Ernest Prakasa berpose di depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id di Hotel MG Setos, Jalan Inspeksi, Semarang, Jumat malam (25/11/2016).
Ernest Prakasa berpose di depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id di Hotel MG Setos, Jalan Inspeksi, Semarang, Jumat malam (25/11/2016). Bismo Agung / Beritagar.id

Ernest Prakasa: Kekurangan Ahok adalah dia bukan muslim

Ernest ogah disebut relawan apalagi tim sukses. Dia mengaku cuma simpatisan, tidak lebih

Ernest Prakasa datang pukul sembilan malam saat kami sedang pesan kopi dan menunggunya di lobi hotel. "Maaf lama," kata dia dengan napas terengah-engah sambil buka jas--saat jumpa.

Sejurus kemudian ia juga buka topi, lalu mengusap rambutnya yang sehitam burung gagak ke belakang. Gaya cepak pinggir sudah dianutnya sejak 2011. "Awalnya polem (poni lempar). Karena bosan, gue lempar ke belakang," ujar pemenang ketiga Stand Up Comedy Indonesia Kompas musim pertama ini.

Ia mengatakan baru saja tampil di Semarang Magnitude, sebuah festival kuliner dan belanja di Duta Pertiwi (DP) Mall. Besok paginya ia sudah harus terbang lagi ke Medan. "Lumayan sibuk," ujarnya ke Heru Triyono dan fotografer Bismo Agung, Jumat (25/11/2016), di Hotel MG Setos, Jalan Inspeksi, Semarang.

Jadwal manggung Ernest memang padat. Tak heran, pria berusia 34 ini adalah pelawak tunggal yang lagi hip saat ini. Materi lawak yang dibangun dari absurditas hidupnya sebagai orang Tionghwa disukai khalayak.

Sebelumnya Ernest kerap tur ke berbagai kota. Di antaranya tur lawak bertajuk Merem Melek di 11 kota dan tur Illucinati di 17 kota. Ia juga berakting di beberapa film, dan memulai debutnya sebagai sutradara di film Ngenest.

Selain di bidang seni hiburan, Ernest dikenal aktif di politik. Dia kerap mengampanyekan pandangannya, yang notabene pendukung Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama--di media sosial.

Beda dengan artis lain yang kalem, Ernest cukup berani dalam menyampaikan pendapatnya. Contoh: "Tuh kan fitnah lagi. Gw gak mendukung Ahok karna dia Cina, itu sungguh tuduhab picik! Gw dukung dia karna dia Kristen," tulis Ernest melalui akun Twitter @ernestprakasa, baru-baru ini--merespon akun yang menyerangnya dengan rasis.

Cuitan Ernest memang kerap tuai kontroversi. Ia pernah mengunggah foto diri menginjak poster Anis Matta, yang berakhir dengan saling meminta maaf. Lainnya adalah soal ketidaksetujuan dirinya dengan tindak kekerasan seorang guru di Sidoarjo.

Dus, sepertinya sudah khas Ernest berani hadapi kontroversi. Lihat saja kalimat pembukanya saat manggung, yang dengan luwesnya memakai sentimen etnis. "Perkenalkan gue Ernest dan gue Cina". Tapi penonton justru tertawa.

Dengannya, kami bicara banyak hal tentang peluang Ahok di Pilkada Jakarta, diskriminasi, dan gimmick kampanye. "Tolong sebut gue simpatisan saja, bukan relawan," kata dia. Berikut wawancaranya:

Ernest Prakasa berpose di depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id di Hotel MG Setos, Jalan Inspeksi, Semarang, Jumat malam (25/11/2016).
Ernest Prakasa berpose di depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id di Hotel MG Setos, Jalan Inspeksi, Semarang, Jumat malam (25/11/2016). | Bismo Agung /Beritagar.id

Sudah sejak lama dukung Ahok, kenapa tidak sekalian saja bergabung dengan tim suksesnya?
Saya bersuara tentang Ahok masih di batas lingkaran teman dan media sosial saja. Kalau langsung ke masyarakat namanya jurkam (juru kampanye) dong. Sampai sekarang saya belum ada niat terjun ke politik praktis seperti itu.

Jadi status Anda itu relawan, pendukung atau apa?
Gue rasa kata paling tepat adalah simpatisan Ahok, karena gue kan enggak masuk struktur timses. Gue juga tidak ikut ke dalam kampanye organik yang mereka (timses Ahok) buat.

Kenapa Anda tampak menghindari ranah politik praktis, ada yang dikhawatirkan?
Kalau benar-benar terjun (ke politik praktis) anak dan istri akan jadi beban pikiran gue. Takutnya mereka yang terkena dampaknya. Kecuali gue bujang, bisa jadi akan punya pandangan berbeda.

Selama ini keluarga pernah terkena dampak dari sikap politik Anda?
Belum sampai ke ancaman personal sih. Paling cuma teror di Twitter dan media sosial. Misalnya ancaman gue akan dikarungin. Tapi itu masih gue anggap wajar, meski awalnya juga panik. Tapi teror-teror tersebut malah buat gue kebal dan terbiasa. Soalnya terbukti ancaman itu tidak terjadi.

Ketika terjadi kehebohan Anda menginjak foto Anis Matta apakah ada ancaman nyata?
Enggak ada juga. Sehari setelah kejadian itu gue bahkan hadir di sebuah acara di FX Senayan dan mentweet kegiatan itu di Twitter. Tapi tidak datang juga yang mengancam gue. Mungkin mereka cuma jadi macan di media sosial saja.

(Dalam kasus injak foto itu baik Anis Matta dan juga Ernest sama-sama meminta maaf)

Oke, kembali ke soal Pilkada Jakarta. Banyak calon bagus, kenapa harus pilih Ahok?Sederhana. Ahok langka, enggak seperti politisi lain. Omongan dia juga konsisten. Kalau politisi lain kadang bicara begini tapi nantinya begitu. Kalau Ahok, apa yang dia bicarakan ya akan dikerjakan. Gue ingin dia (Ahok) melanjutkan pekerjaan yang selama ini sudah dilakukannya dengan baik.

Bukankah konsistensinya patut dipertanyakan. Awalnya dia ngotot pilih jalur independen, tapi akhirnya malah lewat partai-partai juga...
Ahok sudah bisa baca situasi dirinya ke depan. Kalau lewat independen risikonya besar, karena khawatir dijegal terus.

Belum maju lewat independen saja verifikasi pengumpulan KTP pendukungnya dipersulit. Jadi, cara aman adalah lewat partai.

Anda jadi salah satu orang yang mengumpulkan KTP itu?
Gue justru enggak, karena gue pikir deadline-nya masih jauh saat itu. Ya sudah wait and see saja. Gue nge-buzz sambil lihat situasi. Kalau mengumpulkan KTP itu kan cuma simbolik, sehingga tidak terlalu krusial.

Memangnya hal krusial apa yang sudah dilakukan Ahok untuk perubahan Jakarta?
Gue itu lahir di Jakarta, jadi terasa banget apa yang dikerjakan Ahok. Misalnya saja urus KTP di kelurahan. Berbeda dengan dulu, sekarang nyaman banget dan tidak lagi intimidatif. Sikap petugas juga berubah.

Bahkan pas gue mengamplopi ditolak. Catat ya, bukan bermaksud menyogok. Hanya karena gue sudah kenal lama dengan si petugas, jadi ingin memberi imbalan terima kasih saja karena dia menjalankan tugas dengan baik.

Tapi permasalahan macet belum juga teratasi oleh Ahok...
Itu dia, gubernur-gubernur sebelum Pak Jokowi dan Ahok enggak ada yang berani bangun infrastruktur buat transportasi. Mereka khawatir pembangunan menyebabkan macet parah.

Mereka juga takut jadi tidak bisa kampanye yang bagus karena namanya jelek akibat macet, dan yang dapat nama dari pembangunan itu malah gubernur-gubernur berikutnya.

Soal nama baik itu Ahok sepertinya tak peduli. Memang, di beberapa titik jalan makin macet. Tapi kalau tidak dimulai sekarang, infrastruktur tidak akan jadi. Yang Ahok mau itu simpel: what needs to be done ya has to be done.

Yang jadi persoalan lagi, penyerapan anggaran di zaman Ahok rendah...
Ya iyalah, karena memang enggak terserap. Masa mau maksa diserap-serapin. Yang penting kan tidak menghambat pelayanan publik. Lihat saja aplikasi Qlue yang efektif mengatasi persoalan warga.

Lalu lihat juga bagaimana Ahok mengatur pasukan oranye, hijau dan lainnya untuk eksekusi aduan warga. Menurut gue itu pekerjaan yang inovatif. Bukan konsep rumit, tapi lo perlu eksekutor yang niat untuk mewujudkannya. Ahok itu bisa membangun infrastruktur dan membuat program-program inovatif seperti itu berjalan.

Menurut Anies Baswedan program pembangunan harus membangun manusianya juga, bukan cuma kotanya ...
Buat gue sih konsep yang ditawarkan Anies bagus. Cuma ya dia belum terbukti sebagai eksekutor. Sementara Ahok sudah.

Ernest Prakasa berpose di depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id di Hotel MG Setos, Jalan Inspeksi, Semarang, Jumat malam (25/11/2016).
Ernest Prakasa berpose di depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id di Hotel MG Setos, Jalan Inspeksi, Semarang, Jumat malam (25/11/2016). | Bismo Agung /Beritagar.id

Ya program Ahok juga bagus-bagus tapi dia tersandung kasus penistaan agama, apakah itu menurunkan elektabilitasnya?
Itu politik. Masyarakat bisa lihat sendiri kok. Gue sih percaya ada pedemo yang tidak dibayar, tapi ada juga yang dibayar. Yang jelas posisi gue sebagai Cina dan Kristen amat sulit untuk berpendapat soal penistaan ini. Apapun pendapat gue jadi enggak valid, karena gue bukan muslim.

Beberapa lembaga survei merilis tingkat elektabilitas Ahok turun cukup signifikan karena kasus ini...
Gue yakin warga bisa menilai dengan jernih. Lagian kemampuan Ahok masih unggul ketimbang lawan-lawannya saat ini. Seandainya lawannya Kang Emil atau Bu Risma, tanpa kasus penistaan itu pun Ahok bisa jadi kalah.

Karena apa? Pertama, Kang Emil dan Risma adalah muslim dan prestasi keduanya juga jelas. Hal itu jadi modal politik yang amat seru kalau diadu dengan Ahok.

Maksud Anda lawan-lawan Ahok saat ini kurang seru?
Ya Pak Anies kan dipecat Jokowi dan AHY itu zero experience (tidak pengalaman). Gue ragu apa iya gara-gara ucapan-ucapan Ahok bisa buat warga berpaling. Mereka itu merasakan adanya perubahan selama Ahok memimpin lho.

Oleh warganya sendiri Ahok kan banyak ditolak selama kampanye ini...
Apaan ditolak. Kalau yang menolak warga beneran baru itu jadi masalah.

Dugaan Anda yang menolak bukan merupakan warga setempat?
Lo lihat sendiri video-video yang beredar. Lihat bagaimana Pak Djarot menskak orang yang menolak karena tidak bisa menunjukkan di mana rumahnya. Sudah ketahuan juga wajah yang sama ditemukan di beberapa lokasi untuk menolak kampanye Ahok dan Djarot.

Kalau tidak ditolak kenapa harus membuat Rumah Lembang segala?
Rumah Lembang itu publicity gimmick (metode marketing) cerdas. Warga datang, mengadu, kemudian ada artis juga yang bernyanyi atau baca puisi--sekaligus beri dukungan. Bahan publisitasnya jadi variatif, enggak itu-itu saja. Antre dan membludaknya warga ke rumah itu juga menunjukkan Ahok tetap disukai warganya.

Seberapa penting gimmick seperti itu, bukannya pengerahan massa adalah kampanye yang sudah usang?
Sekarang itu perang publisitas. Kalau monoton kan tidak bagus. Lo lihat bagaimana Agus berenang dari kapal ke pulau, kayak kapalnya enggak bisa bersandar saja di dermaga. Kemudian Agus juga moshing (loncat) dari atas panggung ke penonton. Ya karena tim kampanyenya butuh bahan publisitas yang ragam agar diperhatikan masyarakat.

Apakah popularitas selebriti bisa dimanfaatkan untuk jadi pendongkrak elektabilitas seorang kandidat?
Soal itu gue enggak punya background untuk menjelaskan. Harusnya yang menjawab adalah lembaga riset atau survei.

Oke, begini. Apakah sikap politik Anda bisa memengaruhi follower Anda yang jumlahnya ratusan ribu itu di Twitter?
Susah untuk membaca tren Twitter. Karena orang yang follow gue ya most likely yang satu selera sama gue. Enggak bisa jadi patokan.

Trennya kan justru banyak partai memakai dukungan selebriti, seperti Anda misalnya, untuk mendulang suara?
Dari zaman Pak Harto yang namanya kampanye juga pakai artis. Kalau lo tanya ke gue ya gue enggak tahu. Mungkin harus tanya ke Yunarto Wijaya (Direktur Eksekutif Charta Politika) atau Burhanuddin Muhtadi (Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia). Persoalannya gue enggak mengerti riset.

Menurut Anda tanpa dukungan selebriti pun Ahok tetap bisa menang?
Gue sih pede asal Ahok enggak blunder lagi dan proses hukum membuktikan dia tidak bersalah. Tapi masyarakat kita kan lumayan berjiwa sinetron ya, jadi yang dizalimi biasanya malah dapat simpati he-he.

Tapi baru reda sebentar Ahok sudah menyulut api lagi dengan menyebut massa aksi 4 November adalah bayaran...
Soal demo bayaran itu gue paham posisi Ahok. Dia tidak salah, karena kan mengutip media. Jadi, kalau mau dipersoalkan ya media yang dikutipnya, bukan Ahoknya. Tapi, karena keluarnya dari mulut Ahok maka kubu kompetitor jadi garang luar biasa.

Menurut Anda apa iya Ahok ke depannya bisa menahan ucapan-ucapan yang memancing seperti itu?
Tidak ada yang sempurna. Kalau berharap pemimpin seperti malaikat ya susah. Pasti semua pemimpin punya sisi positif dan sisi negatif.

Selain kurang bisa kontrol terhadap ucapannya, apalagi kekurangan Ahok di mata Anda?
Kristen. Ya, kekurangan Ahok adalah dia bukan muslim. Kalau dia penganut Islam kelar sudah semuanya. Sepertinya dia itu salah agama ha-ha. Sudah Cina dan bukan Islam pula.

"Kalau Anies bertemu Ahok di putaran dua, maka prediksi gue Anies bisa menang karena massa AHY akan juga mendukungnya"

Ernest Prakasa

Siapa pesaing Ahok paling berat, Anies atau Agus?
Secara sosok ya Anies, tapi secara mesin politik ya Agus. Tapi gue lebih menyoroti Anies, dia sudah terbukti bisa jadi menteri.

Anies kan dicopot dari jabatan menteri oleh Jokowi...
At least dia punya riwayat yang lebih relevan untuk birokrasi. Bukan berarti gue memandang remeh Agus ya. Gue justru salut sama timsesnya dia. Kerjanya gila.

Kalau saja timses Agus mengerjakan semuanya untuk Anies, maka jalannya Pilkada bisa lebih seru lagi. Salut gue dengan timnya Agus. Begitu spartan (tangguh).

Jadi, berapa putaran kira-kira prediksi Anda di pertarungan Pilkada DKI ini?
Kalau gue sih maunya satu putaran, tapi kayaknya enggak mungkin. Kalau tidak ada kasus penistaan rasanya masih mungkin satu putaran.

Ada hitung-hitungan Ahok bakal kalah dalam prediksi Anda itu?
Kalaupun kalah, selisihnya tipis ya di putaran dua.

Maksudnya peluang Ahok menang itu makin kecil jika pemilihan berlangsung dua putaran?
Itu dia. Kalau dua ronde gue rasa pendukungnya AHY akan ke Anies semua. Akan lebih seru jika Ahok bertemu Agus nantinya he-he.

Nah, kalau Anies bertemu Ahok di putaran dua, maka prediksi gue Anies bisa menang karena massa AHY akan mendukungnya. Tapi politik terkadang tidak bisa ditebak.

Anda pernah jadi korban politik atau diskiriminasi?
Kalau diskriminasi iya. Itu berlangsung bertahun-tahun ketika SD dan SMP. Tidak sampai disiksa sih, tapi diskriminasi secara verbal saja. Seperti dibilang sipit atau Cina.

Apakah Anda dendam?
Sempat dendam. Tapi sejak berkarier di stand up comedy malah jadi seperti terapi. Menjadikan penderitaan sebagai bahan tertawaan bersama itu ternyata bikin damai.

Karena dendam itu Anda memilih Ahok dengan dasar pertimbangan etnis...
Kalau memilih Ahok jelas bukan pertimbangan suku, karena percuma juga. Mending gue jadi kader Perindo (Partai Persatuan Indonesia) dong. Yang pasti, di mana-mana ada Cina yang baik kayak Ahok, ada juga yang enggak.

Btw awal karier Anda itu di musik, kemudian malah jadi pelawak tunggal, apa sebabnya?
Enggak lanjut di musik karena harus karantina di Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) Kompas. Ya, seperti nyanyi, komedi itu bakat. Dari kecil gue memang sudah jadi class clown (badut di kelas).

*Catatan redaksi: Ada perubahan di bagian pengantar soal Nikita Mirzani atas permintaan narasumber
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR