Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati saat ditemui Beritagar.id di Kantor Pusat BMKG, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (2/10/2018).
Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati saat ditemui Beritagar.id di Kantor Pusat BMKG, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (2/10/2018). Beritagar.id / Tri Aryono
BINCANG

Dwikorita Karnawati: Seharusnya tak ada peringatan dini tsunami

Rita mengklaim peringatan tsunami yang diakhiri sudah sesuai prosedur dan tak ada tsunami yang muncul setelahnya.

Sosok Dwikorita Karnawati kini tengah disorot. Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) ini diperbincangkan setelah kebijakan mencabut peringatan dini tsunami pada gempa Palu dan Donggala jadi perdebatan. Ia pun dipanggil Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) karena isu itu dan dapat sindiran untuk mundur. “Bahasanya mengakhiri, bukan mencabut, itu beda,” kata Rita, panggilan akrabnya.

Salah satu perbincangan hangat warganet di tengah kepanikan gempa 7,4 skala Richter itu memang soal dicabutnya peringatan tsunami oleh BMKG. Pada awalnya BMKG merilis gempa pukul 18.02 WITA tersebut berpotensi tsunami. Namun pukul 18.37, mereka mengakhiri peringatan itu.

Setelah peringatan diakhiri, diduga malah muncul tsunami yang menghantam perumahan dan orang-orang. Hal ini yang dipertanyakan DPR—karena menganggap BMKG kelewat cepat mengakhiri peringatan itu. Namun Rita menyanggah. Ia mengatakan, pengakhiran peringatan itu setelah tsunami datang, bukan sebelumnya.

“Kalau (tsunami) belum selesai, staf kami di sana bisa meninggal dan enggak akan bisa lapor,” kata Rita kepada Fajar WH, Heru Triyono, dan videografer Tri Aryono, serta Mellyana D Shara di Kantor Pusat BMKG, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (2/10/2018).

Ditemani secangkir teh dan kacang bawang, Rita cukup betah duduk berlama-lama menjawab pertanyaan kami—di tengah kesibukannya. Sesekali ia membenarkan kerudung walau tak tampak miring--saat bicara soal tsunami Palu Donggala dan gempa yang mungkin ancam Ibu Kota. Berikut perbincangannya:

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati saat ditemui Beritagar.id di Kantor Pusat BMKG, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (2/10/2018).
Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati saat ditemui Beritagar.id di Kantor Pusat BMKG, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (2/10/2018). | Tri Aryono /Beritagar.id

Keputusan mengakhiri peringatan dini tsunami pascagempa itu didasari apa?
Perhitungan matematika, fakta di lapangan dan modelling yang kita punya. Modelling itu adalah skenario potensi tsunami yang sudah diterapkan BMKG di seluruh Indonesia.

Apakah perhitungan itu benar-benar sesuai fakta di lapangan?
Tentu, karena itu kami mengakhiri. Sebelum itu, pemberian peringatan dini tsunami juga berdasar modelling tadi. Gempa dihitung secara matematis, posisinya di mana, ya kemudian dilakukan modelling, apakah gempa itu berpotensi menimbulkan tsunami atau tidak.

Tapi kenapa BMKG mengakhirinya begitu cepat, bagaimana kronologinya?
Begini. Mulai jam 18:07 sampai 18:27 peringatan dini berjalan terus. Sampai 18:27 itu tak ada informasi meyakinkan gelombang berakhir atau tidak. Selama 20 menit itu kita amati terus—sampai akhirnya pada 18:27, air menurun dan menunjukkan tinggi hanya 6 sentimeter.

Setelah air turun jadi 6 sentimeter, enggak ada lagi perubahan?
Semakin turun bahkan tidak ada. Artinya stabil dan tidak ada perubahan. Ketika mendapati tinggi air dari 3 meter jadi 6 sentimeter kan bisa jadi suatu kesimpulan.

Dugaan kami tsunami itu tidak akan berjam-jam. Paling berapa menit. Ya 5 menit dan paling lama 10 menit karena datangnya cepat sekali. Nah, setelah tidak ada penambahan air, ya itu harus diakhiri.

Yang jadi dugaan, ketika BMKG mengakhiri, beberapa saat kemudian justru tsunami datang…
Enggak ada. Enggak ada air masuk.

Menurut catatan BMKG tsunami besar itu datang jam berapa?
Jam 18:10 WITA, ketika langit masih terang. Coba lihat videonya. Staf kami di lapangan pada 18:27 itu sudah tidak bisa memotret, enggak kelihatan. Sehingga isu yang mengatakan setelah BMKG mengakhiri kemudian air tsunami datang itu tidak terbukti.

Jadi BMKG berpendapat bahwa tsunami terjadi ketika langit masih terang?
Silakan cek videonya. Dari semua yang beredar, tidak ada satu pun yang gelap. Kalau video itu lambat beredar ya dikarenakan delay. Orang yang merekam tsunami tidak bisa langsung kirim video karena sinyal susah. Di Jakarta, video itu sampai sekitar jam setengah delapan (WIB).

“Sengkuni itu di mana-mana pasti ada kan?”

Dwikorita Karnawati

Muncul bahasan di media sosial kalau BMKG terlalu cepat mengakhiri peringatan sehingga banyak warga jadi korban…
Kita harus mengedukasi, jangan bodohi publik. Tugas kami itu tidak hanya memberi peringatan dini, tidak hanya memberi info gempa, tapi juga ada tugas melekat, yaitu mengedukasi. Dan, kalau tsunami terjadi saat masih terang, menurut Anda itu jam berapa?

Bukannya di Palu, yang masuk WITA, masih agak terang ya saat jam setengah tujuh malam itu?
Enggak, saya ada data. Magrib di sana itu mulai 17:54 sampai 18:10, dan di saat menit-menit itu lah dugaan kami tsunami terjadi.

Tapi ada juga versi yang menyatakan tsunami besar justru terjadi setelah BMKG mengakhiri peringatan…
Enggak mungkin. Itu masih terang, buktinya apa? Videonya terang. Pada jam 18:27 staf kami berdiri di sana, dekat pelabuhan Pantaloan. Kalau pas diakhiri kemudian malah datang tsunami staf kami akan meninggal, tapi dia buktinya hidup.

Ini namanya becik ketitik ala ketara, yang baik akan kelihatan dan yang buruk akan tampak, gitu lho. Sengkuni itu di mana-mana pasti ada kan?

Sebenarnya bagaimana pengolahan data dari lapangan sampai kemudian menjadi sebuah keputusan?
Yang jelas yang mengolah data-data itu di Jakarta. Orang di lapangan ya mencari tugas untuk mencari fakta. Di sisi lain BMKG punya banyak alat. Alat ini dipasang di seluruh Indonesia.

Ada alat yang mengirimkan sinyal berupa gelombang gempa. Gelombang ini terkirim ke kantor, masuk komputer, lalu dihitung. Dalam dua menit berapa detik kita tahu di Palu akan terjadi tsunami. Ini yang menghitung mesin.

Padahal aktivitas sesar geser seperti di Palu Koro itu amat jarang menimbulkan tsunami ya…
Dari hasil modelling, aktivitas sesar geser memiliki beberapa kemungkinan. Patah geser itu ternyata bisa ada sudut-sudutnya.

Nah geser yang bersudut ini yang menimbulkan tsunami. Sebab itu, peringatan dini itu sudah sangat tepat dari BMKG, karena seharusnya tak ada peringatan dini kalau melihat teori kegempaan ya. Sebab ini patahan geser.

Maka itu BMKG-nya Jepang tidak memberikan peringatan tsunami saat gempa Palu. Mereka malah bingung kok di Palu terjadi tsunami.

Standarnya, selang berapa lama harusnya peringatan dini tsunami itu diakhiri setelah kejadian?
Tergantung data. Kalau ada kenaikan air ya ditunggu sampai tidak naik lagi. Ketika sudah tidak naik lagi ya harus diakhiri. Kalau tidak, tidak ada yang berani masuk ke tempat kejadian.

Pengakhiran itu untuk memberi kesempatan kepada petugas untuk segera turun ke lokasi membawa bantuan dan menolong.

Aturannya memang seperti itu?
Ini aturan internasional. Jadi kita harus patuh terhadap aturan itu--demi menyelamatkan dengan cepat.

Alur peringatan dini tsunami
Alur peringatan dini tsunami | Sandy Nurdiansyah /Beritagar.id

Anda bilang tadi BMKG-nya Jepang tidak mendeteksi adanya tsunami saat gempa Palu-Donggala, beda teknologi?

Ya sebabnya gempa itu dari patahan geser. Menurut ilmu gempa, tidak akan timbulkan tsunami. Saat umumkan peringatan tsunami kami pun juga dikritik. BMKG dibilang ngelindur. Padahal benar terjadi tsunami kan. Yang mengumumkan akan terjadi tsunami itu hanya Indonesia, Australia dan India.

Itu karena BMKG berhasil mengembangkan sistem pemodelan tsunami, dengan machine learning. Sekarang kan, era inovasi four point zero. Nah, dengan mesin itu kita menambah 1000 skenario kemungkinan terjadinya tsunami. Per September kemarin, kita malah punya 18 ribu skenario.

Kalau di Palu ada berapa skenario?
Enggak hanya di Palu, skenario sebanyak itu berlaku untuk seluruh Indonesia.

Likuifaksi apakah masuk di dalam skenario BMKG itu?
Likuifaksi itu bukan bagian skenario. Itu adalah dampak lanjut dari gempa dan tsunami. Di luar dari gempa tsunami tidak termasuk dalam hitungan mesin.

Bukankah likuifaksi itu juga adalah efek gempa, sama seperti tsunami?
Modelling yang kami punya hanya khusus untuk gempa dan tsunami. Likuifaksi mungkin badan geologi.

Yang jadi perhatian, ketika ada peringatan tsunami warga itu diarahkan ke atas, tapi di atas malah terjadi likuifaksi…
Ya maka itu penanganan gempa itu dikerjakan bersama-sama. BMKG tidak bisa bekerja sendiri. Misalnya kerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (disingkat BNPB), yang menangani bencana pascakejadian.

Kepala BMKG bicara skenario tsunami tanpa peringatan dini /Beritagar ID

Seluruh buoy tsunami yang dimiliki Indonesia saat ini rusak, apakah hal ini memengaruhi keakuratan prediksi?
Nah ini perlu dijelaskan. BMKG memang tidak memakai buoy. Ini kan kayak mazhab gitu lho. Kalau di Amerika memang andalannya buoy. Tapi kami mengikuti mazhab Eropa. Andalannya ya modelling.

BMKG memilih mazhab modelling karena kondisi Indonesia sangat kompleks. Terbukti di Palu, yaitu patahan geser menimbulkan tsunami. Ini kan kompleks.

Artinya meski tanpa buoy prediksi bisa tetap akurat?
Kalau misalnya ada (buoy) itu lebih baik. Tapi tetap kita harus kaji dulu. Kita harus belajar juga dari BPPT, karena mereka yang pernah punya dan pasti lebih paham.

Selain sesar Palu Koro, sesar mana lagi yang aktif dan berbahaya?
Indonesia itu negeri cincin api. Cukup banyak patahan aktif. Kita sudah tahu patahan-patahan ini. Palu Koro itu sudah kita bahas sejak lama. Sebab itu butuh mitigasi untuk menghadapinya.

Mitigasi bencana ini disesuaikan dengan tata ruang agar gedung-gedung menghindari zona-zona yang guncangan gempanya kuat. Jadi patahan itu tidak untuk ditakuti, tapi dihindari.

Apakah gempa sesar Palu Koro bisa menular ke sesar lainnya, misalnya sesar Lembang di Jawa?
Istilahnya bukan menular ya, bukan juga penjalaran. Misalnya gempa Lombok dan Palu, itu tidak ada hubungannya. Kebetulan saja kejadiannya berdekatan.

Tapi apakah sesar lain yang satu garis dengan patahan Palu Koro tidak berpengaruh sama sekali, di Kalimantan tidak ada ya?
Kalau Kalimantan itu paling aman. Kalau di Jawa ada beberapa patahan memang.

Sesar Lembang ini akan berdampak ke Jakarta?
Enggak nyambung ke Jakarta. Yang di bawah Jakarta ini masih dalam kajian. Belum ada bukti. Kami baru akan memasang alat sensor untuk membuktikan adanya patahan di bawah Jakarta. Jadi belum ada hipotesis mengenai itu.

Bisa ya patahan itu dideteksi?
Dengan memasang sensor-sensor mestinya bisa. Logikanya kan patahan itu tidak seketika bergerak, pasti ada start gempanya sedikit-dikit. Itu yang akan kita lakukan—untuk membuat prediksi.

Jadi dalam beberapa tahun ke depan Jakarta aman ya?
Sementara kan pusat gempa belum ditemukan ada di Jakarta. Tapi, tahu aman atau tidak ya yang tahu Tuhan.

Soalnya beberapa waktu lalu isu gempa megathrust di Jakarta kan menyebar…
Kalau megathrust itu tidak ada di Jakarta. Megathrust itu jaraknya 250 kilometer dari tepi pantai di Selatan Jawa. Ya jarak ke Jakartanya sekitar 350 kilometer.

Bagaimana respons Presiden Joko Widodo soal gempa Palu kepada Anda selaku kepala BMKG?
Saya baru ketemu Pak Jokowi dan sudah melaporkan apa yang harus ditindaklanjuti. Biasanya Pak Presiden itu komunikasi dengan BNPB. Tapi respons Pak Presiden positif, dia minta antisipasi ke depan itu seperti apa dan apa yang harus segera disiapkan nanti.

Anda satu angkatan ya dengan Jokowi di Universitas Gadjah Mada (UGM)?
Enggak lah, beliau kakak kelas (angkatan 1980). Memangnya ketoke tuwo yo? (tertawa).

BACA JUGA