Didi Kempot tengah berpose untuk Beritagar.id di hotel Luminor di bilangan Jakarta Pusat, Sabtu (3/8/2019) siang WIB.
Didi Kempot tengah berpose untuk Beritagar.id di hotel Luminor di bilangan Jakarta Pusat, Sabtu (3/8/2019) siang WIB. Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id
BINCANG

Didi Kempot: Saya cuma sekali ditolak yang mengenaskan

Penyebab Didi Kempot selalu menciptakan lagu patah hati bukan karena pengalaman percintaannya. Sejarah masa kecil turut andil.

Orang kini menyebutnya sebagai Godfather of Broken Heart. Lainnya, menyebut Lord Didi. Ada pula yang menabalkannya sebagai Bapak Patah Hati. Apa pun julukannya, Didi Kempot seperti menjadi representasi dari bagaimana rasanya kehilangan cinta.

Pria pemilik nama asli Didi Prasetyo itu senang-senang saja dengan semua julukan tersebut. Dia tak mengambil pusing dengan semua itu dan justru menjawab sekena hatinya saja.

"Itu kan karena kerjaan anak-anak muda (Sobat Ambyar). Ini membuat saya kayak gini (terkenal lagi)," ucapnya kepada Beritagar.id, saat ditemui di Hotel Sahid Jaya, Solo, Jawa Tengah, Selasa (30/7/2019) siang pekan lalu.

Adik dari mantan pemain ketoprak almarhum Mamiek Prakoso itu kini bagaikan hidup kembali. Setelah namanya cukup populer di dunia hiburan nasional dekade 1990-an, sinar Didi sempat redup memasuki periode milenium.

Adalah Sobat Ambyar--nama fans garis keras Didi--yang memunculkan kembali pria berusia 52 tahun itu. Bahkan, Didi mengakui, sinarnya kini jauh lebih terang ketimbang tiga dekade silam.

Bukan tanpa alasan Didi diberi sejumlah julukan tadi. Adalah lirik-lirik lagu dia yang menjadi penyebabnya. Lebih dari 90 persen bertema lara hati: entah perpisahan, cinta yang tak bersambut, atau ditinggal nikah! Ngenes, lur.

Sebagian orang menduga tema-tema tersebut adalah pengalaman kehidupan percintaannya. Ternyata tidak, bahkan jauh dari itu. Ada alasan lain yang sangat mengakar mengapa dia selalu membuat lagu tentang kesedihan.

Hari itu, kondisi Didi tak begitu baik. Sepanjang wawancara, baik di Hotel Sahid Jaya, di dalam mobilnya yang berkelir putih, Stasiun Balapan, dan sebuah warung di tengah Kota Solo, Jawa Tengah, Didi selalu terbatuk.

"Nggak tahu kenapa saya selalu batuk. Tapi, kalau manggung, ndak masalah. Mungkin karena dibayar ya," ucapnya sambil tertawa.

Kecuali di dalam mobil, tangannya tak pernah lepas dari rokok. Berikut adalah petikan wawancaranya.

Didi Kempot tengah berpose untuk Beritagar.id di hotel Luminor di bilangan Jakarta Pusat, Sabtu (3/8/2019) siang WIB.
Didi Kempot tengah berpose untuk Beritagar.id di hotel Luminor di bilangan Jakarta Pusat, Sabtu (3/8/2019) siang WIB. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Anda saat ini begitu fenomenal ya.
Ya alhamdulillah. Di tengah-tengah usia saya yang sudah setua ini, bisa menjadi idola bagi anak-anak muda.

Apakah Anda menyangka?
Jujur, saya tidak menyangka. Situasi ini yang buat bukan Didi Kempot, tapi anak-anak muda itu (Sobat Ambyar). Jurinya adalah mereka, dengan kemajuan teknologi yang sangat luar biasa di dunia internet.

Kira-kira kenapa lagu-lagu Didi Kempot diterima anak-anak muda masa kini?
Mungkin karena liriknya ya, mengena di hati mereka.

Dasar dari pernyataan Anda itu?
Setiap saya menyanyi, mereka ikut menyanyi dan berjoget. Kelihatan sangat menghayati. Saya tidak menyangka. Karena, lagu-lagu saya ini, mungkin dibuat sebelum mereka lahir.

Anda tidak masalah dijuluki Godfather of Brokenheart, mengingat kata godfather merujuk pada mafia?
Nggak ada. Di sini artinya bukan mafia. Di sini untuk cinta. Mungkin, anak-anak itu butuh sosok yang seperti itu.

Anda sepakat dijuluki Bapak Patah Hati?
Yang menilai anak-anak muda itu karena lirik lagu saya. Boleh, silahkan saja. Ndak masalah.

Banyak yang menduga lagu-lagu tersebut berdasarkan kisah percintaan Anda. Benar demikian?
Tidak. Saya melihat pengalaman orang-orang di sekitar. Misalnya lagu "Stasiun Balapan". Sewaktu saya tinggal di jalan sering melihat orang mengantar kekasihnya di sana.

Pernah berapa kali ditolak dalam kehidupan percintaan Anda?
Berapa kali ya? Saya cuma sekali ditolak yang mengenaskan, sekitar 1986. Itu yang menginspirasi lagu "Cidro".

Siapa perempuan itu?
Tidak usah disebutkan namanya. Kasihan, dia pasti sudah berkeluarga sekarang.

Baik. Kalau begitu, bisa diceritakan mengapa begitu mengenaskan dan sangat berkesan bagi Anda?
Ya saya dan dia sudah sama-sama suka. Tapi keluarganya dia yang ndak bisa terima saya.

Anda sendiri berasal dari keluarga seniman. Ranto Edi Gudel, ayah Anda, adalah seorang pemain ketoprak di Solo.
Mbah Ranto itu termasuk seniman besar di Solo sini. Lagu "Anoman Obong" itu ciptaan Mbah Ranto. Kalau mas Mamiek (Prakosa) ikut jejak Mbah Ranto, ketoprakan. Mas Sentot (Selino) penyanyi. Sedangkan adik saya penari.

Ibu Anda, ibu rumah tangga?
Ibu saya, Hajah Umiyati, adalah penyanyi keroncong, sama seperti Waldjinah. Tapi tidak setenar Waldjinah. Dia hanya penyanyi dari kampung ke kampung.

Jadi, bakat Anda ini menular dari ibu?
Bisa dibilang begitu. Karena dari kecil saya ikut ibu di Ngawi, Jawa Timur, meski tinggalnya bersama simbah saya, ibu Kamarukmi. Tapi, rumah mbah tidak jauh dari ibu. Mbah punya warung pecel dan gorengan. Saya tinggal di warung itu.

Maksudnya, bapak dan ibu Anda bercerai?
Iya.

Kapan itu?
Wah, saya ndak ingat. Kata simbah saya, mungkin waktu usia saya 1,5 tahun. Saya masih bayi.

Mamiek ikut bapak atau ibu?
Dia dan mas Sentot ikut bapak di Solo.

Anda pernah mencari tahu sosok bapak ketika kecil?
Ndak juga. Kan bapak sering mentas. Kalau lagi pentas seperti ke Nganjuk, pasti bapak mampir ke rumah. Mbah selalu bilang bapak saya itu bapak macan. Karena bapak sering pakai jaket loreng-loreng macan.

Hubungan Anda dengan Mamiek?
Sangat baik. Walaupun tempat kita jauh, kami disunatkan bareng dengan mas Mamiek di Solo, tepatnya di Turisari.

Tidak pernah berantem?
Tidak. Mas Mamiek sangat ngalah dengan saya. Ya karena orang tua tidak begitu mampu, hanya bermain ketoprak kampung, kalau bapak pulang bawa mi, pasti mas Mamiek ingat saya.

Perceraian bapak-ibu saat anda di usia kecil, menjadi salah satu penyebab Anda membuat lagu-lagu patah hati?
Kayaknya iya. Mungkin. Karena itu saya benar-benar ngalami. Tak jarang rasa kangen itu muncul. Padahal dari Ngawi ke Solo saat itu untuk nemui bapak, butuh biaya cukup mahal. Sedangkan penghasilan bapak sebagai seniman kan tak seberapa.

Sesulit apa kehidupan saat itu?
Bapak, meski namanya besar di sini, meninggal pun masih di kos-kosan, kontrakan.

Anda lebih banyak menceritakan sosok bapak. Bagaimana dengan ibu?
Ibu saya itu orangnya sangat sabar sekali dan agak cengeng. Jadi, kalau dipamiti untuk pergi, pasti nangis. Ketemu, nangis lagi. Ini juga yang mungkin membuat saya selalu bikin lagu-lagu mellow.

Jadi, memang dari kecil Anda sudah sering berhadapan dengan kondisi menyedihkan. Dan itu terbawa dalam menciptakan lagu?
Ya, dulu memang banyak kehidupan saya yang menyedihkan. Kalau sekarang tidaklah. Alhamdulillah, saya sudah menghajikan mereka berdua dan juga mertua saya.

Ngomong-ngomong, Anda mengklaim telah menciptakan lebih dari 700 lagu. Benar sebanyak itu?
Zaman dulu kan nggak ada dokumennya. Saya itu orangnya tidak begitu mikir dengan karya saya. Tapi boleh di-cross check rekaman di Musica, Atalanta, Dian Record, dan di Blackboard berapa album.

Belum yang diproduksi di Suriname sekian album dan yang rekaman di Semarang, seperti Indomusic, Dasa Record, Mojopahit Record, serta Pusaka Record. Itu juga belum yang membuat produser-produser rumahan di daerah-daerah,

Anda disebut-sebut sering buat album di label-label rumahan?
Ada produser saya, berikut operatornya, yang kalau tidak ada rekaman, nyangkul di sawah. Di Sragen sana rumahnya. Saya rekaman itu selalu di tempat di mana saya mood saja

Apa alasannya?
Ya kebetulan itu teman-teman saya semua. Kalau dia punya studio rekaman, ya rekam di sana. Hitung-hitung bagi rezeki ke mereka. Muter-muter ke tempat teman-teman.

Nggak khawatir dengan penjualan?
Tidak. Bahkan ada lagu yang diminati studio besar di Jakarta, tapi dipercaya digarap di daerah. Saya bikin di kampung, akhirnya beredar di Jakarta juga. Ndak masalah.

Orang nyuri ikan di laut saja sama bu Susi ditenggelamkan. Apalagi karya.

Didi Kempot

Tapi kualitasnya tidak sebagus dengan studio besar kan?
Pasti beda memang, karena itu studio rumahan. Tapi ternyata, kita naikkan di YouTube juga bagus kualitasnya. Karena saat ini, orang lebih memilih liriknya.

Anda sendiri sebenarnya memiliki masalah dengan hak cipta. Banyak karya Anda dipakai dan justru lebih sukses. Tanggapan Anda?
Ha ha ha. Saya diamkan saja. Tapi semestine yo mbok izin. Paling tidak kulonuwun. kalau dia niatnya seperti itu kan (mengkomersilkan), ya sudah saya bilang dosa anak cucu saya kamu ambil juga sana.

Ini karya loh ya. Wong orang nyuri ikan di laut saja sama bu Susi ditenggelamkan. Apalagi karya. Ha ha ha.

Pernah menggugat?
Tidak pernah dan ndak mau. Saya ingin sama-sama sadar aja. Sesama seniman, tidak usah saling menggugat. Yang nyantai aja. Yen kowe kelingan Didi Kempot, kowe mbayar karo aku. Yen ora, dusoku yo kowe pek'en sisan.

(Kalo kamu ingat Didi Kempot, ya kamu bayar ke aku. Kalau tidak, ya sudah kamu ambil saja sekalian dosaku).

Ngomong-ngomong, nama Anda sangat masyhur di Suriname. Bisa Anda ceritakan pengalaman pertama di sana?
Saya pertama kali konser di sana pada 1993. Begitu saya datang, saya kaget. Mereka hafal lagu-lagu saya. Bahkan di Indonesia saja tidak dicium sama sekali. Contohnya lagu "Cidro". Pertama kali saya konser lagu itu di Suriname.

Lagu-lagu saya sering diputar di radio berbahasa Jawa di Amsterdam, Belanda, dan satu lagi diputar di Radio Garuda di Suriname.

Di salah satu kanal YouTube, konser Anda di Suriname dihadiri Presiden Desire Delano Bouterse. Bagaimana perasaan Anda?
Senang pasti. Tapi, tiga Presiden Suriname pernah nonton saya. Selain Presiden Bouterse, dua presiden sebelumnya, Venetiaan (Ronald Runaldo Venetiaan) dan Wijdenbosch (Jules Wijdenbosch) juga menonton.

Bahkan mereka ngundang saya ke istana. September kemarin sewaktu saya ke sana, Presiden Bouterse saya bawakan batik. Ukurannya kecil, XXXL. Ha ha ha.

Pernah tanya ke mereka kenapa menyukai lagu-lagu Anda?
Saya tidak tahu persis kenapa mereka bisa cinta. Karena di negara itu, orang Jawa lumayan jumlahnya. Banyak negro yang nyanyi lagu Didi Kempot. Mereka bilang soul-nya enak untuk dansa.

Di sana kita mainnya tidak tok-tak tong-dung (dangdut). (Tapi) Pop. Pop Jawa, Salsa Jawa.

Katanya Anda pernah dikenal orang gila di Suriname saking terkenalnya?
Ha ha ha. Saya tidak tahu dia gila atau ndak. Tapi penampilannya yo wis ngono (seperti itu) lah. Wong uripe (hidupnya) di sampah-sampah. Dia negro dan nanya, "Hei you Didi Kempot". Saya pikir, woh luar biasa bapak ini.

Bisa dibilang Anda lebih terkenal dari Bruno Mars di sana?
Di Suriname? Di sebagian wilayah, iya. Di sana loh ya tapinya. Nek nang sak jagat dunyo, yo mesti aku kalah. Ha ha ha.

Sekarang Anda terkenal kembali dan jauh lebih bersinar. Siap suatu saat, dan pasti, akan tidak terkenal lagi?
Siap sekali. Wong saya sama saja. Saya masih nongkrong sama teman-teman saya .waktu ngamen. Tidak berubah status.

Didi Kempot tengah berpose untuk Beritagar.id di hotel Luminor di bilangan Jakarta Pusat, Sabtu (3/8/2019) siang WIB.
Didi Kempot tengah berpose untuk Beritagar.id di hotel Luminor di bilangan Jakarta Pusat, Sabtu (3/8/2019) siang WIB. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR