TT saat ditemui di sebuah kafe di Semarang, Jawa Tengah, Kamis siang (27/6/2019).
TT saat ditemui di sebuah kafe di Semarang, Jawa Tengah, Kamis siang (27/6/2019). Heru Triyono / Beritagar.id
BINCANG

Eks brigadir TT: Saya merasa dibuang karena gay

Selama 10 tahun ia tak pernah bicara ketertarikannya pada pria. Untuk menangkis kecurigaan, dirinya membuat pernyataan memiliki pacar perempuan di depan rekan-rekannya.

Suaranya pelan. Sedikit medok. Ia tak tersinggung dan malah tersenyum ketika bersenda gurau soal suaranya itu, yang terdengar seperti gay. Tentu saja, tak semua gay memiliki suara sama. Saya paham. Itu merupakan stereotip dan sedang bercanda. “Ndak apa. Inilah jati diriku he-he,” katanya menanggapi candaan tadi.

Namun, stereotip itu jadi sumber ketidaknyamanan besar baginya. Ia kehilangan pekerjaan sebagai polisi, yang diduga karena pilihan orientasi seksualnya itu. Mungkin, ia adalah orang pertama di Indonesia yang dipecat dari kepolisian karena dirinya gay.

Mantan brigadir polisi berinisial TT ini memang sedang jadi berita utama. Polda Jawa Tengah memberhentikannya dengan tak hormat sejak 28 Desember 2018. Padahal, TT merasa tak pernah melanggar disiplin selama bekerja. “Naik pangkat pun saya rutin. Artinya tidak ada masalah secara prestasi,” ujarnya.

Atas pemecatan tersebut, TT menggugat Polda Jawa Tengah ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang. Namun ditolak lantaran dianggap prematur.

Tak puas dengan putusan itu, TT melakukan banding. Ia merasa ada diskriminasi dalam proses pemecatannya itu. “Prosesnya kurang terbuka,” kata TT kepada Heru Triyono di sebuah kafe di Semarang, Jawa Tengah, Kamis siang (27/6/2019).

Keterangan TT berseberangan dengan versi polisi. Menurut polisi, alasan pemecatan TT karena dia melakukan pelecehan seksual dan membolos kerja (desersi) pergi ke Singapura. “Proses pemberhentian TT juga sudah sesuai dengan mekanisme,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Dedi Prasetyo.

Dalam wawancara, TT bicara terbuka tentang pencariannya terhadap sosok ayah sejak kecil, karier di kepolisian dan pemecatannya. Berikut perbincangannya:

TT saat ditemui di sebuah kafe di Semarang, Jawa Tengah, Kamis siang (27/6/2019).
TT saat ditemui di sebuah kafe di Semarang, Jawa Tengah, Kamis siang (27/6/2019). | Heru Triyono /Beritagar.id

Setelah dipecat, otomatis Anda tak boleh lagi memakai atribut kepolisian. Bagaimana rasanya mengalami perubahan seperti itu?
Rasanya beda. Tak ada lagi kebanggaan. Padahal jadi polisi adalah cita-cita saya dari SMA.

Saya suka melihat polisi yang melayani masyarakat di Blora saat remaja.

Karena itu, kecewa banget ketika dipecat. Padahal persoalan ini adalah privasi saya di kamar. Kok diurusin mereka.

Ini tidak adil. Saya merasa seperti dibuang karena saya ini gay.

Karena tak adil itu Anda melakukan banding atas putusan PTUN yang sudah menolak gugatan Anda…
Sebenarnya bukan menolak, tapi memang belum diperiksa gugatannya oleh PTUN.

Tujuan saya sih cuma ingin ada keterbukaan dari Polri soal saya. Kedua, saya ingin melawan ketidakadilan atas putusan terhadap saya. Itu saja.

Kurang terbuka bagian mana. Polri menyatakan Anda melakukan pelecehan seksual serta meninggalkan tugas tanpa izin (desersi). Karena itu Anda dipecat kan?
Ndak seperti itu. Desersi juga mengada-ada. Masa saya dibilang melecehkan dokter, yang pasangan saya sendiri.

Saya pun tidak ada masalah dengan bapak angkat saya. Tiba-tiba ada laporan terhadap saya soal pelecehan dan pemerasan. Itu tidak benar.

Tapi Anda memang pernah bolos kerja ke Singapura?
Enggak bolos. Saya pergi Sabtu dan Minggu. Memang sedang libur.

Anda pergi ke Singapura dengan pasangan Anda yang dokter itu?
Bukan. Saya pergi jalan-jalan ke sana sama bapak angkat saya.

Kenapa harus ada sosok bapak angkat. Bukannya Anda ini sudah dewasa untuk mengatur hidup sendiri?
Saat kecil saya jauh dengan bapak kandung saya. Bapak sibuk kerja. Saya ini dititipkan ke bude.

Saya mendambakan sosok bapak. Akhirnya saya bertemu tak sengaja dengan bapak angkat saya ini di mal. Saling sapa, kemudian berhubungan baik.

Sejak remaja, Anda sudah memiliki ketertarikan pada sesama jenis?
Ndak. Saya merasa tertarik setelah jadi polisi. Suatu kali saya sakit karena melakukan sebuah aktivitas, lalu ditangani seorang tabib.

Saat diperiksa tabib, terjadi “itu”. Sebelumnya saya ndak pernah merasakannya.

Saya bingung mau cerita ke siapa. Cerita kepada keluarga dan teman juga ndak mungkin. Belum berani.

Tapi teman-teman dan keluarga tahu saat ini Anda adalah gay?
Keluarga baru tahu. Mereka kaget. Kalau teman-teman polisi ndak ada yang tahu sama sekali. Tahunya saya punya pacar perempuan.

Tapi, setelah kejadian ini pun, sikap teman-teman kepada saya sama saja. Santai. Mereka ndak mau ikut campur juga urusan privasi.

Anda merasa mencoreng citra kepolisian atas orientasi seksual yang Anda punya?
Ndak sih. Saya kan jaga privasi. Toh banyak kejadian di internal Polri yang harusnya diperbaiki. Kenapa hal semacam ini, yang tidak ada unsur pidananya, malah dipermasalahkan.

Mungkin soal stigma masyarakat terhadap gay?
Mungkin. Saya paham bahwa kami adalah minoritas. Tapi juga jangan ada diskriminasi untuk saya.

Sempat memprediksi bahwa pemecatan ini akan terjadi ketika orientasi seksual Anda terungkap?
Ndak. Saya awalnya mengira rekomendasi sidang etik untuk saya itu bukan sanksi pemecatan. Tapi sanksi yang lain.

Misalnya peringatan saja atau permintaan maaf.

“Saya ingin melawan ketidakadilan atas putusan terhadap saya. Itu saja”

TT

Jadi, sidang kode etik Polri itu membahas orientasi seksual Anda atau pelanggaran yang Anda lakukan?
Intinya saya dianggap melanggar norma, menyimpang dan segala macam. Sidang dilakukan tertutup.

Kemudian saya direkomendasikan PTDH (Pemberhentian Tidak Dengan Hormat). Saya melakukan banding atas hasil sidang itu namun ditolak.

Hasil sidang itu sekitar April 2018. Cuma saya tetap ditugaskan saat Lebaran 2018. Saya masih mengamankan objek vital dan objek wisata.

Kemudian surat keputusan saya dipecat itu baru muncul pada 28 Desember 2018.

Selama ini Anda menyimpan rahasia bahwa Anda gay. Dari mana orang tahu, Anda kepergok?
Semua bermula dari penangkapan saya dan dokter di Rumah Sakit Mardi Rahayu Kudus pada hari valentine 2017. Kita bertemu, dan berbagi cokelat di sana.

Selesai itu, tiba-tiba saya ditangkap sembilan polisi atas dugaan tindak pemerasan.

Saya bingung. Ada apa. Kemudian saya diperiksa sampai keesokan harinya, dan dua ponsel saya diambil.

Dugaan saya, dari ponsel itu mereka tahu saya gay. Dokter itu pun sudah memberi keterangan bahwa tidak ada pemerasan.

Tapi di berita-berita ditemukan kondom dan tisu basah ketika itu…
Pengacara Maruf Bajammal:

Kondom dan tisu itu masih baru dan belum terpakai.

Kenapa kemudian polisi menjerat Anda dengan pasal kode etik profesi atas kejadian itu. Bagaimana?
Pengacara Maruf Bajammal:

Tidak ada hubungannya bukti yang ditemukan di mobil itu dengan etika.

Kalaupun dianggap "menyimpang", apakah berarti dia (TT) tidak mendapat pelayanan dan keadilan.

Sejauh yang Anda tahu. Apakah ada gay selain Anda di lingkungan Polri?
(Tersenyum). Silakan cek saja.

Sebenarnya, apa yang Anda khawatirkan kalau men-declare bahwa Anda seorang gay di lingkungan kepolisian?
Kurang tahu ya. Saya selama ini tidak pernah bicarakan orientasi saya di internal dan tidak mau buat gaduh juga.

Apakah pertanyaan soal orientasi seksual itu ada saat Anda mendaftar sebagai polisi atau ada aturan jelas bahwa gay dilarang mendaftar?
Ndak ada. Makanya melanggar norma yang dimaksud itu artinya terlalu luas. Seperti aturan karet.

Oke. Apa langkah selanjutnya?
Saya tetap melakukan banding dan karena tidak menerima gaji lagi, saya fokus mengembangkan usaha juga.

Bagaimana respons teman-teman dan keluarga atas kejadian yang menimpa Anda ini?
Teman dan keluarga tidak menjauh hanya karena saya gay.

“Teman dan keluarga tidak menjauh hanya karena saya gay”

TT

Wawancara Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo, Jumat (18/6/2019) melalui telepon:

Pihak TT ajukan banding atas putusan majelis hakim Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang…
Silakan saja menggugat atau banding. Kami tidak ada masalah. Itu adalah haknya. Lagi pula kenapa pria ini (TT) dijadikan sumber. Harusnya kan sudah lewat kasus ini.

TT merasa sidang komisi kode etik profesi Polri berjalan diskriminatif, bagaimana pendapat Anda?
Tidak ada yang diskriminatif. Polri sudah menjalankan sidang kode etik itu sesuai prosedur. Kami juga tidak membeda-bedakan.

Kalau ada pelanggaran-pelanggaran, ya pembuktiannya di sidang itu.

Seberapa buruk pelanggaran yang dilakukan TT sehingga sampai dipecat tidak hormat. Polri menyatakan dia melakukan desersi dan pelecehan seksual?
Yang jelas kami sudah menjalankan sidangnya sesuai dengan mekanisme dan ketentuan yang ada.

TT mengaku tidak melakukan pelecehan seksual terhadap siapapun…
Silakan saja dibuktikan. Perbuatan dia (TT) itu telah merugikan polri. Seperti yang sudah ditulis banyak media.

Menurut TT bagaimana mau melecehkan jika itu adalah pasangannya sendiri?
Silakan tanyakan saja kepada dia perbuatan itu. Toh gugatan dia juga sudah ditolak pengadilan (PTUN).

Oke. Apakah benar TT dipecat karena gay?
Kami tidak pernah menyebut gay sebagai alasan. Tapi merujuk peraturan yang ada. Dia itu melakukan perbuatan yang merugikan kepolisian. Yaitu pelecehan seksual dan desersi.

**-**

Wawancara Kepala Bidang Humas Polda Jateng Agus Triatmaja saat dihubungi Beritagar.id pada Jumat siang (28/6/2019):

“(Kasus ini) sudah berulang kali dijelaskan oleh divhumas dan bidhumas. Terima kasih. Maaf saya sedang sibuk”

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR