Keterangan Gambar : Djajang Nurdjaman berpose di depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id di Graha Persib, Jalan Sulanjana Nomor 17, Taman Sari, Bandung, Selasa siang (13/6/2017)

Djajang angkat bicara soal kontroversi pengunduran diri dan kabar intervensi dari manajemen.

Seperti memijak pecahan gelas, Djajang Nurdjaman mengernyit saat cerita lagi kisah pengunduran diri. Itu diutarakannya di ruang ganti, setelah Persib kalah dari Bhayangkara FC di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, Ahad malam (4/6/2017).

Sisa emosi dan sakit hati, menurutnya, masih terasa--kala Beritagar.id menemuinya Selasa siang (13/6/2017). "Semua pemain menangis saat saya bilang mundur, saya enggak sangka," kata pelatih kepala Persib Bandung ini.

Kekalahan beruntun Persib itu memang memancing murka Bobotoh. Mereka meluapkannya dengan turun ke lapangan pada akhir babak dua sambil berteriak ke arah bangku cadangan Persib. Puncaknya, tagar #DjanurOut pun menggema di media sosial, terutama Twitter.

Situasi ini episode yang membingungkan bagi pelatih yang akrab disapa Djanur tersebut. Ia tak menyangkal psikologinya kacau dengan kekalahan beruntun timnya itu. "Tapi, hinaan kepada saya enggak sebanding dengan apa yang sudah saya perbuat untuk Persib," kata pria berusia 58 ini.

Bagaimanapun, Djanur memang punya prestasi oke di Persib. Ia berhasil bawa Tim Maung Bandung juara turnamen Celebes Cup II 2012, Indonesia Super League 2014, serta Piala Presiden 2015.

Sebagai pemain, ia juga pernah antar Persib juara kompetisi Perserikatan 1986. Kala itu, Djanur mencetak gol semata wayang kemenangan Persib atas Perseman Manokwari di partai final.

"Saya orang yang serius dan setia. Dari kecil saya di Persib, masa dicela dengan kata anying," tuturnya saat wawancara dengan Heru Triyono, Hedi Novianto dan fotografer Bismo Agung di Graha Persib, Jalan Sulanjana Nomor 17, Taman Sari, Bandung, Selasa siang (13/6/2017).

Siang itu, kami berempat duduk mengelilingi satu meja bundar yang diameternya kira-kira satu meter di lantai dua Graha Persib--untuk berbicara.

Pembawaan Djanur begitu kalem. Gaya tuturnya tenang, sama sekali tak menampakkan emosi saat ditanya hal sensitif.

Kami coba mengulik lebih dalam lagi soal isu intervensi, strategi bermain, hingga peran keluarganya dalam berkarier--dari pelatih yang sempat menimba ilmu kepelatihan di FC Internazionale ini. Berikut perbincangannya:

Djajang Nurdjaman berpose di depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id di Graha Persib, Jalan Sulanjana Nomor 17, Taman Sari, Bandung, Selasa siang (13/6/2017)
Djajang Nurdjaman berpose di depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id di Graha Persib, Jalan Sulanjana Nomor 17, Taman Sari, Bandung, Selasa siang (13/6/2017)
© Bismo Agung Sukarno /Beritagar.id

Apakah benar ada intervensi manajemen kepada Anda dalam menyusun tim?
Saya sudah klarifikasi soal itu. Sekali lagi, enggak ada intervensi apapun, termasuk dalam menyusun tim.

Rumor intervensi itu berhembus kuat di media sosial...
Hal itu berlebihan. Kenyataannya enggak begitu. Sekalipun ada, hanya sebatas diskusi dan adu argumentasi yang masih dalam taraf wajar.

Sejauh apa diskusi itu, apa Anda akan menerima jika pihak manajemen memilih pemain yang harus dimainkan?
Kalau diskusi tidak pernah ada paksaan. Berbeda sih iya, tapi kalau kata saya tetap maunya begini atau begitu, mereka akan menuruti.

Yang jelas, debat pasti ada, juga dengan asisten pelatih, namun keputusan tetap di tangan saya.

Tapi ada video viral--yang memperlihatkan gestur Umuh Muchtar tak nyaman kepada Anda di bench?
Reaksi beliau sedang pas saja begitu (tertangkap kamera). Tetapi kenyataan sebenarnya tidak seperti itu. Jangan berkesimpulan sendiri.

Sebenarnya bagaimana bentuk hubungan Anda dengan Umuh Muchtar?
Baik-baik saja, malah cukup bagus.

Isu di luaran berhembus kalau ada dualisme di manajemen, antara pihak Glenn Sugita dan pihak Umuh Muchtar--dalam membuat keputusan...
Enggak ada itu, isu dari mana? Saya sampaikan di sini bahwa isu tersebut enggak benar dan enggak ada. Semua baik-baik saja.

Kalau baik-baik saja suasana ruang ganti Persib rasanya tidak demikian, bagaimana pendapat Anda?
Nah itu dia, belakangan juga ada isu yang menghembuskan ruang ganti tidak kondusif. Jujur, isu itu amat jauh dari yang (sebenarnya) ada. Saya melihat, di sana (ruang ganti) masih tetap terkontrol dan tidak ada masalah.

Ruang ganti cukup memanas usai kalah dari Bhayangkara FC, bahkan Anda sempat menyatakan mundur?
Sebetulnya ada yang agak aneh dengan liga tahun ini. Tim baru saja mengalami dua kekalahan dan masih ada di trek benar. Indikasinya poin kami tidak jauh dengan pimpinan klasemen.

Tetapi gejolak di luar amat luar biasa, terutama di media sosial. Desakan mundur dengan hastag (#DjanurOut) membuat saya sedikit terpengaruh, terutama keluarga. Mereka ingin saya mundur saja.

Kapan niat mundur itu terpikirkan?
Sebelum pertandingan saya sudah ancang-ancang. Maksudnya, jika lawan Bhayangkara FC hasilnya tak sesuai, maka saya mundur. Kebetulan kalah dan tekanan di medsos juga semakin luar biasa.

Akhirnya saya menyampaikan mundur secara lisan ke pemain dan ofisial tim di ruang ganti setelah pertandingan. Keputusan itu juga dipengaruhi karena desakan keluarga saya. Terutama anak pertama saya (Mira), yang mengirim pesan singkat kepada saya--yang intinya meminta saya untuk mundur.

Pertimbangan utama untuk mundur adalah keluarga?
Keluarga enggak rela saya ditekan dan dihina dengan kata-kata yang enggak pantas. Pesan anak saya itu saya bacakan di depan para pemain, yang membuat mereka menangis.

Bagaimana reaksi pemain ketika Anda menyatakan mundur?
Saya enggak menyangka. Suasananya emosional sekali. Bahkan saat saya pulang ke hotel, para pemain datang ke kamar dan minta saya jangan mundur.

Termasuk para marquee player seperti Michael Essien dan Carlton Cole...
Enggak, yang pemain lokal saja, terutama senior (yang ke kamar hotel). Mereka yang mewakili para pemain lain.

Pada akhirnya manajemen tetap mempertahankan Anda sebagai pelatih. Bagaimana sikap Anda dan keluarga?
Saya enggak saklek dan waktu itu memang masih tunggu keputusan manajemen. Saat ini kan sudah ada. Isinya saya tidak diizinkan untuk resign. Untuk itu saya harus menghormati kebijakan dan kontrak dari mereka juga.

Apakah keluarga mendukung?
Sudah saya sampaikan ke keluarga. Mereka mempersilakan saya sendiri untuk menentukan.

Djajang Nurdjaman berpose di depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id di Graha Persib, Jalan Sulanjana Nomor 17, Taman Sari, Bandung, Selasa siang (13/6/2017)
Djajang Nurdjaman berpose di depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id di Graha Persib, Jalan Sulanjana Nomor 17, Taman Sari, Bandung, Selasa siang (13/6/2017)
© Bismo Agung Sukarno /Beritagar.id

Bobotoh sepertinya geram dengan Anda, bahkan sampai turun ke lapangan saat pertandingan lawan Bhayangkara FC itu...
Saya paham mereka kecewa. Mereka punya ekspektasi tinggi. Tiap hari perwakilan Bobotoh datang ke rumah selesai tim menang lawan Persiba. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali.

Begitu juga dengan Viking dengan ketua-ketuanya. Intinya, mereka ingin saya bertahan. Dengan dukungan besar itu saya jadi percaya diri dan merasa didukung Bobotoh dan Viking.

Sebagian besar suporter menyatakan dukungannya untuk Anda?
Maaf, kalaupun ada yang tidak (mendukung), itu sebagian kecil saja. Para Bobotoh sendiri menyatakan hal itu kepada saya. Mereka juga bilang bahwa 98 persen Bobotoh dukung saya.

Yang jadi pertanyaan, dalam dunia sepak bola, apa lagi seorang pelatih, pasti dapat tekanan, kenapa Anda merasa terganggu?
Yang Anda sampaikan benar. Tapi di Persib, tekanannya luar biasa, lebih dari tim lain. Sebelum saya masuk (Persib), sudah berapa pelatih yang gugur? Saya tanya coba. Jarang kan ada yang bisa menyelesaikan pekerjaannya dalam satu musim.

Saya ini tahu dalam-dalamnya Persib, karena berasal dari sini. Sehingga saya juga tahu konsekuensi apa yang akan saya terima.

Seperti apa tekanan ketika awal-awal Anda melatih Persib pada 2012, usai menangani Pelita Jaya?
Tekanan ya ada, tapi saya tidak merasa terganggu. Pada awalnya tren Persib memang biasa saja. Tentu tidak bisa langsung tune in dan saya amat siap dengan tantangan yang ada ketika itu.

Kenapa sekarang seperti tidak siap dengan tekanan yang ada?
Sikap saya seperti itu (sempat mundur) karena saya merasa sudah berbuat di sini. Kalau kritik datang dengan kata-kata pantas saya akan terima. Namun, kalau kritik datang dengan kata kotor (di media sosial), maka itu menyinggung saya dan saya tidak bisa terima itu. Dari kecil saya ini sudah di Persib, masa dibilang seperti itu.

Kata-kata apa sih yang menyinggung Anda?
Ada kata-kata anying, siah, maneh dan segala macam. Saya tidak terima dan enggak bagus juga karena menyakitkan buat keluarga saya. Bahkan ada yang meminta saya untuk ganti profesi saja, enggak usah jadi pelatih lagi.

Ketika tidak bisa terima itu, nanti Anda dituding antikritik?
Saya bukan alergi kritik, enggak sama sekali. Malah saya senang dikritik. Jadi silakan kritik, tapi jangan dengan kata-kata kasar.

Mungkin kritik pedas itu datang karena dengan materi pemain bagus, Persib seharusnya mampu bermain lebih baik lagi?
Itu dia, saya mengerti harapan Bobotoh karena memang materi pemain kita terlihat bagus. Anda lihat sendiri pas launching kan?

Tetapi di lapangan itu tidak selalu sesuai dengan harapan. Saya mengerti kenyataan saat ini, tapi saya juga bekerja keras agar Persib bermain bagus. Apalagi dengan adanya marquee player.

Ada perlakuan istimewa untuk marquee player?
Kedatangan mereka ke Persib adalah hal baru. Mereka ini pemain bintang, pernah main di piala dunia, liga primer Inggris dan secara nama juga populer.

Yang jelas, nama klub juga terangkat dengan kehadiran Essien dan Cole. Yang saya senang adalah mereka justru tidak ingin dibedakan, apalagi diistimewakan.

Tidak ada kesenjangan antara marquee player dengan yang lain pada saat latihan?
Sama saja dengan pemain lain. Mereka profesional dan mau membaur. Mereka juga berpandangan materi latihan kita lumayan, tidak buruk dan bisa diterima.

Bagaimana Anda meramu strategi untuk Michael Essien dan Carlton Cole yang sebenarnya sudah melewati masa emasnya?
Kita sudah diskusikan dengan keduanya. Sehingga strategi itu menyesuaikan kemampuan mereka sekarang. Essien tidak selincah dan sekuat di Chelsea dulu, begitu juga Cole. Maka durasi bermain mereka juga tidak banyak. Jujur, kebugaran mereka menurut saya masih kurang.

Anda memang mengincar kedua pemain ini jelang Liga1 bergulir?
Ketika ada wacana mendatangkan pemain top dan ada agen yang menawarkan, tentu saya berpikir positif. Dari segi usia, reputasi dan video rekaman mereka, dua pemain ini masih menjanjikan dan bagus. Sayangnya ketika datang ke sini hanya Essien yang masuk kriteria bagus. Sementara Cole di luar dugaan dan ekspektasi.

Apa yang tidak sesuai dari Cole?
Selain sudah lambat, dia masih beradaptasi dengan cuaca dan kultur sepak bola kita. Dari sisi penampilan, kemampuannya sudah jauh menurun. Mungkin karena dia pernah cedera lama. Dalam setahun terakhir, dia jarang sekali bermain. Hal itu yang membuat Cole tidak terlihat bekasnya sebagai pemain bintang.

Lantas, atas dasar apa Persib mengontraknya?
Ya itu tadi, berdasarkan tayangan video (terbaru) yang kami lihat. Kami juga mempertimbangkan usianya--yang belum terlalu tua. Kita kaget pas lihat dia di sini, karena berbeda dengan performanya yang di video.

Selain Essien dan Cole, siapa lagi yang Anda incar saat itu?
Kita sebenarnya sempat bernegoisasi dengan mantan pemain West Bromwich Albion, Peter Osaze Odemwingie. Kemudian ada juga mantan kapten Afrika Selatan di Piala Dunia 2010. Banyak pilihan sih ketika itu.

Usul pembelian pemain ini datangnya dari Anda sendiri atau manajemen?
Semua usulan dari saya. Tanya saja Pak Glen Sugita. Beliau masih simpan pesan dari saya soal list pemain yang saya minta. Kemudian manajemen yang follow up dan melakukan negoisasi ke agen.

"Tidak ada deadline dan kesepakatan tertentu dengan manajemen. Saya cuma diminta untuk bertahan."

Djajang Nurdjaman

Jelang Liga1, Anda melihat posisi tengah dan depan itu memang butuh sosok pemain seperti Essien dan Cole?
Bukan saja dua pos itu. Semua pos juga masih kurang. Sebab itu kita pertahankan Vladimir Vujovic, kita juga ambil kembali Dedi Kusnandar dan Supardi Nasir, serta mengangkat beberapa pemain muda ke tim utama.

Regulasi PSSI di Liga1 membuat pemain muda punya banyak kesempatan untuk bermain ya...
Tentu, tapi juga memusingkan. Pusing di sini bukan hanya milik saya pribadi, tapi semua pelatih. Coba tanya Nil Maizar. Betapa pusingnya dia memainkan pemain muda. Saya bersyukur bisa orbitkan dua pemain Persib ke Timnas.

Persoalannya, saat dua pemain itu main untuk Timnas, pengganti mereka di klub belum sepadan. Jadi, ketika mereka pergi, tim akan kesulitan.

Tapi Anda sendiri puas dengan materi pemain yang ada di tim sekarang?
Ketidakpuasan itu cuma dalam soal salah pilih pemain, yaitu posisi striker. Kita tadinya punya bayangan kalau Cole dan van Dijk akan mampu mengangkat tim. Nyatanya belum sesuai ekspektasi.

Cole akan diputus kontraknya?
Saya sih mengharapkan seperti itu.

Enggak melirik Ilija Spasojevic, mantan pemain Persib juga, yang sekarang bebas kontrak setelah pergi dari Melaka United?
Saya tahu Spaso bebas kontrak. Spaso juga ada komunikasi dengan agennya soal kembali lagi (ke Persib). Tetapi itu kita keep saja dulu, karena belum ada kata ya dan tidak. Kita ingin dapat yang lebih bagus supaya bantu tim lebih baik lagi ke depan.

Anda yakin kalau ada striker baru masalah di lini depan akan selesai?
Saya pikir kalau sudah dapat striker yang sesuai, maka tim akan jadi lebih baik. Jujur saja, dua striker yang kita harapkan belum maksimal.

Hal itu yang mengakibatkan Persib mandul?
Ya.

Tapi apakah asupan bola ke depan cukup bagus, misalnya bola dari Atep atau Febri yang berada di posisi sayap?
Bagus-bagus (bola) dari sayap. Misalnya bola dari Febri. Kalau orang bilang striker kita kurang suplai bola ya enggak juga. Soal cetak gol itu, di samping ada suplai, ada juga andil kemampuan individu yang bersangkutan.

Ada juga yang bilang Anda belum menemukan solusi ketika striker tak bisa diharapkan. Kenapa enggak coba pakai strategi lain, bukan dengan penyerang tunggal contohnya...
Kita terus mencari dan masih belum menemukan solusi yang tepat untuk memecah kebuntuan ini. Kita pun tidak bisa berbuat sesuai harapan kalau strikernya memang belum perform.

Sampai pertandingan ke 11 Liga1 Anda sudah merasa setel dengan formasi yang Anda terapkan?
Belum, karena dari sisi permainan saya setuju dengan kritik yang datang. Persib ini belum ketemu dengan permainan aslinya. Saya akan berusaha mengembalikan tim ini ke permainan terbaik.

Ada deadline dari manajemen?
Tidak ada deadline dan kesepakatan tertentu. Saya cuma diminta untuk bertahan.

Sebenarnya Anda ini pernah marah tidak sih, karena pas latihan atau di televisi tampak kalem sekali?
Hampir enggak pernah. Boleh tanya pemain. Saya bukan tipe yang menanamkan disiplin dengan kekerasan. Dengan cara saya pemain justru bisa patuh.

Djajang Nurdjaman berpose di depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id di Graha Persib, Jalan Sulanjana Nomor 17, Taman Sari, Bandung, Selasa siang (13/6/2017)
Djajang Nurdjaman berpose di depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id di Graha Persib, Jalan Sulanjana Nomor 17, Taman Sari, Bandung, Selasa siang (13/6/2017)
© Bismo Agung Sukarno /Beritagar.id
MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.