Keterangan Gambar : Buni Yani saat sesi foto dengan Beritagar.id di sebuah tanah lapang--samping warung makan Bakso Kraton di bilangan Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat, Kamis sore (9/2/2017). © Beritagar.id / Wisnu Agung Prasetyo

Buni Yani bicara soal sikap politiknya yang selama ini belum banyak orang tahu

Sosoknya mudah dikenali: tinggi lebih lima kaki, berkacamata, lalu rambut dan alis yang hampir seluruhnya putih. Dia adalah Buni Yani, pria 47 tahun yang paling kontroversial dan dicari media saat ini.

Buni dicap pahlawan sebagian pihak. Tapi tidak oleh kepolisian, yang memberinya label tersangka dalam kasus dugaan penyebaran kebencian. Dus, setelah permohonan praperadilannya ditolak, ia bakal menjalani persidangan dengan ancaman maksimal empat tahun penjara.

"Ini merupakan jalan hidup," ujarnya kepada Fajar WH, Heru Triyono dan fotografer Wisnu Agung saat wawancara di Bakso Kraton, bilangan Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat, Kamis sore (9/2/2017).

Sore itu Buni banyak menaikkan dua sudut bibirnya, seakan lupa beberapa kasus hukum yang dihadapi. Selain sebagai tersangka tadi, ia juga harus berurusan dengan penyidik dalam kasus makar dan menjadi saksi pada kasus penistaan agama Basuki.

"Stres juga, tapi konsumsi makan dan minum saya justru bertambah lho," tutur dosen London School yang mengklaim pernah berprofesi jurnalis di Voice of America Washington DC, Tempo dan Indonesia Time ini.

Ia memesan jeruk panas dan kopi hitam saat berbincang dengan kami selama tiga jam. Kami duduk lesehan disekat meja persegi--saling berhadapan. "Saya minta bertemu di sini (tempat makan) karena dekat dengan rumah," katanya.

Meski berstatus tersangka Buni tidak ditahan. Namun dicegah tangkal (cekal) ke luar negara dalam kurun waktu 60 hari. Kesibukannya saat ini adalah jadi pembicara dari pengajian ke pengajian, selain bolak-balik ke penyidik untuk diperiksa.

Kepada kami, Buni bicara sambil cemberut, kadang menghardik, tapi juga bisa tertawa superlebar seperti model iklan pasta gigi--saat menjawab soal independensi media, video pidato Ahok dan teror. Berikut perbincangan selengkapnya:

Buni Yani saat wawancara dengan Beritagar.id di Bakso Kraton yang terletak di bilangan Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat, Kamis sore (9/2/2017).
Buni Yani saat wawancara dengan Beritagar.id di Bakso Kraton yang terletak di bilangan Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat, Kamis sore (9/2/2017).
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Dituding sebagai pemecah belah kemudian dijadikan tersangka, Anda menyesal telah mengunggah cuplikan video pidato Ahok?
Mengatakan kebenaran dan keadilan apapun risikonya harus dilakukan. Sama sekali enggak menyesal.

Bukankah efek video itu membuat gaduh, bahkan cenderung politis karena jelang Pilkada?
Begini. Jumlah teman saya di Facebook itu sekitar 5 ribuan orang awalnya. Unggahan video saya pada dini hari itu ya dilihat teman-teman saya saja. Tapi ketika ada pihak yang melakukan screenshot kemudian menyebarkannya, maka itu jadi hal yang provokatif.

Karena sejak di-screenshot banyak yang penasaran melihat videonya. Terakhir, sebelum akun saya ditutup, ada 50 ribuan yang ingin jadi teman saya di Facebook. Silakan Anda nilai sendiri.

Akun Facebook Anda sudah tidak ada?
Menghilang sebulan lalu karena disita polisi. Saya enggak tahu apakah hilangnya akun saya itu bisa dipersoalkan. Pasalnya banyak sekali sejarah di situs pertemanan itu selama delapan tahun saya kelola. Mulai dari sejarah foto, diskusi dan segala macam. Semua hilang gara-gara kasus ini.

Sebenarnya Anda merasa tidak kalau kasus video unggahan Anda ini dimanfaatkan secara politik oleh pihak tertentu?
Enggak ada perasaan itu.

Karena mau tidak mau video unggahan Anda itu merugikan salah satu pasangan calon...
Saya merasa ini perjuangan saya sebagai anggota masyarakat dan akademisi juga. Saya melakukannya berdasar ilmu yang saya punya. Tahu punya ilmu dari mana? Baca saja tesis saya. Baca juga kolom-kolom hasil tulisan saya di media.

Apakah ada pihak yang berusaha mendekati Anda dengan tujuan politik tertentu?
Enggak ada. Tapi saya tahu arahnya Anda ke mana, dan mungkin sudah lihat foto Anies Baswedan juga di Facebook saya ketika dia menjadi Mendikbud. Tuduhan itu saya sadari.

Ya, penjelasan saya adalah ketika itu memang ada undangan para alumni Washington DC untuk silaturahmi ke rumah Anies. Saya termasuk yang hadir.

Anies Baswedan mengenal Anda?
Dia enggak kenal saya. Ketika di Amerika juga enggak pernah bertemu. Makanya ketika para wartawan bertanya ke Mas Anies ihwal hubungan saya dengan dia, jawabannya adalah enggak kenal. Itu menunjukkan memang enggak ada yang memengaruhi sikap saya. Tapi para buzzer Ahok terus menyerang.

Btw, di beberapa media Anda mengaku mengagumi kinerja yang ditunjukkan Ahok, tapi sekarang malah berbalik...
Saya hormati Pak Ahok. Di awal menjabat saya banyak dukung program dia yang bagus. Siapapun dia kalau gagasannya bagus ya saya dukung.

Mana saja program Ahok yang menurut Anda bagus?
Lihat saja sungai di Jakarta jadi bersih, kemudian taman semakin banyak dan rumah susun yang ia bangun untuk masyarakat. Itu bagus sekali. Tapi ketika dia mulai gusur menggusur, kemudian tersangkut kasus reklamasi, saya sudah mulai ragu tentang kepemimpinannya.

Saya kemudian mengumpulkan bahan soal Pak Ahok dari media dan percakapan-percakapan di media sosial tentang Ahok sebagai bahan ajar dan diskusi.

Kenapa fokusnya ke Ahok saja, kan banyak pemimpin dari Sabang sampai Merauke?
Yang lain itu tidak muncul ke permukaan. Pak Ahok juga yang sudah jauh-jauh hari menyatakan akan mencalonkan diri kembali. Sehingga saya fokus ke Jakarta saja dulu.

Anda sendiri punya KTP Jakarta?
KTP saya Depok. Tapi saya kan bekerja di Jakarta. Apapun yang terjadi di sana, saya kena imbasnya. Saya ini bayar pajak segala macam, sehingga merasa berkewajiban untuk melakukan kritik.

Buni Yani saat wawancara dengan Beritagar.id di Bakso Kraton di bilangan Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat, Kamis sore (9/2/2017).
Buni Yani saat wawancara dengan Beritagar.id di Bakso Kraton di bilangan Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat, Kamis sore (9/2/2017).
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Ada opini yang terbentuk: kalau Ahok tersangka, maka biar dianggap adil, Anda juga harus dijadikan tersangka. Bagaimana pendapat Anda soal itu?
Saya sendiri merasa begitu. Tapi susah jadi polisi juga, yang mungkin mau menyeimbangkan kubu yang pro dan kontra he-he. Kelihatannya saya tertawa, tapi selama ini saya sakit juga.

Namun, kalau memang untuk keseimbangan agar bangsa ini tidak pecah ya saya ridho saja dijadikan tersangka. Tapi kalau mereka zalim saya akan lawan.

Maksud Anda polisi telah zalim kepada Anda?
Saya enggak mau bicara soal itu. Saya tidak merasa 100 persen benar juga, ada salahnya. Tapi dalam kasus ini cara perlakuan mereka terhadap saya begitu berbeda.

Salah satu alat bukti yang dipakai polisi untuk menjerat Anda adalah tiga kalimat status di Facebook. Ada tujuan tertentu memasang kalimat-kalimat itu?
(Pertama, kalimat bertuliskan 'PENISTAAN TERHADAP AGAMA?'. Kedua, kalimat bertuliskan 'Bapak Ibu (pemilih muslim).. Dibohongi Surat Almaidah 51 (masuk neraka) juga bapak ibu. Dibodohi'. Kalimat ketiga, 'Kelihatannya akan terjadi suatu yang kurang baik dengan video ini')

Sebagai seorang dosen dan pernah jadi wartawan saya itu suka diskusi. Nah, dengan status itu saya ingin buka wawasan orang dan mengajak mereka diskusi. Ya sama saja dengan saya bicara di kelas.

Tapi kenapa sampai hilang kata "pakai" itu?
Saya tidak mencari pembenaran ya, tapi memang secara fonetik, kata pakai itu paling rendah bunyinya. Saya juga tidak pakai earphone ketika mengalihtuliskan suara di video itu. Langsung mendengarnya dari handphone.
(Fonetik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi)

Ini adalah pertanyaan mengulang: sengaja atau tidak Anda menghilangkan kata 'pakai' itu?
Saya katakan tadi, secara fonetik, khusus kata pakai, memang paling rendah tekanan bunyinya. Hanya sekian desibel. Artinya saya enggak salah-salah amat kalau khusus kata itu hilang. Saat mengalihtuliskan, saya mengantuk dan lelah sekali. Tapi seolah-olah saya sengaja dan ada niat menghilangkannya.

Anda melakukan transkip itu dari video utuh atau yang sudah dipenggal?
Saya download dulu video yang sudah diedit dari situs media NKRI. Saya mendengarnya 6-7 kali, baru kemudian saya alihtuliskan, untuk diunggah di wall (dinding) Facebook saya.

Tidak mencari sumber lain video pidato Ahok di Youtube misalnya?
Enggak, saya enggak mencarinya. Karena mungkin di timeline saya sudah lewat. Ya situasinya dalam kondisi mengantuk dan tidak fokus. Tapi catatan saya, pada hari Jumat itu (7/10/2016) banyak yang sebelum saya mengunggah video itu dengan pengantar yang jauh lebih kasar. Nasib saya saja lagi enggak baik memang.

Sedari awal tidak terbayang bagaimana efek besar yang ditimbulkan dari unggahan Anda sampai kemudian dijadikan tersangka?
Sama sekali enggak. Saya ini telah punya akun Facebook selama delapan tahun. Postingan saya ya seputar informasi beasiswa, lowongan kerja, jurnalisme, administrasi publik, agama, yang tujuannya untuk berdiskusi. Tapi saat ini malah postingan saya dipersoalkan.

"Saya merasa enggak salah-salah amat"

Anda merasa tidak bebas bersuara di media sosial?
Zaman SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) kita itu bebas bicara. Saat itu saya gunakan kebebasan berpendapat untuk kritik. Padahal cukup nyelekit satu dua kali. Tapi saya enggak pernah diapa-apain. Kalau sekarang kan beda. Ini rezim gila. Orang bersuara malah dikriminalisasi.

Pernah mengkritik apa ke SBY kala itu?
Soal kelambanan dia saat bersikap dalam kasus Cicak VS Buaya.

Oh iya, kenapa awal-awal kemunculan Anda di media Anda dipanggil dengan sapaan SBY?
Ini lah. Kasus saya ini dipakai untuk menghantam saya sekaligus Pak SBY juga. Ada pihak yang menyebut saya Si Buni Yani dan kemudian wartawan mengikutinya dalam artikel. Saya sakit hati benar sama wartawan karena tidak melihat akun asli saya. Kan bisa lihat nama asli saya di sana (Facebook).

Kalau arti Buni Yani sendiri memangnya apa?
Buni Yani berasal dari kata bun yaan dari bahasa Arab yang artinya bangunan besar atau edifice dalam bahasa Inggris. Waktu lahir Ibu memberi nama Buni Yamin, tetapi diganti Buni Yani karena kata Ibu nama Buni Yamin terdengar keras.

Sebagai dosen dan pernah jadi wartawan beberapa pihak menyayangkan Anda mengutip video dari media NKRI, kenapa tidak dari media mainstream dan kredibel saja?
Media mana saat ini yang netral? Saya bisa buktikan media-media besar itu tidak netral. Jadi saya tidak tahu media mana saat ini yang harus saya percaya dan kredibel--kalau media besar saja berpihak.

Mungkin bukan berpihak, tapi bersikap, dan media-media di luar negeri pun punya sikap politiknya masing-masing...
Saya setuju kalau bersikap. Tapi jika yang terjadi adalah menghilangkan fakta, maka jadi persoalan. Misalnya ada 123456 fakta. Tapi yang dipakai adalah fakta 123 saja, sisa fakta yang merugikan media itu tidak dipakai.

Tidak bisa juga memaksakan semua ucapan sumber yang tidak penting untuk dimuat di sebuah media. Harus seimbang juga kan...
Saya paham cover both side lah. Kalau pihak sana dua inci, maka lawannya juga dua inci. Tapi sudahlah, prinsipnya saya enggak mau diwawancara media yang sudah jelas punya framing tertentu.

Soal netral dan tidak, kenapa Anda memilih Munarman sebagai saksi fakta dalam sidang praperadilan Anda, tidak ada saksi lain?
Bang Munarman ini korlap (koordinator lapangan) demo. Kesaksiannya penting bagi saya untuk meng-counter apakah aksinya berdasar video saya atau bukan.

Di sisi lain saya susah sekali cari saksi. Mereka banyak yang takut. Mungkin khawatir diteror juga seperti saya.

Memangnya seberapa jauh teror yang Anda terima?
Awal-awal itu ada yang telepon ke kampus cari saya. Kemudian ada mobil Fortuner bolak balik ke rumah saya pada malam hari. Tapi saya ingatkan, jangan pernah gertak saya. Saya mati saja yang belum. Kalau ada yang mau macam-macam, saya tidak akan mundur satu inci pun.

Ngomong-ngomong Anda tidak tertarik terjun ke dunia politik?
Enggak lah. Kalau harus terpaksa sekali ya mungkin saja. Namun siapa juga yang mau menampung saya he-he.

Cita cita saya setelah kasus ini adalah mendirikan yayasan keadilan untuk mendorong orang-orang baik menjadi pejabat atau wakil rakyat. Begitu saja sikap politik saya.

Ada partai politik menghubungi Anda?
Ada, tapi tidak usah saya sebutkan. Saya berpikir, belum ada yang saya percaya sekarang-sekarang ini.

Sebenarnya dari mana saat ini penghasilan untuk menghidupi diri sendiri maupun keluarga, notabene Anda sudah tidak bekerja lagi jadi dosen?
Tabungan hasil pekerjaan-pekerjaan yang kemarin. Ketika saya masih jadi dosen dan penulis. Ya ada sisa sedikit lah.

Benar tidak rumor bahwa Anda menerima uang dari unggahan video pidato Ahok itu?
Kalau dibayar saya ini sudah kaya.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.