Dandhy Dwi Laksono ketika ditemui di kantor WatchdoC, kawasan Pondok Gede, Bekasi, Kamis pagi (18/4/2019).
Dandhy Dwi Laksono ketika ditemui di kantor WatchdoC, kawasan Pondok Gede, Bekasi, Kamis pagi (18/4/2019). Wisnu Agung / Beritagar.id
BINCANG

Dandhy Laksono: So what kalau Sexy Killers bikin golput

Ia tak menyangka ada reaksi kasar dari kelompok tertentu, namun tak peduli karena faktanya banyak yang mengapresiasi filmnya itu.

“Buktikan kalau ada intervensi uang di film Sexy Killers,” kata Dandhy menjawab sentimen sebagian netizen terhadapnya. Jurnalis ini merasa ada pihak tertentu yang menyerangnya ketika film tentang oligarki politik dan batu bara tersebut meledak.

“Aktor-aktor itu adalah mesin politik yang sudah jadi tugasnya untuk menyerang saya,” tutur pendiri rumah produksi film dokumenter WatchdoC ini menambahkan.

Dandhy Dwi Laksono merupakan sosok di balik pembuatan Sexy Killers. Sebelum menggarap film itu, WatchdoC yang ia dirikan telah memproduksi 125 episode dokumenter dan 540 ficer televisi. Empat puluh video di antaranya dapat penghargaan.

Sexy Killers merupakan satu dari 12 film Dandhy yang diambil dari perjalanannya dalam Ekspedisi Indonesia Biru, yang dilakukan sepanjang 2015. Jarak perjalanan yang ditempuh Dandhy hampir 20 ribu kilo meter—dengan naik sepeda motor bersama temannya: Suparta Arz.

“Perjalanan itu tanpa dukungan sponsor. Semua dari tabungan,” kata Dandhy saat wawancara dengan Heru Triyono dan fotografer Wisnu Agung di kantor WatchdoC, kawasan Pondok Gede, Bekasi, Kamis pagi (18/4/2019).

Semenjak film itu bikin gempar, nama Dandhy jadi sasaran empuk kritikan sebagian warganet. Serangannya macam-macam. Ada yang menuduhnya melakukan propaganda golput, sampai dituduh didanai kubu tertentu. Tapi ia tak peduli, karena banyak juga yang memuji film itu.

Sebelum ini, Dandhy juga pernah tersangkut kontroversi. Ia pernah dilaporkan polisi karena membandingkan Megawati Soekarno Putri dengan pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi.

Pagi itu, ia berkali- kali ia mengelap wajahnya yang berkeringat. Bekasi memang sedang panas. Selama satu jam, pertanyaan tentang proses kreatif Sexy Killers hingga propaganda golput dijawab Dandhy tanpa bikin alisnya naik.

Berikut perbincangannya:

Dandhy Dwi Laksono ketika ditemui di kantor WatchdoC, kawasan Pondok Gede, Bekasi, Kamis pagi (18/4/2019).
Dandhy Dwi Laksono ketika ditemui di kantor WatchdoC, kawasan Pondok Gede, Bekasi, Kamis pagi (18/4/2019). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Ada pertanyaan dalam benak publik. Kenapa Sexy Killers dirilis persis sebelum pencoblosan?
Niatnya ingin menginterupsi perdebatan yang sudah enggak substansial lagi. Orang mulai ngomong banyak-banyakan mana isi GBK. Itu kan gimik.

Awalnya sih ada perdebatan substansial tentang infrastruktur dan ketergantungan ekonomi asing. Tapi jelang pencoblosan, isinya hanya berantem.

Injury time sih ya, pas eskalasi politik makin panas…
Justru kami pilih momen di mana orang-orang lagi berantem. Kami tahu bulan April gak relevan bicara gagasan.

Mereka itu sudah siapkan gimik untuk mobilisasi massa, propaganda, saling serang, ya kayak battleground. Tapi adanya film kami, jadi berubah kan.

Menurut Anda kehadiran Sexy Killers mampu menciptakan diskursus politik yang berbeda jelang pencoblosan kemarin itu?
Di situ film ini masuk. Sehingga mereka balik lagi berdebat yang substansial. Para gerombolan itu, yang sedang bergimik, seperti mengerahkan semua sumber daya untuk jawab film ini.

Artinya film ini sesuai ekspektasi Anda?
Ada yang melebihi dan di bawah ekspektasi. Yang melebihi jelas jumlah penonton dan persebarannya ya. Itu yang enggak terpikirkan.

Sudah tiga film dokumenter kami tembus 1 juta penonton. Tapi, dari rangkaian Ekspedisi Indonesia Biru hanya satu yang tembus 1 juta. Itu pun butuh waktu satu tahun.

*Ekspedisi Indonesia Biru adalah petualangan keliling Indonesia yang dimulai 1 Januari 2015.

Tapi ada pihak yang menganggap isi film tersebut gak berimbang alias enggak cover both side?
Ini yang saya anggap under ekspektasi. Kami gak menyangka akan sekasar itu film ini diserang. Bukan malah masuk ke substansi diskusinya.

Ya saya ini seorang jurnalis, tentu tahu soal keberimbangan.

Jadi, itu (yang menyerang) adalah mesin politik. Bukan reaksi organik. Kalau organik itu langsung komentar di Youtube atau masuk ke substansinya.

Anda sudah ada langkah antisipasi kalau-kalau film ini diserang?
Sebenarnya sudah antisipasi. Kita mapping. Mereka itu aktor yang sama ketika muncul film Samin Vs. Semen, Kala Benoa maupun Rayuan Pulau Palsu. Orang-orangnya (yang menyerang) sama.

Siapa mereka?
Mereka ini orang-orang yang dulu ada di lingkaran Ahok dan di Jokowi. Jadi semakin meyakinkan kami bahwa sebesar itu jaringannya.

Soalnya saat film ini diduga memprovokasi orang untuk Golput, Anda terang-terangan menjawab itu adalah bonus. Mungkin reaksinya jadi politis...
Iya kan, so what kalau film ini bikin golput. Kalau keberatan dengan premis itu ya bikin saja film sendiri yang mencegah golput.

Masa gara-gara film satu setengah jam di injury time, mereka jadi panik.

Panik karena film ini seperti mengajak golput dan menggerus suara paslon tertentu kan?
Mereka itu sudah melakukan kampanye panjang. Bergerak dengan mesin politik, mesin propaganda, media, Polsek, Koramil atau Kodim.

Jadi, apa yang ditakutkan? Mungkin mereka paranoia dan akhirnya menghantam film ini. Tapi makin dihantam, ya seperti buku, film ini malah makin dicari.

Sedari awal Sexy Killers memang ingin memotret oligarki politik dengan bisnis tambang batu bara?
Film ini kan bagian dari Ekspedisi Indonesia Biru. Tidak hanya batu bara, dari 12 film yang berasal dari ekspedisi itu, aku bicara sawit, reklamasi, kabut asap dan banyak isu lagi.

Kami berangkat liputan tahun 2015, terus ceritanya kami kembangkan.

Isu batu bara berkembang dalam proses ekspedisi itu. Misalnya, ditemukan kasus kematian karena lubang tambang dan gangguan kesehatan sebagai dampak PLTU.

Kemudian teman-teman di Karimun Jawa juga bicarakan soal koral yang hancur. Itu juga kami angkat.

Semua materi dikumpulkan, sampai kemudian kita melihat ada konflik kepentingan dari hulu sampai hilir. Itulah yang kemudian jadi infografis.

Sebelum tayang, film ini sudah berapa kali revisi atau rombak?
Kita belajar dari film-film sebelumnya. Kita ingin tampilan lebih baik. Namanya proses kreatif. Jujur saja film ini awalnya dua jam lebih. Terus dipotong jadi 1 jam 32 menit.

Sesi terakhir, setelah grafisnya dipadetin, jadi sekitar 88 menit. Infografis itu malah diputuskan dimuat 36 jam sebelum rilis.

Maksudnya durasi film tersebut dipersingkat oleh keberadaan infografis itu?
Tadinya enggak ada grafis. Narasinya dengan insert video gambar orang. Footage kita sudah siapkan semua. Kita sudah pilih-pilih foto.

Kami bereksperimen dan kayaknya kok orang sudah capek nonton gambar dari tadi. Akhirnya dibuat infografis.

...dan ternyata infografis soal keterlibatan para elite yang detail itu "dimakan" oleh penonton ya?
Awalnya saya malah ingin seperti film-filmnya Michael Francis Moore. Misalnya, ketika Moore menampilkan anggota parlemen yang di support industry farmasi.

Grafisnya tiap orang dikasih tanda atau simbol-- untuk menunjukkan orang itu dapat sumbangan dari siapa saja. Menarik itu.

Secara visual akan lebih nonjok, karena muka orang-orang itu akan diperlihatkan dengan relasi bisnisnya.

Kenapa enggak jadi bikin begitu, ada kekhawatiran?
Dengan berbagai pertimbangan dan segala macam risiko dispin, ya bagian itu tidak ditayangkan.

Dandhy Dwi Laksono ketika ditemui di kantor WatchdoC, kawasan Pondok Gede, Bekasi, Kamis pagi (18/4/2019).
Dandhy Dwi Laksono ketika ditemui di kantor WatchdoC, kawasan Pondok Gede, Bekasi, Kamis pagi (18/4/2019). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Kenapa judulnya Sexy Killers. Apakah itu trik agar banyak ditonton orang?
Saya pikir semua orang menangkap dengan mudah mengapa judulnya itu. Ya karena batu bara murah, mudah, masif, terjangkau, bikin kaya dan bisa jadi uang politik yang cepat.

Jadi, secara bisnis, batu bara ini seksi. Sesimpel itu saja. Apalagi sahamnya bisa diperjualbelikan, bahkan secara syariah.

Ada juga pihak yang menganggap adegan pembuka film ini terlalu vulgar. Memang itu untuk menarik perhatian penonton ya?
Biasa saja. Buktinya film ini juga diputar di pesantren-pesantren. Kami taruh di awal supaya bisa di-skip kalau di sekolah.

Kalau di kampung-kampung yang ada anak kecilnya, kami sarankan skip saja di 30 detik awal.

Melihat respons masyarakat atas film ini, Anda merasa pesan utama film itu sudah sampai?
Aku lihat ada tiga tafsir ya. Kelompok tafsir pertama adalah ngapain kita konflik di bawah kalau semua yang di atas saling terhubung. Ini bijak.

Kelompok tafsir kedua adalah membahas bagaimana mereka memastikan kebijakan energi itu tidak mengganggu kepentingan bisnis elite. Ini cerdas.

Kelompok ketiga menafsirkan film ini dengan mengatakan, kok figur-figur ini saja yang disebut dalam film. Tendensius. Nah julukan untuk kelompok itu saya serahkan ke Rocky Gerung.

Yang paling banyak kelompok mana?
Saya enggak tahu. Enggak mungkin saya kuantifikasi. Tapi yang paling banyak dan terlihat adalah yang ketiga, karena itu yang paling berisik ya.

Dari status-status medsos penonton muda, premis oligarki politik yang dijabarkan di film itu sepertinya masuk ke kepala mereka ya...
Ini yang di luar ekspetasi. Bahkan bahasan itu masuk di grup Whatsapps keluarga. Enggak penting itu batu bara, kalian bisa ganti dengan industri plastik, sawit atau celana dalam.

Ketika saya lihat per hari ini ada 14 juta penonton di Youtube, ini amazing juga.

Apa lagi genrenya film dokumenter dengan durasi panjang…
Semua hukum Youtube sebenarnya kami langgar di film itu, kecuali judul ya. Judul pun sebenarnya jadi kerugian karena Youtube tidak auto mendeteksi karena kata itu di-banned.

Jadi penyebarannya benar-benar personal. Dari gadget ke gadget. Tidak memanfaatkan hype di Youtube dan tidak digenerate algoritma, benar-benar digenerate by people. Ini mengharukan.

Oke. Tapi kalau ada pertanyaan siapa yang berada di belakang film ini, termasuk penyandang dananya, Anda akan menjawab apa?
Kalau teman-teman mengikuti film Ekspedisi Indonesia Biru, mungkin pertanyaan itu enggak relevan.

Tapi kan tetap ada pertanyaan itu. Apalagi ini bulan politik?
Kalau saya jawab memakai tabungan saya selama 5 tahun enggak akan dipercaya. Begini saja, sekarang kalau itu di-generate by uang, ada gak yang bisa meniru pola ini, terus nobarnya di 476 titik dengan swadaya. Begitu masif.

Anda merasa jawaban itu tidak akan dipercaya?
Teman-teman di segmen tertentu enggak percaya cerita ini. Dan saya tidak akan cerita juga karena mereka tidak akan percaya.

Silakan buktikan saja kalau ada intervensi uang di film ini.

Yang jelas, teman-teman komunitas yang menggelar nobar karya WatchdoC itu sudah terbentuk lima tahun terakhir.

Ini sejarah baru bagi film dokumenter. Ada batas level yang dilewati. Karena mana mungkin film dokumenter satu setengah jam lebih viral dari jogetnya Princess Syahrini.

Ada teror terhadap Anda karena telah berani mengkritik elite lewat film?
Alhamdulilah enggak ada.

Usai tayang di Youtube, “serangan” terhadap Sexy Killers terus menggila dari netizen, sikap Anda?
Aku sih enggak balesin semua he-he.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR