Keterangan Gambar : Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Partai Golongan Karya (Golkar) Jawa Barat Dedi Mulyadi saat ditemui di kediamannya, Jalan Gandanegara, Purwakarta, Senin sore (27/11/2017). © Beritagar.id / Bismo Agung Sukarno

Ia mengatakan Golongan Karya butuh perbaikan, bukan sekadar pergantian kepemimpinan.

Dedi Mulyadi tak sedang memakai baju kebesarannya: pangsi dan ikat kepala ala si Cepot. Sore itu ia mengenakan jin dan topi koboi--yang dipasangnya rendah sampai di atas alis. "Saya ini penggemar film koboi lho," katanya saat sesi foto dengan Beritagar.id.

Di depan kamera, Dedi melipat tangannya di atas sabuk dan menyeringai. Ia tetap bergaya di depan fotografer, meski hujan. "Koboi itu berani ambil risiko, apalagi cuma hujan," tuturnya.

Dalam sesi foto itu ia mengemudikan lengan excavator yang sedang meratakan tanah. "Yiihaaa," teriak Dedi.

Belakangan, gaya komunikasi Sang Bupati memang bak koboi yang haus sasaran tembak. Tengok saja beberapa pernyataannya soal mahar Rp10 miliar dan musyawarah nasional luar biasa (Munaslub). Begitu keras. "Golkar enggak akan memecat kadernya karena vokal. Partai ini demokratis," tuturnya.

Dedi pun menjadi sosok yang banyak dibicarakan. Media melihatnya sebagai motor penggerak kader Golkar di daerah.

Para kader ini menilai Setya Novanto tak bisa jalankan tugasnya lagi karena sedang ditahan. Didasari itu mereka menuntut adanya pembenahan. Klaim Dedi, hampir semua DPD I sepakat menggelar Munaslub. "Kami harap bisa digelar Desember," ujarnya.

Ia membantah desakannya itu demi mendapat rekomendasi jadi calon gubernur. Menurutnya semua sikap dia bersandar pada keinginan perbaikan partai. "Partai dulu deh dibenahi, enggak usah bicara Pilgub," kata Ketua DPD I Partai Golkar Jawa Barat ini kepada Heru Triyono, Moammar Fikrie dan fotografer Bismo Agung di kediamannya, Jalan Gandanegara, Purwakarta, Senin sore (27/11/2017).

Dedi memang harus menelan pil pahit ketika Golkar memilih Ridwan Kamil--dibanding dirinya--sebagai kandidat Pilgub Jabar. Ridwan ditetapkan sebagai calon gubernur--dengan Daniel Muttaqin sebagai pasangannya. "Begitulah politik, yang pasti saya loyal dan tidak akan pindah (partai)," ujarnya.

Selama kurang dari satu jam kami mencoba mengorek keterangan dari Dedi soal suara-suara kader dan skenario terburuk jika ia tak dipilih partainya pada Pilgub mendatang. Berikut tanya jawab kami dengan pria berusia 46 tersebut:

Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Partai Golongan Karya (Golkar) Jawa Barat Dedi Mulyadi saat ditemui di kediamannya, Jalan Gandanegara, Purwakarta, Senin sore (27/11/2017).
Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Partai Golongan Karya (Golkar) Jawa Barat Dedi Mulyadi saat ditemui di kediamannya, Jalan Gandanegara, Purwakarta, Senin sore (27/11/2017).
© Bismo Agung Sukarno

Desakan Munaslub dari Anda demi mendapat rekomendasi jadi calon gubernur?
Tidak ada hubungannya. Ini realitas politik yang dihadapi partai. Ini adalah kebutuhan organisasi untuk penyelamatan dan perbaikan, jangan kaitkan dengan Pilgub.

Apa enggak riskan langkah Munaslub ini, notabene sudah dekat dengan tahun politik pada 2018 dan 2019?
Riskan mana coba: meneruskan kepemimpinan yang sekarang dengan pergantian kepemimpinan? Menurut saya sudah tidak ada riskan-riskannya lagi.

Waktunya sangat mepet...
Tidak ada masalah. Mepetnya juga di mana? Golkar itu secara struktur aman. Tidak ada gejolak berlebihan. Yang para kader mau kan opini negatif itu berubah jadi positif. Hal itu juga yang jadi tuntutan publik. Caranya bagaimana? Ya lakukan perubahan kepemimpinan.

Artinya Munaslub itu harga mati?
Munaslub bukan harga mati. Munaslub adalah harga keselamatan partai Golkar. Bukan harga mati lho.

Ya sama saja, Munaslub mau tidak mau harus digelar dalam waktu dekat?
Tetap bukan harga mati. Bagi saya Munaslub itu harga keselamatan. Mau pilih selamat atau enggak? Ya kita ini enggak mau mati, maunya selamat.

Jika Munaslub tidak jadi digelar, Golkar tidak akan selamat pada tahun-tahun politik mendatang?
Kalau Munaslub tidak dilaksanakan, berarti opini publik sudah terbentuk, yakni negatif. Golkar tidak lagi jadi partai yang menjadi harapan mereka (pemilih dan kader). Ketika harapan mereka tidak terpenuhi ya pada tahun-tahun politik bisa saja Golkar "lewat".

Anda khawatir pemilih Golkar akan berkurang?
Memang sudah berkurang. Survei merilis kalau Golkar sudah dibawah Gerindra. Mereka itu 13 persen, Golkar hanya 10 persen.

Standar minimal Golkar itu di angka 14 persen. Turun 4 persen itu angka yang besar. Implikasi penurunan ini cukup luas. Termasuk untuk kepercayaan diri para kader. Jadi jangan main-main.

Pemilih tradisional Golkar bukannya solid?
Begini. Pemilih Golkar kan ada dua. Pemilih tradisional dan milenial. Kalau yang milenial sudah jelas sikapnya--jika melihat opini yang terbangun terhadap Golkar, mereka pasti tidak akan memilih.

Kalau tradisional itu memang loyal, namun bisa goyang kalau terus mendapat informasi yang buruk. Solusinya tetap satu: lakukan perubahan kepemimpinan.

Tampaknya susah ya melakukan perubahan, kabarnya Setya Novanto juga masih kuat di internal Golkar?
Enggak, enggak ada yang susah. Yang susah itu karena usulan Munaslub itu belum disampaikan. Yang susah juga adalah sikap beberapa elit DPP yang menurut saya sangat hati-hati dalam mengambil keputusan.

Kehati-hatian itu dimaknai dua hal. Apakah terkait kepentingan partai atau kepentingan individu. Kita kan enggak tahu. Itu urusan elit DPP.

Kapan surat desakan agar DPP Golkar menggelar Munaslub akan diusulkan?
Rencananya pada Rabu nanti (6/12/2017). Hampir seluruh DPD I Golkar sudah membulatkan tekad mendesak adanya Munaslub.

Jangan-jangan klaim Anda saja soal sikap DPD I itu?
Enggak, dicek saja. Yogyakarta, Jakarta, Jawa Tengah, Banten juga sudah bersuara.

Anda jadi sosok yang paling banyak dibicarakan sebagai motor penggerak kader...
Saya hanya mendorong. Di mana-mana itu harus ada lokomotifnya. Saya kebetulan ditugaskan para kader Golkar untuk mendorong perubahan ini.

Berarti sudah lama ya langkah konsolidasi para kader itu?
Sudah. Saya malah dari awal telah menyampaikan bahwa Golkar harus dievaluasi. Itu sejak enam bulan lalu. Sikap saya itu sebelum rekomendasi turun. Pasalnya saya melihat ada tren penurunan elektabilitas ketika itu, dan akhirnya terbukti. Nah saat ini keinginan perubahan itu ada di hampir semua DPD.

DPD sudah solid?
Clear mereka solid. Mereka juga ingin mendorong ke arah perbaikan. Saya targetkan Munaslub digelar pada awal Desember.

Jusuf Kalla juga mendukung Munaslub?
Secara prinsip, sebagai mantan ketua umum, beliau memiliki kecemasan, karena Golkar mengalami penurunan.

Untuk itu, Pak JK meminta pada saya dan teman-teman DPD I untuk melakukan langkah-langkah penyelamatan--agar Golkar bisa survive pada 2019. Ya minimal mendapat posisi kedua. Munaslub juga didukung oleh Soksi, Kosgoro 1957, dan MKGR.

Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Partai Golongan Karya (Golkar) Jawa Barat Dedi Mulyadi saat ditemui di kediamannya, Jalan Gandanegara, Purwakarta, Senin sore (27/11/2017).
Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Partai Golongan Karya (Golkar) Jawa Barat Dedi Mulyadi saat ditemui di kediamannya, Jalan Gandanegara, Purwakarta, Senin sore (27/11/2017).
© Bismo Agung

Anda belakangan intens melakukan komunikasi dengan Istana. Dengan Jusuf Kalla, Airlangga Hartarto, bahkan Pratikno. Apakah dengan Luhut Pandjaitan juga?
Sudah lama saya enggak komunikasi dengan beliau (Luhut). Terakhir dengan Mensesneg saja (Pratikno).

Di sejumlah media, Anda tampak sekali mendukung Airlangga Hartarto sebagai pengganti Setya ya...
Golkar itu sudah mendeklarasikan diri mendukung Presiden pada 2019. Itu sudah amanah organisasi, bukan lagi perorangan. Untuk itu diperlukan seorang pemimpin Golkar yang memiliki hubungan emosional dengan orang yang didukungnya.

Kalau hubungan emosional yang teruji, ya pembantu presiden. Hal itu diharapkan berdampak pada elektabilitas partai. Begitu lho. Saya mendengar langsung dari Mensesneg bahwa Pak Airlangga didukung penuh Presiden.

Airlangga layak memimpin perubahan di Golkar?
Dia itu elegan dan selama ini tak terkait peristiwa apapun yang diperbincangkan orang. Golkar butuh figur seperti dia.

Kandidat lain juga cukup kuat peluangnya, seperti Idrus Marham, Agus Gumiwang atau Aziz Syamsudin...
Iya, kita menghormati kandidat lain. Saya justru senang di Munaslub banyak kandidat. Hal itu sebagai cermin partai tidak kekurangan kader sebagai pemimpin.

Tetapi banyak DPD mendukung Airlangga?
Secara umum, ketika berbincang dengan saya, mereka itu memiliki visi yang sama. Bukan soal siapa mendukung siapa. Visi hari ini adalah bagaimana menyelamatkan partai lewat Munaslub.

Apakah efek dari Munaslub itu dijamin akan menjadi baik untuk partai?
Intinya Golkar bisa diselamatkan. Apalagi jika nantinya DPP diisi orang berkualitas. Pasti opininya positif lagi. Jika Golkar tampil dengan wajah baru, pasti orang akan mau memilih kembali.

Sejauh yang Anda tahu, ada berapa kubu di Golkar saat ini?
Enggak ada kubu-kubuan lah. Semua orang menginginkan perubahan.

Kalau mau perubahan, kenapa partai enggak langsung tegas saja kepada Setya?
Bukan urusan saya, itu urusan elit DPP. Saya tidak mau menerka-nerka. Pertanyaan saya, apakah sikap tidak tegas itu karena kebutuhan organisasi atau individu--kan yang bisa menjawab mereka.

Apa efeknya untuk partai jika Setya menang lagi di pra peradilan?
Enggak akan ada efek. Apalagi DPD I sudah clear dengan sikapnya, yaitu Munaslub.

DPD oke, tapi kan DPP Golkar belum tentu bersikap sama...
Kalau secara organisasi kita meminta, kan DPP tidak bisa menolak. Apalagi jika syarat sudah terpenuhi. (Minimal dua pertiga dari 34 pengurus DPD tingkat provinsi)

Tetapi menangnya Setya di pra peradilan bisa jadi legitimasi kubunya untuk melanjutkan kepemimpinan?
Saya meyakini itu tidak akan terjadi. Menang atau kalah di pengadilan, saya meyakini itu tidak akan terjadi. Yang terjadi adalah perubahan.

Apa skenario terburuk jika Munaslub tidak bisa terlaksana?
Skenario kita tidak ada yang terburuk. Malah ini yang terbaik untuk masyarakat. Sekali lagi, usulan Munaslub itu enggak ada kaitannya dengan pra peradilan. Usulan itu adalah usulan kebutuhan organisasi.

"Kalau tidak ada perubahan, slogannya bukan lagi suara Golkar suara rakyat, tetapi suara Golkar suara elite"

Dedi Mulyadi

Partai Golkar masih bisa mengubah rekomendasi?
Saya enggak mau bicara soal itu. Dari awal saya bilang, saya memahami keputusan itu, bukan menerima. Pleno itu kan sudah final--yang didasari keputusan organisasi, bukan individu. (*Rapat pleno yang merekomendasi Dedi maju di Pilgub Jabar).

Sudah ada berapa partai yang mendekati Anda untuk di Pilgub Jawa Barat nanti?
Saya belum mau komentar.

Ada kabar kalau Anda akan ke PDIP jika tidak bisa lewat Golkar?
Enggak akan. Sikap saya hari ini adalah bentuk cinta saya sebagai kader. Saya dibesarkan oleh Golkar. Enggak boleh saat partai dalam keadaan oleng malah saya tinggalkan. Jangan sampai partai ini karam.

Apa sebenarnya cerita di balik Golkar memilih Ridwan Kamil?
Setiap keputusan pasti ada hikmahnya. Ketimbang saya jadi beban, saya memilih untuk mengurangi beban itu--dengan cara memahami keputusan DPP. Sederhana saja.

Kenapa DPP Golkar tidak memilih Anda?
Tanya sama DPP ya bukan ke saya.

Sebagai kader Anda kecewa?
Saya tidak pernah kecewa.

Sebelum keputusan rekomendasi untuk Ridwan itu sudah ada komunikasi DPP dengan Anda?
Rekomendasi di Jabar itu kan bagian dari problem yang ada di partai. Saya tidak mau bicarakan hilirnya, saya bicara tentang hulunya. Hulunya harus dibenahi dulu, agar hilirnya benar.

Gaya Anda yang vokal ini, apakah sempat ditegur oleh DPP?
Kita bukan vokal, kita menyampaikan sesuatu yang jadi kebutuhan.

Tidak takut diberi sanksi?
Golkar tidak akan memecat seseorang karena dia vokal. Partai ini demokratis.

Bagaimana kalau gaya vokal Anda itu dinilai bikin gaduh dan menganggu?
Vokal saya kan menyelamatkan partai, bukan mengganggu. Kalau ada kepentingan elite yang terganggu, itu mah pribadi bukan partai.

Masih relevan kah slogan ini: Suara Golkar Suara Rakyat?
Kalau tidak ada perubahan, slogannya bukan lagi suara Golkar suara rakyat, tetapi suara Golkar suara elite.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.