Keterangan Gambar : Ariska Wigatiningtyas alias DJ Chika ketika mengenakan cadar. Foto bertanggal 20 November 2016 ini diambil dari akun Instagram pribadinya, @ariskawgtntys. © Instagram / @ariskawgtntys.

Ia mantap berhijab tapi juga senang menjadi DJ. Ancaman kerap datang padanya melalui media sosial, tapi DJ Chika kukuh pada pilihan hidupnya.

Ariska Wigatiningtyas nama gadis itu. Gara-gara videonya memainkan elektronic dance music sambil memakai cadar beredar luas di media sosial, namanya mendadak populer awal 2017 lalu. Banyak yang memuji tapi tak sedikit yang mencemooh.

Orang selalu mengindentikkan cadar dengan Islam. Sementara disc jockey (DJ) lekat dengan hiburan malam yang kental minuman keras dan obat-obatan terlarang. "Tak harus di klub malam, di mana pun bisa berpotensi menggunakan minuman beralkohol dan narkoba," kata gadis berjilbab dengan nama panggung DJ Chika itu, Sabtu 10 Juni 2017.

Malam itu adalah hari ke-15 Ramadan. Beritagar.id menemuinya di sebuah kafe sekaligus studio musik kecil di Baturan, Surakarta, Jawa Tengah.

Meski malam, kafe itu berhenti menjual makanan dan minuman. Pengelola kafe, seorang lelaki separuh baya yang biasa disapa Bang Blue, mengatakan Ramadan adalah ladang ibadah. Ia rela berhenti jualan sebulan penuh demi berburu berkah.

Toh, begitu tahu Chika yang datang Bang Blue membuka pintu untuk meminjamkan tempat wawancara. Ia bergegas menghidupkan perangkat musik di studionya. Ia memberi kesempatan Chika mendemonstrasikan keterampilannya.

Satu nomor Body Move (The Cube Guys Mix) mulai melantun, Chika tak ragu meramu lagu Agen Greg itu menjadi lebih bergairah. "Kalau orang pakai (narkoba) dengar lagu ini bisa cepat fly," katanya.

Sepanjang satu jam wawancara, ia bercerita tentang kuliah, musik, menjadi DJ, hijab, dan hobinya membuat roti.

Lahir di Ogan Komering Ilir, 3 Oktober 1996, Chika sulung dari dua bersaudara. Duduk di semester 6 Fakultas Farmasi Universitas Budi Mulia Surakarta, ia belajar menjadi DJ pada semester 3 untuk mengisi liburan.

Hobinya bermusik, main skateboard, dan memasak. Saat SMA, ia belajar bahasa Arab dan Jepang. Dari sana, ia kini mahir menulis Arab Pegon. Hijab? "Itu sudah kewajiban," katanya.

Orang tua, kata dia, membebaskannya berekspresi. Batasannya, asal tahu aturan dan tak lupa beribadah. Menjadi DJ pun tak masalah. Ia tak menampik anggapan orang, menjadi DJ akrab dunia malam. Tapi siapapun orangnya, bisa saja terjerumus pada minuman keras dan obat-obatan terlarang. Bahkan yang di luar klub malam sekalipun.

Lagi pula, "Aku kuliah farmasi, aku tahu efeknya buat kesehatan memakai obat-obatan dan minuman itu." Berikut petikan wawancaranya.

DJ Chika ketika beraksi di atas panggung. Foto bertanggal 30 April 2017 ini diambil dari akun Instagram pribadinya, @ariskawgtntys.
DJ Chika ketika beraksi di atas panggung. Foto bertanggal 30 April 2017 ini diambil dari akun Instagram pribadinya, @ariskawgtntys.
© @ariskawgtntys /Instagram

Bagaimana ceritanya tertarik menjadi DJ?
Awalnya gak sengaja banget. Sejak awal aku suka musik. Dari SMA sudah main band. Terus ada tawaran menjadi DJ, ya sudah. Waktu itu belajar DJ untuk mengisi liburan kuliah. Kebetulan tidak lama sekolahnya.

Sejak kapan belajar DJ?
Sejak semester 3.

Di mana?
Ada sekolah DJ di Yogya. Jadi seminggu bisa dua kali pergi-pulang Solo-Yogya. Aku murid pertama yang berhijab di sekolah itu. Awalnya, mereka (bingung) mau dibawa ke mana ini (berhijab). Akhirnya tim sekolah menempatkan aku (hanya bermain) di acara mereka. Di event-event doang.

Jadi tidak di klub malam?
Tidak.

Musik DJ seperti apa yang kamu suka?
Aku lebih suka ke slow. Techno dan House juga suka.

Kamu berhijab, apakah kamu merasa menjadi DJ bertentangan dengan Islam?
Hijab untuk aku sebagai muslim itu kewajiban. Aku diajarkan hijab sejak kecil sekali. Sejak SD, sejak TK. Setelah baligh wanita wajib berhijab. Ya sudah aku berhijab karena kewajiban.

Di Instagram, ada yang bilang suruh lepas saja (hijabnya). Nanti kalau habis nge-DJ di klub moga-moga diperkosa pulangnya.... I don't care anymore. 

DJ Chika

Dunia DJ akrab dengan dunia malam. Bagaimana kamu menanggapi pendapat negatif seperti itu?
Mindset orang Indonesia, DJ mungkin bernuansa negatif karena untuk menghibur di dunia malam. Tapi konsumsinya sekarang musik DJ tak hanya untuk di klub saja. Di acara sekolah, ulang tahun atau komunitas, mereka menggunakan musik DJ.

Bagi aku tak masalah. Toh aku kerja halal. Dan aku tak menyinggung dunia malam. Kenapa tidak? Band-band yang lain kan juga memainkan instrumen, aku juga. Ya sama semua sih.

Dunia malam dekat dengan minuman keras dan narkoba. Pendapatmu?
Kalau tentang miras, di luar klub pun banyak. Tak semua DJ mengonsumsi miras dan pakai narkotika. Tergantung personalnya bisa jaga diri atau enggak.

Aku kuliah di jurusan farmasi, buat apa juga aku pakai narkoba. Wong aku buat narkoba bisa kok. Aku tahu efeknya buat kesehatan memakai obat-obatan dan minuman itu.

Narkoba itu tak hanya mereka yang di klub saja. Di mana pun bisa berpotensi menggunakan minuman beralkohol dan narkoba. Tak harus di klub malam.

Pernah menerima teror gara-gara kamu DJ yang berhijab?
Sering. Di Instagram, ada yang bilang suruh lepas saja (hijabnya). Nanti kalau habis nge-DJ di klub moga-moga diperkosa pulangnya. Mungkin mereka gak tahu kalau aku gak nge-DJ di klub. Ada yang bilang, kok akunnya (instagram) gak bisa di-hack sih. Dikatain binatang. I don't care anymore. Ah bodoh amat.

Kamu punya DJ panutan atau favorit?
Punya. Bunda Maia (Maia Estianty). Dia itu elegan. Sudah cerdas, cantik lagi.

Kamu pernah bercadar ketika menjadi DJ dan hal itu membuat beragam komentar negatif di dunia maya. Tanggapanmu?
Iya, itu di acara salah satu badan kreatif Indonesia yang diketuai oleh seorang profesor di salah satu institut seni Indonesia. Di situ aku bergabung, diajak profesor yang ada di acara itu. Aku diminta membuat konsep dan diberi ruang. Musiknya terserah kayak gimana. Dia bilang, pokoknya kamu jadi DJ.

Latihan seminggu akhirnya nemu tema yang pas, Arabic Indian. Konsultasi sama profesornya, bagaimana kalau untuk lebih menjiwai performance pakai cadar saja. Ya gak apa-apa. Dia malah mendukung.

Punya keinginan untuk bercadar?
Berhijab sajalah, lebih nyaman. Kalau bercadar, enggak deh.

Bagaimana orang tua melihat pilihan hidupmu ini? Mereka pernah protes atau merasa resah sejak kejadian kamu memakai cadar itu?
Mereka tak pernah membatasi. Dari dulu aku hobi musik, ayah juga menyediakan gitar. Aku hobi skateboard dan menggambar. Mereka tak pernah membatasi.

Mereka bilang, yang penting aku tahu aturan, tahu beribadah. Jangan lupa beribadah, jangan lupa belajar. Silakan jadi diri kamu sendiri. Pekerjaan apa pun asal karena Allah, lakukan.

DJ Chika pada foto bertanggal 5 Januari 2017 yang diambil dari akun Instagram pribadinya, @ariskawgtntys.
DJ Chika pada foto bertanggal 5 Januari 2017 yang diambil dari akun Instagram pribadinya, @ariskawgtntys.
© @ariskawgtntys /Instagram

Di akun Instagram, kamu menunjukkan dukungan kepada Ahok (Basuki Tjahaja Purnama, mantan Gubernur DKI Jakarta). Apakah pilihan ini tidak semakin membuat kamu dicibir?
Aku suka dengan personalnya (Ahok). Aku suka cara dia memimpin. Bagaimana seorang itu bisa memimpin dengan baik, jujur, dan ya aku suka dengan Pak Ahok. Sudah gitu aja sih.

Kalau memang mereka gak suka dengan yang aku lakukan, memang rasa suka dengan seseorang bisa dibatasi, bisa dilarang? Ya enggaklah. Aku suka dengan siapa pun ya hak aku.

Ya gak apa-apa sih (mereka mencibir). Yang aku posting juga pembangunan-pembangunan yang telah beliau (Ahok) lakukan. Itu pun sangat bagus dan banyak sekali.

Pernah ketemu dengan Ahok?
Belum pernah. Aku berharap bisa. Semoga. Amin.

Kamu kuliah di Jurusan Farmasi dan terkenal sebagai DJ berhijab, sebenarnya kamu ingin bekerja seperti apa?
Aku ingin lanjut ke apoteker. Mungkin nanti aku kerja di rumah sakit sebentar. Setelah S1 mau buka usaha sambil kuliah lagi. Buka kafe roti. Jualan roti, minuman herbal, terus ada perpustakaan kecil. Kalau musik sambil jalan aja. Kalau ada tawaran, ya main.

Tidak ingin menekuni pekerjaan DJ?
Enggak. Yang penting bikin orang senang aja. Kalau mengandalkan dunia musik, menurut aku, agak kurang. Butuh pemikiran jauh.

Tawaran show menjadi DJ?
Sering.

Seberapa sering?
Sebulan bisa dua kali. Kalau tawaran dari luar kota, gak bisa sebulan dua kali karena sering harus stay 3 hari sampai semingguan.

Aku memang membatasi pekerjaan DJ karena sambil kuliah. Sekarang aku sudah dah semester 6 dan mengajukan proposal skripsi. Kuliahku susah banget. Farmasi itu bukan jurusan yang main-main menurutku. Gak bisa performance seminggu sekali. Jadi jadwalnya harus diatur.

Selain kuliah dan menjadi DJ, apa kesibukanmu yang lain?
Bisnis roti. Belum ada tokonya. Aku suka memasak. Suka membuat roti dijual online.

Penghasilan menjadi DJ bagaimana?
Lumayan.

Lebih besar mana dibanding dari bisnis roti?
Kalau usaha roti mungkin kecil-kecil. Untungnya tak seberapa tapi rutin. Kalau DJ, sekali main banyak. Gaji itu menurutku bonus. Yang penting kita senang saja, gaji berapa pun oke.

Di akun Instagram kamu memposting video bermain gitar dan biola. Kamu suka musik apa saja?
Semua musik aku suka. Musik klasik, Beethoven dan Mozart aku juga suka.

Membaca?
Ya, aku suka membaca Percy Jackson dan Harry Potter.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.