Egy Maulana Vikri saat ditemui di Hotel Batiqa Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (10/10/2017)
Egy Maulana Vikri saat ditemui di Hotel Batiqa Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (10/10/2017) Beritagar.id / Wisnu Agung Prasetyo

Egy Maulana Vikri: Saya ini Egy, bukan Lionel Messi

Egy melihat kembali ke masa lalu, menceritakan masa kini, namun enggan berspekulasi tentang masa depan.

Garis-garis wajah Egy terlihat lelah, selesai latihan. Rambut keritingnya mencuat ke timur dan barat. Dia duduk tegak, menyandarkan tubuhnya ke kursi--ketika ditemui Beritagar.id untuk wawancara. "Maaf ya menunggu lama," kata Egy Maulana Vikri--nama tulennya.

Nama striker Timnas U-19 ini memang sedang harum. Dimulai dari gelar Jouer Revelation Trophee yang ia dapat di Toulon Turnament di Prancis. Itu adalah penghargaan kepada pemain yang paling berpengaruh. Cristiano Ronaldo pernah dapat penghargaan sama.

Kemudian pada Piala AFF U-18 di Myanmar. Egy jadi top scorer turnamen itu dengan torehan delapan gol. Ditambah lagi namanya masuk dalam 60 pesepak bola muda berbakat 2017 versi The Guardian. Sejajar dengan bintang belia dunia seperti Vinicius Junior dari Brazil.

David Gallego Rodriguez, pelatih Espanyol B, juga pernah memujinya. Ia bilang, permainan Egy mirip Lionel Messi. Hal itu Rodriguez ucapkan usai pertandingan Timnas U-19 lawan Espanyol B di Bandung. "Tapi saya ini Egy, bukan Lionel Messi," kata Egy.

Pria kelahiran Medan Selayang 17 tahun silam ini, mengawali kariernya di Sekolah Sepak Bola (SSB) Tasbi Medan. Egy mulai dikenal saat ikut turnamen Grassroot Turnament U-12 bersama tim Asosiasi Sekolah Sepak Bola Indonesia (ASSBI) Sumatera Utara. Selanjutnya ia membawa Persab Brebes juara Suratin Cup--merupakan turnamen di bawah usia 17.

Sedari kecil Egy hanya fokus pada sepak bola. Ia tak punya rencana B selain jadi pemain. Ayahnya yang pertama mengajarinya berlari cepat, menendang keras dan menggocek bola. "Selain Papa, sosok yang berjasa adalah Pak Subagja Suihan," ujar Egy. Sosok itu yang membawanya dari Medan untuk bergabung ke Diklat Ragunan.

Kepada Heru Triyono dan fotografer Wisnu Agung, ia menjawab panjang lebar soal bagaimana dirinya merintis karier hingga mimpinya membela klub Eropa--di Hotel Batiqa Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (10/10/2017). Berikut wawancaranya:

Egy Maulana Vikri usai latihan di Hotel Batiqa Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (10/10/2017)
Egy Maulana Vikri usai latihan di Hotel Batiqa Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (10/10/2017) | Wisnu Agung

Apakah jadi beban ketika nama Anda masuk daftar 60 talenta terbaik The Guardian?
Saya sih fokus latihan saja. Dihargai seperti itu ya enggak jadi beban, malah bisa naikin motivasi.

Jujur, saya belum merasa jadi apa-apa. Orang mengira saya paling penting, paling hebat, eh malah dituduh sombong. Padahal saya enggak merasa jadi bintang.

Tapi Anda memang sedang jadi perbincangan dan dikenal dengan julukan Egy Messi...
Saya enggak merasa seperti Messi. Anehnya ada orang yang menghujat saya dan bilang kepada saya untuk jangan jadi Messi. Saya diminta jadi diri sendiri saja.

Padahal, saya enggak pernah menyebut diri sendiri itu Messi. Yang menyebut kan orang lain, saya enggak tahu apa-apa. Saya ini Egy, bukan Messi.

Julukan Egy Messi itu sejak kapan?
Sudah lama, ketika saya masih di Medan. Tapi sekarang orang jadi lebih sering menyebutnya.

Merasa gaya permainan Anda mirip atau dipengaruhi Lionel Messi?
Saya sering lihat Messi. Tetapi gaya mainnya jauh, saya belum sempurna dan harus banyak belajar lagi. Saya juga tidak mau jadi dia, saya ini Egy. Memang, saya suka Messi, dan awalnya itu Arjen Robben. Bahkan sepatu saya dulu itu, saya coret-coret dengan tulisan Robben.

Apakah Anda juga merasa sebagai pemain berpengaruh di tim? Notabene pernah dapat penghargaan Jouer Revelation Trophee...
Saya enggak merasa paling penting. Semua pemain sama. Tidak ada pemain bintang di dalam tim.

Anda seperti enggak nyaman ketika semua pandangan mata menyorot Anda?
Karena saya sudah nyaman dengan suasana di tim. Enggak nyamannya itu kalau saya yang disebut-sebut terus.

Padahal semua punya peran penting. Tanpa satu sama lain, tim ini enggak ada apa-apanya. Apakah kalau saya main selalu dapat operan bola? Kan enggak juga.

Saya dan mereka adalah bagian dari strategi. Jadi enggak ada itu yang namanya bintang.

Banyak ya perubahan hidup yang dialami sejak masuk Timnas U-19 kemudian dikenal media dan masyarakat...
Ya begitu. Keluar hotel ada yang minta foto. Selama saya masih bisa, saya akan tanggapi. Tapi kalau harus latihan, ya kan enggak bisa.

Saya sih selama ini tetap jadi diri sendiri saja. Saya enggak mengerti soal fan, karena saya bukan bintang. Saya merasa sama di mata pelatih dan pemain lain.

Sebelum masuk Timnas U-19, Anda itu sudah mengenal sosok pelatih Indra Sjafri?
Saat umur 12 saya pernah bertemu coach Indra di Festival FIFA Grassroot di Medan. Tetapi hubungan saya lebih dahulu dengan Pak Bagja (Subagja Suihan). Pak Bagja menemukan saya, lalu merekomendasikan saya ke coach Indra. Jadi saya baru kenal coach ya sekarang-sekarang ini.

Egy Maulana Vikri, Rafli Mursalim dan Muhammad Rifad Marasabessy usai latihan di Hotel Batiqa Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (10/10/2017)
Egy Maulana Vikri, Rafli Mursalim dan Muhammad Rifad Marasabessy usai latihan di Hotel Batiqa Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (10/10/2017) | Wisnu Agung

Metode kepelatihan Indra Sjafri cocok dengan gaya bermain Anda?
Coach suka bola pendek dan itu yang memang diinginkan saya. Ya saya ikut strategi coach saja. Saya merasa coach membuat kami menjadi pemain yang lebih baik.

Masih ingat siapa pelatih pertama yang melatih skill Anda?
Pelatih pertama saya adalah Papa, mantan pemain, namanya Rahmad Syarifuddin. Dia yang mengajari saya menendang bola dengan akurasi, dribel, punya mental kuat dan berani ambil risiko.

Sudah sejak lama kah memakai kaki kiri sebagai andalan?
Memang enggak pernah pakai kaki kanan sama sekali. Alami saja. Sejak dulu saya juga bermain di posisi nomor 10. Tapi jangan melebihkan kaki kiri saya. Biasa saja.

Sepertinya sedari kecil sudah punya peralatan latihan bola ya di rumah?
Seadanya saja. Di sana ya tanpa fasilitas. Main bola ya main saja. Di sekolah, di lapangan, di mana saja. Saya itu sejak bisa jalan, sudah tendang-tendang bola. Itu kata Papa.

Papa juga yang memasukkan saya ke sekolah bola. Saya rutin latihan hampir setiap hari. Saya rutin juga ikut pengajian. Makanya sering khatam baca Alquran dan sampai sekarang masih mengaji.

Bagaimana membagi waktu antara sekolah dan latihan, apa enggak keteteran?
Nggak, malah sebelum latihan itu mengaji. Ketika SD saya ini lumayan pintar. Rata-rata dapat peringkat 1-5. Masuk SMP juga rankingnya itu 1 dan 2. Tapi pas masuk ke Ragunan, ya susah untuk belajar ha-ha. Jadi agak kendor.

Egy Maulana Vikri usai latihan di Stadion Wibawa Mukti, Jawa Barat, Selasa (10/10/2017)
Egy Maulana Vikri usai latihan di Stadion Wibawa Mukti, Jawa Barat, Selasa (10/10/2017) | Wisnu Agung

Anda menonjol dalam bidang atau mata pelajaran tertentu di sekolah?
Bahasa Inggris, matematika sih enggak. Saya suka bahasa Inggris, rasanya enak saat membahasakannya, seru. Bahasa ini juga yang akan dipakai seandainya saya ini berkarier di luar negeri kan.

Kapan dan bagaimana ceritanya sehingga Anda memutuskan untuk berkarier di sepakbola?
Saya enggak pernah berpikir jadi tentara, polisi atau dokter. Dari kecil sudah satu tujuan: jadi pemain bola.

Mungkin karena keluarga saya pencinta sepak bola semua. Saya ini anak kedua dari tiga bersaudara. Papa dan mama asli Medan. Kakek ada darah Belanda. Abang saya juga pemain. Namanya Yusrizal Muzaki. Dia main di Liga 2--kelahiran 1994.

Kalau boleh tahu, apa latar belakang keluarga Anda?
Kami punya usaha warung makanan dan es di Medan Selayang. Saya terkadang menjaga warung itu. Misalnya ketika orang tua sedang ke kamar mandi atau keluar.

Bagaimana tanggapan keluarga setelah tahu Anda berhasil masuk Timnas U-19?
Mereka senang, tapi Papa bilang jangan cepat puas. Kalau saya pribadi ya bangga. Apalagi bisa mewakili anak-anak seluruh Indonesia main di Timnas.

Peran Papa begitu besar bagi Anda ya...
Dia sering memotivasi saya dengan cerita-cerita pengalaman dia dulu. Saya masih ingat saat kecewa karena saya batal jadi pemain terbaik di sebuah turnamen. Saya menangis. Tapi ayah membangkitkan semangat saya lagi.

"Saya enggak pernah berpikir jadi tentara, polisi atau dokter. Dari kecil sudah satu tujuan: jadi pemain bola"

Egy Maulana Vikri

Melihat performa Anda belakangan, apakah sudah banyak tawaran datang dari klub-klub di Indonesia?
Saya enggak tahu dan enggak mengurus itu sih. Semuanya ditangani Pak Bagja.

Ada rumor Anda dikaitkan dengan klub Liga 1...
Untuk saat ini saya belum memikirkannya. Saya fokus dulu saja ke Timnas dan sekolah di Ragunan.

Bagaimana dengan rumor bahwa Anda akan bermain di klub Espanyol?
Saya juga enggak urus itu. Kalaupun ada tawaran, pasti datangnya bukan kepada saya, tapi ke Pak Bagja.

Subagja menyampaikan ihwal tawaran klub Espanyol itu ke Anda?
Enggak ada. Itu urusan mereka. Saya pun sedang latihan di Timnas, jadi enggak mungkin dia menyampaikan hal itu.

Jadi status Anda sekarang ini sebagai pemain klub mana...
Saya Diklat Ragunan lah. Enggak main di klub. Kalau meminjam seperti Brebes, baru saya bisa main.

Selama berkarier, Anda pernah mengalami cedera parah?
Enggak, tapi pelipis saya pernah bocor karena menabrak tiang voli pas SD. Saat itu, saya sedang main kasti, teman memukul, saya lalu lari, eh saya malah menabrak tiang karena enggak melihat.

Luka itu enggak dijahit. Ke orang tua, saya bilang cuma terjedot pintu. Sobeknya padahal lumayan besar dan baru jujur kemarin-kemarin ini ke orang tua ha-ha.

Sudah merasa puas dengan pencapaian Anda di titik yang sekarang?
Karier saya masih panjang. Saya hanya ingin terus belajar, berlatih lebih keras lagi dan berdoa. Itu saja dulu.

Apa target Anda bersama Timnas U-19?
Juara Piala Dunia U-20. Bismillah.

Lalu, bagaimana Anda melihat diri Anda sendiri dalam 10 tahun ke depan?
Saya orangnya enggak pernah berpikir 10 tahun ke depan. Satu-satu saja dulu, pelan-pelan.

Oke. Selain sepak bola, apa kegiatan Anda yang lain?
Main PlayStation. Main game PES sebanyak 70 persen, dan FIFA 30 persen. Saya selalu main pakai tim Barcelona he-he.

Egy Maulana Vikri: Saya bukan Messi /Beritagar ID
BACA JUGA