Don Bosco Selamun saat ditemui di Metro TV Jalan Pilar Mas Raya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Kamis, (15/11/2018)
Don Bosco Selamun saat ditemui di Metro TV Jalan Pilar Mas Raya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Kamis, (15/11/2018) Beritagar.id / Wisnu Agung Prasetyo
BINCANG

Don Bosco: Perintah Bang Surya, you bantu Jokowi

Don blak-blakan membahas sikap Metro TV dalam menyiarkan isu politik dan bersikukuh kebijakan pemberitaannya tidak menjatuhkan golongan tertentu.

Kilas balik ke dua minggu lalu: Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Djoko Santoso, memutuskan untuk memboikot Metro TV. Pemboikotan dilakukan karena Metro TV dianggap merugikan Tim BPN—melalui berita yang disiarkan.

Isu ini makin berkembang tatkala beredar surat imbauan pemboikotan—yang ditandatangani Direktur Media dan Komunikasi BPN Hashim Djojohadikusumo—tertanggal 22 November 2018. Hashim seakan menegaskan lagi agar semua komponen BPN menolak undangan wawancara Metro TV.

Pemboikotan ini pun jadi sorotan sebagian warganet. Di Twitter mereka menulis unek-unek untuk Metro TV lewat tanda pagar (tagar) #BoikotMetroTV. Salah satunya: “BOIKOT MEDIA untuk pembelajaran agar kelak jadi lebih fair memang bagus. Tapi akan lebih bagus kalau yg diboikot itu semua produk yg diiklankan di media tersebut,” tulis akun @AdhieMassardi.

Sebenarnya keadaan ini bukan pertama kali menimpa Metro TV. Dua tahun silam, ketika sedang heboh-hebohnya demo anti-Ahok, tagar #BoikotMetroTV juga jadi topik pembicaraan. Ketika itu, sosok Don Bosco Selamun baru kembali ke Metro TV setelah berkarier di BeritaSatu TV selama lima tahun.

“Ribut boikot ini hanya di sosmed saja, di media mainstream nyaris biasa saja kan,” kata Don saat ditemui Fajar WH, Heru Triyono, Wisnu Agung dan Aulia Rahmah untuk wawancara di Metro TV Jalan Pilar Mas Raya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Kamis, (15/11/2018).

Bagaimanapun, Don adalah figur paling menarik dalam perkara ini. Ia adalah sosok penting di balik dapur redaksi televisi berlambang kepala elang itu. Dirinya menjadi pemimpin redaksi di Metro TV sebanyak tiga kali, termasuk kali ini. "Untuk saya, media itu berpihak for a good reason, bahkan itu sebagai keharusan," ujarnya menjawab kebijakan siaran Metro TV di bawah komandonya.

Memakai setelan jas abu-abu, Don menerima kami di ruang kerjanya dengan jamuan teh. Selama satu jam kami bercakap-cakap, di antaranya soal efek pemboikotan dan bagaimana posisi televisi berita pada tahun-tahun penuh gejolak politik ini. Di bawah ini adalah versi tanya jawab yang telah diedit dan dipadatkan:

Don Bosco Selamun saat ditemui di Metro TV Jalan Pilar Mas Raya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Kamis, (15/11/2018).
Don Bosco Selamun saat ditemui di Metro TV Jalan Pilar Mas Raya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Kamis, (15/11/2018). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Setelah pemboikotan, apakah narasumber dari Tim BPN bersedia datang lagi ke Metro TV?
Prinsipnya kami tetap undang mereka. Kalau gak mau datang itu jadi hak mereka. Tapi saya rasa, they miss kalau enggak datang.

Tapi memang ada kesulitan ya menembus narasumber yang berkaitan dengan Tim BPN Prabowo-Sandiaga?
Di luar Gerindra, misalnya dari PAN, PKS serta Demokrat, ya tetap mau datang. Coba saja Anda lihat talkshow baru-baru ini di Metro--setelah di-banned itu.

Pemboikotan itu enggak ada pengaruhnya bagi Metro TV untuk mengundang sumber?
Begini. Kalau Anda melarang kami meliput berita, ya kami akan katakan bahwa Anda salah. Tapi kalau you tidak datang ke sini ketika kami undang, ya itu hak Anda.

Tapi, kami tidak menganggap boikot itu sebagai sebuah jalan bagus untuk partai politik dan publik, karena publik berhak memahami dan mengetahui berita.

Apakah hubungan Anda terganggu dengan orang-orang di Tim Prabowo?
Saya punya hubungan baik dengan mereka. Bahkan saya baru bertemu Pak SBY dan sebagian teman-teman Gerindra.

Siaran kami ya tetap jalan. Kalau you tidak mau, kita cari sumber lain. Metro kan panggung terbuka untuk you menangkan wacana di publik. Oleh Metro TV, pemberian kesempatan, waktu dan pertanyaan untuk sumber, semuanya sama.

Tapi ada keberatan soal presenter Metro TV yang suka memotong jawaban dari kubu Prabowo?
Saya memang bilang ke presenter, you harus fair memimpin diskusi. You harus kritik dan atur diskusinya. Jangan sampai orang terjebak dalam debat kusir tanpa data dan fakta. Kalau menemukan jawaban asal ngomong, ya presenter akan mengkritik. Kita enggak mau penonton tersesat atau disesatkan.

Publik sepertinya enggak mudah percaya juga dengan pernyataan politisi, jika tak sebanding dengan hasil kerja mereka…
Tapi teman-teman ini pandai betul memainkan retorika di era post-truth. Retorika yang enak didengar dan mungkin mudah dipercaya, tapi faktanya tidak ada. Ini problem.

Orang jadi percaya pada apa yang ingin mereka percaya, bukan apa yang sepatutnya mereka percaya. Mereka tidak peduli angka atau data, don’t care.

Data statistik juga bisa digunakan untuk berbohong kan?
Betul, tapi tanpa statistik orang bisa ngomong lebih sembrono. Presenter Metro TV harus bisa menggali soal data itu.

Misalnya, apa dasar ketika you bilang 2030 Indonesia bubar? Harus ada dasarnya, apakah itu berbasis data atau fiksi. Sama dengan penjelasan soal panjang jalan yang dibangun di Papua. Jangan asal bicara.

Presenter Metro TV dituntut memiliki pengetahuan data yang baik dong ya…
Mereka sudah di-coach. Terutama yang senior. Mereka harus knowledgeable dan paham betul tentang apa yang mereka tanyakan.

Targetnya adalah you harus punya data lebih banyak dari narasumber. Kalau tidak mampu, saya minta datang ke saya, dan posisinya akan diganti dengan yang lain. Karena ini berkaitan dengan urusan politik, terutama untuk publik.

Apakah Anda terbebani mengelola media yang dimiliki pemimpin partai politik, yaitu Surya Paloh?
Tergantung school of thought kita tentang media. Apa sih fungsi media itu? You kan tahu, yaitu lakukan kritik, edukasi dan menghibur.

Netralitas?
Nah, tidak di situ posisi school of thought saya. Tetapi bahwa media itu harus objektif, ya. Untuk saya, media itu berpihak for a reason, for a good reason, itu bagus, bahkan sebagai keharusan.

“Kami modelnya tidak seperti era orde baru, yang suka memuja-muji.”

Don Bosco

Anda kenal dekat dengan Surya Paloh?
Saya kenal dia sebagai orang Aceh yang pluralis. Dia orang Islam, tapi ideologinya nasionalis. Saya kenal beliau sejak 1985. Pada tahun itu saya bergabung di medianya. Sebagai penulis editorial saya selalu berhubungan dengannya.

Keberadaan Surya Paloh ini pasti berdampak pada posisi politik redaksi untuk mendukung salah satu kubu?
Tentu, asal punya alasan bagus. Misalnya di sini, kita harus dukung Jokowi. Sekarang pertanyaannya, you punya alasan adekuat gak untuk mendukung itu? Harus jujur. Kalau kita jujur dan mengatakan kita punya reason, why not? Untuk saya, Jokowi punya track record bagus.

Apakah Metro TV akan seperti The Jakarta Post yang terbuka menyatakan sikap mendukung Jokowi-JK pada Pilpres 2014?
Saya sebetulnya ingin men-declare. Tetapi belum tentu juga semua ingin itu. Kita akan lihat menjelang Pilpres nanti.

Teman-teman di redaksi Metro TV setuju dengan sikap politik ini?
Ini pilihan yang bisa didiskusikan bersama-sama. Silakan kritik dan memberi masukan pada pilihan ini. Bukan berarti kami tidak ada varian. Di Metro TV, hampir semua kelompok politik dapat tempat.

Pilihan sikap politik redaksi ini memengaruhi jumlah penonton?
Awalnya sih resah dan berpikir penonton akan lari. Ternyata enggak tuh. Penonton kita stay dan stabil. Bisa dilihat dari share dan rating.

Don Bosco menjawab tentang pemboikotan Metro TV /Beritagar ID

Kalau pilihannya adalah Jokowi, apakah pemberitaan Metro TV bisa kritis ke pemerintah?Kalau ada kekurangan ya kita kritik. Misalnya BPJS yang buruk pengelolaannya atau bangunan rubuh. Atau kebenaran di Papua itu satu harga, padahal belum semua bagian, ya kami sampaikan ke publik. Kami modelnya tidak seperti era orde baru, yang suka memuja-muji.

Istana atau Surya Paloh pernah melakukan intervensi kepada redaksi?
Tidak pernah. Owner dan kami itu bertemu hanya setahun sekali. Bang Surya lebih sibuk urus partai ketimbang Metro. Mungkin Anda susah percaya, tapi Bang Surya ini enggak pernah menghubungi kami untuk minta sesuatu.

Tapi acara Partai Nasdem kan sepertinya wajib diliput…
Nah itu tergantung value-nya. Nasdem itu punya banyak acara. Mereka punya media internal online, dan itu ada ratusan berita tiap harinya. Kalau Metro TV, paling hanya meliput yang berkaitan dengan Bang Surya saja. Itu pun tidak semua.

Menurut Anda wajar enggak sebuah media memberi slot kepada partai untuk diberitakan?
Untuk kita, lihat dulu penontonnya banyak atau enggak. Mungkin susah untuk dipercaya, kalau Bang Surya pidato, share dan rating-nya ternyata cukup tinggi.

Apa parameternya?
Mungkin value pidatonya, saya juga tidak tahu, tapi itu kejadian. Saya tidak mau subjektif, tapi Bang Surya termasuk orang yang punya retorika bagus.

Tidak ada misi khusus dari Surya Paloh terhadap redaksi Metro TV?
Begini. Kami itu ada rapat dewan redaksi tiga bulan sekali. Semua terserah media masing-masing di grup ini. Yang bisa dijamin adalah Bang Surya tidak pernah nelpon dan meminta untuk mengamankan sesuatu. Itu enggak. Perintahnya tentang Jokowi, you harus bantu.

Itu perintah “mulia” ya?
Untuk saya, iya. Teman-teman di sini juga punya pilihan seperti itu.

Bagaimana formula Anda agar tidak terlalu tampak sebagai corong pemerintah atau Nasdem, istilahnya menghindari berita-berita yang wangi?
Tidak semua yang wangi tentang Nasdem itu keluar. Kita beritakan juga kader Nasdem yang ditangkap KPK. Lihat saja Rio Capella dan Bupati Lampung Tengah, yang keduanya kader Nasdem, ya tetap kita beritakan. Kita enggak bisa tutupi berita-berita itu. You bisa cek.

Apakah media-media yang bergabung di koalisi Jokowi sering rapat bareng untuk menyusun strategi?
Itu kan di TKN (Tim Kampanye Nasional). Kita sama sekali enggak terlibat. Cuma saja, TKN ini bikin grup sejumlah pemimpin redaksi media, ya grup whatsapps, kan normal.

Yang jelas, garisnya itu kita harus menghadirkan pemimpin yang baik untuk publik. Andai kata Pak Prabowo lebih baik, ya kita akan dukung. Tapi yang sekarang terlihat baik kan Pak Jokowi.

Boleh tahu kenapa Najwa Shihab keluar, apa ada hubungannya dengan sikap politik Metro TV?
Matikan dulu rekamannya (off the record).

Ada pengaruhnya untuk Metro TV ketika acara Mata Najwa tidak ada lagi?
Tidak besar. Ya biasa lah, program itu come and go.

Pendapat Anda untuk istilah "Metro Tipu" sebagai plesetan Metro TV…
He-he. Tidak ada efeknya buat kami.

BACA JUGA