Denny Siregar bergaya di depan kamera usai wawancara di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat sore (11/10/2019).
Denny Siregar bergaya di depan kamera usai wawancara di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat sore (11/10/2019). Wisnu Agung / Beritagar.id
BINCANG

Denny Siregar: Iblis pun bisa saya jual

Ia mengungkap bagaimana para pembenci justru membuatnya lebih tenar dan enggan berkompromi atas cita-cita besarnya: melawan radikalisme.

Denny Siregar adalah banyak hal. Ia dituduh buzzer Istana, Syiah sampai orang PKI—yang membawanya dalam perjalanan menjadi sosok yang paling dibenci di media sosial. Tapi tak sedikit jua yang memuja penulis “Tuhan Dalam Secangkir Kopi” ini, sebuah buku yang ditulisnya dengan kemarahan dan kasih sayang.

Sepak terjang Denny tak muncul kemarin. Setelah jadi penyiar radio dan sales pengharum toilet pada akhir 90-an, ia aktif di Facebook serta menulis blog sejak 2012. Kemudian ia menjadi pendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Joko Widodo hingga sekarang.

Dan, selama bertahun-tahun itu dia telah mengumpulkan lebih dari cukup: pencela, pembenci dan penggemar yang loyal. “Haters adalah the good marketers. Karena haters lah saya dikenal di medsos,” katanya saat wawancara dengan Heru Triyono, Nunung Nur dan fotografer Wisnu Agung di di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat sore (11/10/2019).

Di medsos, Denny memang terbiasa dipuja dan sebaliknya, menjadi sasaran cemoohan, bahkan ancaman kematian. Terakhir, ia dicari anak sekolah teknik menengah (STM) karena seri cuitannya di Twitter dianggap mendiskreditkan aksi mahasiswa dan pelajar.

Tapi Denny tampaknya tidak kapok cuitannya telah menimbulkan kontroversi dan kebakaran. Malah, rencana Denny selanjutnya bisa bikin orang menjatuhkan rahang. “Gue mau bikin film teroris Dr. Azahari,” ujarnya.

Sore itu, kami membahas soal tudingannya sebagai buzzer Istana dan evolusinya dari sales menjadi penulis. Berikut tanya jawabnya selama 60 menit—yang ditemani kopi dan rokok saat jeda:

Denny Siregar bergaya di depan kamera usai wawancara di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat sore (11/10/2019).
Denny Siregar bergaya di depan kamera usai wawancara di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat sore (11/10/2019). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Tepatnya kapan Anda mulai mendukung Jokowi?
Pada 2014. Sebelumnya saya gak pernah bicara politik. Apa isu politik yang mau dibicarakan, presidennya saja gak ada.

Sebelum Jokowi kan gak ada presidennya. Ya ada sosoknya, tapi gak ada presidennya. Auto pilot.

Tertarik politik karena Jokowi, begitu maksudnya?
Yang menarik bukan sosok Jokowinya. Saya gak peduli dia dari desa atau apa. Tapi dia ini aneh strateginya. Saya suka. Dihina tapi kok diam.

Ternyata strateginya itu memutar, sehingga lawan tidak sadar sedang “dibunuh” sama dia. Jokowi itu orang kuat dan terbukti kan.

Saat itu Anda sudah jadi bagian dari tim sukses Jokowi?
Timses dari mana. Saya masih di Surabaya. Saat itu sedang susah. Saya hanya punya Rp5 ribu untuk menulis tentang Jokowi di warung kopi.

Saya manfaatkan Wi-Fi di warung itu karena gak bisa beli kuota.

Untuk apa menulis tentang Jokowi kalau begitu, untuk dapatkan perhatian netizen?
Saya tidak menulis untuk menarik perhatian, like, share atau ingin terkenal. Saya menulis ya karena ingin.

Saya gak berpikir bahwa akan bisa mendapatkan uang dari ketenaran di medsos.

Terbukti kan kalau ketenaran itu bisa menghasilkan uang saat ini?
Alhamdulillah. Tapi saya tertawa ketika orang bilang saya dibayar. Ya, saya dibayar, tapi bukan oleh Jokowi, namun sama orang yang menghargai tulisan saya.

Oke tidak dibayar, misalnya ditawari jabatan?
Orang selalu berpikir kenapa saya enggak jadi komisaris. Saya bingung kok tujuan hidupnya cuma jadi komisaris.

Saya memang gak ditawari. Kenal juga enggak sama orang Istana. Bertemu Jokowi cuma sekali. Saya gak suka diundang ramai-ramai dengan para influencer lain dan salaman di sana. Buat apa.

Beberapa influencer ini punya keterkaitan untuk mempromosikan satu narasi atas satu isu ya?
Kita ini satu visi dan satu pandangan. Waktu Pilpres 2019 kita kumpul, berantem dan berdebat untuk menghadapi narasi lawan.

Buat kami, kejahatan yang terorganisir itu akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir.

Makanya kita sepakat mengorganisir diri jadi satu kekuatan untuk bangun satu narasi—melawan mereka.

Apakah tim ini masih suka kumpul untuk meng-counter lawan politik Jokowi di dunia maya?
Ada yang masih tetap bareng, ada juga yang sudah pecah, masuk partai misalnya.

Tapi, sudah beda obrolannya, saya enggak cocok. Kalau dipaksa untuk kepentingan orang, biasanya saya menghindar. Enggak merdeka rasanya.

Lalu siapa yang dimaksud kakak pembina seperti ditulis media opini Seword.com?
Saya enggak tahu juga. Mungkin untuk menarik pembaca dan trafik, kata-katanya harus bombastis. Tapi kan saya bukan bagian dari Seword.

Anda keberatan dengan gambar yang memuat foto Anda di situs itu?
Secara pribadi keberatan. Enggak suka saja. Cuma mau melarang bagaimana.

Apakah tim yang disebut sebagai buzzer oleh media mainstream ini memiliki struktur?
Enggak ada. Struktur apa. Kita semua orang bebas. Bagaimana saya bisa mengontrol Seword atau seorang Eko Kuntadhi, kan enggak mungkin.

Tapi tetap satu komando?
Iya. Lebih kepada kesepakatan saja. Misalnya saat debat Pilpres. Jawaban Prabowo begini, ya kita serang. Itu biasa.

Kita anggap ini perang. Perang narasi dan ide. Tapi kita enggak mau menyerang pribadi. Misalnya Prabowo tidak punya istri dan sebagainya. Itu bukan kita.

Lalu siapa kalau bukan para buzzer Jokowi saat itu?
Bukan kita. Itu orang lain. Kita sepakat bertarung dengan elegan.

Enggak mungkin tim buzzer yang terorganisir seperti ini enggak dibayar kan…
Dibayar seperti apa, dibayar per bulan?

Ya apapun mekanismenya, entah per tulisan, per share atau per proyek…
Teman-teman itu sudah punya pendapatan sendiri. Eko punya bisnis, saya juga menulis di beberapa media, apalagi yang dicari.

Kita itu sudah senang diberi ruang, dikasih makan, rokok gitu.

Kesannya Anda alergi banget dibilang dibayar. Ninoy Karundeng pun sudah mengaku digaji Rp3,2 juta?
Saya enggak alergi. Jangan selalu bicara apa yang saya berikan itu karena berharap sesuatu. Kenapa mengukur dengan materi. Saya itu sudah cukup.

Kalau saya dituduh dibayar, boleh dong saya tuduh mereka juga dibayar. Dan akhirnya cuma tuduhan dan jadi enggak penting. Yang penting itu Jokowi menang. Ha-ha-ha.

Anda nyaman disebut sebagai buzzer Istana?
Saya senang saja. Saya manfaatkan mereka-mereka yang benci saya untuk menaikkan posisi saya di medsos.

Karena haters adalah the good marketers. Kemudian, media mainstream memperlakukan saya hal yang sama. Bagaimana saya enggak senang coba.

Kok Anda senang, tone-nya kan negatif?
Tergantung sudut pandang. Tuduh saya apa saja silakan. Tapi Anda tidak sadar bahwa Anda yang menaikkan nama saya.

Saya terima kasih juga kepada Tempo. Tapi saya menghargai pemikiran orang. Saya itu gak pernah blok orang ketika orang itu ungkapkan pikirannya.

Tapi kalau gambar jorok atau kotor ya saya blok.

Denny Siregar bergaya di depan kamera usai wawancara di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat sore (11/10/2019).
Denny Siregar bergaya di depan kamera usai wawancara di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat sore (11/10/2019). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Kalau Anda dibilang dungu?
Enggak masalah. Asal jangan terus-terusan bilang dungu. Kan capek diskusi tapi dituduh dungu.

Kenapa Anda tidak mau dibarengin dengan Rocky Gerung saat acara diskusi di televisi nasional?
Apa yang mau didiskusikan kalau menyampaikan sesuatu dibilang dungu. Jadi enggak ada isinya itu diskusi.

Saya baru tahu kalau ILC (Indonesia Lawyers Club) itu bukan tempat diskusi, tapi ring tinju. Siapa mendominasi dia yang menang. Bukan siapa yang bisa memberikan argumentasi.

Ya Anda pun dikritik Karni Ilyas yang bilang, kalau kamu tak pandai menari, jangan lantai kamu bilang terjungkat…
Wajar. Pak Karni bukan mengkritik. Tapi membela diri. Kalau enggak bela diri, hancur acaranya.

Menurut Anda, kenapa banyak juga yang sepakat sama Rocky Gerung di media sosial?
Setahu saya, haters-haters saya yang jadi pencinta Rocky itu logika berpikirnya hancur semua. Ha-ha.

Hal yang sama juga dipikirkan para haters untuk Anda soal logika itu…
Kita bisa lihat bagaimana lawan bicara kita. Kalau selalu pakai kata-kata binatang, kita sudah tahu kualitas dia. Cuma berisik saja. Tidak ada nilai.

Anda pernah ditegur Istana karena postingan atau menulis sesuatu di media sosial?
Saya itu pernah dibilang membocorkan rahasia Istana malahan. Ha-ha. Lucu. Saya diminta jangan suka bocorkan rahasia.

Aku ketawa, padahal imajinatif saja menulisnya. Saya kan suka novel Sidney Sheldon dan Tom Clancy. Jadi suka berimajinasi.

Apakah benar isu yang beredar di publik kalau kakak pembina yang dimaksud itu ada di Kantor Staf Presiden (KSP)?
Saya enggak tahu. Beberapa teman sering adakan kegiatan influencer di sana. Saya gak pernah datang kalau diundang.

Masa gak pernah datang, saya kroscek itu Anda pernah ke sana?
Silakan. Saya datang sekali. Tapi tidak dalam suasana yang riuh. Catat itu. Saya datang saat tidak riuh. Ngobrol beneran.

Ngobrol dengan Moeldoko?
Tidak ada Pak M. Pak P yang ada.

Pratikno maksudnya?
Bukan-bukan. Ada lagi.

Kenapa Anda tidak mau datang kalau diundang?
Karena saya selalu pakai jin dan sepatu kets. Yang kedua, dresscode-nya itu kemeja putih. Saya enggak punya kemeja itu. Tapi dulu punya ketika menjadi sales pengharum toilet di Bali.

Oh ya. Kapan dan berapa lama Anda menjadi sales pengharum toilet itu?
Dua tahun. Dimulai sekitar tahun 1996. Sebelumnya itu saya adalah penyiar radio di Surabaya. Karena bosan di radio, saya pindah ke Bali.

Saya mulai segalanya dari nol lagi. Menawarkan pengharum toilet itu ke hotel dan sering diusir satpam. Saya paham bagaimana rasanya hidup di bawah.

Itu titik terendah hidup Anda?
Betul. Balik ke Surabaya itu, saya pernah menjual teman sebagai pesulap. Aku bilang ke teman itu, iblis pun bisa saya jual, apalagi kamu, ternyata bisa.

Di saat hancur itu aku menulis untuk berdialog dengan diri sendiri. Awalnya di Facebook dan blog. Jadinya ya seperti sekarang.

"Saya dibayar, tapi bukan oleh Jokowi"

Denny Siregar

Kembali ke Istana. Apakah ada arahan dari sana atas satu isu di media sosial?
Arahan seperti apa? Saya ini independen, gak bisa diatur. Misalnya kasus Wiranto. Orang sibuk bicara ISIS, saya bicara tentang bela negara.

Orang sibuk bicara Pak Jokowi, saya bicara tentang taliban di KPK.

Siapa dong yang mengarahkan Anda?
Bukan arahan sebenarnya, tapi narasi yang dilemparkan bagaimana. Saya kan punya grup-grup WhatsApp.

Tapi jarang saya baca grup itu. Saya gak suka mengikuti arus massa besar sebenarnya.

Kalau enggak satu komando bagaimana narasi itu bisa membentuk sebuah opini?
Sekarang apa ancamannya? Jokowi kan sudah menang. Dulu itu satu komando untuk bela Jokowi. Jokowi pun tinggal dilantik. Mau apa lagi?

Anda merasa buzzer-buzzer Istana, termasuk Anda, harus ditertibkan? Bahkan ada media yang menyebut keberadaan Anda merusak demokrasi?
Saya memahami pola-pola perang kelompok radikal. Mereka melakukan propaganda berulang-ulang. Bahasa kerennya firehose of falsehood.

Cara melawan mereka ya juga dengan propaganda. Saya gak bisa lagi pakai air untuk memadamkan mereka. Tapi fight fire with fire.

Yang Anda lakukan apa bedanya dengan mereka dan malah semakin memecah?
Sekarang begini. Bolak-balik kita dituduh PKI, sampai orang percaya gue PKI, bahkan orang percaya Jokowi itu PKI.

Ya kita gantian serbu mereka dengan HTI. Apakah memecah? Ya daripada narasi mereka menguasai pemikiran banyak orang, mending saya serang duluan kelompok radikal itu.

Hal lain yang kontroversial dari Anda adalah tentang ambulans. Kenapa Anda menyebarkan berita hoaks itu?
Ambulans berisi batu itu bukan hoaks. TMC Polda Metro jaya meng-upload-nya juga. Meski lebih lambat beberapa jam, itu kan masalah SOP saja.

Dapat dari mana gambar itu?
Dari lokasi lah. Grup-grup kita semuanya dapat dari lokasi.

Dari anak buah di lapangan?
Saya punya anak buah dari mana? Saya punya teman iya, anak buah gak punya.

Tapi terbukti salah kan yang ambulans berisi batu?
Salahnya di mana? Yang salah itu ketika framing berita bahwa paramedis lah yang mengangkut batu, paramedis lah penjahatnya.

Tapi kan akhirnya ketahuan ada perusuh-perusuh yang masuk membawa batu. Mereka ini tersangkanya. Hoaksnya dimana?

Ketika kemudian polisi bilang mereka salah paham, ya sudah. Beda antara hoaks dan salah paham. Tapi orang-orang menuduh saya hoaks. Itu kan propaganda.

Kalau bukan hoaks kenapa Anda menghapus cuitan ambulans berisi batu itu?
Saya hapus daripada salah paham. Saya hormati kepolisian. Ketika kepolisian menghapus, ya saya hapus. Tapi itu bukan hoaks. Itu yang saya sebut dengan etika di media sosial.

Sebagian netizen bingung kenapa Anda seperti kebal hukum…
Itu lah propaganda. Mereka tidak mampu cari bukti kalau saya menyebar hoaks dan gagal hadirkan buktinya di kepolisian.

Anda enggak takut dicari sama anak-anak STM?
Itu juga propaganda. Sejak kapan anak STM main Twitter. Setahu saya mereka mainnya LINE. Twitter itu yang bangkotan seperti saya atau Andi Arief.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR