Keterangan Gambar : Siswi SMA asal Banyuwangi Asa Firda Inayah menjadi pembicara di Talkshow Kebangsaan di Kampus UGM, dI Yogyakarta, Senin (29/5). © ANTARA FOTO / Hendra Nurdiyansyah

Nama Afi melambung setelah ia mengunggah tulisannya di akun Facebook miliknya. Ia tetap akan menulis walau sering menerima ancaman. Dukungan mengalir.

Namanya dibicarakan di mana-mana setelah ia mengunggah tulisan berjudul "Warisan" di akun Facebooknya @Afi Nihaya Faradisa pada Senin, 15 Mei 2017. Tulisannya viral. Hingga Senin (5/6), status tulisannya mendapat 138 ribu respons warganet, termasuk sekitar 120 ribu tanda suka dan lebih dari 16 ribu lambang hati (love). Tercatat 76.179 akun ikut menyebarnya (share).

Dalam tulisan itu ia mengatakan agama dan ras merupakan warisan dari orang tua yang didapat ketika seseorang terlahir ke dunia.

Pemilik nama asli Asa Firda Inayah ini khawatir ketika sebagian orang mulai memaksakan warisan pribadi itu ke ranah publik. "Bayangkan jika kita tak henti menarik satu sama lainnya agar berpindah agama," tulisnya. "Bayangkan juga seandainya masing-masing agama menuntut agar kitab sucinya digunakan sebagai dasar negara."

Sebagai jalan keluar, Afi mengingatkan peran penting toleransi sekaligus menyampaikan pesan perihal nasionalisme.

Afi pun panen pujian. Tulisan-tulisannya yang diunggah di FB membawa pesan damai untuk Indonesia yang saat ini tengah terkoyak-koyak oleh fenomena intoleransi. Ia pun panen diundang menjadi pembicara di mana-mana. Hingga 5 Juni 2017 ia punya 566.755 pengikut.

Namun di balik pesan damai yang disampaikan itu rupanya banyak juga yang kebakaran jenggot dengan status tulisan gadis asal Gambiran, Banyuwangi yang baru saja menamatkan SMAnya itu. Teror dan ancaman datang. Bahkan dia diancam dibunuh dan akunnya sempat ditangguhkan Facebook selama 24 jam. Akunnya berhasil kembali setelah netizen ramai-ramai membuat hastag #FACEBOOKbringbackAfi.

Ancaman dan teror itu tak menyurutkan Afi untuk menyuarakan pentingnya toleransi dan keberagaman. "Saya harus siap diserang dan ditinggalkan pengikut saya," ujarnya kepada Ika Ningtyas dari Beritagar.id yang menemui di kediamannya Gambiran, Banyuwangi, Rabu (24/5/2017) sore.

Sore itu, Afi tampak sedang menulis sebuah buku catatan di meja kayu ruang tamunya. Dia bercerita sedang mencatat agenda kegiatan, menyusul datangnya sejumlah undangan. Sejak status-statusnya menjadi viral di Facebook, penyuka nasi kuning ini mendapatkan banyak undangan mengisi acara.

Sejak tulisannya viral, agenda gadis kelahiran Banyuwangi 23 Juli 1998 sangat padat. Pada 20 Mei, ia diminta berbicara di depan para professor dan BEM se-Jawa Timur di Universitas Tribhuwana Tunggadewi, Malang. Keesokan harinya, remaja yang baru lulus dari SMAN 1 Gambiran terbang ke Jakarta, berbicara di acara Car Free Day di Bundaran HI atas undangan Menteri Komunikasi dan Informatika. Baru dua hari di rumahnya, anak pedagang cilok ini kembali mendapat undangan rektor universitas negeri terkemuka di Indonesia.

Di tengah jadwalnya yang padat itu, Afi bersedia menerima Beritagar.id di kediamannya di Desa Gambiran, Kecamatan Gambiran, Banyuwangi, Jawa Timur. Perbincangan kami berlangsung selama kurang lebih dua jam.

Baru 15 menit perbincangan berlangsung, datang tiga pemuda follower-nya di FB. Mereka ikut nimbrung dengan pertanyaan-pertanyaan penuh humor. Afi pun menyiarkan langsung obrolan kami melalui FB selama sejam dengan suasana yang penuh gelak tawa. Alhasil, siaran langsung itu ditonton lebih dari 2 ribu orang dari seantero Indonesia hingga luar negeri seperti Malasyia, Korea, Jepang dan Selandia Baru. Berikut petikannya.

Afi Nihaya Faradisa di rumahnya Gambiran, Banyuwangi, Rabu, 24 Mei 2017.
Afi Nihaya Faradisa di rumahnya Gambiran, Banyuwangi, Rabu, 24 Mei 2017.
© Ika Ningtyas /Beritagar.id

Sejak kapan Afi punya akun Facebook?
Sebanarnya saya sudah punya akun Facebook sejak 2012, tapi empat tahun saya tak aktif. Mungkin hanya buka Facebook untuk add pertemanan. Saya baru aktif menulis di Facebook sejak 2016.

Berarti punya telepon seluler sendiri mulai kapan?
Sejak SD sudah dibelikan handphone sama orang tua. Tapi waktu itu masih handphone jadul tidak ada koneksi internet, pokoknya biar mudah komunikasi saja. Baru saat SMP saya punya smartphone.

Bersama ayahnya (kanan) diterima Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas (kiri baju hitam) pada 18 Mei 2017.
Bersama ayahnya (kanan) diterima Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas (kiri baju hitam) pada 18 Mei 2017.
© Tangkapan layar FB Afi /Tangkapan layar FB Afi

Biasanya berapa lama bermain Facebook dalam sehari?
Tidak tentu, walau koneksi internet saya 24 jam. Saya tetap batasi untuk pegang handphone, karena sayang sama mata, kesehatan saya, dan juga waktu luang saya. Untuk menulis di FB pun juga tergantung mood.

Kenapa pakai nama anagram (permainan kata) di FB?
Sebenarnya nama Afi itu kependekan dari nama asli saya, Asa Firda Inayah. Nihaya berasal dari Inayah, dan Faradisa itu diambil dari Firdaasa. Saya pakai nama anagram karena memang ingin menyampaikan kebaikan-kebaikan secara anonim. Yang terpenting pesan dari tulisan-tulisan saya itu tersampaikan.

Dari tulisan-tulisan yang di posting, tampaknya kamu suka membaca. Buku apa yang kamu baca?
Iya, saya memang suka membaca sejak kelas 1 SMP. Saat itu saya tak sengaja memilih buku Sigmund Freud di perpustakaan. Tapi saya lupa judulnya, yang saya ingat sampulnya berwarna biru. Freud, kan pakar psikologi. Sejak saat itu saya senang sekali membaca buku-buku psikologi dan pemberdayaan diri.

Siapa penulis favoritmu?
Saya suka tulisan-tulisannya Eric Sonian dan Gobind Vashdev (Penulis buku Happiness Inside, pembicara publik, dan pelatih penyembuhan trauma).

Suka mengoleksi buku juga?
Sekarang sudah ada 100an lebih. Sebelum tulisan saya jadi viral, saya membeli sendiri buku dengan menyisihkan uang saku dari orang tua. Kebetulan saya kan tidak suka jajan, jadi uang saku lebih banyak saya tabung. Nah, setelah tulisan saya jadi viral di FB, saya banyak menerima buku.

Pernah ikut kursus menulis?
Tidak, saya belajar otodidak. Karena saya suka membaca dan menulis, ya jadinya kayak gini.

Saat tulisanmu jadi viral, bagaimana tanggapan orang tua?
Ayah sempat kaget dan nanya: "Kenapa tho kok akhirnya jadi viral?" Tapi orang tua mendukung sekali. Bahkan ayah suka geram sendiri kalau membaca komentar-komentar yang menyerang, padahal saya sendiri ya biasa saja, he-he-he.

Sering diskusi sama orang tua kalau di rumah?
Tidak pernah. Sesekali ayah cuma berpesan saja supaya saya lebih hati-hati. Dia mencontohkan kasus Ahok (Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur DKI Jakarta nonaktif) yang kepleset karena satu kata saja. Sementara saya kalau menulis pasti lebih banyak kata.

Permasalahan apa yang membuat kamu gelisah? Maraknya isu SARA dan informasi hoax yang banyak beredar di media sosial.

Bagaimana ceritanya kamu ikut menjadi admin pembongkar hoax?
Bukan admin, hanya moderator. Sebelum tulisan saya jadi viral, saya sudah lebih dulu bergabung sebagai moderator pembongkar hoax. Saat itu diajak oleh admin utamanya, yang kebetulan teman di Facebook. Setelah ditawari akhirnya saya mau.

Dibayar berapa?
Oh tidak ada bayarannya. Itu murni relawan. Saya mau bergabung karena organisasinya netral. Jadi murni panggilan pribadi.

Berita Hoax apa yang pernah kamu temukan?
Contohnya kayak kabar penculikan anak. Itu benar-benar hoax. Tapi informasi hoax itu seperti bebek yang berbunyi di tengah gerombolan kerbau, jadi gak kedengaran. Karena masyarakat kita sekarang lebih mudah percaya sama kabar yang belum jelas kebenarannya. Dampaknya, orang gila yang tidak tahu apa-apa yang jadi korban. Saya geram banget, kenapa sih orang enggak ada yang percaya kalau info itu hoax?

Kenapa itu bisa terjadi?
Sebelum ada media sosial, hidup kita kan hanya satu, kehidupan nyata. Nah setelah marak media sosial, hidup kita terbagi dua: kehidupan nyata dan kehidupan maya. Sayangnya kehidupan maya mengambil lebih banyak hal dari kehidupan nyata kita.

Di sisi lain, media memang alat yang real time. Jadi begitu ada peristiwa di tempat lain langsung bisa dishare, tapi ada yang ditambahi dengan keterangan yang bohong, menghasut dan provokatif. Media sosial itu bisa menyalurkan air lumpur juga bisa menyalurkan air sungai.

Jadi kitalah yang harus cerdas saat bermedia sosial. Misalnya, saat menerima kabar tentang orang gila yang menjadi pelaku penculikan anak untuk diambil organnya. Itu kan tidak bisa dinalar. Karena mengambil organ manusia itu tidak sesederhana mengambil jeroan ayam terus dijual ke pasar. Kalau mau mengambil organ manusia, pasti butuh tempat khusus, cara khusus dan butuh dokter.

Kamu ingin bertemu Presiden Jokowi, apa yang ingin kamu sampaikan?
Saya akan bilang begini, "Pak saya minta sepeda." Ha-ha-ha. Tidak, tidak. Saya ingin bilang, "Pak tolong ya pak, benih-benih intoleransi itu masuknya lewat pendidikan, lewat kampus, lewat SD-SMP dan SMA. Dari guru guru yang kompetensinya terhadap agama benar-benar radikal."

(Keinginannya bertemu Presiden Joko Widodo akhirnya terkabul pada Kamis, 1 Juni 2017 lalu. Afi saat itu diundang menghadiri upacara peringatan hari Lahir Pancasila di Jakarta. Usai upacara, Afi pun bertemu Jokowi).

Maksudnya?
Ya coba lihat kampus-kampus negeri sekarang banyak yang deklarasi khilafah. Banyak yang deklarasi bubarkan Pancasila dengan sistem tagut. Saya ini muslim tapi menolak tagut. Seperti yang Malala Yousafzai (peraih Nobel perdamaian 2014) katakan, dengan pistol kita bisa membunuh teroris, tapi dengan pendidikan yang baik kita bisa membunuh terorisme.

Apa yang melatarbelakangi menulis "Warisan" yang kamu unggah ke Facebook itu?
Saya sangat miris dengan isu SARA di Indonesia. Lama banget saya berpikir sebelum menulis "warisan" itu. Apa sih akar dari semua konflik ini? Ternyata soal pemahaman terhadap agama dan kebenaran. Tulisan itu rupanya booming karena itu memang dasar dari segalanya, banyak yang tidak siap. Saya anggap seperti sinar matahari yang bisa menyinari kegelapan tapi bisa juga membutakan mata.

Bagaimana menurutmu tentang maraknya kasus intoleransi di Indonesia?
Kasus Ahok itu hanya yang naik di permukaan. Tapi dasar masalahnya adalah warisan seperti yang saya tulis itu, sehingga wajar akhirnya banyak yang terguncang. Saya tidak bisa langsung terang-terangan bilang "I stand with ahok!" atau "Saya mendukung Ahok!"

Saya tidak bisa seperti itu kalau pemahaman terhadap agama enggak dibenerin dulu. Sebenarnya semua agama itu warisan. Tapi saya tidak mengatakan bahwa Islam itu warisan. Begini, begitu kita lahir, kita kan sudah dalam keadaan Islam, Kristen, Hindu. Masak kita lahir sudah bisa syahadat atau sudah dibaptis atau sudah menyeru bahwa kita muridnya Buddha, ndak kan?

Nah semua agama kita, kan intinya warisannya dari situ? Kalau waktu dia sudah besar, dia mau pindah keyakinan itu lain cerita. Berarti itu sudah bukan warisan. Kalau lahirnya Buddha mau pindah ke Islam, dia pasti ditekan oleh lingkungan. Jadi dia mau berpindah keyakinan sesuai pencarian, tapi kenyataannya tetap dibebani oleh warisan. Pasti banyak yang menekan: warisanmu itulah yang sudah benar karena kamu sudah dilahirkan dengan warisan ini kenapa mau ganti kulit? Kok mau ganti warisan? Udah syukuri saja warisanmu. Akhirnya tetap saja seumur hidup kita bersama warisan.

Contohnya, selebriti yang mau ganti iman, banyak yang akhirnya dihujat. Padahal dia kan mau mengganti warisannya dengan pencarian terhadap kebenaran.

Dari mana kamu belajar soal toleransi?
Semuanya dari buku.

Menjadi pembicara di Universitas Tribhuana Tunggadewa, Malang, 21 Mei 2017.
Menjadi pembicara di Universitas Tribhuana Tunggadewa, Malang, 21 Mei 2017.
© Tangkapan layar FB Afi /Tangkapan layar FB Afi

Apa reaksimu saat tahu Facebook menangguhkan akunmu?
Awalnya memang shock. Tapi saya menduga memang bakal ramai. Begitulah resiko saat harus menulis. Saya harus siap dibully oleh orang yang saya kenal atau tidak. Saya harus siap ditinggalkan oleh orang yang sudah saya kenal. Dan pastinya harus siap diserang oleh para haters.

Saat akun Facebookmu ditangguhkan, kamu diundang Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Apa yang bicarakan?
Hanya berdiskusi saja, malah Pak Bupatinya yang mirip wartawan, bertanya ini-itu (tertawa). Kalau saya tetap menyampaikan soal radikalisme, keberagaman, dan toleransi.

Bagaimana ceritanya ada ancaman pembunuhan itu?
Beberapa hari setelah menulis Warisan itu ada telepon dari seseorang jam setengah tiga pagi. Saya tidak kenal. Dia bilang, bahwa bersama teman-temannya tidak hanya bisa menghabisi akun saya, tapi juga pemiliknya. Telepon langsung saya tutup.

Tidak berencana melapor ke polisi?
Tidak. Biarkan saja. Saya mendapatkan banyak dukungan.

Bagaimana reaksi teman-teman dan guru-guru saat statusmu jadi viral?
Kalau teman-teman sih biasa-biasa saja. Kalau guru ada sebagian yang menasehati agar saya menulis sesuatu yang tidak merugikan siapapun, senetral mungkin, ndak tendensius, yang hati-hati, dan yang bisa mengangkat nama sekolah.

Ada guru yang tidak mendukung atau berkomentar negatif?
Ada beberapa. Itu guru-guru yang benar-benar fanatik pada Islam. Komentarnya ya mirip dengan yang menyerang saya di Facebook. Tapi hanya beberapa guru saja, di luar sekolah saya justru mendapatkan banyak dukungan.

Apa jawabanmu terhadap guru yang berbeda pandangan?
Saya jawab bahwa saya menghormati pendapatnya. Tapi saya tidak akan mengubah apa yang saya percayai.

Bagaimana toleransi di sekolah dan di antara teman-temanmu?
Sekolah saya memang tidak konsen terhadap isu toleransi ini. Kalau teman-teman saya ya kayak anak SMA kebanyakan.

Dalam postinganmu berjudul "Cara agar hidupmu damai di negeri ini" kamu berpesan agar adik-adik kelasmu tidak kritis. Kenapa?
Itu satire sebenarnya. Kalau ada orang masih gak paham, ya kebangetan. Soalnya orang dewasa tidak mau tersaingi. Apalagi mereka merasa digurui. Padahal saya seringkali bilang bahwa saya hanya berbagi, tidak ada maksud menggurui.

Bagaimana ceritanya sampai putus dengan pacarmu?
Ha-ha-ha. Kok malah tanya itu?

Sebenarnya dia yang mutusin, Februari lalu. Dia ini kan orangnya, fans berat Islam garis keras, Ahok haters, jadi tidak ada nyambung-nyambungnya, kan? Dia ekstrovert, sementara saya introvert. Dia didominasi logika, sedangkan saya perasaan banget. Jadi mungkin lebih baik putus. Tapi saya sempat patah hati gara-gara itu (Afi menutup wajah dengan buku).

Katanya mendapatkan beasiswa dari Pemkab Banyuwangi, rencananya mau ambil jurusan apa?
Iya dapat beasiswa ke Universitas Jember. Tapi semuanya belum final, karena di sana tidak ada jurusan psikologi. Padahal saya ingin sekali ambil psikologi. Saya tak mau salah jurusan. Kalau kampusnya bisa di mana saja, asalkan negeri dan ada jurusan psikologinya.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.