Keterangan Gambar : Eki Febri Ekawati, atlet tolak peluru peraih medali emas SEA Games 2017, di Gedung Olahraga Pajajaran, Cicendo, Bandung, Selasa sore (5/9/2017). © Beritagar.id / Wisnu Agung Prasetyo

“Olahraga ajari saya jadi tangguh, kerja keras dan menetapkan tujuan yang sulit—dalam berbagai situasi”

Sebenarnya kini adalah saat yang indah bagi Eki Febri Ekawati: Ia berhasil dapat emas tolak peluru SEA Games 2017--setelah 10 tahun menanti.

Namun nahas. Meski memberi Indonesia prestasi, haknya sebagai atlet belum didapatkan Eki. Sejak Januari 2017 hingga sekarang, uang akomodasi yang harusnya ia dapat, tak kunjung pasti.

"Saya atlet peraih emas SEA Games 2017. Uang akomodasi (makan, penginapan, dll) belum juga dibayar dari bulan Januari-Agustus. Padahal SEA Games sudah hampir selesai. Gimana mau maju? Birokrasi dan sistem olahraga di Indonesia yang ribet," demikian tulis Eki melalui Instagram pribadi.

Dari pernyataan tersebut, perempuan berusia 25 itu mendadak populer. Postingannya juga menjadi viral. Pengikutnya di Instagram pun membengkak dari 1500 menjadi 8000an akun.

"Persoalan (postingan) ini sebenarnya sudah selesai. Pak Menteri sudah langsung menghubungi saya," kata Eki kepada Heru Triyono dan fotografer Wisnu Agung dari Beritagar.id kala wawancara di kawasan Gedung Olahraga Pajajaran, Cicendo, Bandung, Selasa sore (5/9/2017).

Ia mengaku tak mau memperpanjang masalah postingan itu karena niatnya hanya mencurahkan isi hati. Ia juga tidak ingin konsentrasinya berlatih terganggu. Apalagi Menteri Imam Nahrawi sudah minta maaf dan berjanji akan menindak bawahannya. "Saya mau latihan keras, medali emas itu bikin ketagihan untuk berprestasi," katanya.

Eki tampak masih beradaptasi dengan ketenarannya pasca SEA Games. Beberapa orang terkadang menghampiri dan mengucapkan selamat--saat wawancara berlangsung. "Agak aneh, tapi saya belum merasa terkenal," ujarnya, lantas tersipu.

Sore itu Bandung gerimis. Alih-alih mencari keteduhan, Eki tetap berlatih--dengan berlari dan melempar peluru seberat lima kilogram berulang kali. Hampir setiap hari ia berlatih sejak 2007, ketika memulai kariernya sebagai atlet Pendidikan Pelatihan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) Provinsi Jawa Barat.

Sekarang, Eki sedang mempersiapkan diri untuk Asian Games 2018. "Ini akan menjadi tantangan besar," katanya.

Selama dua jam wawancara, Eki bicara bagaimana perjuangannya merebut medali emas pertama, masalah uang akomodasi dan tekadnya mempertahankan rekor tolak peluru. Berikut petikan perbincangannya:

Eki Febri Ekawati, atlet tolak peluru peraih medali emas SEA Games 2017, di Gedung Olahraga Pajajaran, Cicendo, Bandung, Selasa sore (5/9/2017).
Eki Febri Ekawati, atlet tolak peluru peraih medali emas SEA Games 2017, di Gedung Olahraga Pajajaran, Cicendo, Bandung, Selasa sore (5/9/2017).
© Wisnu Agung /Beritagar.id

Anda sedang emosional atau bagaimana saat posting status di Instagram--yang jadi viral itu?
Itu cuma komentar saja yang memang kenyataan. Eh malah jadi ramai.

Berani juga Anda bersuara...
Bukan soal itu. Saya enggak bermaksud apa-apa. Niat saya baik, sekadar menyampaikan isi hati.

Tetapi respons cepat dari kementerian untuk menyelesaikan masalah ini sudah diduga?
Saya kaget. Ketika berada di Korea, Pak Menteri tiba-tiba hubungi saya lewat pesan Whatsapp. "Ki ini pak menteri mau bicara". Aduh saya kaget dong. Kemudian Pak Menteri menelepon dan persoalan selesai.

Anda tampil di Korea Selatan?
Tepatnya di kota kecil Mokpo. Saya ikut kejuaraan yang sudah menjadi agenda setiap tahun. Konsepnya satu atlet serta satu pelatih, dan saya diundang untuk main di sana.

Tanpa postingan Anda di Instagram itu mungkin situasi beberapa atlet enggak akan berubah?
Justru itu yang lucu. Beberapa atlet lain ada yang muncul dengan keluhan sama. Misalnya atlet Peparnas (Pekan Paralimpiade Nasional atau Pekan Paralimpik Indonesia--yang juga di bawah Kemenpora.

Efek postingan itu yang memang Anda inginkan sebagai atlet?
Efek bagaimana? Saya malah enggak mengira bakal sebesar ini. Bahkan desa saya, Cikadu, juga jadi terkenal sekarang gara-gara itu.

Sebelum posting, Anda sudah berupaya berkomunikasi dengan pihak Kemenpora?
Sudah, tapi tanggapannya kurang. Ya saya coba di media sosial. Ternyata langsung dapat tanggapan dari Pak Menteri. Respons dia begitu cepat dan langsung bantu.

Bagaimana penilaian Anda terhadap pembinaan atlet selama ini di bawah Kemenpora?
Saya kurang tahu ya. Saya memang rajin, maksudnya rajin ikut Pelatnas, tapi juga rajin dicoret he-he.

Apa sih persoalan utama yang sering dikeluhkan atlet?
Paling semua juga sudah tahu. Kita sih sudah terbiasa. Klasik.

Maksudnya klasik?
(Tidak terjawab)

Setelah Pak Menteri telepon, bonus dan masalah uang akomodasi sudah beres?
Belum, kan biasanya setelah selesai Paralimpik (pertandingan olahraga dengan berbagai nomor untuk atlet yang mengalami cacat fisik, mental dan sensoral) baru cair. Minggu depan sepertinya.

Tetapi saya tidak mau memperpanjang persoalan ini. Meski beberapa TV menghubungi untuk menjelaskan, saya enggak mau terima. Lagi pula saya sibuk. Dari Korea saya ada acara di Kuningan. Akan ada arak-arakan untuk saya, karena emas ini jadi yang pertama untuk Kuningan. Jadi mending bicara prestasi, jangan (uang) akomodasi.

Anda merasa tidak diapresiasi saat mencapai kesuksesan di SEA Games?
Momen seperti itu ada ya. Misalnya, saya juara PON, tapi respons daerah biasa saja. Padahal skalanya gede lho, nasional. Termasuk dari tempat saya bekerja di PDAM.

Tetapi, ketika saya juara SEA Games, tiba-tiba di koran langsung ada tulisan "Dari PDAM untuk Indonesia". Seolah-olah kita ini bagaimana ya, enggak mengerti juga kadang.

Maksudnya beberapa pihak seperti menumpang nama ketika ada atlet yang berprestasi besar?
Kayak begitu. Makanya ketika jadi atlet dan sedang bagus-bagusnya mending minta pekerjaan. Kalau prestasinya sudah turun akan susah.

Makanya banyak atlet ketika tuanya terpuruk. Kejadian ini menimpa senior saya. Ketika lagi bagus ditawari jadi polisi dia tidak mau. Ditawari kuliah dan pekerjaan juga tidak mau. Dia hanya mau jadi atlet.

Artinya Anda akan mengambil pekerjaan itu kalau ada yang menawari?
Pasti, untuk mengamankan masa depan saya. Yang saya dengar ada wacana dari Pak Menteri kalau juara SEA Games akan ditawari jadi PNS. Nah saya menunggu itu. Jika atlet sudah aman masa depannya, maka mereka akan fokus untuk latihan.

Ok. Sebenarnya apresiasi dan respons seperti apa yang diinginkan atlet ketika mereka berprestasi?
Respons itu sama dengan penghargaan atau apresiasi. Sambutlah atlet di daerah asalnya. Misalnya A juara apa, bikin saja spanduk atau apa. Untuk urusan ini yang saya tahu Nusa Tenggara Barat paling bagus. Mereka begitu apresiasi para atletnya.

Enggak justru atletnya terkesan pamrih?
Maksudnya?

Iya, kan sudah tugas atlet untuk berlatih sebaik-baiknya dan mengejar prestasi. Enggak usah berpikir hal seremonial begitu?
Harusnya atlet itu jadi kebanggaan daerah sendiri dan negara. Apalagi kalau levelnya sudah nasional. Tidak bermaksud hitung-hitungan (pamrih). Tetapi atlet butuh semangat dari situ. Dia itu mewakili siapa. Jadi tahu apa yang diperjuangkan.

Perlakuan terhadap Anda yang dapat emas SEA Games saja seperti itu, apalagi atlet yang levelnya cuma daerah?
Sebenarnya saya itu termasuk yang tidak ditargetkan emas. Saya ini amunisi baru. Namun akan berbeda jika cabang lain juga sih. Lihat saja atlet sepak bola. Apresiasinya akan berbeda, karena mereka kan dikenal. Berbeda dengan atlet atletik--yang di Indonesia masih kurang dikenal.

Tetapi saya selalu ingat apa kata pelatih. Dia bilang, latihan saja yang keras. Karena atlet yang berbakat sekalipun akan kalah dengan yang bekerja keras. Itu terbukti sekarang.

Menjadi juara bukan hal mudah, banyak pengorbanan dan latihan keras juga ya...
Kerja keras pasti menghasilkan sesuatu. Saya memotivasi diri saya dengan menuliskan target di tujuh titik yang sering saya lihat. Misalnya di cermin. Cara itu memotivasi saya. Padahal saya berkali-kali dicoret di Pelatnas. Pada 2013, 2014 dan 2015. Tahun 2017 adalah tahun pembuktian saya dan berhasil .

Nah pas latihan Pelatnas SEA Games 2017 ini saya tinggal di mess. Lalu ada orang Satlak Prima bilang saya harus tinggal di hotel. Saya kemudian pindah ke hotel.

Anda memakai dana sendiri saat menjalani Pelatnas SEA Games dan bayar hotel?
Sebaiknya enggak usah dibahas lagi. Begini, olahraga telah mengajari saya jadi tangguh, kerja keras dan menetapkan tujuan yang sulit--dalam berbagai situasi. Itu saja.

Eki Febri Ekawati, atlet tolak peluru peraih medali emas SEA Games 2017, di Gedung Olahraga Pajajaran, Cicendo, Bandung, Selasa sore (5/9/2017).
Eki Febri Ekawati, atlet tolak peluru peraih medali emas SEA Games 2017, di Gedung Olahraga Pajajaran, Cicendo, Bandung, Selasa sore (5/9/2017).
© Wisnu Agung Prasetyo

Biasanya apa saja hal-hal yang sangat mengganggu performa atlet, baik dalam latihan atau kejuaraan?
Banyak. Bisa jadi fasilitas atau hubungan yang kurang pas dengan pelatih. Misalnya fasilitas latihan yang dipakai banyak orang. Mulai dari atlet hingga umum. Jelas mengganggu ya.

Tapi kembali lagi ke atlet. Kalau kurang pas dalam hal pelatih dan fasilitas, asalkan bekerja keras, prestasi tetap bisa didapat. Tetapi fasilitas yang terganggu itu bisa mengakibatkan atlet cedera. Si atlet kan jadi enggak leluasa.

Anda pernah cedera karena kurangnya fasilitas latihan yang memadai?
Enggak bisa berhubungan langsung juga sih (fasilitas dan cedera). Yang jelas sebulan sebelum Sea Games saya terkena cedera plantar fasciitis (telapak kaki) kanan. Ya karena tekanan badan--yang semakin hari beratnya semakin naik. Telapak itu kan jadi tumpuan, otomatis ada masalah di situ.

Siapa yang bertanggungjawab jika atlet mengalami cedera? Apa karena program latihan dari pelatih yang tidak cocok...
Banyak faktor ya. Bisa jadi atletnya yang kurang pemanasan atau hal lain. Tapi bisa jadi faktornya memang enggak bisa diprediksi.

April lalu, sprinter Indonesia malah jadi korban tabrak lari di Cibinong. Dia enggak bisa ikut SEA Games. Nah faktor-faktor seperti itu yang enggak bisa kita jaga.

Jujur, kalau jadi atlet itu banyak suka atau banyak dukanya?
Mungkin 50:50 ya. Senangnya ya pengalaman kita banyak, bisa meningkatkan taraf hidup dan mandiri.

Saya enggak usah minta uang sama orang tua. Saat SMA saya bisa beli motor dan ponsel dengan uang sendiri.

Kalau sedih ya pas Lebaran kadang enggak bisa pulang. Cuma itu jalan hidup dan risiko jadi atlet. Selalu saya nikmati, karena hasil itu tidak akan mengkhianati proses. Itu yang jadi acuan saya.

Bagaimana Anda bisa yakin meraih prestasi ketika Anda sendiri bilang berkali-kali dicoret di Pelatnas?
Tolak peluru itu olahraga terukur. Kita bisa cek akan dapat perunggu, perak atau emas--dari hasil latihan kita. Yang bisa kita lakukan ya latihan dan latihan, meski kejuaraan begitu minim. Dalam setahun kejuaraan terkadang hanya satu dua saja.

Kalau dalam setahun hanya satu kejuaraan, sisa waktu atlet yang lain melakukan kegiatan apa?
Kegiatannya ya latihan, masuk kamar, makan, kumpul lagi, ya kalau bosan main biliar, sore latihan lagi.

Atlet tetap digaji walau tanpa kejuaraan?
Ya iya. Kalau atlet PON ya digaji oleh Pelatda PON, kalau atlet Pelatnas ya dari Kemenpora.

Dalam pandangan Anda gaji atlet sudah bagus?
Lumayan. Terus naik dari tahun ke tahun. Saat PON 2012 gaji saya itu Rp1.250.000 per bulan. Karena saya ditargetkan emas, maka saya dapat tambahan sehingga total Rp3 juta.

Sekarang sudah naik lagi jadi Rp5 juta. Tapi ini Jawa Barat lho ya, jangan bandingkan dengan DKI. Jauh lah. Kalau atlet nasional, saya pernah alami gaji Rp3,5 juta, dan saat ini sudah mencapai Rp7,5 juta per bulan.

Jumlah nominal itu cukup? Artinya atlet bisa fokus latihan tanpa memikirkan urusan kantong lagi...
Tergantung atletnya. Kadang ada atlet yang gaya hidupnya wow. Gaji baru junior tapi postingan Instagramnya mewah-mewah sekali. Prinsipnya jadi atlet itu menjanjikan kalau kita berusaha sungguh-sungguh.

“Atlet yang berbakat sekalipun akan kalah dengan yang bekerja keras”

Eki Febri Ekawati

Apa yang membuat Anda pada akhirnya memilih jalan hidup sebagai atlet?
Dari kecil saya suka olahraga. Saya ingat sekali saat Piala Dunia 2002 ketika Olivier Kahn dan Miroslav Klose sedang bagus-bagusnya. Saya mengidolai keduanya dan bermain bola.

Yang jelas saya anak yang enggak bisa diam. Bertualang ke sawah, kebun dan suka mengeksplor apapun. Pulang selalu magrib.

Keluarga saya tidak ada yang atlet. Jadi enggak menyangka malah terjun ke dunia ini. Semua ini bermula dari guru olahraga SD saya yang memperkenalkan dayung, bukan atletik. Sejak itu saya mulai berlatih dengan giat untuk mencapai sebuah prestasi.

Keluarga mendukung Anda sebagai atlet?
Awalnya enggak. Mereka malah memarahi saya sepulang latihan dayung di Waduk Darma. Orang tua bilang banyak yang meninggal di waduk itu, dan menakuti saya dengan cerita mitos di sana.

Tetapi saya tetap latihan dan akhirnya orang tua mendukung.

Titik tolak karier saya adalah saat seleksi masuk atlet Pendidikan Pelatihan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) Provinsi Jawa Barat pada 2007. Saya masuk PPLP itu tanggal 7, bulan 7, tahun 2007 dan jam 7. Makanya ketika itu koran Kompas menulis tentang saya dengan judul: Tuah Angka 7.

Tetapi kenapa pilihannya jadi atlet tolak peluru yang notabene enggak populer...
Sebenarnya kurang tertarik awalnya. Bisa saja saya masuk basket--yang saya juga kuasai. Tetapi, bagaimana pun hebatnya kita di olahraga tim, saat dapat bonus, ya dibagi-bagi. Kalau olahraga individu kan enggak. Ha-ha. Itu kata pelatih saya.

Sekarang Anda ditahbiskan menjadi ratu tolak peluru Indonesia, bahkan ASEAN, ada target di atas itu?
Target besar selanjutnya adalah Asian Games 2018. Tetapi banyak orang Asia yang juga juara dunia di cabang ini. Saya hanya fokus latihan. Memperbaiki rekor, pecahkan dan pecahkan lagi.

Berapa jarak rekor tolak peluru yang Anda pegang?
Sekarang rekor saya itu 15,54 meter. Jarak itu saya hasilkan di Kejuaraan Grand Prix Seri I di Jiaxing Cina. Sebelumnya saya memecahkan dua rekor sekaligus, yakni rekor PON dan rekor nasional--saat PON XIX Jawa Barat dengan lemparan sejauh 14,98 meter.

Btw, siapa inspirasi Anda?
Rudy Hartono. Dia pernah bilang ke saya, butuh waktu 10 tahun bagi dia untuk jadi juara All England. Sementara itu, tahun 2017 adalah tepat 10 tahun saya jadi atlet tolak peluru. Ternyata benar apa yang dia katakan he-he.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.