Keterangan Gambar : Christian Hadinata saat diwawancarai Beritagar.id, Rabu, 7 Juni 2017. © Beritagar.id / Andreas

Nama Christian Hadinata melambung setelah ia berhasil menjuarai turnamen All England dua tahun berturut-turut (1972 & 1973).

Meski rambutnya memutih, tetapi tatapan sorot mata yang masih tajam menunjukkan semangatnya yang belum padam. Itulah kesan pertama yang kami rasakan saat bertemu dengan Christian Hadinata di GOR Djarum, Jakarta Pusat pada Rabu pagi, (07/06/2017).

Hari itu, tepat satu pekan sebelum laga BCA Indonesia Open berlangsung, setelah menyelesaikan sesi latihannya, ia menyapa kru Beritagar.id dari salah satu ruangan yang berada di sudut lapangan GOR Djarum. "Mari silakan masuk," sapanya ramah.

Ruang kerjanya tidak besar dan sederhana saja. Hanya satu meja dengan tumpukan koran di sudut ruangan, televisi, kursi yang menjadi singgasananya, kursi tamu, dan lemari pendingin yang ada di dalamnya. Setelah mempersilakan kami masuk, ia kemudian duduk di sebuah kursi santai. Matanya sesekali mencuri pandang ke layar televisi yang sedang menayangkan pertandingan tenis sambil menunggu kami mempersiapkan materi bincang.

Christian Hadinata merupakan salah satu legenda hidup bulu tangkis Indonesia yang namanya masih eksis hingga sekarang. Selama berkarier sebagai pemain, pria asal Purwokerto yang sudah berusia 68 tahun ini berhasil tiga kali menyabet gelar juara All England pada 1972, 1973, dan 1979.

Setelah kurang lebih 15 tahun berkarier sebagai atlet, tahun 1986 Christian memutuskan untuk gantung raket usai meraih gelar juara Piala Dunia dan SEA Games di nomor ganda campuran.

Tak ingin jauh dari dunia olah raga yang telah membesarkan namanya, pada tahun 1988, ia memutuskan masuk ke jajaran tim pelatih. Pria yang akrab disapa Koh Chris ini mengaku bahwa pada awalnya ia sempat meragukan dirinya sendiri apakah ia mampu menjalankan tugas sebagai pelatih.

Sadar akan latar belakangnya yang nirpengalaman sebagai pelatih, meski sudah memiliki nama besar, Christian tak sungkan memulai kariernya sebagai pelatih magang. "Sebelum terjun menjadi pelatih utama, saya magang dulu di PB Djarum selama dua tahun," ujarnya mengenang awal karier sebagai pelatih.

Prestasinya di dunia bulu tangkis tak perlu lagi dipertanyakan. Kegemilangan karier Christian di bulu tangkis membuat beberapa negara mengajukan pinangan kepadanya. Berbagai tawaran untuk melatih dari negara lain sempat datang menghampiri, akan tetapi kesetiaannya kepada Merah Putih tidak goyah. Tawaran yang datang dari luar negeri pun ia tolak.

Merasa memiliki utang budi kepada negara dan klub yang membesarkan namanya, PB Djarum, ia bertekad akan melunasi utang-utang tersebut dengan mengabdi sebagai pelatih dan mencetak pemain-pemain muda berprestasi.

Pria yang kini menjabat sebagai staf ahli Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) ini panjang lebar bercerita tentang perjalanan kariernya, tantangan melatih atlet muda, hingga ajang BCA Indonesia Open yang berlangsung 12-18 Juni lalu dalam Bincang. Berikut hasil wawancara kami.

Christian Hadinata saat diwawancarai Beritagar.id, Rabu, 7 Juni 2017.
Christian Hadinata saat diwawancarai Beritagar.id, Rabu, 7 Juni 2017.
© Andreas /Beritagar.id

Bagaimana awalnya bisa terjun ke dunia bulu tangkis dan menjadi atlet?
Awalnya saya melihat para senior saya yang sudah berprestasi di tingkat dunia, seperti Tan Joe Hok, Eddy Yusuf, dan Ferry Sonneville. Jadi saya berpikir bahwa Indonesia lewat bulu tangkis kelihatannya bisa bersaing dengan atlet-atlet di level dunia. Itu menjadi motivasi awal saya untuk lebih menekuni bulu tangkis.

Momen paling berkesan bagi Anda selama menjadi pemain?
Tahun 1972 saat pertama kali saya terjun di kejuaraan internasional. Itu pertama kali saya mengikuti kejuaraan sekelas All England. Saat itu ganda putra Indonesia masih dipandang sebelah mata oleh lawan-lawan kita. Saya bersama Ade Chandra mewakili Indonesia di nomor ganda putra. Keikutsertaan dalam ajang ini menjadi berkesan buat saya karena selain baru pertama kali ikut, saya pun bisa langsung keluar sebagai juara bersama Ade.

Apakah saat itu ditargetkan menjadi juara?
Sebetulnya tidak ya. Kita saat itu masih jarang bertanding dan langsung terjun ke turnamen seberat All England. Saya dan Ade chandra tahu diri juga. Tetapi kita punya motivasi, apalagi mereka belum tahu permainan kita seperti apa, jadi kita bermain semangat saja saat itu.

Lawan paling tangguh yang pernah Anda hadapi?
Paling tangguh justru dari teman sendiri, yaitu pasangan Johan Wahyudi dan Tjun Tjun. Waktu itu Indonesia hanya punya dua pasang ganda putra, saya dan Ade Chandra, satu pasang lagi Johan/Tjun Tjun. Setiap hari latihan bersama hanya empat orang ini saja, jadi sudah saling mengenal permainan masing-masing.

Sudah berapa lama Anda menjadi pelatih?
Saya berhenti dari pertandingan internasional pada 1988. Setelah itu baru saya belajar untuk meniti karier sebagai pelatih di PB Djarum, khususnya di sektor ganda putra. Pada saat itu, PB Djarum lebih fokus ke sektor tunggal putra dan belum ada ganda putra. Maka setelah pensiun saya meminta kepada pimpinan untuk membentuk sektor ganda. Sejak 1988 sektor ganda putra mulai berdiri dan sampai saat ini telah berkembang menjadi ganda putri dan ganda campuran juga.

Tak banyak yang bisa sukses sebagai pemain dan pelatih, apa resep Anda?
Sejujurnya waktu itu saya juga ragu-ragu. Setelah cukup berhasil menjadi atlet apakah kalau menjadi pelatih bisa melahirkan juara-juara dunia? Oleh karena itu, pada 1988 itu saya tidak langsung berani menjadi pelatih nasional. Saya meminta waktu kepada pimpinan PB Djarum untuk magang selama dua tahun sebelum terjun menjadi pelatih ganda putra. Sedangkan kalau bicara kesuksesan ya datangnya karena belajar dari para senior yang sudah lebih berpengalaman.

Apakah pernah ada tawaran dari negara lain yang datang?
Kalau tawaran pasti ada ya. Saya sih hanya berpikir bahwa sepanjang karier sebagai pemain, segala kebutuhan saya dibiayai oleh organisasi PBSI dan juga oleh negara. Jadi ya bisa dikatakan saya ini punya "utang".

Setelah saya tidak menjadi atlet maka ini kesempatan saya untuk membayar utang tersebut, mengembalikan apa yang sudah diberikan oleh organisasi dan negara. Saya berpikir apa yang bisa saya sumbangkan untuk negara? Tenaga, pikiran, waktu, dan mencoba untuk meneruskan tradisi yang bagus di bulu tangkis Indonesia. Jadi ya saya tidak mau lah ke mana-mana.

Atlet muda sekarang dianggap kurang termotivasi sehingga minim prestasi, pendapat Anda?
Sebetulnya sih tidak semua seperti itu. Umumnya dipandang seperti itu karena atlet-atlet muda sekarang mudah puas. Apalagi dengan fasilitas seperti sekarang yang luar biasa, ada bonus, hadiah, penghargaan, kadang-kadang itu bisa menjadi sisi positif dan bisa menjadi sisi negatif. Artinya kalau si atlet mudah puas, ya sudah selesai, merasa cukup, dan kehilangan motivasi.

Tetapi sebetulnya tidak bisa disamaratakan, masih ada atlet-atlet yang meski sudah menjadi juara hebat, mereka masih memiliki motiviasi yang besar. Seperti Liliyana Natsir, meskipun sudah juara di mana-mana tetapi motivasi bertandingnya masih sangat luar biasa. Lalu, saya lihat ganda putra kita yang sangat menjanjikan, Kevin dan Marcus, saya melihat mereka itu tidak mudah puas. Saya berharap makin banyak atlet-atlet muda yang meniru mereka.

Setelah saya tidak menjadi atlet maka ini kesempatan saya untuk membayar utang tersebut, mengembalikan apa yang sudah diberikan oleh organisasi dan negara.

Christian Hadinata

Apa tantangan terberat saat melatih para atlet muda Indonesia?
Paling berat itu kalau di sektor ganda ya kalau terjadi kekalahan, itulah momen paling berat. Pasti terjadi konflik di antara pasangan tersebut. Secara langsung maupun tidak langsung terkadang saling menyalahkan. Nah, inilah momen-momen yang menyulitkan bagi pelatih. Kalau lagi menang semua lupa, semua bagus. Tetapi kalau kalah, kencederungannya saling menyalahkan.

Atlet muda sekarang kerap tampil inkonsisten. Sebagai pelatih, bagaimana Anda menyiasatinya?
Paling penting sebagai pelatih kita harus jeli menyusun program pengirimannya. Kalau dulu kenapa sepertinya atlet-atlet kita lebih konsisten, karena dulu pertandingannya tidak banyak. Berbeda dengan zaman sekarang, hampir setiap bulan ada pertandingan atau kejuaraan.

Nah, menuntut atlet untuk juara terus di setiap turnamen di era sekarang memang lebih sulit. Karena begitu banyak pertandingan, pelatih harus pandai-pandai menyusun program latihannya supaya para atletnya ini dalam kondisi yang bugar untuk mencapai performa yang baik di ajang yang memang bergengsi.

Christian Hadinata saat diwawancarai Beritagar.id, Rabu, 7 Juni 2017.
Christian Hadinata saat diwawancarai Beritagar.id, Rabu, 7 Juni 2017.
© Andreas /Beritagar.id

Apa yang perlu dibenahi agar nama Indonesia bangkit kembali?
Paling penting menurut saya regenerasi kita harus cepat. Sejujurnya saat ini kita sudah ketinggalan start dibanding dengan negara lain, seperti Korea, Tiongkok, dan Thailand. Kita lihat di Piala Sudirman kemarin mereka sudah berani menurunkan pemain muda.

Pemain-pemain lapis kedua kita sepertinya masih kalah besaing dengan mereka. Kedua, pelatih harus pintar memotivasi atletnya agar tampil lebih konsisten, lebih ngotot. Itu yang seperti saya bilang tadi supaya atlet tidak mudah cepat puas dengan apa yang sudah dicapai.

Bagaimana pendapat Anda tentang hasil mengecewakan di Piala Sudirman 2017?
Ya memang memprihatinkan bahwa di grup Denmark, India, dan Indonesia, kita justru menjadi nomor tiga di grup. Kita targetkan paling tidak waktu itu runner-up grup atau bahkan menjadi juara grup. Saya pikir sih titik yang paling menentukan sebetulnya ketika lawan India. Kalau lawan India kita bisa menang, minimal kita ada di posisi dua karena India sudah kalah dari Denmark.

Saya tidak tahu persis kondisi atau keadaan ketika menyusun tim di Australia kemarin itu, kenyataannya pemain kita yang turun ya itulah, jadi kalah dari India. Kalahnya juga sangat mencolok 4-1, yang kita prediksi bisa menang 4-1 atau sekurang-kurangnya 3-2. Ini menjadi pelajaran bahwa pada turnamen beregu kita harus jeli mengukur kekuatan sendiri dan juga lawan.

Prestasi membanggakan justru hadir di Thailand Open dari para pemain yang baru diduetkan, apakah sekadar keberuntungan?
Berry Angraini dan Hardianto sudah dipersiapkan cukup lama dan sudah sering mengikuti turnamen super series. Kalau Greysia Polii dan Apriani Rahayu memang baru dipasangkan kemarin di Piala Sudirman. Kita lihat kedua pemain ini memang bagus, terutama Apriani, pemain muda yang baru pertama kali main tetapi tampil sangat bagus. Semoga ini bisa menjadi pemicu bagi pemain lain agar bisa berprestasi, minimal sejajar dengan ganda putra dan ganda campuran.

Sepanjang ingatan Anda berkarier di dunia bulutangkis, seperti apa perjalanan Indonesia di ajang Indonesia Open sejak tahun 1982 hingga saat ini?
Kalau dari sisi pencapaian prestasi turun ya. Belakangan juga kita minim gelar. Dulu, Taufik Hidayat bisa sampai enam kali itu luar biasa. Ardy B. Wiranata dan Susi Susanti juga. Jadi, kalau dibandingkan sekarang ya harus diakui kita memang turun prestasinya.

Seperti apa posisi dan gengsi BCA Indonesia Open dibandingkan dengan turnamen sejenis dari negara lain?
BCA Indonesia Open menjadi luar biasa karena dikemas dengan baik atau bisa dibilang tidak pernah terjadi di turnamen-turnamen lainnya, bahkan All England dan turnamen super series lainnya. Kemasannya berbeda sekali dan sudah mendapatkan pujian langsung dari BWF.

Para pemain dan pelatih dari luar negeri sangat puas karena fasilitas BCA Indonesia Open sangat baik. Pemain dan pelatih dari luar tidak perlu repot mencari makanan, fasilitas hotel juga dekat, dan tentunya mereka mendapat pendukung fasilitas lain yang belum pernah mereka rasakan di turnamen sejenis. Akan sangat disayangkan kalau turnamen yang sudah dikemas secara luar biasa tersebut tidak dibarengi dengan prestasi juara dari para atlet Indonesia.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.