Chairawan Kadarsyah Nusyirwan, mantan Komandan Grup IV Sandi Yudha Kopassus.
Chairawan Kadarsyah Nusyirwan, mantan Komandan Grup IV Sandi Yudha Kopassus. Salni Setiadi / Beritagar.id
BINCANG

Chairawan: Judul bau mawar Tempo bikin panas

Ia tak terima Tim Mawar yang telah bubar dikaitkan dengan kerusuhan. Ia juga mengaku tak tahu menahu soal rapat perencanaan aksi menolak pemilu.

“Anda ini mau tanya apa?,” dia menatap. Dahinya berkerut. Keheningan pun segera dimulai. Tapi, selang 10 menit, empati mantan Komandan Grup IV Sandi Yudha Kopassus ini sepertinya tumbuh—saat kami kekeh menunggu kesediaannya untuk diwawancara.

“Kok bisa kalian menemukan saya,” ujarnya. Kemudian dia pun tersenyum.

Kami cuma dikasih tahu keberadaan Chairawan di restoran Padang kawasan Pondok Indah oleh pengacaranya. Itu setelah tak henti-hentinya menelepon dan kirim pesan di sepanjang jalan dengan jawaban: “mungkin beliau mau, saya tidak bisa janji”. Begitu kata sang pengacara. Pada akhirnya kami menemukan lokasinya.

Nama Chairawan Kadarsyah Nusyirwan memang sedang disorot. Itu karena Tim Mawar yang berasal dari kesatuan yang dipimpinnya dulu disebut-sebut Majalah Tempo terkait kerusuhan pada 21-22 Mei silam.

“Tim Mawar kan sudah bubar. Kalau ada yang memberitakan, namanya mengada-ada,” katanya saat wawancara dengan Heru Triyono dan Andya Dhyaksa di Restoran Garuda, Pondok Indah, Jakarta Selatan, Rabu siang (12/6/2019).

Merasa namanya disudutkan, Chairawan pun melaporkan Tempo kepada Bareskrim Polri. Namun, laporan itu belum diterima, lantaran Bareskrim menunggu hasil rekomendasi Dewan Pers—yang akan keluar dalam waktu dekat.

Siang itu, kami menghabiskan setengah jam pertama untuk berkenalan. Chairawan punya banyak pertanyaan. Dia ingin tahu Beritagar.id, siapa pembacanya dan siapa kami. Sementara ia bercerita memiliki dua cucu dan punya bisnis tambang nikel.

Saat bahas Tim Mawar, Chairawan sedikit geli. Dia menggelengkan kepala seperti tak percaya atas pemberitaan Tempo. Kakinya juga terus goyang tanpa henti. Entah kenapa. Selama kurang dari sejam kami tukar tanya jawab dengan Chairawan ditemani pengacaranya, Hendriansyah.

Berikut perbincangannya:

Aksi depan Gedung Bawaslu, Jakarta, pada Rabu malam (22/05/2019).
Aksi depan Gedung Bawaslu, Jakarta, pada Rabu malam (22/05/2019). | Bismo Agung /Beritagar.id

Apa yang paling mengganggu Anda dalam pemberitaan Majalah Tempo berjudul “Tim Mawar dan Rusuh Sarinah” itu?
Judul cover dan isinya. Itu seperti framing. Masyarakat seperti langsung terpengaruh dengan judul cover itu.

Opini soal Tim Mawar dari pemberitaan itu kan langsung bertebaran di medsos. Padahal timnya sudah bubar.

Anda menolak jika Tim Mawar diungkit-ungkit kembali?
Justru saya bertanya kenapa diungkit lagi. Kenapa? Kan sudah bubar.

Soalnya eks anggotanya ada yang diduga terlibat kerusuhan 22 Mei itu…
Tapi sejak 1999 tim itu sudah gak ada lagi. Kalau pakai kata mantan atau eks mungkin masih gak apa-apa. Tapi kalau menulisnya tim, apa maksudnya?

Jangan menyebarkan berita yang tidak ada. Apa maksudnya ya? Maka itu saya melaporkan ke Dewan Pers untuk cari jawaban.

Anda memiliki dugaan?
Kan saya bertanya. Kita gak boleh menduga-duga. Saya enggak suka. Saya hanya mau tanya. Kenapa menulisnya seperti itu.

Anda menyatakan keberatan jika Tempo pakai kata Tim Mawar, karena Anda anggap itu menyeret seluruh anggotanya…
Yang saya tanyakan, bagaimana mereka bisa menyatakan sesuatu tanpa kata duga atau tanda tanya di dalam judul. Seperti sudah menuduh.

Sedangkan kasusnya saja belum ditangani polisi. Kecuali, polisi sudah menyatakan sesuatu terkait itu. Ini kan belum.

Ya Tempo kan mengungkap fakta lewat transkrip percakapan dan investigasi yang mereka lakukan?
Dari mana mereka dapat transkripnya? Boleh gak aturannya?

Transkrip itu diperdengarkan dan diperlihatkan oleh lembaga berwenang, kemudian mereka crosscheck kebenarannya, begitu kan?
Boleh apa enggak pertanyaannya? Logikanya, bahan penyelidikan itu gak boleh keluar. Sedangkan Tempo bisa mendapatkannya.

Kita lihat saja nanti bagaimana keputusan Dewan Pers.

Kenapa Bareskrim Polri menolak laporan Anda terkait pemberitaan Tempo itu?
Mereka mengikuti Undang-Undang Pers. Kami ikuti saja. Mereka menunggu proses di Dewan Pers selesai.

Nanti, hasil rekomendasinya akan kami jadikan acuan membuat laporan. Sebelumnya kan, kami memang ke sana (Dewan Pers).

Selasa nanti akan ada pertemuan pihak pelapor dan terlapor. Kami menunggu undangannya.

Materi laporan Anda yang di Dewan Pers dan di Bareskrim sama?
Beda. Kalau Dewan Pers, kita mempersoalkan pemberitaan yang seperti opini. Kalau opini ya tulis di rubrik opini. Termasuk juga soal penulisan judul.

Pers itu tidak boleh menjustifikasi. Kita tidak menyalahkan pers ya. Tapi pers tetap harus ada koridornya.

Jangan berlindung di balik momok jurnalistik dan merugikan orang lain.

Anda merasa nama Anda tercemar akibat pemberitaan Tempo itu?
Sebenarnya saya enggan melapor. Tapi karena ada yang menyebut-nyebut nama saya di medsos, ya akhirnya melapor.

Saya ingin bantah berita yang tidak benar. Karena kalau berita itu tidak disanggah, dan terjadi terus menerus, maka akan seperti kebenaran.

Maksud Anda pemberitaan itu tidak benar?
Bukan itu poinnya. Tapi bagaimana sebuah media memberitakan dan mencantumkan nama-nama sebelum pemeriksaan apapun dari pihak berwenang.

Itu jadi keberatan saya. Bahkan ada kata dalang, padahal orang-orangnya saja belum diperiksa.

Tapi polisi akan menyelidiki temuan Tempo mengenai dugaan keterlibatan mantan anggota Tim Mawar dalam kerusuhan itu, bagaimana?
Nah begini. Polisi jangan mau diajari media. Investigasi kan kewenangan polisi, meski ada juga media yang punya divisi investigasi.

Tapi media tetap ada koridornya. Sumbernya harus jelas. Ini kan bahasanya mengambang semua.

Tidak berpikir untuk meminta hak jawab dan hak koreksi ke redaksinya langsung?
Kenapa kita yang harus berinisiatif ke Tempo. Yang membuat berita kan mereka. Kita tunggu saja nanti hasil rekomendasi Dewan Pers.

Apa yang Anda harapkan dari rekomendasi Dewan Pers?
Ya putuskan seterang-terangnya. Mereka harus mengakui ada pelanggaran. Ini namanya trial by press.

Majalah Tempo kan berupaya berimbang, mereka mencoba untuk menghubungi Anda kan?
Pernah. Ada yang menanyakan ke saya soal Fauka (mantan anggota Tim Mawar). Saya gak mau jawab dan gak mau diwawancara.

Dan jurnalis itu malah bertanya, apakah saya pernah hadir dalam rapat perencanaan aksi itu atau enggak.

Apakah Anda pernah hadir dalam rapat itu?
Enggak pernah. Saya hanya bilang gak mau diwawancara. Pas terbit malah tendensius.

Tendensius di bagian mananya?
Langsung justifikasi. Dari judul sudah menyebut Tim Mawar. Kemudian ada juga judul “Bau Mawar di Jalan Thamrin”. Judul Tempo itu kan bikin panas.

Situasi politik sekarang sedang panas, jadi jangan mem-framing begitu—yang buat suasana makin panas.

Bisa saja kan pakai tanda tanya atau eks atau mantan dalam judul itu.

Pemakaian kata ‘tim’ itu yang Anda persoalkan ya?
Begini. Tim itu bukan cuma satu. Sama seperti sepak bola. Kalau menyebut tim Liverpool, cadangannya pun masuk kan.

Berarti, mereka menyebarkan berita apa?

Kalau ditulis dengan memakai eks atau mantan tim Anda tidak keberatan?
Kita akan terima. Karena kan timnya sudah bubar. Kalau (pemberitaan Tempo) ini kan mengganggu anggota yang lain, yang tidak ada sangkut pautnya.

Seandainya Dewan Pers merekomendasikan Tempo untuk memuat hak jawab dan meminta maaf, Anda puas?
Saya belum bisa bicara itu, karena belum terjadi prosesnya. Kita tunggu saja dulu apa hasilnya.

Setelah laporan Anda ke Bareskrim ditolak, apa next step-nya?
Kita tunggu hasil Dewan Pers dulu. Saya mau tahu dari ahli-ahli pers apakah benar yang dilakukan mereka (Tempo). Biar jelas gitu lho.

"Saya mau tahu dari ahli-ahli pers apakah benar yang dilakukan mereka (Tempo)"

Chairawan

Setelah pensiun dari militer, kenapa Anda masuk ke dunia politik, lalu bergabung dengan Gerindra?
Kawan-kawan saya banyak di sana (Gerindra). Senior-senior dan bekas komandan saya kan di sana. Ya saya masuk sana. Ideologi di partai itu juga cocok dengan saya.

Siapa yang mengajak Anda masuk?
Ya kawan-kawan itu lah. Saya lupa tahun berapa masuk Gerindra, sekitar 2013 atau 2014.

Kalau partai nasionalis, kenapa harus memilih Gerindra, kan banyak partai besar yang lain, PDIP misalnya?
Saya sudah bilang tadi. Banyak kawan di sana. Saya di sana menjabat wakil ketua umum bidang pertahanan.

Anda memiliki ketertarikan di dunia politik sejak lama?
Kita kan belajar politik. Ini arahnya ke mana, partai ini arahnya ke mana, basisnya apa. Itu pasti lah.

Pertanyaan klise. Apa bedanya jadi tentara dan politisi?
Jadi politisi kan bebas berpendapat, tapi kalau tentara kan hanya laksanakan perintah atasan saja.

Oke. Selain aktif di partai, bagaimana sebenarnya kehidupan seorang purnawirawan jenderal seperti Anda?
Mengurus dua cucu, olahraga pagi dan mengurus bisnis tambang nikel. Itu saja.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR