawancara dengan kontributor Beritagar Hari Tri Wasono di kediamannya Desa Tenggur, Tulungagung, Jawa Timur, Kamis siang (13/04/2017).

Ini bukan pertama kali Ardian memasukkan easter egg--yang merupakan pesan tersembunyi dalam komik. Ketika menggambar untuk Batgirl, ia memasukkan kawasan khayali bernama Little Jakarta di Gotham City, lengkap dengan warung soto dan baliho Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama.

Situasinya sama dengan saat ini. Ardian menyisipkan pesan tersembunyi itu saat Jakarta tengah memilih gubernur pada 2012. "Saya kebetulan simpati (kepada Jokowi), jadi ikut kampanye sedikit," tuturnya ketika itu.

Tapi easter egg-nya kali ini melahirkan masalah. Situs berita internet Bleeding Cool, yang fokus pada komik, memuat kutipan-kutipan orang yang mencap Ardian anti-Kristen dan anti-Yahudi. "Itu (212) hanya simbol kenangan, bukan berarti saya anti sesuatu," bantah pria berusia 37 ini.

Dengan cap tersebut, kontrak Ardian lantas diakhiri Marvel Comics. Pemutusan kontraknya cuma berselang lima hari dari hari penerbitan X-Men Gold #1. Meski demikian, karyanya masih akan ditampilkan dalam X-Men Gold #2 dan X-Men Gold #3--karena Marvel tak cukup waktu mencari komikus lain.

Kepada Beritagar.id, Ardian menceritakan panjang lebar tentang rencana jadi juru masak, persaingan antarkomikus dan kekagumannya terhadap Muhammad Rizieq Shihab, selama hampir satu jam. Berikut perbincangannya:

Ardian Syaf berpose di depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id di kediamannya Desa Tenggur, Tulungagung, Jawa Timur, Kamis siang (13/04/2017).
Ardian Syaf berpose di depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id di kediamannya Desa Tenggur, Tulungagung, Jawa Timur, Kamis siang (13/04/2017).
© Hari Tri Wasono /Beritagar.id

Apa motivasi Anda menambahkan simbol yang mengarah pada isu Al-Maidah 51 dan aksi 212 dalam komik?
Saya termasuk yang ikut aksi damai 212 di Monas, Jakarta. Peristiwa itu sangat berkesan. Saya lihat (dalam aksi), ada berjuta-juta umat muslim bersatu membela agama atas kesadaran sendiri. Didasari itu saya ingin menyimpan peristiwa itu ke dalam gambar.

Ada pihak yang meminta Anda menyusupkan simbol-simbol itu ke dalam gambar?
Tidak ada. Itu murni inisiatif dan keinginan saya. Sejak dulu saya sering iseng memasukkan sesuatu yang saya anggap berkesan. Ya, seperti orang pacaran, kadang ada yang menuliskan nama atau hari jadian mereka di batang pohon sebagai kenangan ha-ha.

Simbol itu maksudnya untuk menunjukkan sikap politik Anda?
Begini. Saya ini pernah memasukkan tokoh Jokowi ke dalam komik edisi Batman. Jokowi, yang saat itu calon Gubernur Jakarta, saya gambar di sebuah baliho kota yang di atasnya melintas Batgirl. Saat itu saya memang mengidolakan dia.

Selain Jokowi, saya juga pernah memasukkan sosok Pak SBY, Pak Karno (Sukarno) dan Garuda Pancasila.

Simbol-simbol seperti itu tidak ditegur DC Comics atau Marvel Comics--dua tempat yang pernah memuat gambar Anda?
Sama sekali tidak. Mereka tidak pernah mempertanyakan dengan detail apa yang saya gambar. Selama tidak mengubah alur cerita, apapun bisa dan boleh saya lakukan. Baru simbol ini (212 dan QS 05:51) saja yang menjadi masalah.

Dengan memuat simbol 212 dan QS 05:51 itu, mau tak mau Anda terseret ke pusaran politik Jakarta, atau Anda memang berafiliasi politik dengan salah satu cagub?
Saya tegaskan, saya ini tidak memiliki kaitan apapun dengan Pilkada DKI. Keikutsertaan saya dalam aksi 212 murni bela agama. Sekali lagi, tidak ada kaitannya dengan Pilkada DKI.

Anda tampak sekali tergerak hatinya untuk ambil bagian dalam aksi 212. Ya, terlihat begitu religius...
Ha-ha-ha, jangan tanya saya. Hal itu urusan Tuhan untuk menilai. Sebagai muslim saya terpanggil dan wajar juga kalau ikut salat jemaah di masjid atau pengajian.

Tapi bagaimana pandangan Anda terhadap Ahok, yang jadi sasaran protes dalam aksi 212 itu?
Saya dulu suka kepada Ahok. Tetapi saat dia masih jadi calon Wakil Gubernur DKI bersama Jokowi. Kalau saat ini saya kurang suka membahas beliau dan orang-orang juga sangat sensitif jika membicarakannya.

Sebaliknya, Anda diberitakan justru mengagumi Rizieq Shihab, bahkan tampak akrab dalam foto yang tersebar ke berbagai media...
Oh, foto itu. Sehari setelah pemutusan kontrak, saya mengikuti pengajian di Masjid Ampel Surabaya. Ada kawan yang kemudian mengantarkan saya kepada Habib Rizieq, yang kebetulan juga sedang di Surabaya. Sebagai pengagum gerakan 212, saya juga mengagumi beliau.

Rizieq Shihab tahu persoalan yang menimpa Anda?
Beliau tahu dan memberi nasihat untuk bertawakal. Dia bilang, pengorbanan yang saya alami, termasuk kehilangan materi ini, akan dapat ganjaran dari Allah.

Saya menaruh hormat kepadanya, termasuk kepada habib-habib yang lain. Mereka adalah orang-orang yang menjadi panutan umat.

Mengapa tidak menyisipkan gambar Rizieq ke dalam karya Anda?
Terlalu susah. Kalau sekadar memasukkan angka atau simbol mungkin bisa, seperti misalnya menyelipkan tanggal lahir saya pada tombol telepon Superman atau mungkin pelat nomor kendaraan.

Lalu kenapa Anda bisa menyisipkan wajah Jokowi atau SBY?
Penampilan mereka kan biasa saja, seperti kebanyakan orang awam. Jadi tidak akan mengundang perhatian. Sementara, penampilan Habib Rizieq dengan sorban dan gamisnya akan susah dibuat kamuflasenya ha-ha.

Ardian Syaf berpose di depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id di kediamannya Desa Tenggur, Tulungagung, Jawa Timur, Kamis siang (13/04/2017).
Ardian Syaf berpose di depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id di kediamannya Desa Tenggur, Tulungagung, Jawa Timur, Kamis siang (13/04/2017).
© Hari Tri Wasono /Beritagar.id

Apakah Anda menduga Marvel akan melakukan pemutusan kontrak karena persoalan simbol yang Anda buat?
Tentu tidak. Kalau saya tahu, tidak akan saya pasang simbol tersebut.

Saya sempat posting gambar simbol itu dalam versi pensil sebelum terbit. Saya terkejut dengan reaksi yang muncul, terutama dari luar negeri.

Orang-orang tuduh saya seorang yang rasis dan anti ini itu (yahudi dan kristen). Gelombang hujatan kemudian datang dari mana-mana, termasuk Indonesia. Saat itulah saya menyadari akan ada masalah besar buat saya.

Btw sejak kapan Anda bergabung dengan Marvel Comics?
Pada 2009 saya dapat kontrak menyelesaikan tiga buku dengan Marvel. Kemudian saya pindah ke DC Comics. Selama tujuh tahun saya menggambar Batman, Superman dan lain-lain.

Lalu, pada Agustus 2016 saya kembali ke Marvel untuk menyelesaikan seri X-Men. Jadi, ini adalah komik pertama saya setelah kembali ke Marvel.

Pernah terpikir bahwa diberhentikannya Anda karena ada sentimen anti-Islam di Amerika yang sedang meningkat?
Lebih tepatnya sih sentimen kepada Ardian Syaf. Manajer saya di Spanyol mengatakan kalau karier saya di Amerika sudah tamat. Bayangkan, komentar-komentar untuk saya di sana (Amerika) amat mengerikan, saya digambarkan sebagai orang yang amat rasis. Begitu lah.

Sebenarnya bagaimana respons awal publik di Amerika ketika komik X-Men Gold #1 itu diluncurkan?
Komik ini meledak dan dapat review bagus. Bahkan di beberapa negara menuai pujian, istilahnya menjadi comics of the week. Pihak Marvel pun mengucapkan selamat kepada tim karena komik X-Men Gold #1 dinilai memuaskan dan sama sekali tidak mempersoalkan simbol itu (awalnya).

Lalu kapan tepatnya komik X-Men Gold #1 disorot dan dipersoalkan?
Ketika peluncuran pada Rabu itu (5/4/2017) tidak terjadi apa-apa. Nah, pada Sabtunya (8/4/2017), ada surat terbuka untuk saya dengan foto komik yang ada simbol-simbol itu di Instagram.

Ya, setelah ada surat terbuka itu, cacian dan makian semuanya masuk ke akun saya, bagai gelombang tsunami.

Mungkin surat terbuka di Instagram itu adalah reaksi terhadap Anda yang dianggap memicu SARA?
Begini, sebelum peluncuran komik, saya itu mengunggah sketsa gambar yang masih dalam format pensil ke Facebook. Saya pilih gambar yang ada angka 212 dan QS:51-nya, karena menarik. Tidak ada pikiran apapun saat mengunggah gambar itu, termasuk upaya memicu SARA.

Nah postingan (surat terbuka) di Instagram itu mencomot gambar di Facebook saya, tapi dengan tambahan kalimat anti Yahudi dan Nasrani. Bahkan, postingan itu juga dimention ke akun Marvel sehingga menjadi perhatian mereka.

Siapa yang pertama melaporkan simbol Anda itu atau memention ke Marvel sehingga jadi persoalan?
Saya tahu orangnya. Screenshot percakapannya juga masih saya simpan. Tetapi tidak akan saya sampaikan karena bisa jadi masalah baru bagi saya. Cukup tahu saja.

Jangan-jangan ini adalah soal persaingan antar komikus, benar?
Saya tidak bisa mengatakan itu. Tetapi semua orang tahu reward yang diberikan perusahaan komik besar seperti Marvel kepada artisnya.

Untuk penciller pemula saja, mereka bisa terima honor 200 US dollar untuk setiap halaman komik yang digambar. Ya tergantung berapa halaman ordernya. Jika satu buku, tinggal mengalikan halamannya saja.

*Penciller adalah istilah untuk menyebut komikus yang menerjemahkan naskah ke dalam bahasa gambar.

Seperti apa reaksi teman-teman komikus atas kasus yang Anda hadapi?
Meski banyak makian, tapi tak sedikit juga yang mendukung. Mereka yang menghujat bukan orang yang kenal dengan saya. Justru ada kawan-kawan Nasrani yang memberi dukungan moral. Mereka yang kenal saya, tidak akan percaya saya seorang (yang rasis) seperti itu.

Komikus-komikus khawatir produsen komik dunia memberi cap yang sama kepada komikus asal Indonesia akibat kasus ini...
Saya tahu komikus Indonesia khawatir kalau (persoalan) ini akan berimbas kepada mereka. Tetapi saya juga sangat tahu tentang Marvel.

Mereka orang-orang profesional yang tidak akan memukul rata semua artis. Prinsip bisnis tetap yang utama, kalau bagus pasti diterima.

Apa pendapat Anda soal kabar yang menuding Anda memonopoli jalur komik Marvel di Indonesia?
Sama sekali tidak. Tanpa bermaksud pamer, saya adalah penciller pertama di Indonesia yang masuk ke Marvel dan DC Comics. Saya juga yang membuka jalur internasional untuk teman-teman komikus.

Kepada mereka saya sampaikan bagaimana caranya menjual karya ke produsen komik. Bahkan ada karya seorang kawan yang saya tawarkan (ke Marvel) dan diterima.

“Saya suka kepada Ahok saat dia menjadi calon wakil gubernur bersama Jokowi. Kalau saat ini saya kurang suka membahas beliau (Ahok)”

Ardian Syaf

Sebelum persoalan ini menjadi besar, Anda sempat berkomunikasi dengan pihak Marvel tentang simbol-simbol itu?
Saya berinisiatif menjelaskan kehebohan itu kepada mereka melalui surat elektronik. Saya juga menceritakan makna-makna simbol itu kepada mereka. Saya katakan bahwa saya mengagumi gerakan 212 dan ingin mengabadikannya di gambar.

Sehingga, ketika saya baca komik itu kelak, bisa mengingatkan saya pada masa proses pembuatannya. Kepada Marvel, saya juga menjelaskan makna ayat itu (Al-Maidah 51) yang menyerukan umat muslim untuk tidak memilih pemimpin non muslim, dalam konteks peristiwa Pilkada DKI.

Penjelasan itulah yang kemudian dianggap memicu pemikiran anti non muslim.

Kenapa Anda tidak berusaha mencari penjelasan lain untuk menghindari tuduhan rasis itu?
Bisa saja saya mengatakan 212 adalah nomor favorit atau apa. Tetapi tidak bisa untuk QS:51. Angka itu sangat menggambarkan bunyi ayat Alquran yang tak bisa ditutup-tutupi.

Dengan tuduhan seperti itu, keputusan Marvel memutus kontrak Anda adalah wajar?
Tekanan masyarakat dunia kepada saya dan Marvel begitu besar. Saya merasa Marvel harus dan pantas untuk melepaskan saya.

Jadi wajar kalau Marvel menghentikan saya. Jika tidak, mereka sendiri yang menerima akibatnya. Karena itu mereka memberhentikan saya hanya berselang lima hari dari hari penerbitan.

Sebenarnya memasukkan easter egg (pesan tersembunyi) itu kan hal biasa bagi komikus yang bekerja untuk Marvel...
Sebelum saya, ada artis Marvel yang memasukkan simbol LGBT dalam gambarnya. Kebetulan dia mendukung kampanye itu. Dia dibully habis-habisan. Tetapi saya tidak tahu apakah sampai dipecat atau tidak.

Bagaimana aturan main Marvel kepada komikusnya soal easter egg ini?
Enggak ada aturan spesifik. Kami diberi keleluasaan untuk mengembangkan kreativitas gambar di luar cerita.

Memasukkan gambar berbau Indonesia ke dalam komik juga bukan hal sulit. Misalnya mengganti gambar Koran Amerika dengan layout Koran Indonesia atau memasukkan logo TVRI ke gambar televisi. Itu sering saya lakukan dan tak pernah ada masalah.

Tapi kalau memasukkan simbol-simbol agama memang bisa jadi amat sensitif?
Saya mengakui angka (simbol) itu sensitif. Mungkin jika saya menyisipkan tanggal lahir saja, maka tidak akan ada masalah. Saya tak pernah membayangkan bakal seperti ini.

Namun saya tekankan, angka itu hanya simbol kenangan, bukan berarti saya anti sesuatu.

Anda menyesal telah menggambar simbol-simbol itu?
Ini pelajaran hidup. Sebagai muslim saya harus meyakini kodrat Allah. Alhamdulillah istri dan keluarga memberi dukungan. Mereka tahu saya seperti apa. Saya yakin rezeki bisa datang dari mana saja.

Berpikir untuk ganti profesi?
Saya bukan orang yang kaku. Kalau istilah Pak Harto gak nggambar gak patheken (tidak menggambar tak masalah). Hobi saya kan ada dua: kuliner dan gambar.

Saya ini pintar masak. Kalau dulu tidak menggambar, mungkin saya sudah punya usaha kuliner sekarang. Rencana itu (usaha kuliner) masuk dalam rencana saya bersama istri saat ini.

Ada produsen komik lain yang menawari Anda untuk menggambar?
Sudah banyak, baik dari dalam negeri maupun penerbit lokal Amerika (selain Marvel dan DC Comics). Juga ada dari Timur Tengah. Lalu ada tiga tawaran dari Turki yang belum saya putuskan diambil atau tidak.

Sketsa gambar X-Men Gold #1 dengan simbol 212 dan QS 05:51 masih Anda simpan?
Tentu. Itu adalah kenangan. Sudah ada yang menawarnya Rp40 juta ha-ha.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.