Keterangan Gambar : Mantan terpidana teroris Agus Marshall ketika diwawancara Beritagar.id di kediamannya Desa Cibening, Bungursari, Purwakarta, Kamis malam (9/3/2017). © Beritagar.id / Wisnu Agung Prasetyo

Agus Marshall mengatakan Indonesia harus waspada selama konflik global masih ada, karena setiap kejadian di Timur Tengah pun akan berefek ke tingkat lokal

Malam menunjukkan pukul sembilan. Tak seorang pun terlihat lewat di depan rumah Agus Marshall di Desa Cibening. Sepi, hanya terdengar orkestra malam suara jangkrik.

Assalamualaikum. Kami mengucap salam di depan pintu. Walaikumsalam, terdengar jawaban dari dalam rumah. Tak lama, pintu terbuka--memperlihatkan pria berpotongan rambut pendek keperak-perakan, kulit cokelat dan mata dengan sorot tajam.

Dia adalah Agus, pemimpin sebuah pengajian di Cikampek yang pernah merampok mobil Avanza di kawasan Kali Asin pada 2010, untuk pendanaan pelatihan militer di Jantho, Aceh Besar. Ia kemudian ditangkap dan bebas dua tahun lalu.

"Silakan masuk," kata Agus kepada Heru Triyono, Muammar Fikrie, Yandi Mohammad dan fotografer Wisnu Agung Prasetyo, Kamis (9/3/2017). Kami lalu duduk lesehan di ruang tamu tanpa kursi di rumah yang ditempati Agus sejak 2009 tersebut.

Peristiwa bom panci Bandung baru-baru ini membuat nama Agus kembali mencuat. Ia pun jadi buruan media, Detasemen Khusus 88 dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT)--yang minta keterangan kepadanya.

Musababnya, sang pelaku bom, Yayat Cahdiyat, pernah satu kelompok pengajian bersamanya. Selain mengaji, Yayat merupakan teman pas Agus sedang nakal-nakalnya. "Namanya lagi bandel ya pernah nyongkel bareng dia (merampok mobil)," ujar Agus.

Ia mengaku terkejut dengan aksi bom yang dilakukan Yayat, karena menurutnya tak memiliki target jelas dari teror yang dilakukan. "Apa itu tujuannya (bom panci Bandung)," tutur pria berusia 45 ini.

Agus mengenal Yayat sekitar 2008 sebagai warga Purwakarta. Ia sendiri berasal dari Jakarta dan merupakan lulusan fisika di sekolah menengah umum Boedi Oetomo Jakarta. Terakhir dirinya bertemu Yayat ketika di penjara. Setelah bebas, Agus mengaku tak pernah komunikasi lagi dengannya.

Di kelompok pengajian, Agus diketahui berperan sentral. Bahkan nama Marshall dijadikan nama pengajian di Cikampek, meski belakangan ia menampik. "Marshall itu merek sound system. Karena gue suka berisik, anak-anak sering ngecengin gue dengan panggilan Marshall."

Kepada kami Agus mengaku tak aktif lagi dan telah membubarkan jemaah pengajian majelis taklim Marshall. Ia kini sibuk menjadi petugas kebersihan dan mengajar di sekolah ideologi yang diprakarsai oleh Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. "Sekarang belajar tauhidnya sama Allah saja," ujarnya.

Selama hampir dua jam Agus menjawab pertanyaan-pertanyaan kami dengan logat Betawi yang kental. Dia banyak bicara soal Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) dan terorisme di Indonesia yang dianggapnya absurd--dengan suguhan kopi yang dibuatkan oleh sang istri dan rokok putih. Berikut petikannya:

Mantan terpidana teroris Agus Marshall berpose usai diwawancara Beritagar.id di kediamannya Desa Cibening, Bungursari, Purwakarta, Kamis malam (9/3/2017).
Mantan terpidana teroris Agus Marshall berpose usai diwawancara Beritagar.id di kediamannya Desa Cibening, Bungursari, Purwakarta, Kamis malam (9/3/2017).
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Benar Yayat Cahdiyat adalah anak buah Anda dalam kelompok pengajian rutin di Cikampek pada 2008-2009 silam?
Bukan anak buah, tapi satu tim operasi di lapangan. Yayat itu pengangguran saat ikut pengajian. Ya, yang mengaji ketika itu memang pengangguran semua sih, termasuk saya he-he. Namun pikiran Yayat ngaco. Nah kengacoannya itu disangkutkan sama materi pengajian.

Maksudnya materi pengajian di Cikampek itu berisi teks-teks untuk berjihad?
Yang mengaji itu enggak tahu ape-ape. Jangankan bicara ideologi jihad, ekonominya saja compang-camping. Ye gak? Tapi kan orang tahunya kalau sudah diciduk Densus maka dicap Letter T (teroris). Padahal detail tentang ideologi itu mah belum tentu paham.

Tapi apakah di pengajian dibahas bagaimana gerakan mujahidin di Poso atau daerah konflik lain misalnya...
Enggak lah. Masa ibu-ibu pengajian diajak bicara Poso, paling plonga-plongo doang.

Lalu bagaimana ceritanya dari pengajian tersebut kemudian Anda dan Yayat melakukan perampokan di SPBU Kali Asin pada 2010 lalu, apa hal yang mendorong?
Namanya anak-anak model kayak Yayat, Eman (Suherman) atau saya, waktunya bandel ya bandel. Enggak punya uang, ya terus nyongkel deh (merampok). Iseng.

Hasil rampok itu untuk pendanaan pelatihan militer para mujahidin di Jantho, Aceh?
Soal itu tahunya belakangan. Gue pikir dalam hati si Eman ini bercandanya keterlaluan. Soalnya suatu waktu saya melihat Eman (Suherman) ditangkap di televisi. Nah dari situ tergambar deh kegiatan yang selama ini saya lakukan ke arah mana. Termasuk mendistribusikan logistik persenjataan berupa peluru ke sana (Jantho).

Memangnya Anda tidak sadar mendistribusikan alat-alat persenjataan itu?
Kita awalnya cuma tahu kalau dalam kemasan itu adalah obat herbal dan pakaian. Kalau dalamnya berbeda (berupa peluru) saya tahu belakangan. Gue juga kaget, karena berpikirnya gawe saja.

Kenapa ketika tahu enggak menarik diri saja dari kelompok pengajian itu?
Enggak bisa kalau sudah di dalam.

Anda terikat?
Enggak juga sebenarnya. Ya mau bagaimana, toh sudah terjadi. Menyalahkan orang lain juga percuma.

Kelompok pengajian Anda ini bagian dari Jamaah Asharut Daulah (JAD) Bandung?
Saya cuma kenal nama-nama doang. Enggak tahu kalau bicara kelompok. Kalau disuruh tanda tangan di BAP mah saya ikut saja. Risiko kalau enggak tanda tangan kan? Kalau soal aksi mereka (mujahidin) mah saya belum begitu paham

Di media-media Anda tercatat punya peran sentral. Bahkan nama Anda sendiri yaitu Marshall dijadikan nama pengajian di Cikampek?
Karena kumpul pengajiannya sama saya jadi sering disebut Pengajian Marshall. Padahal awal penamaan itu iseng doang.

Marshall itu diambil dari merek sound system. Panggilan itu muncul karena gue suka berisik di tongkrongan. Kemudian anak-anak ngecengin gue dengan panggilan Marshall itu he-he. Maksudnya itu gue kayak sound system berisiknya.

Nama tulen Anda sendiri siapa sebenarnya?
Agus doang, enggak ada nama panjangnya. Saya besar di kawasan Pasar Jiung, Kemayoran. Dulu main bolanya di bekas landasan bandara Kemayoran sama kakaknya Benyamin S tuh.

Seberapa banyak sebenarnya jumlah orang yang ikut pengajian Marshall, di media tertulis sampai seratusan?
Media mana nih? Enggak banyak ah. Ustaznya juga cuma satu. Di dalamnya ada calo, penyanyi atau pengangguran. Yang jelas di grup saya itu tidak ada yang dari pesantren. Jadi di pengajian ya bergaul biasa saja. Kumpul, makan nasi liwet bareng, kemudian waktunya mengaji ya mengaji. Enggak membicarakan soal pergerakan mujahidin.

Tapi Anda tercatat pernah terlibat pelatihan bersama di Kawasan Jantho, Aceh, bersama Yayat?
Saya hanya terlibat masalah logistik saja. Tahunya mengemas dan kirim. Enggak sempat ke sana (Jantho).

Seperti Yayat, apakah Anda tahu juga cara merakit bom panci?
Enggak mengerti. Lihat saja saya, pantas enggak jadi ahli bom? Saya juga menegaskan hal itu ke BNPT dan Densus yang datang ke rumah. Kalau saya ahli bom dandanan saya tidak seperti ini he-he.

Menurut Anda apa motif dan siapa target bom panci di Bandung kemarin?
Polanya membingungkan. Saya tidak tahu target dari teror itu untuk siapa. Sebatas tahu ada kejadian bom saja di Bandung. Sudah.

Anda kaget bahwa pelaku teror adalah Yayat?
Iye lah. Pagi-pagi sudah ditelepon BNPT. Mereka bilang ada teman terlibat teror. Pas diperlihatkan wajahnya kepada saya ternyata benar Yayat. Ya sudah gue siap-siap saja bakal didatangi banyak orang.

Artinya Anda tidak tahu menahu tentang aksi teror tersebut?
Lagu-laguan kalau saya tahu aksi itu. Selesai bebas (dari penjara) saya sudah enggak ada hubungan dan urusan sama dia (Yayat).

Agus Marshall menjadi pengawas (mandor) petugas kebersihan di jalan Sadang-Cikopo, Purwakarta, Kamis (2/3/2017)
Agus Marshall menjadi pengawas (mandor) petugas kebersihan di jalan Sadang-Cikopo, Purwakarta, Kamis (2/3/2017)
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Tiga pelaku bom Bandung itu disebut polisi terkait jaringan teroris Aman Abdurrahman. Anda kenal dengan Aman?
Saya enggak bertemu Aman. Kejauhan. Saya di kelompok yang biasa saja--yang pemahaman mengajinya sama he-he. Sudah ditaker (ukur) kali ya. Misalnya, sama-sama dulunya tukang mabuk kemudian pada insaf. Nah yang begitu kumpulnya di kelompok saya. Mereka mengaji karena pada capek kalau bandel terus.

Kalau dengan Afif atau Sunakim teroris yang meledakkan bom di kawasan Sarinah, Jakarta, tahu?
Enggak, saya lebih kenal dengan kelompok Solo, Poso, Medan dan Palembang. Misalnya dengan Muhrin (jaringan Santoso), kemudian Ngadimin, Joko, Salman. Begitu-begitu kenalnya--yang kalau diskusi di pengajian dengan mereka capek sendiri ha-ha-ha.

Anda memang tertarik dengan kajian-kajian yang ada di dalam pengajian?
Tertarik untuk isi kebutuhan spiritual saya. Cuma pas awal-awal belum mendalam. Saya banyak belajar justru ketika di penjara, bertemu dengan ustaz-ustaz--yang banyak mengampaikan dalil Alquran dan hadis kepada saya.

Bagaimana awalnya Anda bisa masuk ke kelompok pengajian Cikampek itu?
Saya dalam posisi penuh pertanyaan sebagai muslim ketika itu. Karenanya saya cari ustaz agar mendapat jawabannya. Lalu saya pinjam makalah, majalah, buku dan jadi dekat secara emosional dengan ustaznya.

Dari situ kami (yang mengaji) mulai mempertanyakan juga keadaan di Indonesia. Terjadi dialog-dialog, misalnya soal gerakan mujahidin yang ternyata memiliki dasar (dalil).

Sejauh apa kedekatan Anda dengan ustaz itu, semua yang diperintahkan Anda jalankan?Kedekatannya bermula dari berdagang. Saya diajak usaha produk herbal dan pakaian. Ada sisi kemudahan modal yang dikasih kepada saya untuk melakukan usaha. Enggak ada itu perintah aksi teror atau yang berkaitan dengan itu. Belakangan saja saya tahunya. Ya sudah lah jalani saja hidup dengan label Letter T (teroris).

Apa rasanya hidup dengan label teroris?
Buat saya pribadi justru ada manfaatnya. Karena saya jadi belajar lebih dalam lagi. Mau enggak mau, karena saya harus menjawab soal Letter T itu ke masyarakat yang bertanya. Dari belajar itu saya malah tahu lebih jauh bahwa isu ini hanya pembodohan semata.

Siapa yang membodohi?
Yang bikin produknya dong. Ini produk palsu. Terorisme itu isu yang dikembangkan. Masa selang sehari pelaku sudah bisa ditangkap. Aneh. Ini seperti wilayah politik. Coba, bisa enggak dibuktikan label teroris itu ke kami? Lihat Afganistan, lihat Timur Tengah, lihat ISIS, semuanya cuma soal ekonomi, ideologi dan kejayaan.

Kepentingan isu ini terus dikembangkan itu untuk apa?
Ya penjajahan ekonomi dan ideologi. Indonesia mah dapat eksesnya saja. Arahnya adalah tatanan dunia baru versi mereka dengan satu ideologi: kolonialisme.

Maksudnya Indonesia akan menjelma jadi medan perang seperti di Syiria atau Afganistan?Asia Tenggara sudah jadi incaran. Anda mengikuti kasus Kim Jong-nam yang meninggal di Malaysia? Nah itu entry point saja, terbaca enggak?

Harus tercipta perang untuk memperbaiki perekonomian di Amerika dan Eropa. Ini siklus 50 tahunan. Pelaku dan dan zamannya saja yang berbeda. Indonesia harus waspada.

Indonesia harus berdiri sebagai negara Islam?
Jangan bicara itu dulu. Masih jauh dan makin keacak-acak nanti. Isu itu justru yang dilempar sehingga ada kesempatan bagi para konspirator itu untuk bermain. Kita diadu terus. Mending lari ke gunung kan bawa kambing? Ha-ha-ha.

"Terorisme adalah produk palsu"

Agus Marshall

Dari mana datangnya pemahaman konspirasi itu, Anda masih kerap berkomunikasi dengan kelompok pengajian tertentu?
Enggak, saya kan belajarnya sekarang sama Allah. Fungsi utama manusia itu kan sebagai khalifah. Ya kalau kita lari dari situasi ini fungsi manusia kita hilang. Wa-idz qaala rabbuka lilmalaa-ikati innii jaa'ilun fii l-ardhi khaliifatan qaaluu ataj'alu fiihaa man yufsidu fiihaa wayasfiku ddimaa-a wanahnu nusabbihu...

(Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata:"Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah)

Nah itu sudah diingatkan Allah agar manusia mengelola bumi. Kalau fungsinya hilang, astaghfirullahalazim, ente mau jadi binatang? Apa enggak ngeri?

Didasari penjelasan itu, artinya Anda setuju dengan aksi teror para mujahidin yang mengemban tugas sebagai khalifah?
Bahasanya gaib. Soal iman dan takwa itu adanya di sini (menunjuk dada). Fikih selalu berkembang sesuai dengan konteks. Jelimet deh bicara itu ha-ha.

Menurut Anda gelombang teror dengan ideologi jihad ini tidak bisa diredam?
Jangan kan bicara ideologi, ekonomi saja kite berat. Benahi saja dulu pengangguran dan kemiskinan. Faktanya 32 tahun (Orde Baru) saja kita "dicekek" enggak bisa diredam, apalagi sekarang zamannya demokrasi yang bebas. Hati-hati deh Indonesia sekarang. Kejadian di Bandung kan rentetan saja.

Akan ada yang lebih besar lagi setelah bom panci di Bandung?
Bahasa sederhananya itu (bom panci) itu sebagai peringatan. Yang lebih besar dan bahaya lagi ya perhatikan saja konspirasi global. Dalangnya itu sudah melihat Indonesia. Jangan sampai kita diacak-acak dan intervensi. Kalau dipikirin bisa gile kite he-he.

Sepertinya Anda ini sudah nyaman tinggal di Purwakarta, tidak berminat kembali ke kampung halaman di Kemayoran?
Males ah, Jakarta panas dan sumpek. Di sini sejuk sehingga saya bisa ibadah dengan baik dan juga mengajar di sekolah--dengan bantuan Pak Bupati (Dedi Mulyadi).

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.