Keterangan Gambar : Sesi foto dengan Cristian Gonzales (El Loco), usai wawancara dengan Beritagar.id di Aula Sekolah Menengah Kejuruan Muhammadiyah 7 Gondanglegi, Malang, Jawa Timur, Rabu (15/3/2017). © Kontributor Beritagar / Aman Rochman

Gonzales tak sepakat dengan regulasi pembatasan usia dan mengaku bakal pensiun kalau dirinya sudah tidak bisa berlari lagi

Cristian Gonzales tak lagi muda. Usianya genap 41 pada 30 Agustus mendatang. Namun hal itu tak memengaruhi penampilannya. Bukti sahih, El Loco-- alias Si Gila dalam bahasa Spanyol--mampu jadi top skor di Piala Presiden 2017 dengan 11 gol.

Ketajamannya mematahkan anggapan bahwa pemain gaek tak layak jadi andalan, apalagi di lini depan. Sebelum dia, ada pemain legendaris Argentina, Mario Kempes, yang tetap produktif di Pelita Jaya pada usia 45.

Nama lain penyerang berusia kepala empat yang tetap produktif ketika main di Indonesia adalah Keith Kayamba Gumbs dan Roger Milla.

Gonzales sendiri telah empat kali menyabet gelar pencetak gol terbanyak Liga Indonesia dan total jenderal telah mencetak 279 gol--termasuk di Piala Presiden 2017--dalam kariernya.

"Saya pensiun jika sudah tak bisa lari lagi, bukan karena orang lain yang bicara," ujar pria kelahiran Montevideo, Uruguay itu, menanggapi regulasi pembatasan usia yang bakal diterapkan Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI).

Wacana pembatasan usia pemain memang menuai pro dan kontra. Rencananya PSSI mewajibkan tiap klub peserta Liga I 2017 hanya boleh diperkuat dua pemain berusia di atas 35.

PSSI juga minta tiap klub memiliki minimal lima talenta muda di bawah 23 tahun dan tiga dari mereka itu harus diturunkan di setiap pertandingan.

Saat ini regulasi itu belum final. PSSI masih menggodoknya. Tapi Gonzales berharap PSSI berpikir dua kali untuk menerapkannya di kompetisi profesional. "Semoga mereka (PSSI) mau mengkaji ulang (regulasi)," kata Gonzales, yang didampingi istrinya Eva Nurida Siregar saat wawancara dengan Beritagar.id dalam dua kesempatan berbeda.

Kesempatan wawancara pertama dilakukan Eko Widianto, kontributor Beritagar.id, pada Selasa (14/3/2017) dan Rabu (15/3/2017) di SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi, Malang. Kemudian wawancara kedua melalui sambungan telepon pada Senin (20/3/2017) dengan Heru Triyono--sebagai tambahan.

Kepada kami, Gonzales dan juga Eva bergantian bicara soal konsistensi pemain di usia senja, kemudian harapan mereka terhadap regulasi baru PSSI dan di balik proses naturalisasi sang predator pada 2010. Berikut petikan wawancaranya:

Cristian Gonzales (kanan) berusaha melewati hadangan pesepakbola Semen Padang, Novrianto (kiri) pada semifinal Piala Presiden leg kedua di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Minggu (5/3/2017).
Cristian Gonzales (kanan) berusaha melewati hadangan pesepakbola Semen Padang, Novrianto (kiri) pada semifinal Piala Presiden leg kedua di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Minggu (5/3/2017).
© Ari Bowo Sucipto /Antara Foto

Selamat telah menjadi top skor dalam Piala Presiden 2017?
El Loco
: Alhamdulillah saya bersyukur. Apalagi Arema bisa menang dan jadi juara, meski beberapa kali saya dipojokkan dan dibilang tua, ya enggak apa-apa.

Di usia 40 Anda masih konsisten dan bisa terus bermain di level tertinggi Indonesia, apa formulanya?
El Loco
: Semua tergantung pemain jaga kondisi. Kalau main sepak bola ya harus disiplin. Selain itu keluarga saya selalu dukung untuk tetap bermain bagus. Hal itu sangat penting dan selalu jadi motivasi buat saya.

Kira-kira sampai umur berapa Anda akan bermain?
El Loco
: Penampilan saya masih bagus. Saya belum bisa menjawabnya. Saya selalu ingat dengan saran pemain senior saya dulu di Uruguay: kalau mau jadi pemain harus selalu giat berlatih. Jika malas ya berhenti saja.

Tapi bagaimana pandangan Anda dengan regulasi pembatasan usia yang akan diterapkan PSSI--notabene umur Anda yang sudah tak muda lagi?
El Loco
: Ikuti saja. Tapi pemain senior harus tetap ada di sebuah klub. Seperti kita di Arema, ada kombinasi pemain muda dan senior. Campur. Semoga mereka mau mengkaji ulang (regulasinya).

Dalam regulasi itu PSSI hanya mengizinkan klub memakai dua pemain berusia di atas 35...
El Loco
: Kalau bagi saya pemain akan berhenti sendiri jika dia sudah enggak mampu bermain ya. Saya akan pensiun jika sudah tidak bisa berlari, bukan karena orang lain yang bicara.

Eva: Meski umur tua tapi dia (Gonzales) kan berprestasi. Kemampuannya enggak kalah dengan yang muda, termasuk gantengnya he-he. Saya cukup tersinggung ketika isu ini jadi bahan ejekan tim lawan. Tersinggung banget.

Anda tidak dilibatkan atau diajak bicara oleh PSSI dalam penyusunan regulasi pembatasan usia itu?
Eva
: Akan dilibatkan. Pak Edy (Ketua Umum PSSI) akan ajak bicara Cristian dalam waktu dekat. Semoga saja ada solusi. Karena efek dari rencana regulasi ini amat berpengaruh negatif ke Cristian dan keluarga. Karier suami saya jadi tidak tenang.

Ada rencana berkarier jadi pelatih?
El Loco:
Belum ada. Saya masih mau fokus bermain saja dulu.

Jadi belum memikirkan untuk mengambil lisensi kepelatihan?
EL Loco
: Semua tergantung Tuhan yang memberi kemampuan saya bermain bola. Saya rasa semua ada saatnya, tapi tidak sekarang (untuk jadi pelatih).

Sebenarnya ada rasa was-was tidak jika regulasi itu benar-benar diterapkan PSSI nantinya?
Eva
: Sejujurnya rencana penerapan aturan itu membebani kami banget. Saya bahkan jadi tidak bisa tidur belakangan. Jangan pikir jadi istri pemain bola di Indonesia itu enak.

Saya yang melihat perjuangan Cristian selama ini. Saya yang melihat totalitasnya kepada klub dan Indonesia. Alhamdulillah banyak yang mendukung dia untuk tetap berkarier karena dianggap masih bagus.

Apa yang membuat Anda awet berkarier di sepak bola Indonesia?
El Loco
: Bicara main bola, kemarin dan hari ini juga besok-besok, semangat saya selalu sama. Saya punya semangat seperti anak muda dan motivasi besar untuk tetap jadi yang terbaik.

Eva: Jangan pertanyakan semangat dia (Gonzales) di sepak bola. Ketika tulang rusuknya patah oleh Ledi Utomo (pemain Persiba), suami saya itu diprediksi baru pulih 6-12 bulan. Tapi baru sebulan, Cristian sudah sembuh--karena gigih memulihkan diri. Bahkan susu tulang yang sebenarnya dia tidak suka pun diminumnya. Dia cuma ingin main bola dalam hidupnya. Titik.

Bagaimana dengan pemain lain, apakah suara penolakan terhadap regulasi baru ini juga disuarakan oleh mereka?
El Loco
: Yang jelas dukungan terhadap saya banyak sekali. Karena di negara manapun enggak ada itu usia pemain dibatasi. Saya berharap jangan sampai aturan melanggar hak asasi pesepakbola untuk bermain. Saya rasa pemain boleh bermain sampai usia berapa saja, asalkan masih punya kemampuan yang baik.

Menurut Anda regulasi ini efektif untuk membangun pondasi timnas yang kuat?
Eva
: Saya enggak tahu. Tapi pembatasan usia sama saja membatasi karier pemain. Kalau sudah tidak mampu, pemain akan stop sendiri kok.

Sesi foto dengan Cristian Gonzales (El Loco), usai wawancara dengan Beritagar.id di Aula Sekolah Menengah Kejuruan Muhammadiyah 7 Gondanglegi, Malang, Jawa Timur, Rabu (15/3/2017).
Sesi foto dengan Cristian Gonzales (El Loco), usai wawancara dengan Beritagar.id di Aula Sekolah Menengah Kejuruan Muhammadiyah 7 Gondanglegi, Malang, Jawa Timur, Rabu (15/3/2017).
© Aman Rochman /Kontributor Beritagar

Anda dikenal dengan sikap temperamen di atas lapangan, apakah karena itu dijuluki El Loco alias Si Gila?
Eva
: Biar saya yang jelaskan. Julukan itu muncul ketika Cristian bermain di PSM Makassar. Gila di sini bukan berarti emosional, tapi dia benar-benar total saat bermain. El Loco sendiri kalau di Uruguay itu seperti panggilan Bung di Indonesia. Agak berbeda artinya dengan si gila he-he. Tapi dia tidak terlalu masalah dengan julukan itu, karena dia amat cinta Indonesia.

Sebuah keputusan berat bagi Anda ketika jadi pemain naturalisasi pertama di era sepak bola modern Indonesia?
El Loco
: Bukan berat. Itu dari dalam diri dan merupakan keputusan saya sendiri.

Eva: Cristian begitu cinta Indonesia. Dari mulai makanan sampai musiknya dia suka. Lagi pula dia anggap Indonesia itu lebih aman, karena adiknya dirampok dan dibunuh di tengah jalan dengan senjata api di Uruguay. Bayangkan.

Cita-cita Anda itu memang ingin bermain di Indonesia sedari awal berkarier? Kenapa tidak pilih Eropa...
Eva
: Cristian itu mimpinya ingin jadi yang terbaik. Jadi tidak harus bermain di Eropa. Di Indonesia dia menunjukkan kalau dia bisa jadi yang terbaik. Yang penting bagi dia adalah jadi pemain bola yang bagus dan bisa berprestasi.

Beberapa kali dia diundang Pemerintah Uruguay sebagai pembicara mengenai kesuksesannya. Tapi dia kadang enggak mau, karena malas mengumbar kesuksesannya di sini.

Bagaimana ceritanya Anda yang pernah bermain di Timnas Uruguay U-20 kemudian malah bermain di Indonesia?
Eva
: Ya dia tahu Indonesia dari saya awalnya. Saat berkenalan saya dikiranya orang Chili karena dandanan dan gaya saya kan latin sekali. Kami bertemu dan memiliki hubungan di sana (Chili), kemudian menikah.

Pada 2002 kami menerima sebuah tawaran dari agen sepak bola untuk bermain di Indonesia. Setelah saya gambarkan bagaimana Indonesia, Cristian berminat, lalu bergabung dengan PSM Makassar pada 2003. Selanjutnya dia serius ingin terus berkarier di negara ini, bahkan sampai membela Timnas.

Masih berharap bisa memperkuat tim nasional?
El Loco
: Saya hanya fokus berlatih saja dan bermain sebaik-baiknya untuk klub yang saya bela. Tidak berpikir bagaimana-bagaimana.

Pandangan Anda terhadap Luis Milla--pelatih Timnas yang baru?
Eva
: Sebenarnya Milla ingin bertemu saya dan Cristian ketika selesai final Piala Presiden. Saya dapat info itu dari salah seseorang yang saya kenal di Timnas.

Tapi saya tidak sempat menemuinya karena sudah dihadang media lebih dulu. Saya enggak enak sama media karena sudah menunggu sejak lama. Sayangnya Milla keburu pulang, karena sudah malam saat itu. Ya, kami tidak berharap banyak. Yang penting Cristian bisa terus berprestasi dan bermain baik.

Apakah Anda akan mendorong anak-anak menjadi pemain sepak bola profesional juga?
El Loco
: Anak saya si Michael itu ikut Arema U-21, sementara Fernando juga ikut akademi Arema. Kalau besar tentu terserah mereka mau jadi apa. Asalkan sekolahnya juga beres.

Sepertinya sudah dekat sekali dengan Arema, tidak mempertimbangkan tawaran pindah ke klub lain?
Eva
: Pokoknya kalau Cristian itu semuanya terserah saya. Mau pergi atau tidak ya terserah saya. Tapi kita memang sudah jatuh hati dengan Malang. Mudah-mudahan bisa membeli rumah di sini (Malang). Itu pun kalau ada yang mau bantu ha-ha.

Anda merasakan hubungan yang mendalam dengan klub dan fan Arema?
Eva
: Saya dekat dengan pendukung. Di sini merakyat. Saya ke Ngantang (sebuah kecamatan di Malang), saya ke korwil Arema dan di mana pun saya di Malang, ya terasa enjoy banget.

Sudah ada persiapan yang dilakukan untuk menghadapi Liga 1?
El Loco
: Saya nggak tahu, mau liburan sebentar. Nanti bicara dengan manajer.

Misalnya persiapan mengganti gaya rambut di liga yang baru he-he...
Eva
: Ha-ha. Itu saya yang sering kasih saran. Terakhir itu gaya rambut Cristian adalah dengan warna emas. Simbolnya adalah agar prestasinya terus ditorehkan dalam tinta emas. Terbukti kan jadi top skor kemarin.

Btw benarkah hadiah jadi top skor digunakan untuk umrah?
Eva
: Kami tidak mau bicara itu dulu. Yang jelas sekarang sedang syuting di Bali. Alhamdulillah semua ada rejekinya masing-masing. Doakan saja biar Cristian bisa berprestasi terus.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.