Keterangan Gambar : DIreksi PT MRT Jakarta, Direktur Utama William Sabandar (kanan) dan Direktur Operasional dan Pemeliharaan Agung Wicaksono (kiri), ketika berkunjung dan berbincang di Kantor Beritagar.id, Jalan Jatibaru Nomor 28, Jakarta Pusat, pada Selasa (11/04/2017). © Beritagar.id / Bismo Agung

Maret 2019, Jakarta akan punya moda transportasi baru, MRT Jakarta. Jalur pertama baru 16 kilometer sehingga tak cukup panjang menyelesaikan kemacetan ibu kota.

Tak seperti biasanya, Obsat ke-192 dengan tema Laju Transportasi Baru pada Rabu (26/04/2017) kemarin berlangsung di dalam sebuah proyek infrastruktur. Tapi ini bukan sekadar jalan atau jembatan yang biasa ditemukan di jalanan ibu kota.

Diskusi dengan para netizen itu berada di dalam proyek mass rapid transit (MRT) atau angkutan cepat terpadu yang pertama dibangun di Indonesia. Kejadian ini menjadi sangat langka karena PT MRT Jakarta pun baru pertama kali melakukannya. Selama ini tak sembarang orang boleh masuk ke lokasi proyek tersebut.

Perusahaan yang merupakan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) DKI Jakarta itu memilih area retail Stasiun Bundaran HI sebagai lokasi acara. Lokasinya di di dalam Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Kedalaman stasiun bawah tanah ini mencapai 25 meter dan terdiri dari dua lantai, retail dan jalur kereta.

Stasiun terakhir dari proyek pembangunan tahap pertama ini masih setengah jadi. Semua yang hadir dalam acara itu wajib mengenakan helm putih, jaket, dan sepatu bot untuk keamanan. Terowongan jalur kereta yang berada di lantai dasar stasiun tersebut masih dalam pengerjaan.

Tentu saja sebelum acara berlangsung, antusiasme para netizen tak terbendung. Mereka menelpon ke kantor Beritagar.id hingga mengirim surat elektronik dan berkicau di media sosial Twitter agar dapat undangan. Namun, karena kursi yang terbatas, peserta pun hanya diizinkan masuk ke dalam stasiun itu sekitar 40 orang saja.

Inilah salah satu upaya MRT Jakarta untuk mendekatkan diri ke publik. Direktur Utama William Sabandar dan Direktur Operasional dan Pemeliharaan Agung Wicaksono sebelumnya juga datang ke Kantor Beritagar.id pada Selasa (11/04/2017) untuk menjelaskan sejauh mana pengerjaan proyek yang didanai oleh Japan International Cooperation Agency (JICA) itu.

Pembangunan stasiun dan jalur kereta saat ini berlangsung 24 jam dan telah mencapai 71 persen dari rencana. Nantinya, jalur pertama ini akan terdiri dari 13 stasiun dan sepanjang 16 kilometer. Waktu tempuh untuk dari stasiun awal, Lebak Bulus, hingga Bundaran HI sekitar 30 menit saja dan bebas macet.

"Jarak 16 kilometer ini bisa membuat publik merasakan suatu hal yang berbeda pada transportasi publik dan peradaban bertransportasi kita," kata laki-laki kelahiran Makassar, 4 November 1966 itu. MRT, menurut dia, bisa menjadi sebuah terobosan teknologi yang menjadikan bangsa Indonesia lebih bermartabat dan naik ke tingkat tertentu.

Pembicaraan dengan William dan Agung berlangsung lebih dari dua jam. Mereka menceritakan rencana integrasi MRT Jakarta dengan moda transportasi lain untuk semakin memudahkan akses publik. Selain itu, mereka juga menceritakan soal kendala yang dihadapi, terutama mengenai model bisnis perusahaan. Berikut kutipan wawancaranya:

Suasana Obsat ke-192 di salah satu stasiun PT MRT Jakarta, yaitu Stasiun Bundaran HI, yang masih dalam penyelesaian konstruksi pada Rabu (26/04/2017). Diskusi dengan sekitar 40 orang netizen itu menghadirkan Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar, Pegiat Media Sosial dan Pengguna Transportasi Publik Nukman Luthfi, Influencer dan Co-Founder Makna Creative Keenan Pearce, dan Pemerhati Transportasi Publik Jakarta Rini Ekotomo.
Suasana Obsat ke-192 di salah satu stasiun PT MRT Jakarta, yaitu Stasiun Bundaran HI, yang masih dalam penyelesaian konstruksi pada Rabu (26/04/2017). Diskusi dengan sekitar 40 orang netizen itu menghadirkan Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar, Pegiat Media Sosial dan Pengguna Transportasi Publik Nukman Luthfi, Influencer dan Co-Founder Makna Creative Keenan Pearce, dan Pemerhati Transportasi Publik Jakarta Rini Ekotomo.
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Bagaimana kemajuan pembangunan proyek MRT Jakarta?William Sabandar:
Sampai saat ini konstruksi berlangsung 24 jam dan sudah mencapai 71 persen dari rencana pembangunan. Targetnya, MRT akan beroperasi mulai Maret 2019. Ada trial dulu, kereta beroperasi tanpa penumpang komersial, selama tiga bulan sebelum mulai beroperasi untuk publik.

Masih ada masalah pembebasan lahan?
William Sabandar: Masih, di Jalan Haji Nawi, Jakarta Selatan. Ada enam pemilik melakukan gugatan kepada pemerintah provinsi. Kami masih menunggu keputusan pengadilan.

Ada tiga lahan yang pemiliknya bersikeras menyatakan satu sentimeter pun tanahnya tidak boleh digunakan. Padahal ini untuk kepentingan nasional dan publik. Bahkan ada satu pemilik lahan yang menggugat kami dan kontraktor karena tidak sengaja lahannya terpakai.

Masalahnya apa?
William Sabandar: Harga. Mereka tidak sepakat dengan harga yang pemerintah berikan, Rp35 juta per meter persegi. Mereka minta Rp150 juta per meter persegi.

Kondisi ini tidak membuat penyelesaian proyek molor?
William Sabandar: Semuanya masih sesuai jadwal. Hambatan hanya di Stasiun Haji Nawi yang kemungkinan tidak selesai ketika MRT beroperasi pada 2019.

Soal perawatan dan pemeliharaan selalu menjadi masalah di Indonesia, apakah MRT Jakarta sudah mengantisipasi hal tersebut?
Agung Wicaksono: Saat ini sudah ada direktorat khusus operasi dan pemeliharaan. Ini menunjukkan komitmen kami bahwa persiapan sudah dilakukan dari sekarang. Kami tidak ingin infrastruktur dibangun tapi belum siap dioperasikan.

Dari internal, kami memastikan pemeliharaan operasional MRT memanfaatkan biaya yang tersedia dengan proper. Kalau memang harus diganti, ya ganti. Jangan ambil dari gerbong lain. Intinya, jangan dikanibal.

Harapannya, MRT Jakarta akan mengubah budaya bertransportasi. Jadi target kami bukan hanya menjadikan MRT menjadi moda transportasi tapi alat pengubah gaya hidup.

Keberadaan MRT Jakarta apakah bakal efektif mengurangi kemacetan Jakarta?
William Sabandar:
MRT fase pertama baru 16 kilometer, kecil dampaknya mengatasi kemacetan Jakarta. Kalau lihat MRT di London dan Singapura sudah ratusan kilometer sehingga sangat signifikan mengurangi kemacetan. Orang yang mau masuk ke kota harus pakai transportasi publik.

Kami memang berperang dengan transportasi pribadi. Apalagi, pembangunan MRT sejalan juga dengan penambahan jalan, misalnya enam segmen tol dalam kota yang sedang dibangun. Hal ini semakin membuka jalur transportasi pribadi. Belum lagi kemudahan masyarakat mendapatkannya sangat besar. Insentif-insentif seperti ini yang membuat disinsentif kepada transportasi publik.

Bagaimana MRT Jakarta membangun jaringan dan konektivitas ke transportasi lain?
William Sabandar: Kalau kami hanya membangun stasiun MRT, misalnya di Lebak Bulus, orang-orang dari Cinere, Ciputat, dan Bintaro, pasti tidak ada yang mau ke sana. Kami sedang mempersiapkan feeder yang dilayani oleh TransJakarta. Selain itu, kami juga mau kerja sama dengan community bus untuk warga perumahan.

MRT Jakarta sangat terbuka untuk mendiskusikan potensi lainnya. Kami sedang melakukan koordinasi dengan pemerintah provinsi DKI Jakarta untuk memperbaiki pedestrian. Pejalan kaki harus dibuat nyaman agar akses menuju ke stasiun MRT mudah.

Jalur lambat di Jalan Sudirman sampai Jalan MH Thamrin, menurut kami, dihilangkan saja supaya jalur pedestrian bisa lebih lebar. Nah, kendaraan di jalur utamanya harus berbayar. Lalu, tarif parkir di sekitar area itu dinaikkan supaya banyak orang memilih naik MRT dan kemacetan bisa berkurang.

Ada rencana membangun tempat parkir di sekitar stasiun MRT?
William Sabandar:
Kawasannya mahal untuk perparkiran. Ini berbeda dengan kereta api yang stasiunnya berada di luar Jakarta. Kalau, misalnya membuat lahan parkir vertikal, pasti tempatnya terbatas, tidak akan mampu menampung seluruh kendaraan pribadi penumpang MRT. Yang kami kembangkan adalah moda transportasi feeder untuk mendorong orang mau naik MRT.

Ada rencana membuat konektivitas dengan gedung-gedung di kawasan Sudirman dan Thamrin?
William Sabandar:
Sekarang sedang difasilitasi. Kami akan buat interkoneksi dengan gedung-gedung tersebut. Misalnya, di Stasiun Bundaran Hotel Indonesia ada konektivitas dengan Hotel Kempinski, Grand Indonesia, dan Plaza Indonesia.

Daya tariknya ada dua. Kami akan mendapat penumpang. Sementara, pemilik gedung nilai bisnisnya bisa naik juga. Aspek komersialnya sedang kami bicarakan karena pasti ada biaya interkoneksi.

Sudah ada gedung yang setuju dengan rencana itu?
Agung Wicaksono : Saat ini sudah ada 39 gedung yang tertarik tetapi masih dalam bentuk MoU (memorandum of understanding/nota kesepahaman). Di Lebak Bulus juga ada yang tertarik.

Baru sebatas MoU karena sampai sekarang belum ada mandat yang jelas dari pemerintah provinsi DKI Jakarta dalam bernegosiasi dan berkontrak dengan pihak lain. Ibaratnya, MRT Jakarta ini tangannya sudah maju tapi buntutnya masih dipegangin.

MRT Jakarta ditugaskan pemerintah provinsi melakukan bisnis pengoperasian pembangunan kereta. Kami secara legal dan komersial harus punya penugasan pemerintah dan perjanjian penyelenggaraan dalam bentuk peraturan pemerintah tentang perkeretaapian. Ini dua hal yang sedang kami tunggu.

Paling jauh harga tiketnya berapa?
Agung Wicaksono: Belum tahu.

MRT Jakarta punya hitungan sendiri di luar subsidi?
Agung Wicaksono:
Ada studi mengatakan, rata-rata tarif MRT sekitar US$1 per perjalanan. Itu studi dalam skala internasional. Apakah itu menjadi acuan kita atau bagaimana, terserah pemerintah. Rata-rata segitu tarifnya.

MRT Jakarta lebih nyaman disubsidi atau tidak?
William Sabandar:
Itu kewenangan pemerintah. Kami hanya mengeluarkan harga komersial. Hitungannya, investasi kami berapa, misal Rp15 triliun, dibagi jumlah penumpang. Jika keluarnya angka Rp20 ribu, itu yang kami ajukan ke pemerintah provinsi.

Tapi kalau dibilang kemahalan dan menurut survey masyarakat Jakarta cuma sanggup Rp8 ribu, boleh saja. Sisanya disubsidi. Skenarionya sedang kami garap.

Kalau skenarionya tanpa subsidi, apakah MRT Jakarta memungkinkan memakai skema TOD (Transit Oriented Development atau kawasan properti terintegrasi berbasis transportasi)?
Agung Wicaksono:
Memang, di berbagai negara sangat bervariasi proporsi farebox revenue (pendapatan dari penjualan tiket). Di negara-negara yang MRT-nya sudah sehat, seperti Hong Kong dan Jepang, bisa sampai 60 persen pendapatan dari nontiket. Perusahaan MRT di sana sudah jadi juragan. Dia bisa dapat pendapatan dari properti di sekitar stasiun. Mereka yang mengelola.

Pendapatan non-farebox bisa dari TOD tapi mandatnya harus diberikan kepada kami. Katakanlah properti radius 350 meter di sekitar stasiun kami boleh mengelola. Kalau tidak pakai TOD, pendapatan MRT sangat kecil. It's not gonna help much.

Radius yang paling ideal berapa?
Agung Wicaksono:
Asumsinya radius orang berjalan, sekitar 350 meter.

Tidak mendesak pemerintah provinsi DKI Jakarta untuk segera memberikan hak pengelolaan bisnis tersebut?
William Sabandar:
Yang kami rasa sederhana, ternyata tidak. Sebenarnya, mandat untuk MRT sudah jelas ada tiga. Sebagai penyelenggara prasarana, sarana, dan pengelola bisnis. Yang poin ketiga itu memang sedang digarap karena akan menjadi sumber pendapatan MRT Jakarta. Kami butuh peraturan gubernur untuk mengimplementasikan hal tersebut.

Di sisi lain, diskusi antara pusat dan daerah tentang pengelolaan TOD belum mengerucut karena proyek seperti ini baru pertama kali di Indonesia. Seperti apa mekanismenya kami belum tahu.

Kalau operator hanya dikasih pengelolaan di stasiun saja, seperti di Filipina, MRT-nya tidak akan survive. Pendapatan dari stasiun sangat kecil. Paling kami cuma dapat dari iklan di kereta dan stasiun, serta retail. Ujungnya harus disubsidi terus dan itu, menurut kami, tidak sehat bagi perusahaan.

Kami harus mengupayakan agar MRT Jakarta menjadi perusahaan dengan bisnis yang sehat.

Direktur Operasional dan Pemeliharaan PT MRT Jakarta Agung Wicaksono

Pendapat dari Pak Ahok (Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama) bagaimana?
William Sabandar:
Dia mau MRT Jakarta menjadi perusahaan yang sustainable. Menurut dia, kami harus bisa mengajukan sebuah proposal sehingga pada satu titik tidak perlu menerima subsidi, baru bisnisnya bisa diberikan. Kalau disubsidi terus-menerus ya ngapain bisnisnya buat kami.

Kami harus mengupayakan agar MRT Jakarta menjadi perusahaan dengan bisnis yang sehat. Di satu sisi, dia pelayan publik dengan harga tiket terjangkau. Tapi di sisi lain, dia juga harus berkelanjutan, mampu beroperasi mandiri sehingga pelan-pelan subsidinya berkurang. Untuk meyakinkan pemikiran itu kepada birokrasi sangat sulit. Ini mekanisme yang sedang kami terobos.

Apakah ada kenaikan harga tiket mengingat biaya konstruksi naik sekitar Rp2 triliun?
William Sabandar:
Harga konstruksi naik karena ada beberapa aspek yang sedang kami perbaiki. Kontrak selama ini mengacu pada basic engineering design, yang tingkat ketepatannya hanya 50 persen. Kami memakai desain dasar karena untuk mempercepat proses lelang.

Ketika proses kontrak masuk, ditemukan hal-hal yang tidak diantisipasi. Misalnya, standar kegempaan tujuh skala Richter, ternyata harus pakai standar baru. Desain jadi berubah. Ini menyebabkan anggaran naik dari Rp14 triliun menjadi Rp15 triliun. Itu pasti akan mempengaruhi biaya komersial.

Desain kepala kereta MRT Jakarta sempat disebut mirip jangkrik oleh Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta Sumarsono. Sekarang sudah berubah?
Agung Wicaksono:
Klarifikasi ya. Kontraknya mengatakan, desain disetujui kalau sudah ada mock up (maket) bentuk, warna, dan ukuran yang asli. Saat mock up kami review, ternyata tidak maksimal. Maka MRT Jakarta mengusulkan perubahan.

William Sabandar: Sempat ada pemikiran membuat moncong lebih panjang dari pemerintah provinsi. Namun, ternyata sulit dilakukan secara teknis karena desain stasiun ikut berubah. Kalau pun kami membuat perubahan, harusnya tidak ada penambahan biaya, perubahan waktu dan struktur stasiun.

Bangun core value tidak bisa dalam waktu singkat. Kalau ganti rezim, direksi diganti, bagaimana kelanjutan proyek MRT Jakarta?
William Sabandar:
Presiden datang lima kali bertemu saya. Yang harus kami siapkan sekarang sebuah sistem untuk mengelola. Bahwa nanti diganti, kami tidak bisa menjamin sistem yang sama bakal dipakai.

Agung Wicaksono: Di negara ini begitu banyak hal yang di luar kemampuan manusia biasa dapat menjelaskan apa yang terjadi. Ha-ha-ha.... Kami dikasih mandat, jadi semaksimal mungkinlah menata sistem yang ada.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.