Eks pramugari Lion Air Laura Lazarus saat ditemui World Trade Center (WTC) di Mangga Dua, Jakarta Utara, Kamis (1/11/2018).
Eks pramugari Lion Air Laura Lazarus saat ditemui World Trade Center (WTC) di Mangga Dua, Jakarta Utara, Kamis (1/11/2018). Beritagar.id / Tri Aryono
BINCANG

Eks Pramugari Lion Air: Saya enggak mau naik maskapai itu lagi

Laura pernah kecewa kepada Lion Air karena cuma menanggung pengobatan di awal kecelakaan. Selanjutnya ia harus berjuang sendiri dengan menjadi penulis.

Ia selalu ada di sana. Terutama jika ada penumpang pesawat yang menjatuhkan kopi, maka ia akan mengurusnya dengan sopan. Tapi, gangguan seperti itu tak ada apa-apanya ketimbang kisah horor yang dialaminya: dua kali kecelakaan pesawat. “Traumanya membekas sampai sekarang,” ujar Laura Lazarus, eks pramugari Lion Air ini.

Ketika berprofesi sebagai pramugari, Laura adalah perempuan biasa berusia 18— dari Jakarta. Masa kecilnya tak indah. Rumahnya dijual demi melunasi utang. Sebab itu ia ingin sekali menjalani gaya hidup bintang lima dan keliling Indonesia—dengan menjadi pramugari.

“Waktu itu aku ingin menghidupi keluarga dari profesi pramugari,” kata Laura kepada Heru Triyono, Moammar Fikrie, Bonardo Maulana dan Tri Aryono, saat wawancara di World Trade Center (WTC) Mangga Dua, Jakarta Utara, Kamis sore (1/11/2018).

Kini, Laura hidup cacat. Bagian wajah dan kakinya dioperasi belasan kali karena kecelakaan itu. Pesawat yang ia naiki tergelincir di Solo dan berhenti di atas kuburan—pada 2004 silam. Satu kecelakaan lagi terjadi lima bulan sebelumnya, di Palembang.

Saat bertemu, bekas luka di wajahnya masih terlihat meski tak kentara. Cuma tampak goresan halus di bawah kedua matanya. Laura bilang, tulang pipinya dilapisi plat metal dan tulang kakinya adalah hasil implan tulang kaki orang meninggal. “Sejak itu, aku harus ditopang kruk saat jalan,” ujar Laura, yang kini menjadi inspirator, konsultan dan penulis buku.

Jalan hidup dia memang mirip Lazarus, sesuai namanya. Lazarus adalah orang yang dibangkitkan Yesus setelah alami kematian. Nama tersebut ternyata membawa Laura bernasib sama dengan Lazarus. Ia koma tiga hari usai kecelakaan, lalu hidup kembali.

Pekan lalu, kenangan kecelakaan itu juga hidup kembali saat ia tahu pesawat Lion Air JT610 jatuh. Perutnya mual. Beberapa malam tak tidur. Pikiran Laura melayang kepada nasib korban. Ia pun berbagi kesedihan dan kebahagiaan saat menjawab pertanyaan kami seputar kecelakaan yang menimpanya, serta bagaimana gaya hidup seorang pramugari. Berikut wawancaranya:

Eks pramugari Lion Air Laura Lazarus saat ditemui World Trade Center (WTC) di Mangga Dua, Jakarta Utara, Kamis (1/11/2018).
Eks pramugari Lion Air Laura Lazarus saat ditemui World Trade Center (WTC) di Mangga Dua, Jakarta Utara, Kamis (1/11/2018). | Tri Aryono /Beritagar.id

Terjadi lagi ya kecelakaan pesawat, kali ini pesawat Lion Air JT 610…
Ya, mendengar (kecelakaan) itu saya langsung enggak bisa ngapa-ngapain. Badan saya gemetar dan enggak bisa tidur. Teringat kecelakaan di Palembang dan Solo—yang pernah saya alami.

Trauma?
Enggak juga. Tapi perasaan enggak enak muncul tiap dengar ada kecelakaan lagi.

Apakah karena dua kecelakaan itu Anda jadi takut naik pesawat?
Enggak. Tapi saya enggak mau naik maskapai itu lagi. Saya rasa yang bertahun-tahun di sana mengerti. Pilotnya saja enggak akan izinkan keluarganya naik maskapai itu. Itu yang saya dengar dari teman.

Ada alasan tertentu kenapa enggak mau naik Lion Air?
Mungkin pilot jauh lebih tahu situasinya ketimbang saya. Kalau saya sih sederhana. Enggak mau naik karena Lion itu delay. Itu menyita waktu.

Sebenarnya para pramugari tahu enggak sih jika pesawat itu bermasalah atau enggak?
Sepertinya enggak ya. Kalau logbook untuk kita kan soal equipment yang di kabin. Beda yang untuk pilot.

Kalau ada indikasi bermasalah dari instrumen pesawat, pramugari aware?
Kalau itu kita enggak banyak tahu. Turbulensi kan juga sudah biasa kami rasakan. Guncangan itu bukan indikasi ada masalah, karena sudah biasa. Dan saya itu memilih profesi ini, ya mau bagaimana.

Tapi enggak terbayang kecelakaan akan menimpa saya. Apalagi terjadi pada usia 19. Dulu, tiap jalan, saya dilihatin orang. Sekarang juga sih, tapi dengan tatapan berbeda--karena saya jalan pakai tongkat.

Berapa lama Anda jadi pramugari Lion Air?
Satu setengah tahun.

Kenapa memilih menjadi pramugari di maskapai penerbangan itu?
Saya memang ingin sekali jadi pramugari. Kebetulan Lion ada lowongan, jadi saya coba lamar dan diterima. Happy banget. Namanya mau sesuatu dan dapet.

Saya ingin mengubah hidup ketika itu, karena hidup saya susah banget. Saya tinggal di kota (Jakarta) dan berniat memberi orang tua sesuatu. Saya itu pertama kali naik pesawat ya pas training jadi pramugari.

"Menulis menjadi terapi buat saya untuk menghadapi ujian berat ketika itu".

Laura Lazarus

Profesi pramugari cukup bergengsi ya, bagaimana dengan kesejahteraannya?
Relatif ya. Tapi tetap ada hitungannya. Misalnya dari jam lima pagi sampai jam sepuluh itu Rp15 ribu. Dari jam sepuluh sampai jam lima sore itu Rp25 ribu. Kemudian jam lima sampai jam sepuluh lagi, ya Rp30 ribu. Bukan per penerbangan. Lebih kayak argo gitu.

Memangnya dalam sehari bisa berapa penerbangan?
Pas zaman saya sih overload. Tapi bukannya enggak asing ya pramugari kerja rodi? Sehari itu bisa dapat tujuh penerbangan. Saya enggak tahu kalau keadaan sekarang.

Kalau sudah overload tidak bisa menolak ikut penerbangan?
Mana bisa. Apalagi masih junior. Tapi kan kita sudah tahu memang begitu kerjanya. Lagian akta lahir dan ijazah ditahan. Kalau mau keluar harus bayar Rp32 juta. Sementara gaji cuma Rp2,6 juta--saat itu. Mau bagaimana?

Sering alami persoalan kesehatan dong, apalagi jam tidur juga minim…
Bisa-bisa keluar darah dari kuping. Ada yang pernah begitu, karena sering alami tekanan ketinggian. Kalau sakit gigi itu enggak enak banget. Pilek dan demam, tetap harus terbang juga. Pernah ada pramugari meninggal di hotel setelah terbang. Dia bronkitis, kurus badannya.

Sebenarnya gaya hidup pramugari itu seperti apa sih, dari luar kan terlihat glamor dan menyenangkan...
Susah bicara gaya hidup. Begini, enam hari terbang dan cuma satu hari libur, ya kita sudah capek. Kalau zaman saya ya hiburannya diskotek. Duduk dan mendengarkan lagu saja di sana. Itu efektif untuk menghilangkan stres.

Tingkat stresnya tinggi?
Stres banget. Apalagi dengar ada kecelakaan. Mereka empot-mpotan itu hatinya. Selesai kecelakaan di Palembang saja, saya dan teman itu sampai pagi diam di hotel. Kami menangis. Teman saya itu namanya Dewi. Dewi meninggal pas kecelakaan di Solo.

Anda masih ingat detik-detik sebelum pesawat tergelincir di Solo?
Waktu mendarat itu saya lagi ngobrol sama teman yang duduk di sebelah dan bilang perasaan saya enggak enak. Tiba-tiba saja braakk dan semua gelap.

Ketika itu memang pendaratan unplanned emergency?
Iya, sama dengan yang di Palembang. Tergelincir dan keluar landasan. Captain baru informasikan unplanned dan brace for impact setelah dapur sudah berantakan dan berhenti. Saya lihat ke kokpit, muka captain pucat. Setelah itu saya harus evakuasi penumpang.

Susah ya menerapkan 90 detik standar evakuasi pendaratan darurat?
Prakteknya enggak semudah ketika di-training. Beda situasi saat di lapangan. Untuk menyamakan pikiran dengan penumpang saja butuh waktu. Mereka marah-marah ketika dilarang bawa barang—saat dievakuasi. Saya malah dimarahi.

Apakah aturan di maskapai diperketat setelah kecelakaan di Palembang itu?
Yang pasti kru termasuk pramugari enggak terbang dulu. Disuruh istirahat dan harus hadapi panggilan-panggilan Kemenhub dan KNKT. Setelah kecelakaan, kita sering dicek, hampir tiap hari. Safety-nya ditingkatkan. Beberapa cerita itu saya tulis dibuku Unbroken Wings.

Eks pramugari Lion Air Laura Lazarus saat ditemui World Trade Center (WTC) di Mangga Dua, Jakarta Utara, Kamis (1/11/2018).
Eks pramugari Lion Air Laura Lazarus saat ditemui World Trade Center (WTC) di Mangga Dua, Jakarta Utara, Kamis (1/11/2018). | Tri Aryono /Beritagar.id

Dari pramugari kemudian menjadi penulis, enggak jet lag?
Terus terang enggak menyangka. Saya coba belajar. Tulisan saya itu seperti SMS awalnya. Adik saya bilang kalau editor akan stres jika baca tulisan saya. Saya hanya tertawa. Ya namanya belajar.

Saya itu mulai menulis tahun 2008 dan ternyata itu baik buat saya. Menulis menjadi terapi buat saya untuk menghadapi ujian berat ketika itu. Termasuk ketika tahu bahwa gaji saya dihentikan oleh pihak Lion.

Apa benar pihak Lion Air menanggung biaya pengobatannya cuma 8 bulan pertama usai kecelakaan?
Saya sudah ceritakan itu ke media dan itu enggak dikarang-karang. Saya juga sudah bertemu dengan yang punya perusahaan dan sudah enggak ada masalah.

Saya dibantu Pak Hotman Paris untuk masalah gaji. Ya, gaji datang, lalu berhenti. Berulang seperti itu. Saya paham mereka sibuk. Tapi bagus lah mereka memperlakukan saya seperti itu, sehingga saya bisa berdiri tegak untuk melakukan pengobatan sendiri.

Berapa total biaya yang dikeluarkan Lion Air untuk pengobatan Anda?
Saya enggak tahu. Katanya banyak. Sudah hitungan M (miliaran). Ya ternyata kan dampak kecelakaan itu sampai sekarang, tidak berhenti. Sehingga saya masih terus berobat. Baik untuk wajah atau kaki.

Tulang pipi saya ini dilapisi plat metal dan tulang kaki saya adalah hasil implan tulang kaki orang meninggal. Syukurnya buku saya jadi best seller, sehingga bisa untuk biayai pengobatan.

Lebih enak jadi pramugari atau penulis?
Senang mengurus penerbitan buku dan jadi penulis lah. Ya tiap orang punya cerita yang berbeda-beda.

Enggak rindu menjadi pramugari?
Sudah enggak, terima kasih ha-ha. Sekarang cukup jadi penumpang. Tapi saya tetap komunikasi dengan teman seangkatan pramugari saya di Lion. Saya badge 12. Sekarang sih sudah angkatan ke empat ratusan atau lima ratusan begitu kali ya.

Kabarnya senioritas di dunia pramugari cukup keras, apa benar?
Istilahnya bisa dipanggang sama senior ha-ha. Senior saya dulu seram sekali. Bahasanya tuh titip. Maksudnya titip saya untuk dipanggang di atas pesawat sama senior yang lain.

Bisa lho saat dorong trolley itu didorong senior biar cepat. Terlindas roda trolley juga biasa. Tapi saat sudah lama jadi pramugari saya paham. Segala sesuatunya itu harus disiplin jangan lambat.

Apakah ini profesi yang sarat dengan godaan? Narkoba misalnya…
Di mana saja godaan ada. Di darat saja banyak, apalagi udara, ya kan. Tapi tergantung individu. Kalau niat kerja tidak akan seperti itu. Ada juga yang selingkuh. Tapi itu kan di mana saja ada.

Ada juga penumpang yang colek-colek perut saya berkali-kali. Saya tegur dan akhirnya berhenti. Saya bilang ke bapak yang colek itu, berhenti atau saya lempar dari atas. Ha-ha.

Colek-colek itu kategori pelecehan seksual kan?
Kita harus polite juga. Asal masih dalam batas wajar dan kita tegas, penumpang tidak akan macam-macam. Capek sih ya. Jadi skip yang kira-kira enggak penting.

Kita kan sudah terbang beberapa kali, kadang kita itu jadi bolot juga. Kalau bicara keras-keras. Apalagi pesawat zaman bahela he-he. Bising.

Bagaimana hubungan kerja antara pilot dan pramugari?
Baik-baik saja. Kami profesional. Walau pernah ada kasus perselingkuhan dan akhirnya ada yang diberhentikan. Ya semua tergantung orangnya.

Apakah pilot bisa menentukan formasi pramugari dalam penerbangan?
Bisa request. Tapi kalau pilotnya sudah senior banget. Request-nya ke orang scheduling.

Di dalam kokpit itu ada cerita-cerita aneh ya yang beredar. Misalnya pilot memangku pramugari, apa benar?
Oh kisah itu. Ya begitu. Sudah enggak tahu di mana orangnya. Itu senior saya banget. Pada akhirnya badge-badge selanjutnya tidak seperti itu lagi. Kita belajar.

Ada kisah di antara pramugari itu yang rebutan pilot?
Ha-ha. Ada dong. Kan enggak seru kalau enggak ada. Tapi sebagai junior, saya mah tahu diri. Yang buat bingung, pas dirawat, kok banyak cowok datang jenguk saya dan mengaku pacar. Ibu saya tertawa saja.

Jadi pernah ya punya pacar pilot?
Enggak. Zaman saya sih pilotnya tua-tua ha-ha-ha.

Kisah Laura Lazarus lolos dari maut /Beritagar ID
BACA JUGA