Baiq Nuril Maknun di sebuah ruangan Fakultas Hukum Universitas Mataram, Mataram, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (17/11/2018).
Baiq Nuril Maknun di sebuah ruangan Fakultas Hukum Universitas Mataram, Mataram, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (17/11/2018). Beritagar.id / Wisnu Agung Prasetyo
BINCANG

Baiq Nuril: Putusan MA seperti gempa

Butuh waktu lama baginya menghimpun kekuatan untuk berbagi kisah itu. Mulanya, ia coba abaikan, tapi rasanya sakit, karena seperti berbohong kepada dunia.

Ia duduk, kemudian seorang pria mendekat dan duduk di sebelahnya. Ia merasa aneh, tapi coba meladeni percakapan. Selanjutnya, si pria tiba-tiba menjamah bagian lengan, ia pun menghindar. Tak berakhir di sana, karena si pria malah mengundangnya pergi ke hotel.

Sebuah tawaran membingungkan—yang membuatnya tak bisa bicara. Setelah percakapan beres, ia pulang dengan pikiran berputar-putar dan mulas. “Perilaku atasan saya ya seperti itu,” kata Baiq Nuril Maknun tentang pria yang tak ingin diingatnya lagi.

Nama Nuril memang sedang jadi pembicaraan lantaran dirinya jadi korban pelecehan, namun malah dihukum. Ia merekam percakapan dengan pria di cerita tadi--yang notabene atasannya di kantor. Isi rekamannya: pengalaman seksual si pria tersebut dengan perempuan lain.

Singkat cerita, Nuril dilaporkan pria itu karena merekam percakapan mereka berdua. Namun, Nuril dinyatakan tak bersalah oleh Pengadilan Negeri Mataram. Justru, Mahkamah Agung (MA) mengabulkan permohonan kasasi jaksa dan menyatakan Nuril bersalah karena dianggap melakukan tindak pidana Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Nuril pun terancam dibui enam bulan serta denda Rp500 juta. “Saya bingung. Saya yang dilecehkan, saya yang dipenjara,” katanya saat wawancara dengan Heru Triyono dan fotografer Wisnu Agung di sebuah ruangan di Fakultas Hukum Universitas Mataram, Mataram, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (17/11/2018).

Siang itu, perempuan 40 tahun ini lebih banyak menunduk. Matanya berkaca-kaca sebelum mengawali pembicaraan. Ia memulai dengan suara bergetar. “Saya takut pisah dengan anak-anak lagi kalau ditahan,” tutur Nuril.

Sambil bicara, tangannya terus memegang erat-erat tangan Nurjanah—sang pendamping—seperti bercampur ketakutan. Mereka duduk di sofa berdampingan. Sesekali saling pandang ketika Nuril mencoba menjawab pertanyaan.

Selama hampir satu jam, mantan pegawai honorer SMAN 7 Mataram itu melayani pertanyaan soal harapan, amnesti dan cita-cita kecilnya menjadi Polwan. Berikut perbincangannya:

Baiq Nuril Maknun di sebuah ruangan di Fakultas Hukum Universitas Mataram, Mataram, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (17/11/2018).
Baiq Nuril Maknun di sebuah ruangan di Fakultas Hukum Universitas Mataram, Mataram, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (17/11/2018). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Sempat bebas, sekarang malah dinyatakan bersalah oleh Mahkamah Agung…
Rasanya kaget, seperti waktu saya ditahan dulu, tahun 2016. Ini seperti gempa saja.

Waktu itu Anda ditahan di tingkat penyidikan hingga persidangan ya?
Saya langsung masuk tahanan Polres selama 14 hari, selebihnya di LP (Lembaga Pemasyarakatan). Jadi saya ditahan selama dua bulan tiga hari. Aduh-aduh, di tahanan itu enggak enak, apalagi pisah sama anak-anak.

Keluarnya putusan MA ini menimbulkan trauma?
Karena suasana itu teringat lagi. Sama rasanya. Apalagi, begitu dipanggil Polres, saya langsung ditahan. Dipanggil Jumat, Senin ke polisi sama anak paling kecil, dan langsung ditahan.

Akhirnya saya bohong ke si kecil dengan bilang kalau tahanan itu adalah sekolah. Maksudnya biar Rafi (nama anaknya) tenang. Apalagi dia masih enam tahun waktu itu, sekarang usianya tujuh tahun.

Oh karena itu Rafi menulis surat: "Kepada Bapak Jokowi, jangan suruh ibu saya sekolah lagi” ya?
Iya, tiap malam dia bertanya. Kan kebetulan dia tidur sama saya. Ia memeluk dan terus bertanya kapan saya sekolah lagi. Dia enggak mau saya sekolah. Dia pikir masuk tahanan itu adalah sekolah.

Kalau sekarang, sudah dijelaskan ke anak-anak soal putusan MA ini?
Saya enggak kuat. Mungkin nanti. Seandainya saya enggak punya anak mungkin akan pasrah saja. Tapi bagaimana cara saya menjelaskan lagi ke anak-anak itu yang paling berat.

Anak saya yang paling besar itu kelas 1 SMA, yang kedua kelas 1 SMP dan yang ketiga kelas 1 SD, semuanya serba kelas satu. Anak saya itu dua perempuan, satu laki-laki. Nah yang SMA ini yang paham kasus ini dan juga yang paling trauma.

Apakah anak-anak Anda berpikir ibunya jahat dan karena itu masuk penjara?
Makanya saya jelasin ke mereka, saya ini bukan orang jahat. Hal utama adalah menguatkan anak-anak. Yang paling besar tidak terlalu banyak komentar. Dia cuma bilang, kenapa bu, kenapa bu, sambil memeluk saya.

Merekam percakapan dengan maksud melindungi diri, malah terancam dipenjara, Anda memperhitungkan risiko hukumnya?
Saya enggak menyangka sama sekali akan begini. Ini seperti mimpi.

Merasa diperlakukan enggak adil dengan putusan MA?
Enggak adil. Soalnya saya ini kan korban. Keadilan itu di mana? Di mana keadilan itu? Apa dasar hukum yang menyebabkan saya itu bersalah, di MA terutama. Karena di PN Mataram saya terbukti gak bersalah.

Anda menyesal telah merekam percakapan Anda dengan pria itu?
Kalau menyesal ya enggak. Kenapa? Itu kan bagaimana cara saya untuk jaga diri. Kalau saya enggak rekam, lingkungan sekolah atau suami mempertanyakan kedekatan saya dengan dia—yang sebenarnya tidak ada apa-apa.

Memangnya ada ya pertanyaan-pertanyaan orang sekitar soal kedekatan Anda dengan M? (M adalah mantan Kepala Sekolah SMAN 7 Mataram).
Mereka bertanya, kenapa saya dekat dengan dia. Dari lingkungan sekolah juga. Nah, seandainya saya tidak merekam percakapan itu, bagaimana saya menjawab itu dan menjaga diri?

"Seandainya dikasih amnesti ya saya terima kasih sekali dan bersyukur"

Baiq Nuril

Kok bisa rekaman itu tersebar?
Selama satu tahun saya menyimpan rekamannya. Saya merekam tahun 2014, tapi tahun 2015 rekaman itu kesebar. Entah siapa yang menyebarkan, padahal saya cuma cerita ke satu orang tentang rekaman itu, kepada teman kantor (Imam Mudawin).

Tidak cerita ke suami?
Ke teman kerja dulu waktu itu. Tapi cerita juga ke suami, keluarga dan kakak perempuan—pada akhirnya.

Kakak perempuan saya marah dengan bilang, kenapa mesti diladenin laki-laki itu. Tapi kan saya serba salah. Dia atasan, sementara saya cuma pegawai honorer. Yang penting bagi saya waktu itu adalah bisa kerja dan bisa jaga diri.

Kalau macam-macam baru saya minta bantuan. Begitu saya bilang ke suami.

Kenapa enggak berpikir resign saja waktu itu?
Pernah sih, tapi saya mau ke mana? Saya kan honorer. Enggak ada pilihan. Sebelum kerja saya ini ibu rumah tangga. Untuk bantu perekonomian keluarga ya saya melamar di SMAN 7. Suami saya kerja sebagai Gojek.

Tapi bagaimana caranya bisa tetap nyaman bekerja, apalagi harus menghadapi atasan seperti itu?
Gimana ya. Saya mau nolak ajakan ngobrol dia juga takut. Takut dia berhentiin saya. Meski ujung-ujungnya juga diberhentikan. Ya rekaman itu jadi bukti kalau saya enggak punya hubungan apa-apa sama beliau.

Kapan dia mulai mengajak Anda bicara secara personal?
Sejak tahun kedua dia jadi kepala sekolah. Dia mulai aneh-aneh di tahun kedua. Dari akhir 2013 sampai akhir 2014. Kadang kami kerja sampai malam. Biasanya saya disuruh mengerjakan laporan.

Kenapa enggak minta izin pulang kalau sudah kelewat malam?
Sering. Waktu itu kan si kecil masih ASI. Kadang alasan itu yang membuat saya dikasih pulang cepat.

Kalau bukan alasan itu, enggak bisa menolak perintahnya?
Enggak bisa, karena saya ini bawahan, apalagi bicara kerjaan. Dan, percakapan itu terus berulang, bukan via telepon saja. Tatap muka pun juga iya.

Kadang, sentuhan fisik di tangan juga. Ini yang buat saya risih. Karena itu saya merekam percakapan dengan dia untuk jadi pegangan saya membela diri.

Atasan Anda ini suka mengancam kalau enggak dituruti?
Dia suka marah-marah seandainya teleponnya enggak diangkat.

Anda pernah dijanjikan sesuatu, misalnya kalau mendengarkan ceritanya, nanti Anda akan diangkat jadi pegawai?
Enggak sih.

Siapa orang pertama yang mendengarkan rekaman percakapan itu?
Suami saya, karena dia yang bertanya soal kedekatan saya dengan beliau (M).

Apakah M ini juga bercerita hal yang sama kepada pegawai perempuan lain?
Enggak, ceritanya ke saya saja. Saya juga kurang tahu alasannya.

Dia secara terbuka memberi tahu motif di balik dirinya menceritakan hal-hal privat itu kepada Anda?
Enggak.

Baiq Nuril Maknun di sebuah ruangan di Fakultas Hukum Universitas Mataram, Mataram, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (17/11/2018).
Baiq Nuril Maknun di sebuah ruangan di Fakultas Hukum Universitas Mataram, Mataram, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (17/11/2018). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Sebenarnya sosok M ini bagaimana di mata Anda, ketika pertama mengenalnya?
Ya seperti orang berkenalan saja, awalnya ya pasti baik. Dia kan kepala sekolah, saya staf. Cuma itu saja.

Pernah bertemu kembali dengan M?
Sempat bertemu setelah vonis PN. Di acara keluarga dia datang dan senyum dari jauh. Aduh, saya enggak terbayang harus apa dan bagaimana. Saya tidak mau ingat lagi.

Hal apa yang paling membuat Anda trauma dari kejadian ini?
Tinggalin anak-anak. Seenak-enaknya makanan di penjara, kalau enggak ada anak dan suami ya beda. Kita makan di tempat enak saja kalau enggak ada mereka beda, apalagi makanannya memang gak enak.

Enggak bisa dipungkiri setelah vonis bebas itu saya coba menata hidup, tapi sekarang ngedrop lagi. Bapak saya sempat jatuh mendengar putusan MA itu. Dia sedang cuci tangan kemudian jatuh kayak orang kelimpungan. Orang tua saya syok.

Maaf, pengalaman dilecehkan seperti ini pernah Anda hadapi sebelumnya?
Enggak pernah. Semoga ini pertama dan terakhir. Dulu masa muda saya begitu menyenangkan. Cita-cita saya adalah jadi Polwan, karena saya tomboi sekali.

Main itu maunya sama laki-laki. Mulai dari panjat pohon, berkelahi, main kelereng, maunya menang terus. Agak besar sedikit saya suka ikut balap motor. Semoga anak saya yang SMA ini bisa melanjutkan cita-cita saya jadi Polwan. Amin.

Sempat ikut tes Polwan?
Sempat, tapi enggak lolos. Saya kemudian kuliah di STIE AMM jurusan akuntansi sampai semester enam. Tapi, karena menikah, kuliah itu gak sempat dilanjutkan lagi.

Menurut Anda, apakah Presiden Jokowi akan memberi amnesti?
Seandainya dikasih amnesti ya saya terima kasih sekali dan bersyukur. Dan, bagi perempuan yang mengalami kejadian seperti ini, pesan saya, harus berani melawan. Jangan seperti saya, karena ujung-ujungnya pekerjaan saya diputus juga. Itu saja.

Sudah siap untuk dipanggil Kejaksaan Negeri Mataram?
Saya cuma ingin keadilan, bebas dari tuduhan yang tidak pernah saya lakukan.

Kesaksian Nuril atas kasus ITE dan dugaan pelecehan seksual /Beritagar ID
BACA JUGA