Keterangan Gambar : CEO Telegram, Pavel Durov, saat menerima wawancara Beritagar.id di lantai tujuh Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, pada Selasa (01/08/2017). © Beritagar.id / Bismo Agung

Ia bicara soal pemblokiran Telegram dan hasil pembicaraannya dengan pemerintah Indonesia.

Pertemuan itu berlangsung cepat, kurang dari satu jam. CEO Telegram Messenger Pavel Durov siang kemarin, Selasa (01/08/2017), akhirnya datang ke Jakarta untuk membahas soal pemblokiran aplikasi pesan singkat yang ia ciptakan.

Ia melakukan pertemuan tersebut bersama jajaran pejabat Kementerian Komunikasi dan Informatika. Seusai rapat, Beritagar.id mendapat kesempatan untuk melakukan wawancara eksklusif dengan Durov di lantai tujuh kantor Kementerian tersebut.

Walau wawancara ini di luar jadwalnya, Durov tampak tenang dan bersahabat membahas apa yang bakal dilakukan Telegram untuk memenuhi permintaan pemerintah Indonesia. Ia juga tak menolak membicarakan skema bisnis perusahaannya yang nirlaba itu.

Sebelum pertemuan, ia juga sempat makan siang bersama dengan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara di Restoran Bunga Rampai, Menteng, Jakarta Pusat. Keduanya makan nasi hijau, bakwan jagung, gurame goreng, sayur genjer, dan udang sambal.

"Enak sekali," kata pria 32 tahun yang mengaku vegetarian tapi masih makan ikan ini. "Saya sangat menyukainya."

Pemblokiran terhadap akses Telegram sudah berlangsung sejak 14 Juli lalu. Kementerian mengambil langkah blokir menyusul adanya kanal publik yang berkaitan dengan terorisme pada aplikasi tersebut.

Dalam akun Twitternya, Durov sempat memberikan penjelasan soal ini. Ia mengatakan, telah memblokir semua kanal publik yang berhubungan dengan terorisme. Telegram juga sedang membentuk tim moderator khusus yang paham bahasa dan budaya Indonesia.

Telegram merupakan aplikasi pesan singkat dengan enkripsi sangat sulit sehingga tak bisa dipantau oleh aparat pemerintah negara mana pun. Durov bukan tanpa sengaja menciptakan aplikasi ini.

Sosoknya mungkin tak sepopuler Mark Zuckerberg. Tapi Durov pernah membuat media sosial seperti Facebook di negaranya bernama VKontakte pada 2006.

Dari media sosial ini ia berhasil meraih kesuksesan dan kekayaan. Telegram masih bisa bertahan hingga sekarang salah satunya karena suntikan uang yang Durov dapatkan dari VKontakte.

Tapi kepemilikannya di VKontakte tak berlangsung lama. Kremlin berhasil mengambil alih media sosial itu melalui perusahaan Mail.ru. Durov, yang pernah menolak permintaan Rusia atas kontrol VKontakte, kemudian dituduh menabrak polisi lalu lintas di Moskow. Ia membantah tuduhan itu dan mengatakan dirinya tak bisa menyetir mobil.

Durov menolak diperiksa aparat kepolisian. Alhasil, saat ini ia menjadi buron dan kerap berpindah negara. Pakaiannya selalu serba hitam layaknya tokoh fiksi Neo dalam film The Matrix.

Tapi ia tak bersembunyi, apalagi menutup diri. Ketika datang ke kantor Kementerian, tak terlihat muka berwajah Kaukasian selain dirinya. Seolah ia datang sendiri, tanpa tim dan pengawalan pribadi.

Saat kami wawancarai, Durov menolak untuk duduk. Ia lebih nyaman menjawab pertanyaan sambil berdiri. Kepada Sorta Tobing, Bonardo Maulana Wahono, Ivan, dan fotografer Bismo Agung, ia membeberkan hasil pertemuannya dengan pemerintah Indonesia. Berikut petikan wawancaranya:

CEO Telegram, Pavel Durov, saat menerima wawancara Beritagar.id di lantai tujuh Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, pada Selasa (01/08/2017).
CEO Telegram, Pavel Durov, saat menerima wawancara Beritagar.id di lantai tujuh Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, pada Selasa (01/08/2017).
© Bismo Agung /Beritagar.id

Bagaimana hasil pertemuan dengan Pak Menteri barusan?
Kami membicarakan pelbagai cara untuk menghentikan penyebaran propaganda di kanal-kanal publik yang ada di Telegram. Kami mencari cara yang lebih efisien untuk melakukan itu.

Menurut Anda apa penyebab pemblokiran itu?
Sempat ada miskomunikasi (antara pemerintah Indonesia dan Telegram). Sebelumnya, baik Menteri (Rudiantara) maupun Kementerian (Kominfo) telah beberapa kali berupaya menghubungi kami lewat email. Tapi, kami sama sekali tak menerima email-email itu. Itu sebabnya kami dipandang tak menghiraukan permintaan pemerintah Indonesia.

Lantas, komitmen Telegram saat ini?
Kami berkomitmen untuk memberangus segala jenis propaganda terbuka ihwal terorisme dan diskriminasi yang merebak di platform kami. Itu komitmen kami di tiap negara, dan kami merasa itu satu keharusan.

Khususnya untuk Indonesia, negeri yang saya cintai dan telah beberapa kali saya kunjungi. Saya juga mencintai orang-orang Indonesia (dan) budayanya yang beragam. Karenanya, perasaan saya pribadi untuk (Indonesia) begitu kuat. Saya ingin (Telegram dan pemerintah Indonesia) dapat melakukan upaya bersama untuk memblokir berbagai konten negatif.

Kami akan berkomunikasi dengan Pak Menteri lewat Telegram. 

Pavel Durov

Apa langkah Telegram berikutnya?
Kami tengah berupaya untuk dapat berkomunikasi secara langsung (dengan pemerintah Indonesia). Dengan begitu, semoga tak lagi terjadi miskomunikasi. Soalnya, email bukan medium komunikasi terbaik. Secara pribadi, saya kira Telegram bakal jadi pilihan.

Jadi, Anda akan berkomunikasi dengan Menteri via Telegram?
Kami akan berkomunikasi dengan Pak Menteri lewat Telegram. Kami pun berharap tim Kementerian juga akan memakai Telegram. Itu sudah kami diskusikan.

Kini, kami ingin memperbaiki reaksi kami saat mendapatkan laporan mengenai kanal tertentu yang secara terbuka mempromosikan terorisme. Kami ingin dapat menutup kanal semacam itu beberapa jam (setelah dilaporkan), bukan beberapa hari setelahnya. Ini tujuan utama kami.

Ada cara lain untuk menghentikan kanal yang terkait terorisme?
Kami akan mengubah tampilan antarmuka Telegram untuk pengguna ke dalam bahasa Indonesia. Menyebarkan pesan kepada para pengguna di Indonesia yang berisi sejumlah cara untuk melaporkan konten berbahaya di kanal-kanal dan grup-grup terbuka.

Maksud berbahaya di sini, yakni konten yang berkaitan dengan penyebaran terorisme, pornografi anak, dan lainya. Semua itu termasuk sebagai hal-hal terlarang yang termaktub dalam panduan Telegram. Sudah tugas dan tanggung jawab kami untuk berlaku menurut panduan itu. Jadi, upaya (yang saya maksud) bukan hanya untuk Indonesia, tapi berlaku global.

Terkait rencana membentuk tim moderator khusus yang mengerti budaya dan bahasa Indonesia?
Kami membentuk sebuah tim yang beberapa anggotanya berasal dari Indonesia sehingga kami bakal lebih kompeten mengenali konten publik dan melakukan pemblokiran.

Sekarang berapa banyak pengguna Telegram di Indonesia?
Ada beberapa juta. Pertumbuhan kami bagus di Indonesia. Sekitar 20 ribu pengguna dari Indonesia mendaftar tiap hari. Secara global, pemakai baru mencapai 600 ribu orang per hari, termasuk dari Indonesia.

CEO Telegram, Pavel Durov, dan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara (berkemeja putih) saat datang ke Kantor Kementerian di Jalan Merdeka Barat pada Selasa (01/08/2017).
CEO Telegram, Pavel Durov, dan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara (berkemeja putih) saat datang ke Kantor Kementerian di Jalan Merdeka Barat pada Selasa (01/08/2017).
© Bismo Agung /Beritagar.id

Saat ini Telegram bersifat non-profit. Dari mana pendapatan Telegram?
Sekarang sama sekali tak dapat income. Kami rugi. Saya memakai dana pribadi untuk membiayai perusahaan. Tapi, kami tak sepenuhnya non-profit seperti Wikipedia.

Jadi, tujuan mendirikan Telegram?
Mungkin lebih tepat untuk menyebut bahwa tujuan kami bukan mencetak laba. Tapi, rugi juga bukan target kami. Karena itu, kami menyasar model bisnis berkelanjutan yang dapat menutupi ongkos operasional bulanan perusahaan.

Tapi Anda belum tahu model bisnis Telegram yang tepat seperti apa?
Kami belum jelas betul bagaimana cara mendapatkan pendapatan. Ada beberapa cara untuk memungkinkannya. Kami sepertinya akan memilih satu yang bakal kami ungkapkan pada akhir tahun ini.

Bagaimana mengenai privasi para pengguna Telegram?
Kami belum berubah pikiran mengenai masalah privasi ini.

Ada pembicaraan soal kebijakan privasi dengan pihak Kementerian?
Tim Kementerian telah memastikan bahwa kami tak melanggar privasi. Dan sejauh yang saya tahu, undang-undang Indonesia melindungi privasi. Kami tak membicarakan masalah ini, dan kami tak berniat--atau bahkan bisa--mengubahnya.

Mengapa demikian?
Kami punya sistem enkripsi tangguh, kebijakan privasi ketat. Kami sejauh ini belum memberikan satu bit pun data kepada pihak ketiga. Kami harap, kondisi ini akan berlanjut.

Seandainya pemerintah Indonesia meminta data pengguna kepada Telegram, apakah permintaan itu akan dipenuhi?
Kami belum membicarakan hal tersebut, dan kami belum berencana untuk membuat perubahan apa pun.

Apakah ini kali pertama Anda datang ke Jakarta?
Ke Jakarta, iya. Saya sudah pernah datang ke negara ini beberapa kali tapi tidak ke sini. Dan saya harus mengatakan saya sangat terkesan. Saya secara positif kagum dengan kota ini.

Ada rencana untuk kembali ke sini?
Saya belum tahu. Tapi saya sudah pasti akan datang kembali dalam waktu dekat karena sekarang saya tahu kota ini sangat menyenangkan.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.